
Audi menggosok rambutnya dengan handuk. Ia baru saja selesai mandi dan berganti pakaian ketika bel pintu rumahnya berbunyi. Dengan malas-malasan Audi turun ke lantai bawah untuk melihat siapa yang datang.
Tidak mungkin papa dan mamanya. Beberapa saat lalu Audi menelpon mereka dan tahu keduanya masih di perjalanan tak jauh dari bandara.
Sejenak Audi celingukan mencari Jeno. Anak itu pasti langsung tidur setelah tiba di rumah. Audi tak melihat batang hidungnya sejak tadi.
"Sebentar ..."
Audi membuka pintu dan seketika terpaku mendapati Ibra berdiri di sana.
"Dari Mami," ucap lelaki itu seraya menyodorkan rantang entah berisi apa.
"Uwa lagi gak ada, kan? Kayaknya Mami takut kalian kelaparan." tambahnya lagi, tersenyum canggung.
Audi melirik rantang di tangan Ibra. Beberapa detik diisi keheningan karena Audi tak lantas menerima rantang tersebut.
"Kita bisa DO, kok."
Terdengar helaan nafas dari Ibra. Sepertinya penolakan Audi membuatnya sedikit kesal. "Dibanding DO, mending makan yang sudah ada, kan?"
"Lagipula, masa kamu mau nolak pemberian Mami?"
Sebenarnya Audi tak berniat menolak, hanya menyuarakan isi pikirannya. Meski Tante Safa tak mengantarinya nasi dan lauk sekalipun ia dan Jeno bisa pesan secara online.
Audi mengambil alih rantang itu dari tangan Ibra. "Makasih."
"Sama-sama." Ibra mengangguk.
Suasana menjadi canggung karena baik Ibra maupun Audi tak ada yang membuka suara. Audi bingung, ia ingin menutup pintu tapi kesannya pasti sangat tidak sopan, sementara Ibra sendiri masih berdiri di sana.
"Mas Ibra butuh sesuatu?" tebak Audi melihat Ibra yang dengan santainya mengamati jalan depan rumah.
Tidak mungkin pria itu mau nongkrong di depan pintu rumah Audi, kan?
Ibra menoleh, ia menggeleng. "Enggak. Kenapa memangnya?"
"Mas Ibra kapan ke Jakarta lagi? Bukannya setahu Audi TNI itu sibuk banget, ya? Apalagi Mas kan paspampres." Audi lebih memilih mengalihkan topik.
"Oh." Ibra bersidekap santai. "Nanti malam Mas berangkat. Sudah janjian sama Jeno, kok."
Kening Audi berkerut. Apa iya?
"Kamu tidur saat kami bicara tadi," kata Ibra menjawab rasa penasaran Audi.
Oh, mereka bicara di mobil.
__ADS_1
"Ya udah, kenapa Mas masih di sini?" ucapnya telak.
Audi bisa melihat mata Ibra mengerjap kebingungan. Lelaki itu menggaruk rambutnya yang hampir terpangkas habis. Mungkin semua anggota TNI memang begitu. Karena sepanjang yang Audi lihat rambut Ibra bahkan tak pernah lebih panjang dari satu senti, pasti selalu cepak. Pria itu harus bersyukur menuruni kulit cerah sang ibu yang membuatnya terlihat segar meski dalam keadaan kusam sekalipun.
"Ah, itu? Gak papa, sih."
"Ya sudah, Mas ... pulang?" Entah itu suatu bentuk pertanyaan atau gaya berpamitan Ibra memang aneh.
Audi jadi bingung harus menjawab atau membiarkannya. Lama terdiam akhirnya Ibra pun mundur dan berbalik pulang sambil sesekali menoleh melempar senyum kecil.
Audi menutup pintu sama sekali tak membalas keramahan Ibra. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Rasanya aneh melihat Ibra yang tiba-tiba mencoba dekat lagi dengannya.
***
Sore harinya sesuai janji, Ajeng datang ke rumah Audi, bersamaan dengan papa dan mamanya yang juga baru tiba dari Jakarta. Entah mereka ke mana dulu sampai memakan waktu perjalanan lebih lama dari biasanya. Yang pasti Audi lihat keduanya berseri-seri seperti bunga yang baru mekar.
Pasti check in hotel dulu.
Audi tak mau ambil pusing, ia segera menadahkan tangan di hadapan sang papa. "Mana oleh-oleh."
Davandra Halim seketika memasang raut wajah datar. "Salim dulu, kek. Ini tangan malah udah dipake minta-minta."
