
"Mama! Lihat, Ma, Kenan udah ganteng, kan?"
Shireen tersenyum. "Iya, ganteng."
"Hehe, Ayah yang pilihin model rambutnya, katanya ini cocok di Kenan." Kenan langsung bercerita sepulang dengan Ibra. Ia mendongak melihat Ibra yang berdiri menjulang di sampingnya.
Senyum polos terpatri lebar hingga kedua matanya menyipit, namun hati Ibra justru sedikit ngilu melihatnya.
Ia pun tersenyum menggasak kepala anak itu. "Udah sore, bentar lagi magrib, masuk rumah, gih," suruh Ibra.
Ibra berjongkak menatap Kenan sayang. Tangan besarnya mengusap kedua sisi wajah Kenan yang halus. "Jangan nakal, yang nurut sama Mama, rajin-rajin belajar, jangan suka malem-malem kalau tidur."
Kenan mengangguk patuh disertai senyum polos. "Iya, Kenan selalu belajar kok biar seperti Ayah. Ya kan, Ma?" Kenan mendongak pada sang mama.
Shireen mengangguk kecil. "Iya."
"Ya udah, masuk sana," ucap Ibra diakhiri menepuk puncak kepala Kenan.
Menuruti perintah Ibra, Kenan berlari memasuki rumah. Shireen sendiri masih berdiri di luar bersama Ibra. Wanita itu menatap Ibra canggung. "Mas gak masuk?"
Ibra menoleh. "Enggak, saya langsung pulang," jawabnya pendek.
"Setidaknya minum teh?" Shireen masih berusaha menawarkan.
"Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa, nanti jadi fitnah," ucap Ibra telak.
Shireen meringis malu. "Oh ... iya, maaf."
Ibra hanya mengangguk, kemudian ia membuka resleting ranselnya dan merogoh sesuatu di sana. Sebuah amplop cukup tebal ia berikan pada Shireen. "Untuk Kenan."
Shireen menatap lama amplop yang sudah bisa ia tebak isinya. Ibra memang masih rutin memberi uang untuk Kenan. Hal ini yang seringkali membuat Shireen ingin kembali pada Ibra. Tak jarang ia berpikir mengajak Ibra rujuk, namun itu jelas tak mungkin.
" Makasih. Mas baik banget masih mau memberi kami."
"Hm, sama-sama. Saya pulang, assalamualaikum." Ibra menaiki motor dan memakai helm.
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Begitu cepat waktu berlalu. Dalam sore itu Shireen hanya bertegur sapa dengan Ibra tak lebih dari lima menit. Pria itu seakan ingin cepat-cepat pergi.
Memangnya apa lagi yang harus Ibra lakukan di sini? Pria itu kemari jelas karena Kenan. Selebihnya tak ada.
Ibra melajukan motornya di bawah langit senja. Banyak hal di pikirannya yang membuat ia termenung. Audi, Shireen, Kenan, apa yang harus ke depannya Ibra lakukan pada mereka?
Ibra tak ingin kehilangan Audi, namun ia juga tak bisa mengabaikan sebuah amanat yang dititipkan padanya.
Audi tak begitu suka anak kecil, Ibra sangsi gadis itu bisa menerima kehadiran Kenan nanti. Tapi mau bagaimana pun Ibra tetap harus menyatukan ranah keduanya.
Ibra tak mungkin hanya fokus pada Audi sementara Kenan ia abaikan. Ibra juga tak bisa hanya terpaku pada tanggung jawab karena ia juga butuh Audi untuk menghangatkan hidupnya.
Ibra sampai di kosan tepat ketika adzan magrib berkumandang. Nafasnya terhela panjang ketika menjatuhkan diri di sofa. Raut lelah tergambar jelas di wajahnya. Ibra pun terpejam sesaat sebelum bangkit untuk membersihkan diri dan menjalankan ibadah.
Sampai saat itu masih belum ada balasan dari Audi. Entah bagaimana jika Audi justru menolak ajakannya. Mungkin Ibra akan menghabiskan waktunya pulang ke Bandung karena ia sudah terlanjur mengambil cuti. Ibra berharap saat itu tiba Audi juga ada di sana, setidaknya mereka harus bicara sebentar saja.
