
Audi selesai di-make up lagi dan berganti pakaian usai pemotretan sebelumnya bersama Ibra. Kini mereka hendak beralih pada tema dan konsep lain.
Sebelumnya mereka melakukan photo shoot di studio dengan dua pakaian berbeda. Sekarang mereka akan berpindah ke tempat lain guna merealisasikan konsep yang dimau Ibra. Apa lagi kalau bukan alam.
Ibra mengaku kangen blusukan saat menjadi TNI, jadi dia mau salah satu prewedding mereka dilakukan di hutan. Kenapa tidak sekalian dia pakai baju lorengnya biar lebih keren? Katanya malu, sudah mengundurkan diri masa masih mau percaya diri pakai seragam non-aktif untuk gaya-gayaan sebelum nikah.
Haish, sudahlah suka-suka Ibra saja. Lagipula Audi juga malu sok-sokan pakai baju persit di saat Ibra bukan lagi anggota prajurit.
Untuk pemotretan di hutan, Audi bersyukur pakaian yang dikenakan tidak begitu ribet dan berat. Hanya satu gaun dan selebihnya casual saja. Itu pun gaun yang akan Audi pakai saat shoot video nanti.
Benar, selain foto mereka juga akan membuat cuplikan video pendek, dan tentu Ibra memilih vibes hutan ini sebagai tempatnya. Audi bahkan tahu dari Om Edzar bahwa putranya sudah dari 3 bulan lalu bertanya-tanya mengenai tempat pada setiap orang yang dikenalnya.
Benar-benar calon Bapak Dewan satu ini. Dia bahkan yang paling ribet dari Audi dalam menentukan tema foto dan sebagainya. Kalau kata fotografernya, "Si Aa rewel pisan, ya, Teh?"
Memang, Audi menjawab demikian. Hampir keseluruhan ide datangnya dari Ibra. Bisa dibilang mereka hanya menyewa tukang foto untuk berpose dan menyiapkan segalanya. Kalau mengikuti konsep tim fotografer pasti cepat, tak perlu lama-lama berdiskusi karena si fotografer juga butuh memahami dan mempelajari konsep dari Ibra yang bukan main ribetnya.
Bagaimana tidak ribet kalau Ibra menginginkan salah satu scene videonya di ambil di sungai? Parahnya dia bukan cuman mau basah-basahan, melainkan sepenuhnya nyebur hingga basah kuyup sebadan.
Astaghfirullah al adzim ... Sudahlah Audi tak mengerti lagi. Pusing. Ini biasanya kalau mau nikah, setahu Audi wanita yang lebih ribet, bukan pria. Tapi kenapa Ibra kebalikannya?
Kamera sudah siap, begitu pula lighting dan peralatan lainnya. Ibra berdiri di tepi sungai bersiap menceburkan diri. Mentang-mentang pintar berenang dan menyelam, sampai prewedding pun mau yang anti-mainstream begini.
Audi hanya diam dan ikut saja sesuai arahan. Biar saja mereka yang pusing, jangan sampai dirinya juga ikut pening.
Tentu untuk merealisasikan ambisi Ibra, harus ada banyak yang dikorbankan, termasuk satu kameramen yang siap ikut nyemplung guna merekam aksi Ibra di dalam air.
Entah apa yang mau Ibra lakukan di dalam sana, Audi berharap tidak ada ular atau buaya serta hewan buas lainnya yang berbahaya. Memang, sih, Ibra sudah terbiasa dalam berbagai medan. Kalau sekedar sungai semacam ini bukan masalah besar bagi Ibra, dia bahkan sering bermain dengan arus saat menjalani pelatihan militer. Apalagi ini kan sungai bersih yang terawat karena termasuk dalam lingkup wisata alam. Penampakannya sangat jernih dan indah dalam balutan warna kehijauan yang cemerlang. Tapi, tetap saja Audi khawatir.
Sebenarnya Ibra mau ngapain sampai harus masuk ke dalam air untuk syuting? Untuk melakukan adegan ini, tim sengaja menyewa separuh tempat yang sekiranya masuk dalam area tangkapan kamera.
"Siap, action, Mas!" seru si fotografer, dalam hal ini dia yang memimpin layaknya sutradara.
Ibra mengacungkan jempol pertanda siap. Ia terlihat keren dalam balutan kemeja santai berwarna putih lengan pendek yang longgar serta celana chinos berwarna krem.
