
Beralih dari Kaminarimon, Ibra dan Audi melanjutkan perjalanan mereka menuju Tokyo Tower, melihat pemandangan kota Tokyo dari ketinggian 250 meter. Cuaca yang cerah turut mendukung hingga mereka bisa melihat pemandangan Gunung Fuji yang sangat terkenal di Jepang, juga Tokyo Skytree yang merupakan menara pemancar sinyal paling tinggi di dunia dengan ketinggian mencapai 634 meter.
Keduanya juga sempat membeli souvenir di Tokyo Tower Official Store, letaknya ada di top deck atau lantai tertinggi dari menara Tokyo tersebut.
Menjelang sore, perjalanan mereka berlanjut ke Shibuya, mengunjungi Tokyo Camii Mosque yang bertempat di distrik Oyamacho. Tokyo Camii Mosque adalah mesjid terbesar di Jepang. Mesjid monumental yang berdiri sejak tahun 1930-an oleh para imigran Bashkir dan Tatar asal Rusia yang datang ke Jepang setelah Revolusi Oktober. Namun, mesjid tersebut sempat dirobohkan pada tahun 1986 dan dibangun kembali pada tanggal 30 Juni tahun 2000. Masjid ini dibuka kembali dengan arsitektur baru rancangan arsitek Turki, Muharrem Hilmi Senal.
Masuk di pintu utama, banyak sekali hiasan keramik ala Turki, desain dalam masjid juga penuh akan kaligrafi. Audi dan Ibra sekaligus melaksanakan sholat karena sudah masuk waktu ashar. Berbeda dari tempat laki-laki, tempat sholat perempuan berada di lantai dua masjid tersebut.
Usai sholat mereka tak langsung pergi. Secara kebetulan Camii Mosque juga menyediakan berbagai makanan halal dari beberapa negara untuk dijual, termasuk Indonesia.
Ibra mengajak Audi menikmati sore di sana, melihat pemandangan sakura di seberang jalan sambil menyeruput seduhan mie dengan suasana syahdu ala islam di bagian timur Asia.
Selanjutnya mereka kembali ke Asakusa untuk beristirahat sejenak di hotel tempat mereka menginap. Audi sudah mengeluh pegal-pegal dan ingin rebahan. Sekitar satu jam lagi menuju waktu magrib di Tokyo, Ibra pikir cukup untuk mereka rehat sebelum lanjut mencari restoran halal untuk nanti makan malam.
"Cepeknya ...." Audi mendesah lelah, melemparkan diri ke sofa kecil yang terletak di samping jendela.
Hotel yang mereka tempati terbilang mewah dengan pemandangan langsung Gunung Fuji dan tempat Iconic lain di Tokyo. Kalau malam, metropolitan itu terlihat indah dengan kerlip lampu yang menghampar seperti lautan.
Ibra tersenyum menghampiri istrinya. Ia duduk di lengan sofa seraya merangkulkan tangan di seputaran bahu Audi. Ibra memeluk Audi sambil menumpukan dagunya di atas kepala wanita itu yang sudah tak terlapisi hijab. Rambut Audi masih wangi kendati seharian ini mereka bepergian.
Mata keduanya memandang damai ke luar jendela. Senyum kecil tersemat di bibir Audi maupun Ibra. Audi tersenyum, sedikit memiringkan kepalanya bersandar pada sang suami. Perasaan hangat melingkupi hati keduanya ketika Ibra bertanya dengan suara halus. "Capek?"
Audi kembali mengulas senyum sebelum menjawab. "Capek, tapi aku senang."
Lagi, Ibra menarik sudut bibirnya mengecup rambut Audi, mengusapnya sesekali sembari menatap lampu-lampu yang mulai menyala di luar sana.
"Hari ini cukup dulu, besok lagi lanjut jalan-jalannya. Sorenya kita ke Kyoto, cari penginapan di sana biar ke hutan bambunya bisa pagi-pagi banget."
Audi mengangguk saja. Terserah Ibra mau membawanya ke mana dulu, yang penting Audi bisa mengeksplor tempat-tempat wisata di negeri matahari terbit itu, walau tidak bisa semuanya karena waktu mereka juga terbatas.