***
Mereka baru saja selesai photo shoot di Marina Bay dan akan segera bertolak ke Indonesia. Tian sengaja mengambil penerbangan malam lantaran besok Audi sudah ada jadwal lain untuk mengisi kanal Youtube-nya.
"Iya, kan cuman sehari."
Audi tampak sedang berselonjor malas di atas sofa. Tian jadi sedikit iba melihat raut lelah gadis itu. Ia sudah mengatur semua jadwal dan men-cancle job baru agar Audi bisa liburan dalam waktu dekat.
Kasihan, percuma cari uang terus kalau gak dipake. Meski setiap perjalanan mereka juga sambil jalan-jalan, sih. Tapi akhir-akhir ini Audi minta pure liburan tanpa jam kerja sedikit pun.
Beralih pada Audi yang sedang mengotak-atik ponsel, ia mendapati pesan Ibra yang belum sempat dibacanya.
Dari jamnya lelaki itu mengirim chat pada siang tadi, tapi Audi baru sempat buka WhatsApp sekarang.
Audi terpaku sesaat membaca isi pesan tersebut. Ibra mau bicara soal Mba Shireen? Hanya itu pertanyaan Audi yang tidak dijawab Ibra.
Ia pun berpikir lama mengenai tawaran Ibra yang mengajaknya bertemu. Kalau seandainya Ibra mau jujur, apa Audi harus memberinya kesempatan?
__ADS_1
Selama sebulan ini Ibra masih sering mengiriminya chat, tapi selalu Audi abaikan. Bahkan Audi sampai meringis ketika men-scroll laman pembicaraan mereka yang menurutnya begitu mengenaskan.
Di sana hanya ada pesan-pesan Ibra yang berderet sampai bawah, tanpa satupun balasan dari Audi. Mungkin jumlahnya ada ratusan.
Apa selama ini Audi terlalu kejam? Ia hanya ingin Ibra merenungkan keputusannya, karena Audi merasa Ibra akan tetap stuk di tempat jika ia tak bertindak.
Audi hampir menjatuhkan ponselnya saat mendapat pesan baru dari Ibra. Beruntung refleks tangannya cepat, kalau tidak, mungkin wajahnya sudah memar terkena benturan benda itu.
Namun hal itu juga membuat Audi harus menanggung rasa malu. Karena kejadian kecil itu ia tanpa sengaja mengirim emoticon random pada Ibra. Apa-apaan juga stiker manja itu? Idih, ya ampun.
Mas Ibra: Sudah tidur? Lagi apa?
Audi tak menjawab saking syoknya. Ia masih menyesalkan emot dan stiker-stiker menjijikan yang tanpa sengaja ia kirim barusan.
Entah apa yang Ibra pikirkan karena selanjutnya ia mengirimkan emot tawa atas responnya pada kerandoman Audi itu.
Audi bodoh, kenapa tidak kamu biarkan saja ponsel itu jatuh mengenai wajahmu? Jadi malu-maluin, kan.
"Ehem, ehem! Omo ... uhuk, uhuk!"
Tian sampai menoleh dengan kebisingan Audi yang tak jelas. "Apa, sih, dehem-dehem gak jelas gitu? Mana batuk lagi. Keselek?"
"I-itu ... bukan apa-apa, hehe," jawab Audi garing.
Bagaimana jika ia bilang baru saja mengalami hal memalukan? Astaga, ini benar-benar menghancurkan gengsinya yang selama sebulan lebih mengabaikan Ibra.
Mana gak ada elit-elitnya. Sudah bela-belain nahan ego biar gak balas chat, eh sekalinya chat malah pakai emot lebay penuh cinta.
Ya ampuuuunnn ...
Demi member EXO, BTS dan sebagainya, Audi lebih milih terbang ke Korea sekarang juga kalau gak ingat ada kerjaan. Mau tak mau ia harus ke Jakarta, tempat di mana keberadaan Ibra sangat eksis di sana.
"Ya Allah, semoga pas aku pulang Pak Presiden ada jadwal semedi di Istana, biar Mas Ibra juga gak keliaran, aamiin ..."
"Kamu lagi ngapain bisik-bisik kayak gitu?" tanya Tian aneh.
__ADS_1
"Diem, Mba, aku lagi doa untuk keselamatan imej dan gengsiku."