Figur Ibra memang keren dalam situasi dan kondisi apa pun. Beruntung area wisata ini sedang tidak begitu ramai. Paling satu atau dua orang yang Audi lihat melewati tempat mereka, itu pun laki-laki.
"Ambil posisi! Objek, kameramen! Dalam hitungan 3 siap!" Fotografer itu berseru lagi.
Kameramen di sebelah Ibra kini bersiap ambil posisi untuk merekam, pun Ibra tak kalah berancang-ancang memasuki sungai. Audi? Dia hanya bersandar di kursi, di bawah pohon sambil kipas-kipas wajah yang sudah terpoles riasan. Matanya mengamati sang calon suami yang entah Audi merasa sejak keluar dari kesatuan paspampres, jadi makin banyak gaya dan maunya.
"Mba gerah, ya? Hijabnya sampe basah gitu," ucap wanita di sampingnya. Dia adalah Make Up Artist yang mendandani Audi selama proses syuting.
Audi berhenti menggerakkan kipas dan menyentuh hijabnya sendiri. "Bagian mana yang basah, Mba?" tanyanya mulai waswas.
Iyalah waswas, dandannya lama, tahu. Belum lagi nanti pakai gaun. Haduh, kemeja tipis begini saja sudah gerah rasanya. Yang bikin gerah itu Ibra sebenarnya.
"Bagian leher, Mba. Tapi gak begitu terlihat, kok. Masih aman di kamera."
"Serius?"
"Iya. Sini saya saja yang kipasin, biar Mba gak tambah keluar keringat banyak karena banyak gerak."
Audi menyerahkan kipas elektrik berbentuk kepala harimau pada si Mbak tukang make up. Akhirnya ia bisa bersantai sepenuhnya, bersidekap memandangi Ibra yang sedang syuting.
"One, two, three, action!"
Byuurr!!
Suara kecipak air yang beriak sekaligus menelan Ibra yang masuk ke dalam sungai. Kameramen mengikuti perlahan dengan mencelupkan alat perekam ke dalam air, sebelum ia turut menyelam sedikit mengikuti pergerakan Ibra.
"Mba, di sini ada buaya gak sih?" celetuk Audi tiba-tiba.
Si Mba terkekeh pelan. "Mana ada buaya, Mba. Sungai sebening dan seindah ini, masa ada buayanya?"
Audi meringis. "Ya kali aja, hehe. Aku suka parno kalau menyelam ke semacam sungai dan danau gitu. Biasa, korban film, Mba, hehe. Segala macam monster dan hewan kebayang bikin ciut duluan."
"Emang Mba suka bayangin apa kalau nyebur sungai?"
"Banyak, Mba. Pokoknya yang seram-seram. Ular gede, buaya, piranha, bahkan godzila sekalipun aku kebayang," papar Audi lucu.
Si Mba sampai tertawa terpingkal-pingkal mendengar pernyataan polos Audi. "Ya ampun, Mba Audi ini ada-ada aja. Haha ..."
Audi kembali meringis. "Aneh, ya, Mba? Aku emang sepenakut itu, sih."
"Korban film banget Mba nya."
"Iya, aku emang suka baper dan kebayang-bayang," angguk Audi tak menampik.
Fitri, wanita yang menjadi make up artist Audi kali ini, lagi-lagi tersenyum. "Eh, iya. Mba Audi, saya boleh minta foto bareng, gak?"
Audi menoleh. "Foto?"
Fitri mengangguk. "Iya, Mba. Hehe, aku ... penggemar Mba Audi waktu masih suka ngonten make up di YouTube."
Audi mengerjap. "Masa iya?"
"Iya, Mba. Bahkan kebanyakan trik make up saya hasil belajar dari channel Mba. Mba Audi sekarang gak ngonten lagi, ya? Di Instagram juga jarang muncul?"
"Eh, itu ... iya, aku emang udah lama berhenti dari YouTube. Kalau Instagram aku cuman posting-posting kecil seru-seruan aja, gak ada endorse produk, hehe."
"Oh, gitu, ya, Mba? Sayang banget padahal. Aku selalu nungguin konten make up Mba. Suka banget lihatnya, Mba detail kalau jelasin teknik make up. Jujur aku gugup banget waktu disuruh dandanin Mba Audi. Secara Mba sendiri beauty vlogger terkenal."