Ibra mencium dalam pelipis Audi. "Mandi, yuk? Berendam sebelum magrib. Sayang kalau jacuzzi nya gak dipake," bisiknya penuh arti. "Mas pijatin kamu, deh, mau ya?"
Audi seketika berdecak. Ia hampir saja memutar mata jika tidak ingat etika. "Pijat?"
"Heem." Ibra mengangguk, terlihat antusias.
"Yang pegel-pegel kaki sama pundak aku, punggung juga," jelas Audi memberi tahu. Ibra masih mengangguk-angguk seolah mengerti. "Tapi, aku yakin yang mau Mas pijat bukan bagian itu, tapi sesuatu yang lain," lanjutnya malas.
Ibra tersenyum. "Kan nyambi, Yang. Mau, ya? Biasanya badan pegel, enak kalo berendam air hangat."
Audi menghela nafas. Ia mendongak menatap Ibra yang kini memandangnya dengan mata amat redup. Menolak suami itu dosa, bagaimana pun Audi tetap harus melayaninya, bukan?
"Ya udah, tapi jangan lama-lama," putus Audi.
Ibra terkekeh senang. Ia segera mendongakkan wajah Audi lalu mengecupi seluruh permukaannya secara bertubi-tubi. Keduanya pun beralih ke kamar mandi, dan berendam dalam jacuzzi sesuai keinginan Ibra.
Meski Audi sempat bilang tidak mau, nyatanya ia tetap melenguh nikmat saat Ibra menepati janji memijat tubuhnya, meski sesekali tangan nakalnya mengambil kesempatan menyentuh sesuatu yang menggelikan.
Malam harinya, Ibra mengajak Audi ke Tokyo Skytree. Melihat pemandangan lampu-lampu yang gemerlapan dari ketinggian entah berapa ratus meter. Ini lebih tinggi dari Tokyo Tower yang tadi siang sempat mereka datangi. Kuping Audi bahkan rasanya pengang ketika memasuki lantai tertinggi dari menara yang katanya salah satu tertinggi di dunia setelah Burj Khalifa di Dubai.
Mereka baru saja keluar dari lift setelah sebelumnya mampir di lantai 300-an untuk makan. Di lantai 300 itu banyak sekali resto dan cafe yang menjual berbagai hidangan mewah. Maksud lantai 300 di sini bukan berarti lantai ke 300, melainkan dalam ketinggian 300 meter dari atas tanah.
Ibra menggandeng Audi menyusuri lorong sempit yang di sampingnya berupa dinding kaca tebal dengan bentuk melengkung. Besi-besi tebal melapisi bagian dalam sekaligus menjadi railing pembatas yang nyaman. Pengunjung bisa bersandar di sana sambil menikmati pemandangan malam metropolitan Tokyo.
Sedikit menjauh dari keramaian, Ibra menghentikan langkah, mendorong Audi untuk menghadap ke arah jendela. Sementara dirinya mengurung wanita itu dari belakang. Ibra tersenyum menumpukan dagunya di atas kepala Audi yang malam ini terbalut hijab pastel. Ia menciumnya sesaat sebelum turut memperhatikan pemandangan kota Tokyo yang begitu kecil di bawah sana.
"Ini lantai berapa, Mas?" tanya Audi. Ia berdiri nyaman dalam kehangatan yang dilingkupi Ibra.
Ibra menjawab. "Empat ratus lima puluh."
Audi mengangguk kecil. "Pantas, kuping aku pengang banget. Ini udah kayak naik pesawat, gak, sih?"
"Enggak, lah, jauh," kata Ibra. "Pesawat biasanya terbang pada ketinggian 35 sampai 36 ribu kaki. Ini cuman berapa ratus meter."
"Ya tetap aja, ini udah tinggi banget," timpal Audi.
"Nanti kalau ada kesempatan, Mas ajak kamu ke menara tertinggi di dunia," cetus Ibra.
"Dubai?"
"Hm."
Audi tersenyum, ia semakin bergelung nyaman dalam dekapan Ibra. "Aku tunggu saat itu tiba."
Ibra terkekeh, ia menunduk menatap sang istri yang berada di bawah dagunya. Tangannya beralih memeluk Audi lebih erat, dan kembali melabuhkan kecupan di puncak kepalanya.
"Insya Allah, kalau panjang umur, Mas akan ajak wanita kesayangan Mas ini keliling dunia."