Audi merengut. Tanpa membantah ia menarik tangan sang ayah dan menciumnya takzim. Hal itu mengundang kikikan Ajeng yang berdiri di samping Audi.
"Ajeng. Apa kabar? Udah lama gak main ke sini." Dava menyambut sahabat putrinya dengan ramah.
"Alhamdulillah baik, Om. Hehe, Audi nya jalan-jalan terus, aku juga lumayan sibuk."
"Oh, gitu. Iya emang Audi kayaknya udah lupa rumah."
Audi hanya melengos malas menanggapi sindiran papanya. Lalisa yang baru saja kembali membawa sesuatu dari mobil lantas mengajak mereka semua ke ruang makan.
"Eh, sini, sini ... Kebetulan Ajeng juga ada di sini. Tadi Tante beli bakmi di depan komplek. Enak, lho. Yuk, makan bareng-bareng biar seru."
Serentak ketiganya mengikuti Lalisa ke dapur yang terhubung dengan ruang makan.
"Jeno mana? Belom balik ke Jakarta, kan, dia?"
"Boro-boro. Lagi molor dia. Kebo banget dari pagi gak bangun-bangun," sahut Audi malas.
Mendengar itu Lalisa membuang nafas sekaligus mendecak. Ia lantas mengadu pada suaminya. "Iya deh, Pa. Terus lagi, masa kemarin di Bogor dia malah camping sama Ibra. Dia pikir Ibra gak punya kerjaan kali diajak begituan. Mama jadi kasihan sama anak itu."
Dava terkekeh. "Biarin lah, Ma. Mungkin Jeno butuh refreshing di alam bebas. Kasihan dia kayaknya hampir botak sebelum jadi dokter."
Mendapati pembelaan suaminya Lalisa pun mendengus.
__ADS_1
"Mama niat ngasih bakmi gak, sih? Dikekepin mulu kreseknya." Audi yang sudah menunggu sejak tadi otomatis bersungut kesal.
Hal itu membuat Ajeng menyenggol lengan Audi pelan. Jelas Audi menoleh sengit. "Apa, sih?"
"Gak sopan, ih, kamu," bisik Ajeng.
Halah, Ajeng dan sopan santunnya.
Dava tersenyum, lalu membantu sang istri membuka bingkisan. "Ayo, ayo sini. Mama jangan makan pedas. Kemarin baru sakit perut, kan?"
"Lho, Mama sama Papa udah pulang?" Suara Jeno yang masih terdengar mengantuk menyeruak di antara mereka.
"Dari tadi keles," cetus Audi pelan, namun sangat terdengar di telinga Jeno.
"Biasa aja kali, Mbak. Kan cuma nanya."
"Sebelum turun cuci muka, kek. Bikin kesel aja lihatnya."
"Apa sih? Mbak Audi sensi amat. Suka-suka aku mau cuci muka atau enggak. Muka juga muka aku, bukan muka Mbak." Jeno menarik kursi dan melesakkan dirinya di sana.
Dava dan Lalisa menggeleng. "Sudah, gak usah debat. Mie-nya keburu ngembang. Ada Ajeng. Memangnya kalian gak malu berantem di depan tamu?" pungkas si kepala keluarga berusaha mengakhiri perdebatan.
Mau tak mau Audi bungkam. Ajeng sendiri hanya meringis tak tahu harus berucap apa.
"Eh, ada Mbak Ajeng. Kok baru kelihatan?"
Kontan Audi memutar mata. "Makanya melek. Itu belek rapet banget."
"Yee ... maksud aku tuh, kok baru main lagi ke sini gitu," sewot Jeno.
"Jeno, Audi ..."
Keduanya langsung diam ketika raut sang ayah sudah berubah. Akhirnya mereka pun makan dengan tenang, sebelum cetusan Jeno kembali membuat berang hati Audi.
"Enak banget yang dianterin makanan sama Mas Ibra. Sampe gak sisain sebiji nasi pun buat adiknya."
Semua mata mendongak mendengar penuturan Jeno.
"Ibra ada kirim makanan, Mbak?" Dava bertanya.
Entah kenapa pula Audi jadi gelagapan. "Eng ... Enggak, kok. Itu dari Tante Safa. Mas Ibra anter aja."
Jeno tertawa sinis. "Anter aja. Dikira kurir apa? Haha, lucu."
Jeno sialan! Maunya apa, sih, ini anak?
__ADS_1