__ADS_1
Audi meringis dalam hati. Beauty vlogger terkenal? Kalimat itu seolah menjerumuskan Audi pada lubang menganga yang sampai saat ini masih berduka. Ia berusaha tersenyum di tengah suasana hatinya yang mulai sendu.
"Ya udah, mana hape Mba?" Audi meminta ponsel wanita itu guna memulai selfie, sekaligus mengakhiri perbincangan mengenai konten kreator.
Wajah Fitri seketika berbinar. Ia merogoh ponsel dalam tas dan menyerahkannya pada Audi dengan semangat. Audi tersenyum, ia menerima ponsel tersebut dan mulai membuka ikon kamera setelah sebelumnya Fitri menekan sidik jari.
Wajah Audi dan Fitri berdampingan. Audi tersenyum manis sedangkan Fitri tersenyum lebar. Tampak perbedaan yang cukup jauh pada keduanya. Hal yang biasa terjadi ketika berfoto bersama artis.
"Mba Audi cantik bangeeeett ..." seru Fitri, senang sendiri mengamati hasil jepretan selfie mereka.
"Hasil make up kamu, nih."
"Enggak, Mba Audi aslinya emang cantik meski tanpa make up. Bikin seneng yang dandani karena mukanya mulus banget. Makasih, ya, Mba? Ini fotonya boleh aku post di Instagram, kan? Aku boleh tag Mba juga, gak?"
Audi mengangguk. "Boleh, kok."
"Aaahhh ... senengnya ..."
Di tengah Fitri yang kesenangan, Audi dipanggil untuk shoot sehingga dia pun lekas beranjak mendekati area take. Audi sempat melirik Ibra yang sudah keluar dari sungai dengan keadaan basah kuyup. Pria itu tengah mengeringkan rambut dan mengelapi seluruh badannya dengan handuk kecil.
Penampilan Ibra membuat Audi salah fokus, apalagi kalau bukan karena ototnya yang tercetak jelas di balik kemeja yang basah?
Bahkan Fitri saja sampai melongo, melupakan sejenak kebahagiaannya usai berfoto dengan Audi.
***
Sepulang pemotretan, Audi dan Ibra makan dulu di salah satu caffe milik Om Edzar, sekalian Ibra melakukan pengecekkan katanya. Mulanya Audi disuruh menunggu di ruang kerja, tapi ia menolak karena lebih nyaman makan di fasilitas pengunjung dan menikmati makan bersama mereka.
Ibra sedang ke area dapur, melihat para karyawan yang bekerja. Sementara Audi duduk di salah satu meja, menatap space kecil di samping caffe yang diisi penghijauan dan bebatuan sungai dengan suara gemericik dari air mancur kecil di beberapa sudut.
Kebetulan meja yang Audi duduki memang berada di area private, jadi tidak begitu banyak lalu lalang orang hingga suasana terkesan lebih tenang ketimbang di depan.
Tak lama Ibra kembali dari dapur, ia membawa senampan penuh makanan. Di belakangnya, satu pelayan laki-laki turut membawa sisanya sekaligus dua gelas minuman.
"Maaf lama. Tadi di dapur ada penambahan menu. Kamu udah lapar?" tanya Ibra begitu ia duduk di hadapan Audi.
Audi yang sedari tadi menopang dagu, sontak mengubah posisinya menghadap Ibra, tangannya terlipat di atas meja. "Gak papa, tadi aku makan papeda yang kita beli di jalan."
Ibra mengangguk paham. "Ooh. Syukurlah." Ia mulai menurunkan satu persatu piring dari nampan ke atas meja. "Kita makan sekarang, ya? Semoga perut kamu enggak perih karena kita agak telat makannya. Minumnya taruh sini, Ren." Ibra menunjuk si pelayan yang langsung mengangguk, mengikuti perintah Ibra.
"Siap, Pak."
Kini, meja yang semula kosong terisi penuh dengan berbagai menu. Morinaza Caffe memang tak perlu diragukan kualitas bahan dan rasanya. Semua yang pernah Audi coba tidak pernah ada yang gagal. Ada, sih, yang menurut Audi kurang enak adalah olahan-olahan kue kering, karena memang Audi tak begitu suka makanan manis apalagi sejenis pastry.
Ini, sih, bukan telat lagi, tapi telat banget. Adzan ashar bahkan sudah berkumandang dari mushola entah yang mana. Tak Audi sangka pembuatan foto dan cuplikan video prewedding akan memakan waktu selama tadi. Ia terlalu meremehkan konsep ribet Ibra.