Audi mendongak, balas melempar senyum. "Bener, Mas?"
Ibra mengangguk. "Insya Allah, Sayang. Doakan saja rezeki Mas lancar."
"Aamiin ..."
Keduanya saling melempar senyum. Ibra menoleh kanan kiri, memastikan tidak ada orang di sekitar mereka. Setelah dipastikan aman, Ibra pun menunduk melabuhkan ciuman di bibir Audi. Mengulum dan menghisapnya dalam penuh perasaan.
Kini, langit malam Tokyo menjadi saksi keduanya memadu kasih. Ibra menarik diri dan tersenyum, mengusap pinggiran bibir Audi yang basah usai mereka berciuman.
__ADS_1
"Mas cinta banget sama kamu, Cla," bisiknya dengan sorot penuh haru. "Mas sayang banget sama kamu."
Audi balas menatap Ibra dengan matanya yang redup. Suaminya, cintanya, hati Audi benar-benar berbunga bisa menikmati waktu berdua dengan Ibra.
"Audi juga cinta dan sayang banget sama Mas."
Ibra tersenyum, mencium kembali bibir Audi sekilas. "Untuk hari-hari sebelumnya, Mas minta maaf, ya?"
Audi terdiam dan mengangguk. "Audi maafin, kok."
"Makasih, Sayang."
"Sama-sama," balas Audi manis.
Keduanya saling melempar senyum damai. Berpelukan dan menikmati kemesraan pada ketinggian 450 meter di tanah Tokyo. Selanjutnya, Ibra akan mengajak Audi pergi ke Dubai, suatu saat nanti.
"Menara ini tingginya hampir sama dengan Shanghai Tower. Sekitar 360-an."
"Masa?" tanya Audi mendongak. Ia bersandar dalam pelukan Ibra. Tangannya menyentuh lengan sang suami yang melingkar di sepanjang pinggang dan perutnya.
"Iya. Coba aja baca di google. Mas pernah ke sana juga bareng Pak Pres dan rekan-rekan lain."
Audi manyun. "Mas Ibra enak, keliling negara gratis."
"Kamu juga gratis, kan semuanya Mas yang bayar," balas Ibra telak.
Audi merengut merasa kalah. Sementara Ibra tertawa kecil, mengecup gemas sisi kepala Audi seolah ingin menggigitnya. "Beda, Sayang. Dulu Mas keliling negara dalam rangka melaksanakan tugas. Enak gak enak, sih. Enaknya kita bisa sambil menambah wawasan, gak enaknya ... karena waktu itu Mas masih sendiri, perasaan Mas pun gak sebahagia sekarang. Sama-sama seru, bedanya sekarang sama kamu."
Ibra tersenyum manis. Kilaunya sampai hampir mengalahkan kerlip lampu di bawah sana, ditambah lorong tertinggi ini memang dalam pencahayaan yang remang, Ibra makin tampak paling bersinar di mata Audi.
Di tengah keromantisan mereka berdua, tiba-tiba saja sesuatu yang berat menimpa kaki Ibra. Refleks Ibra melonggarkan pelukan dan menunduk ke bawah.
Seorang bocah lelaki berkulit putih dengan mata sipit oriental tengah bersimpuh di bawah kakinya. Anak itu merengut lucu menepuk-nepuk lututnya yang terbalut celana jeans sedikit ketat. Ia berdiri, mendongak pada Ibra serta Audi yang sama-sama terbengong menatapnya. Anak itu berkedip polos, dan demi apa pun Audi gemas dengan wajah tampannya yang imut seperti boneka.
Audi melepaskan pelukan Ibra dan segera berlutut, menyamakan tinggi dengan bocah tersebut. "Are you okay? There is something hurts?" tanyanya disertai senyum ramah.
Anak itu hanya terdiam dengan wajah datar. Audi sedikit meringis, mendongak pada Ibra yang juga tengah menatapnya.
Belum sempat Audi kembali bicara, seorang wanita cantik berpenampilan glamor terlihat mendekat dari kejauhan, ia sedikit berlari dengan sepatu runcingnya. "Oh My God, Alison! Kenapa kamu selalu membuat mommy jantungan? Berhentilah berlari, Anak Pintar!"
