
Suasana meriah terasa bersamaan dengan lantunan ayat suci Al-Quran yang menggema di sepenjuru ruangan. Aura sakral begitu kental menyelimuti seluruh tamu undangan yang datang.
Dekorasi mewah serba putih dengan bunga-bunga bergelantungan di atap, menyertai lampu-lampu kristal yang terselip di antara ribuan kuntum yang menguar harum segar. Bunga yang digunakan asli, dirancang langsung oleh pemilik perkebunan yang berkoordinasi dengan pihak wedding organizer tepat sehari sebelum acara.
Wanginya semerbak alami, melahirkan ketenangan yang kian menentramkan hati. Berbagai sambutan dan sholawat nabi dilisankan dengan begitu indah, mengiringi setiap doa yang tersemat di hati para keluarga. Begitu pula kedua mempelai yang kini tengah mempersiapkan diri untuk memasuki babak baru dalam kehidupan.
Ibra sudah duduk dalam satu meja bersama penghulu, Edzar sang papi, dan juga Dava sang uwak yang beberapa detik lagi akan berubah status menjadi mertua. Ada pun saksi yang menyertai mereka di sana, masing-masing dari pihak mempelai pria dan wanita.
Edzar berkali-kali menyentuh sudut matanya yang berair. Mengantar sang putra satu-satunya ke gerbang pernikahan dengan penuh rasa haru dan bangga, namun juga ada sedikit rasa sedih yang terselip, lebih pada tidak menyangka bahwa ia sudah membesarkan putranya hingga sedewasa sekarang.
Memang, ini bukan pertama kali Edzar mengantar Ibra mengucap ijab qobul pernikahan, namun entah kenapa kali ini terasa berbeda, terasa lebih mengharukan dan menggugah hati dalam rasa senang.
Mungkin, dulu Edzar tahu sang putra tidak bahagia dengan pernikahannya, lain dengan sekarang yang memang hari ini sudah dinanti Ibra sejak lama. Edzar terharu tentu saja, ia berharap sakinah, mawaddah, warohmah menyertai biduk rumah tangga Audi dan Ibra.
Doa dilantunkan dengan khusu, semua orang menunduk turut memanjatkan kebaikan bagi kedua mempelai. Audi sendiri masih berada di kamar riasnya, bersama sang mama dan saudara perempuan lain dari keluarga besar Halim.
"Maa ... deg-degan." Gadis itu mengeluh sambil menatap pantulan dirinya di depan cermin.
Kebaya putih melekat pas di tubuhnya, begitu pula kain batik yang dililit sempurna sebagai bawahan, menampilkan kesan anggun dan mempesona pada diri Audi yang sudah selesai dirias.
Audi sangat cantik dengan hijab dan hiasan kepala. Mahkota siger Sunda, kembang tanjung, kembang goyang, dan ronce untaian bunga betul-betul memancarkan auranya dengan sempurna.
Serasi dengan Ibra yang juga mengenakan beskap berwarna putih, pun kain batik serupa yang disarungkan. Tak ketinggalan aksesoris kepala berupa bendo atau bengker dengan manik-manik di bagian depan, juga arloji dengan rantai keemasan yang menggantung di saku sebagai upaya mempertegas penampilan.
__ADS_1
Untaian bunga turut mengalung di leher Ibra. Pria itu tampak luar biasa mempesona, terlebih ketika menjabat tangan bersiap mengucap akad pernikahan.
Semua mata memandang fokus pada meja akad di depan aula. Suasana berangsur hening dan serius ketika penghulu mulai membaca doa, serta Dava yang sudah saling berjabat tangan dengan Ibra.
Di dalam kamar rias, Audi berusaha keras menenangkan ritme jantungnya yang menggila. Tuhan, ini bagai mimpi bagi Audi. Ia hampir tak percaya jika saja suara berat Ibra dari luar sana tak memasuki gendang telinga.
Lalisa setia menemani putrinya, mengusap bahunya sesekali sambil berusaha menahan tangis haru. Ia berkali-kali mengambil tisu guna menyeka hidung serta matanya yang berair. Ia benar-benar tak menyangka putri sulungnya kini sudah mau menempuh hidup baru, membangun keluarga baru dan tentu dengan rumah yang baru pula.
