
Pagi-pagi sekali Audi sudah mandi dan berpakaian rapi. Ia ada event dadakan dari salah satu desainer busana muslim yang hendak menjadikannya model. Tadinya posisi itu untuk salah satu penyanyi kenamaan, tapi karena berhalangan datang, pihak brand jadi kelimpungan mencari model pengganti.
Sebenarnya Audi mau menolak karena hari ini ia sudah ada janji dengan Ibra. Tapi barusan Ibra sendiri yang bilang bahwa Audi ikut event saja, tak apa kencan mereka ditunda karena itu bisa dilakukan di lain hari. Karena Ibra sudah bilang begitu, ya sudah, Audi menyetujui undangan fashion show tersebut.
"Harus stay jam berapa katanya?" tanya Ibra di seberang ponsel yang Audi letakkan di meja rias. Mereka sedang melakukan panggilan video ketika Audi sibuk bersiap.
"Jam delapan," jawab Audi sambil lalu. Ia tampak serius dan buru-buru.
"Kamu sama Mba Tian?"
"Iya."
"Ooh." Ibra mengangguk. "Bilang sama dia untuk hati-hati."
Kali ini Audi fokus memasang sepatu di bibir ranjang. Ia lalu mencangklong tas sebelum kemudian bangkit mendekati ponsel yang masih tersambung dengan Ibra. "Udah dulu, ya? Ini mau jalan."
"Iya. Kamu hati-hati. Mas juga mau jogging," sahut Ibra.
Pantas, sedari tadi lelaki itu tampak sudah mengenakan kaos dan training, ternyata sudah siap mau olahraga.
"Jogging di mana?" Audi menyempatkan diri bertanya.
Ia keluar kamar dan mendapati Tian mondar-mandir, wanita itu tengah bersiap juga untuk pergi menemani Audi.
"Di sini ada jogging track."
"Ooh. Pasti banyak cewek-cewek bohay," cibir Audi. "Awas aja kalau Mas Ibra nakal. Kita putus!"
Ibra tertawa sambil menggeleng. "Serem banget. Belum apa-apa kamu udah ngancam."
"Aku serius."
"Iya, Sayang ... Mas gak mungkin macam-macam, maunya cuman satu macam aja, yaitu nikahin kamu." Ibra menarik senyum manis, berusaha membuat Audi tenang.
Audi itu tipe wanita yang cemburuan parah. Ibra senyum-senyum lihat ponsel saja dia sudah curiga, padahal Ibra hanya baca obrolan grup yang memang saat itu penuh bayolan.
Ibra tidak risih, karena ia sendiri sadar mereka sama-sama pencemburu. Bedanya Audi akan bertindak agresif saat merasakannya. Seperti tempo hari, Audi hampir meledakkan Markas saat tahu Ibra melatih salah satu kowad wanita latihan tembak.
Bagi Ibra itu hal lucu, karena sudah lama sekali Audi tak berekspresi demikian di depan Ibra. Lebih tepatnya setelah Ibra menikah dengan Shireen.
"Mba Tian, bawa mobilnya hati-hati. Saya titip Audi." Ibra berujar ketika melihat Tian di balik ponsel.
Wanita itu berdiri di samping Audi.
"Siap, Mas Ibra!"
"Ya udah, Mas tutup VC-nya ya, Cla. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam ..." sahut Audi dan Tian hampir bersamaan.
Panggilan ditutup. Ibra lanjut dengan kegiatannya, begitu pula Audi dan Tian yang lekas beranjak karena diburu waktu.
***
Sampai di studio acara, Audi lekas didandani oleh Make Up Artist yang bertugas. Ia bersama para model lain yang sebagian besar dari kalangan selebriti dibantu bersiap sebelum tampil di catwalk.
Semuanya memakai hijab dan gamis karena konsepnya memang muslim wear. Audi suka bahan yang digunakan, nyaman dan tidak gerah. Motifnya juga eksklusif tidak pasaran. Zahira Emir, sang desiner mengatakan edisinya kali ini bertemakan Katulistiwa.
Motif kainnya memang menggambarkan pecahan-pecahan seperti pulau di Indonesia. Warnanya juga sangat earth tone sekali. Benar-benar elegan karena tidak ada yang menyamai. Mungkin ini bisa menjadi list Audi ketika lebaran nanti.
__ADS_1
Audi sudah siap, ia sudah beres didandani bersama para model lain. Mereka sudah stay di back stage sambil sesekali mengobrol ringan, menunggu model lain yang belum selesai.