Audi mengerjap. Apa? Jadi anak ini bisa Bahasa Indonesia? Apa dia orang Indonesia juga?
Wanita cantik bertubuh mungil itu segera meraih bocah lelaki bernama Alison itu ke sampingnya. Sumpah, demi apa pun Audi serasa bertemu aktris Korea. Wanita itu tersenyum ramah dengan raut sedikit bersalah pada Audi dan Ibra.
"Maaf, anak saya sedang aktif-aktifnya. Dia tak pernah berhenti berlari, bahkan di tempat asing sekalipun. Sekali lagi maaf," ujarnya. Suaranya selembut bisikan bidadari.
Wanita itu mengangguk, senyumnya sangat cantik dan indah, selembut para dewi yang Audi lihat di film fantasi. "Benar. Kalian juga Indonesian, kan?"
Audi tersenyum mengangguk, begitu pula Ibra yang menguar senyum kecil yang terlihat ramah. Wanita itu mengulurkan tangan pada Audi. Namun belum sempat ia menyebutkan nama, sebuah suara berat memanggilnya dari belakang.
"Plum?"
Wanita itu menoleh dan langsung mengukir senyum lebar. Yang ada di pikiran Audi dan Ibra, pria itu pasti suaminya.
Perawakannya tinggi dan tegap, sepertinya beberapa centi di bawah Ibra. Wajahnya sangat tampan dan tegas, tapi auranya bisa membuat Audi seakan membeku di tempat.
Audi merasakan lingkaran lengan di pinggangnya. Ia mendongak dan mendapati Ibra mulai bersikap posesif meski tak kentara. Ibra memandang pasangan di depan mereka dengan ramah, berbeda sekali dengan pria berjas itu yang menatap Ibra sedikit tajam. Dilihat dari mana pun mereka adalah kalangan borjuis dengan uang tanpa limit.
Tak berani menatap lebih lama pada pria itu, Audi pun segera beralih lagi pada si wanita dan anaknya. Lucu sekali, mereka berdua sangat mirip.
"Koko sudah selesai meeting?"
"Hm, sudah. Ayo pulang."
"Ke hotel?"
"Mansion."
Si wanita nampak menghela nafas. "Tapi Alison masih mau main." Sepertinya ia ingin membantah.
"Oh, please, Honey?"
Entah apa yang mereka perdebatkan, mungkin sebelumnya ada sedikit perselisihan? Audi tidak tahu dan hanya mampu diam menjadi pendengar, walau terkesan canggung.
Audi menoleh pada Ibra, melempar senyum kecil sebelum kemudian menunduk menatap bocah lelaki yang entah sejak kapan memperhatikan ia dan sang suami. Rautnya terlihat penasaran, khas anak kecil sekali.
Audi pun melempar cengiran pada anak itu, ia sedikit membungkuk meraih pipi gembilnya yang sehalus permukaan mochi. "Nama kamu siapa?"
Anak itu masih diam dan bungkam. Wah, rupanya dia titisan sang papa yang saat ini tengah berdebat kecil dengan mamanya perihal masalah pulang.
"What's your name?" Audi iseng pakai Bahasa Inggris, dan ajaib anak itu langsung menjawab dengan nada mencicit.
"Alisson Tjandra Wiranata."
"Wow," gumam Audi.
"Boy, come on!" Pria yang Audi tebak adalah ayah dari anak tersebut menggendong Alisson menjauhi Audi. Bahkan tanpa kata meninggalkan mereka, meski sempat mengangguk kecil pada ia dan Ibra sebagai isyarat untuk permisi.
__ADS_1
Audi meringis. Begitukah cara orang kaya berpamitan? Apalagi ini di hadapan orang asing, minimal sopan sedikit bisa, kan? Hey, dia bahkan meninggalkan istrinya!
Wanita cantik yang masih berdiri di hadapan Audi itu menoleh dan meringis. "Maaf atas perlakuan suami saya. Dia ... sedikit tidak menyukai negara ini, jadi ... ya begitulah, agak rewel memang, hehe."
"Oya, ngomong-ngomong, nama saya Maria." Kali ini wanita itu benar-benar mengajak Audi berkenalan.
Audi membalas dengan ramah. "Claudia, dan ini suami saya, Ibrahim."
