
Menjelang magrib, Audi dan timnya jalan-jalan sekalian mencari menu buka puasa. Seperti biasa mereka tak akan melewatkan foto-foto setiap kali bepergian. Sama seperti di Bandung, di sana juga kerap terdengar puji-pujian dari mesjid-mesjid terdekat saat detik-detik menjelang adzan. Bedanya beberapa terdengar menggunakan Bahasa Jawa yang sama sekali tak Audi mengerti.
Sekitar sepuluh menit waktu berbuka, akhirnya mereka memutuskan mampir ke sebuah warung makan dan menunggu sampai adzan magrib tiba. Untungnya di sana juga tersedia es buah yang bisa melegakan rasa haus mereka seharian.
Selesai berbuka dan sholat magrib di mushola terdekat, Audi, Mba Tian dan yang lain lanjut hunting makanan di sekitar kawasan khusus yang memuat pedagang kaki lima.
Bakso bakar, sottang, sekoteng, dan masih banyak lagi termasuk makanan khas daerah sana yang berhasil memanjakan perut. Berjam-jam mereka jalan ke sana kemari, pindah dari satu tempat ke tempat lain hingga akhirnya mampir lagi di kedai bakso babat.
Memang gak ada kenyangnya kalau kata Matias. Padahal besok Audi harus bertemu pihak brand, berkali-kali Mba Tian mengingatkan karena takut terjadi apa-apa dengan tubuh Audi. Kalau gendut rasanya agak mustahil, tapi kalau mendadak muncul jerawat itu yang bahaya.
"Udah, yuk, balik hotel?" Tian berkata pada Audi dan anggota tim mereka. Semuanya sibuk bersandar kekenyangan.
"Bentar, Mba, tunggu aku bisa jalan." Audi menyahut malas.
"Tuh, kan, apa Mba bilang. Mentang-mentang habis puasa kalian jadi kalap. Kalau besok perut kamu kembung gimana, Di?"
"Nggak bakal, aku anti gendut - gendut club," ucap Audi percaya diri, sambil mengelus pelan perut ratanya.
Tian membuang nafas. Susah bicara dengan orang yang punya keyakinan tinggi. Di sini Audi yakin bahwa makanan yang ia makan tak akan menimbulkan apa pun pada tubuhnya.
Sayangnya yang Audi lihat hanya efek perubahan tubuh, gadis itu tak memikirkan efek-efek lain dalam kesehatan. Hal paling kecil saja, setidaknya Audi berpikir makanan - makanan pedas yang masuk ke perutnya bisa menimbulkan diare. Jika besok Audi diare, berabe sudah jadwal meet dengan brand yang telah disepakati.
Malam semakin larut. Audi dan Tian serta tim mereka memutuskan kembali ke hotel guna persiapan syuting besok. Selain photo shoot iklan, Audi sekalian menyelesaikan shoot konten yang beberapa lama sempat terjeda.
"Mba, aku kok mendadak kepikiran buat batalin kontrak aja, ya?" ceketuk Audi tiba-tiba, membuat Tian dan semua orang di mobil menatap ke arahnya.
"What?" sahut semuanya serentak.
"Lha, kenapa? Ngadi - ngadi aja Mba Di," ujar Matias yang turut diangguki Mardon.
Audi mengendik aneh. "Gak tahu. Aku cuman pengen malas - malasan besok. Bisa gak, ya?"
__ADS_1
Tian berdecak datar. "Di, jangan mulai, deh."
Audi mengerjap polos. "Apa?"
"Kamu tuh kadang suka aneh. Pusing, Mba."
Audi yang merasa biasa saja, hanya mengangkat bahu tak acuh dan lanjut mengotak - atik permainan fishdom di ponselnya.
***
Sementara di belahan bumi lain, Ibra tampak merenung setelah ia terbangun di tengah malam. Ia mengusap keringat yang mengembun di kening serta pelipis.
Ibra baru saja tidur beberapa menit sebelum tengah malam, tepatnya setelah ia pulang bertugas, mengikuti apel pergantian dinas.