Salah satu pesinetron yang dulu sangat tenar sebelum berhijrah dan vakum dari keartisan, mendekat dan duduk di samping Audi. "Assalamualaikum, Dek?" sapanya tersenyum ramah.
"Eh, wa'alaikumsalam." Audi menyahut tak kalah ramah, meski dalam hati sedikit gugup.
"Kamu Claudia Halim, ya? Yang punya kanal make-up di YouTube?"
"Iya, Mba. Hehe."
"Wah, beneran kamu ternyata. Saya sering lihat konten kamu wara-wiri di beranda, soalnya saya juga penggiat make-up."
"Benarkah, Mba?"
"Iya. Eh, kenalan, dong. Saya Erlita." Erlita mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Audi menyambut ramah perkenalan tersebut. "Claudia. Hehe, saya tahu karena dulu sempat suka banget nonton Mba Erlita di TV, salah satu yang masih saya ingat yang judulnya Melodi Asmara. Mba masih tetap cantik kayak dulu, ya."
Erlita tertawa renyah. "Masa, sih? Aduh, cantikan kamu yang masih muda," ucapnya mengibas, dengan mata menyipit manis.
"Beneran, lho. Mba kayak gak ada bedanya. Tiga puluh dua itu belum tua-tua amat tahu, Mba. Saya aja dua tujuh, hehe, gak jauh beda."
"Ih, beneran tahu banget kamu."
"Hehe, saya ngikutin Mba di Instagram."
"Tapi kamu beneran dua tujuh? Kok kayak masih anak kuliahan?"
Audi meringis malu. "Karena badan saya ya, Mba?"
"Bukan, bukan cuma karena badan kamu kecil, tapi muka kamu emang muka-muka anak muda. Eh, nama Instagram-nya apa? Biar nanti saya follow balik. Saya gak tahu selama ini di follow youtuber terkenal."
"Ooh, oke ... bentar saya cari."
Selama itu pula para selebriti yang berpartisipasi dalam fashion show di sana turut menghampiri keduanya. Mereka sangat ramah menyambut Audi meskipun ia hanya model pengganti. Audi cukup terharu, tadinya ia benar-benar gugup dan takut tak bisa berbaur, ternyata Audi telah salah menilai.
Tidak semua artis selalu abai terhadap anak baru. Mereka benar-benar sosok yang berhijrah sampai ke hati. Audi bisa merasakan kehangatan di antara orang-orang tersebut.
Mungkin di sini hanya Audi yang sehari-harinya belum berhijab. Audi jadi malu, mereka yang luar biasa cantik saja mampu menutup aurat meski tak sesempurna bercadar.
"Ya ampun, ketemu youtuber juga di sini. Tadi udah ketaksir padahal, tapi masih ragu, takutnya salah kira, hehe."
"Ternyata kamu yang tadi dimaksud Mas Mahesa. Selamat bergabung, ya."
Kira-kira begitulah sapaan-sapaan hangat yang Audi terima. Audi tersenyum ramah, berkenalan dengan para selebriti terkenal itu. Dan yang dimaksud Mas Mahesa adalah salah satu pihak penyelenggara yang bertanggung jawab atas acara tersebut. Orangnya lungguh, bahkan lebih lungguh dari gadis desa.
Tak lama suara musik pembuka terdengar dari luar back stage. Sepertinya mau dimulai, pikir Audi. Benar saja, selanjutnya suara sambutan yang Audi duga adalah MC menyampaikan selamat datang pada pengunjung dan tamu undangan lain.
Audi gugup, ia memang sudah lama berkarir sebagai model, tapi ini pertama kali Audi berjalan di catwalk. Kebanyakan agensi model memang mematok tinggi badan tertentu, dan Audi yang hanya 157 centimeter tentu kalah jauh jika ikut audisi. Lagipula Audi tak berminat berjalan di depan banyak orang, hanya saja sekarang ia seperti sedang mencoba hal baru.
"Kamu gugup?" tanya Erlita.
"Eh, iya, Mba. Ini pertama kali aku ikut fashion show. Biasanya cuma hadir sebagai tamu."
Erlita tersenyum. "Tenang aja, nanti kalau udah lenggak-lenggok di sana, kamu juga bakal enjoy sendiri. Jalan biasa aja, ini kan muslim wear, konsepnya lebih simple, lebih mengutamakan keanggunan wanita, jadi kamu gak usah mumet mikir banyak gaya," tuturnya menjelaskan.
"Gitu? Makasih, Mba."
"Sama-sama. Eh, itu udah mau mulai. Ke sana, yuk?"