Wanita bernama Maria itu mengangguk pada Ibra. "Mr. Ibrahim," sapanya kecil.
"Senang bertemu kalian. Sayang sekali saya harus segera pergi sekarang. Mari?"
Wanita itu pergi, meninggalkan Ibra serta Audi yang masih larut dalam keheningan, meski suara musik tak berhenti mengalun di sekitar mereka.
Audi menoleh pada Ibra, begitu pula Ibra yang turut membalas tatapannya. Pria itu tersenyum teduh, lalu kembali mengarahkan Audi untuk melihat keluar jendela dan mengamati suasana langit malam di Tokyo.
Audi pun melupakan kedatangan keluarga kecil tadi yang sempat menjeda keromantisan mereka.
"Mas Ibra?"
"Hm?" Ibra bergumam dari atas kepalanya. Seperti biasa pria itu menumpukan dagu di sana, sudah seperti posisi paling favorit bagi Ibra. "Kenapa, Sayang?"
"Laper, hehe. Beli ramen, yuk? Restoran tadi masih buka gak, sih? Yang moeslim friendly itu, lho?"
"Gak tahu. Kamu lapar? Ya udah, ayo cari makan."
Berbanding terbalik dengan ucapannya, Ibra justru semakin mengeratkan pelukan. "Sebentar, Mas masih betah di sini," katanya, sambil menghirup wangi hijab Audi.
Audi pun tak menolak karena ia juga merasa nyaman. Toh, rasa laparnya belum terlalu kentara.
Audi bersandar dalam dekapan Ibra. Keduanya tersenyum satu sama lain melihat hamparan lampu di bawah menara. Tokyo terlihat begitu kecil, bahkan Tokyo Tower yang dari kejauhan mirip Menara Eiffel kalah tinggi dengan dengan posisi mereka saat ini.
"Cla?"
"Hm?"
"I love you."
Audi terkekeh sedikit mendongak. "Tumben pakai Bahasa Inggris?"
Biasanya Ibra menyatakan cinta dalam Bahasa Indonesia yang terdengar bersahaja.
"Gak pantes, ya?"
"Pantes - pantes aja, cuman geli aja." Audi terkikik.
Ibra mendengus dengan senyum kecil, mulutnya terbenam sesaat di atas kepala Audi.
"Aishiteru," cetus Ibra selanjutnya.
Tapi lagi - lagi Audi merasa geli. Ia tertawa sambil memukul lengan Ibra. "Apaan, sih, Mas Ibra. Haha ..."
"Eu te amo."
Audi kembali terkekeh.
"Kocham ciebie."
"Bahasa apa itu?"
"Polandia."
"Yes kez sirumen."
"Hm?"
"Armenia," sahut Ibra menjawab kebingungan Audi.
"Tau, ah. Gak ngerti."
Ibra pun turut terkekeh geli. "Ya udah, kita pakai bahasa Sunda aja, ya?"
"Coba," tantang Audi.
"Aa nyaah ka anjeun. Eh, salah, Aa cinta Neng. Hahaha ..."
"Kok ketawa, sih~" rengek Audi.
Ibra tampak kesulitan menahan tawa. "Emang udah paling bener Mas cinta kamu, Cla."
Audi manyun, namun ia juga diam-diam menahan senyum. Betapa hatinya sangat berbunga seperti sakura yang bermekaran. Ibra adalah suatu bentuk kebahagiaan yang melengkapi lembar hidupnya, dan semoga Allah melanggengkan rumah tangga mereka. Semoga ia dan Ibra bisa terus berdampingan dalam sakinahnya.
"Audi juga cintaaaa banget sama Mas~"
Mendengar itu barulah Ibra berhenti tertawa, ia tersenyum memandang Audi teduh. Perlahan wajahnya merunduk, mendaratkan bibir di atas bibir Audi yang plumpy dan menggoda. Ibra tak akan pernah bosan dengan rasanya yang segar dan manis.
Keduanya terpejam dan larut dalam buai kemesraan, hingga tanpa terasa waktu berangsur tengah malam.
__ADS_1
Audi dan Ibra, mereka adalah dua manusia yang tengah bahagia merasakan segarnya cinta. Dengan latar negeri sakura yang indah, serta musim semi menyambut mereka dengan cerah.