Ibra berdehem merasakan tenggorokannya yang kering. Ia mengambil nafas sebelum bangkit beranjak meninggalkan kasur. Ibra keluar dari kamar bertepatan Ben yang baru saja muncul dari arah ruang depan. Pria itu membawa mangkuk kosong yang dari wanginya saja Ibra tahu itu bekas mie instan.
Ben berhenti sejenak melihat Ibra. "Lha, bangun? Perasaan baru tidur kau?"
Hal tersebut tentu membuat Ben mengerjap heran. "Ada apa? Kau mau? Udah habis. Tapi di dapur masih ada stok."
Namun Ibra menggeleng. "Enggak. Aku hanya tiba-tiba teringat Audi," gumamnya pelan.
Ben mengernyit dalam. "Audi pacar kamu? Berarti kalian udah jadian? Sejak kapan? Gila, lama banget aku tak dengar kabar wanita separuh agamamu itu, kalian malah udah jadian aja. Bentar lagi sah, dong? Bener-bener real melengkapi separuh agama."
Ben masih saja ingat dengan gombalan Ibra tempo lalu mengenai gadis bernama Audi.
"Kenapa mikirin dia? Kangen? Ehalah, Booss ... bisa juga kau galau karena wanita."
Ibra mendelik. "Kamu habis bergaul sama siapa?"
"Apanya?" Ben malah bertanya balik.
__ADS_1
"Bahasamu jadi rancu gak enak didengar. Geli," ucap Ibra, datar.
Ia melengos meninggalkan Ben yang menggaruk kepala sendiri. "Gara-gara si Majid pasti, nih. Aku jadi kebawa-bawa abis curhat sama dia. Ck ck ck Ibra juga jeli banget lagi."
Ben menyusul Ibra ke dapur. Ia mendapati lelaki itu juga tengah memasak mie seperti Ben sebelumnya. Namun ada satu hal yang menarik perhatian Ben.
"Bra, kamu ngelamun terus perasaan? Mikirin apa, sih? Jangan sampe kesambet, ngeri aku harus nyari dukun di mana," celetuk Ben semena-mena.
Ibra tak menghiraukan gurauan temannya itu. Ia menunduk menatap air mendidih dalam panci. Ibra mengambil tiga sendok sayur untuk mengisi mangkuknya yang sudah terisi serbuk bumbu, lalu mencelupkan mie dan mengaduknya hingga matang. Setelah selesai Ibra menyaring mie tersebut dan menyajikannya dalam mangkuk yang sudah terisi kuah tadi.
Sampai saat ini cara penyajian mie ala Ibra masih membuat Ben merasa aneh. Umumnya kuah mie diambil bersamaan dengan mie itu sendiri. Tapi Ibra lain daripada yang lain. Alih-alih demikian, Ibra malah selalu memisahkan dulu airnya untuk kuah, menyiram bumbu di mangkok. Katanya lebih enak dan gurih, kuahnya juga terasa lebih bersih dan bening.
Alah sekarepmu. Kadang otak Ben tak sampai mengikuti kebiasaan Ibra.
"Ngelamun lagi. Lama-lama kamu celupin juga itu tangan," dengus Ben. "Kenapa, sih? Gak biasanya galau?"
"Aku habis mimpi," aku Ibra pada Akhirnya.
Ben mengernyit. "Mimpi apa?"
"Copot gigi," cetus Ibra.
Kali ini membuat Ben mengerjap. Ia tak jadi tertawa karena melihat Ibra yang begitu serius. "Lalu?"
Ibra tampak membuang nafas berat. "Kata orang tua, mimpi demikian bisa jadi pertanda buruk. Mereka bilang mimpi gigi copot bisa menandakan akan ada orang yang meninggal."
"Ppfftt ... Bwahahahaha ...." Tawa Ben pecah seketika. Ia sampai membungkuk memegangi perut saking gelinya mendengar pernyataan Ibra. Air matanya bahkan menetes efek tertawa.
"Kamu kok ketawa? Aku serius."
Mendapati wajah serius Ibra, mau tak mau Ben segan juga. "Masa iya? Terus, apa hubungannya sama pacar kamu?" Kini ia mulai mengikuti alur dan bertanya tak kalah serius.
__ADS_1
Ibra mengendik. "Entahlah. Aku juga tidak tahu kenapa hatiku mengkhawatirkan dia."