__ADS_1
***
Audi menghela nafas lega usai memasuki belakang panggung. Ia tak percaya bisa melakukannya tanpa tersandung. Tidak tahu bagaimana penampakannya di dalam kamera dan video dokumentasi nanti, semoga saja tidak terlalu buruk.
Zahira Emir selaku perancang busana menghampiri para model yang baru saja habis tampil. Ia mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena sudah bersedia berpartisipasi dalam event fashion-nya.
Suasana ramai karena sepertinya mereka sudah saling akrab satu sama lain. Hebat, alih-alih seperti bos, Zahira Emir justru memperlakukan para modelnya seperti teman. Pantas brand pakaian miliknya memiliki predikat sangat baik di kalangan masyarakat Indonesia.
Bukan hanya harga produk yang masih terbilang ramah untuk semua kalangan. Tidak tahu apa harga dua ratus ribu ke atas masih bisa dibilang terjangkau, karena menurut Audi itu masih sangat bisa dijangkau. Melihat dari kualitas saja sudah hampir kelas atas, tentu harga segitu sangat wajar dan masuk akal. Bahkan mau mematok harga lebih pun menurut Audi masih wajar-wajar saja.
"Di, mau langsung pulang?" Tian bertanya setelah mereka keluar dari gedung pertunjukan.
Audi sudah ganti pakaian seperti sebelum ia tampil. Ia menoleh pada Tian dan mengangguk. "Iyalah, ngapain lagi?"
"Ya siapa tahu mau jalan sama Mas Ibra?"
"Jalan?"
"Iya, tuh, orangnya udah jemput," ucap Tian sambil mengendikkan mata ke arah parkiran.
Audi mengikuti arah yang ditunjuk. Ibra berdiri sambil bersandar si samping mobil. Ia melambai begitu melihat Audi keluar. Penampilan Ibra membuat Audi seketika gagal fokus.
Celana jeans hitam, kaos putih yang juga dibalut jaket warna hitam, lalu topi hitam. Bukan sesuatu yang jarang Audi lihat dari Ibra, namun tetap saja pria itu terlihat mempesona. Sneakers putih yang Ibra pakai, kenapa juga harus samaan dengan milik Audi?
"Kok udah dilepas aja hijabnya? Padahal kamu cantik banget jalan di catwalk tadi," kata Ibra saat Audi beberapa meter menghampirinya.
Audi mengerjap, ia menoleh bergantian pada Tian dan Ibra. "Emang Mas Ibra lihat?"
Ibra tersenyum seraya mengangguk. "Iya, Mas nonton juga tadi. Kamu cantik banget, Cla. Adem Mas lihatnya. Jadi makin sayang."
Kalau ada yang jago bikin Audi gugup, itu adalah Ibra. Terang saja ritme jantung Audi berdetak berkali lipat lebih cepat. Audi yang tadi sangat percaya diri menjadi peraga, kini dibuat mati kutu hanya di depan satu orang saja.
Kalimat cantik dan sayang mendadak terdengar istimewa di telinga Audi yang kebal akan bualan.
"Yuk, pulang? Kita mampir makan. Mba, Audi di mobil saya saja gak papa?" Ibra beralih melihat Tian.
"Gak papa, Mas, bawa aja. Lagian saya mau ketemu teman setelah ini."
"Mba gak ikut kita makan?"
"Enggak, Mas. Kalian berdua aja."
"Oh, gitu? Ya udah, deh. Ayo, Cla?"
Audi menoleh pada Tian. Sang manager diam-diam mengibas tangan, menyuruh Audi ikut bersama Ibra. "Udah sana, kamu gak usah khawatirin Mba."
"Mba yakin? Gak papa kita tinggal?"
Keraguan Audi membuat Tian berdecak. "Kamu kayak mau ninggalin anak kecil ingusan. Mba ini udah berpengalaman di kota-kota besar. Anak udah dua, masa kamu masih belum percaya mental Mba sekuat baja?"
"Ya udah, aku pergi. Oh ya, ini kunci rumah. Takutnya nanti Mba sampai duluan pas aku belum datang." Audi menyerahkan kunci pada Tian.
"Iya, makasih. Udah sana."
Audi pun masuk ketika Ibra membukakannya pintu mobil. Ia dan Ibra pun bersiap untuk pergi meninggalkan gedung pertunjukan. Ibra membunyikan klakson dan sedikit melambai pada Tian sebagai perpisahan.
Tin!
"Mari, Mba. Duluan, ya?"
__ADS_1
"Iya, Mas, hati-hati!"