Ya itu yang membuat lama, Ibra yang banyak gaya.
Keduanya makan dengan tenang. Sesekali Audi mengelap peluh efek kepedasan karena memakan sambal. Mau se-elit apa pun gaya hidup mereka, Ibra dan Audi tetaplah menggemari masakan Indonesia. Apalagi Ibra, dia jarang sekali menemukan rasa yang cocok di lidah ketika pergi ke luar negeri. Tapi karena tuntutan, mau tak mau Ibra pun tetap menelannya walau tak suka.
"Gimana gak capek? Mas Ibra udah kayak mau bikin film berdurasi 1 jam," ledek Audi.
Ibra hanya terkekeh singkat. "Maaf, tapi nanti kamu juga akan puas dengan hasilnya."
Audi menghela nafas malas. "Kenapa harus seribet itu, sih? Kan kita bisa ikutin konsep yang udah ada aja. Tinggal pilih mau kayak gimana?"
Ibra menjawab dengan sabar. "Mas mau sesuatu yang spesial buat pernikahan kita, Cla."
"Oya, setelah ini kita pergi ke suatu tempat. Tapi sholat dulu, ya?"
"Yang Mas bilang mau nunjukkin sesuatu itu?" Audi mengangkat alis.
Ibra mengulum senyum. "Hem," angguknya.
Audi pun tak bertanya lagi. Ia hanya akan menunggu apa yang akan Ibra perlihatkan padanya nanti.
Seperti kata Ibra, usai makan mereka langsung bertolak lagi dari caffe. Tentu ia dan Ibra sholat dulu di mesjid terdekat, setelah itu baru pergi ke tempat yang Ibra sebutkan.
Perjalanan dari caffe cukup memakan waktu lama. Langit juga sudah mulai berwarna keoranyean. Sinar matahari sudah tak seagresif beberapa jam sebelumnya. Mobil yang dikendarai Ibra mulai memasuki kawasan penghijauan yang asri dan luas.
Audi menolah kanan kiri jalan yang penuh akan pepohonan. Jalannya juga sudah beraspal dn halus. Audi sepertinya tidak asing dengan tempat ini. Kapan, ya, dia pernah lewat kemari?
"Mas Ibra, kita mau ke mana, sih?"
Suara puji-pujian kembali terdengar karena waktu menjelang magrib. Cakrawala di atas pun sudah berangsur menghitam. Sementara Audi tidak tahu kapan mereka akan sampai.
"Sebentar lagi sampai," ucap Ibra sembari terus fokus mengemudi.
Benar saja, beberapa saat kemudian laju mobil Ibra memelan sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan seperti rumah. Ibra turun tanpa mengatakan apa pun, dan Audi hanya mengamati lelaki itu dari dalam sambil terus bertanya-tanya.
Ibra menempelkan jari jempolnya di sebuah alat yang tertempel di samping pintu gerbang, dan detik itu pula gerbang tersebut bergeser secara perlahan.
Dari luar tampak seperti rumah modern biasa, tapi ternyata Audi melihat sebuah pelataran dengan pagu lobi yang begitu megah.
"Mas Ibra, ini ... rumah siapa?" tanya Audi begitu Ibra masuk lagi ke dalam mobil. Pria itu memutar kemudi memasuki halaman rumah tersebut.
Ibra menoleh sambil melempar senyum misterius. Sebenarnya Audi sudah menduga bahwa Ibra diam-diam membeli rumah untuk mereka, tapi Audi hanya ingin memastikan guna menghindari rasa malu seandainya nanti terjadi kesalahpahaman. Ya siapa yang tahu ternyata tebakannya salah?
Ibra kembali menghentikan mobilnya, kali ini tepat di depan lobi, di bawah pagu yang menjorok melebihi teras. Sepertinya memang sengaja didesain seperti ini supaya saat hujan, kita tak kehujanan waktu keluar dari mobil.
"Yuk, turun?" Ajak Ibra.
__ADS_1
Audi pun membuka seat belt, lalu turun mengikuti Ibra. Mereka berdiri sejenak sebelum Ibra menggandengnya menaiki undakan lobi yang hanya terdiri dari beberapa tangga.
"Mas, ini rumah siapa?" Audi bertanya sekali lagi. Ia mendongak menatap Ibra yang tengah memandang puas bangunan yang mereka pijak.
Ibra menoleh dan balas menatap Audi. "Rumah kita," ucapnya disertai senyum.