"Anak Mama udah dewasa, gak kerasa banget, tahu-tahu sekarang udah mau nikah." Lalisa menghirup hidungnya hingga menimbulkan suara.
Audi turut ingin menangis jika saja ia tak ingat sudah memakai make up, kasihan Make Up Artist nya kalau riasan Audi rusak gara-gara air mata. Audi memeluk pinggang Lalisa dan sedikit menyandarkan kepalanya di perut wanita itu.
Di sana Audi pernah dikandung selama 9 bulan, dilahirkan ke dunia, dirawat dengan kasih dan cinta hingga saat ini ia bernafas dan berdiri di sini, bersiap menyambut babak baru dalam kehidupan, yang pastinya akan mengubah banyak hal dalam hidup Audi.
"Makasih banyak karena Mama tak pernah lepas menyayangi Audi, meski Audi sering buat kesal Mama, membantah perkataan Mama, Audi minta maaf belum bisa menjadi anak yang baik buat Mama dan Papa."
Mata Audi berkaca, meski ditahan sedemikian rupa, air mata tetap tak bisa dibendung oleh rasa yang kadung terperangkap dalam suasana haru.
Lalisa menangis mengusap pelan dan hati-hati kepala Audi yang penuh dengan aksesoris pengantin. "Kamu anak Mama, tentu mau sebandel apa pun Mama tetap sayang sama kamu."
"Kamu sudah menjadi anak yang baik di mata Mama dan Papa. Kamu membanggakan kami dengan segala hal yang berhasil kamu capai. Kamu dan Jeno adalah harta tak ternilai yang Mama dan Papa miliki."
"Sekarang, tanggung jawab kamu akan berpindah bukan lagi pada kami, melainkan pada suami. Ingat, sebagai istri, kamu wajib berbakti dan melayani suami kamu dengan baik, menuruti dan mendengarkan setiap wejangan yang ia ucapkan demi kebaikan kamu. Jangan pernah mengedepankan emosi jika sesutu terjadi, bicaralah sebaik mungkin, karena kemarahan hanya akan menimbulkan kekisruhan dan rasa penyesalan bilamana emosi tersebut meninggalkan efek buruk."
__ADS_1
Tangis Audi pecah di pelukan sang mama. Para kerabat wanita di sana turut menyusut air mata melihat haru biru keduanya. Suasana kian diliputi khusyu ketika suara Dava dan Ibra mulai terdengar samar-samar dari luar. Semuanya diam, terutama Audi yang mendengarkan dalam keadaan tegang.
Mula-mula sang papa berdehem, sebelum kemudian berucap mengikuti arahan penghulu.
"Ananda Ibrahim Maulana Edzar bin Edzar Adhyaksa, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Claudia Mareeta Halim dengan mas kawinnya berupa emas 300 gram, 5 carat berlian, serta seperangkat alat sholat, dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Claudia Mareeta Halim binti Davandra Halim dengan mas kawin tersebut, tunai!" Ibra bersuara dalam satu kali hembusan nafas.
"Saksi, sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah ...."
Suara riuh menggema mengisi seluruh ruangan. Dava menyusut air matanya yang mengalir haru. Begitu pula Ibra yang tak kuasa menahan tangis, ia terseguk di samping Edzar, juga Safa yang langsung menghampiri begitu akad selesai.
Safana Halim mendekap putranya sambil menangis. Ia bahagia, akhirnya Ibra bisa memperistri perempuan yang sejak lama ia idamkan.
Edzar menepuk-nepuk pundak sang putra yang kini tengah terisak di pelukan ibunya. Sungguh, tiada yang lebih membahagiakan bagi Edzar sebagai orang tua, selain melihat anak dan istrinya bahagia, bisa mengantar Ibra pada tujuannya, mendampingi menuju gerbang pernikahan yang kini baru saja dimulai.
"Semoga kamu bisa menjadi suami dan imam yang baik untuk Audi," ucap Edzar.
Ibra mengangguk beberapa kali. "Insya Allah, Pi. Ibra akan berusaha semaksimal mungkin menjalani pernikahan ini bersama Audi, istri yang paling Ibra cinta," balasnya dengan suara bergetar.
__ADS_1