Ternyata benar tebakan Audi, rumah ini memang dipersiapkan untuk mereka.
"Gimana? Kamu suka? Kita lihat ke dalam dulu."
Audi menurut ketika Ibra menuntunnya memasuki rumah tersebut. Ibra membuka kunci, lalu mengajak Audi masuk ke dalamnya.
Ruang tamu luas dengan tinggi atap lebih dari 5 meter menyambut Audi dengan lampu kristal putih yang memanjang hingga ke atap lantai dua, dikelilingi tangga melingkar yang membuatnya mewah bak gemerlap berlian yang bergelantungan.
Audi berdecak mengedarkan kepalanya ke sekeliling ruangan. Berbagai pajangan yang ditata sedemikian rupa turut meramaikan kemegahan ruang tamu itu. Seperangkat sofa mahal, guci keramik hitam yang selaras dengan meja konsol di sampingnya, ornamen-ornamen unik, serta dinding yang dilapisi kepingan-kepingan cermin menambah estetika rumah tersebut.
Baru bagian depan saja sudah seperti ini. Bagaimana yang lain? Batin Audi.
"Kamu suka gak ruang tamunya? Kalau ada yang kurang bilang aja, nanti Mas hubungi lagi pihak desain interiornya."
Kurang matamu! Di mana Audi bisa menemukan kekurangan jika yang dilihatnya sudah sesempurna ini?
"Mau lihat yang lain? Tapi mungkin perabotannya belum lengkap. Mas sengaja biar kamu ikut kasih saran dan masukan buat rumah kita."
Ingin rasanya Audi berdecak. Kenapa tidak selesaikan sekalian kalau begitu? Malas kali kalau ia disuruh pilih-pilih barang, apalagi yang menyangkut tata ruang. Audi menyerah, ia memang pintar mempadu-padankan pakaian, tapi bukan berarti Audi juga pintar mendesain ruangan.
Ibra menggandeng Audi ke ruangan selanjutnya. Ruang keluarga dengan televisi besar berukuran 177 cm atau 70 inch menjadi ikon utama beserta seperangkat sofa sudut dan karpet bulu yang tampak lembut. Tentu dengan disertai ornamen-ornamen garis mengkilap yang sepertinya menjadi salah satu ciri khas rumah ini.
Standing lamp yang berpendar kekuningan terlihat cantik berdiri di sudut samping meja konsol televisi. Ibra menyalakan semua lampu karena hari memang sudah mulai gelap. Itulah mengapa Ibra langsung mengajak Audi ke lantai atas guna melihat kamar-kamar di sana, lantaran mereka tersendat waktu.
"Besok-besok kita ke sini lagi kalau kamu masih penasaran sama bagian lain rumah ini. Untuk sekarang kita lihat kamar, ya? Udah magrib juga," tutur Ibra seraya menggandeng tangan Audi menaiki tangga.
Sepanjang langkah memijaki undakan, sinar-sinar dari lampu kristal mengiringi, menimbulkan bias-bias cantik yang memantul pada dinding dan marmer.
"Mas Ibra kapan beli rumah ini? Kok, Audi gak tahu? Tante Safa juga kayaknya gak pernah bilang?"
Ibra menoleh sekilas sambil tersenyum. "Mas udah cari-cari lahan buat rumah, sih, sebelumnya. Tapi Mas nemu rumah ini dijual pemiliknya. Karena Mas rasa lingkungannya baik dan apik, akhirnya Mas beli dan renovasi besar-besaran. Ini udah selesai direnov."
"Emang sebelumnya ini rumah siapa?"
"Kamu tahu Bude tukang jahit yang deket rumah Oma?"
"Bude Gita?" Audi memastikan.
Ibra mengangguk. "Iya, Mas dulu pernah ikut Oma jahit baju. Mas sempat ngobrol dan sekalian tanya-tanya soal tempat ini, karena ternyata rumah ini sebelumnya milik kerabat dia yang sekarang sudah pindah ke Magelang."
"Kok, Mas Ibra tahu rumah ini punya kerabat Bude Gita?"
"Dari makelar yang nawarin Mas rumah ini. Katanya, si pemilik ada kerabat yang tinggal dekat villa Oma Halim. Kayaknya villa itu emang sebagian besar warga Bandung tahu punya keluarga Halim, ya?"
"Ya gak heran juga, sih," guman Audi.
Keluarga Halim memang terpandang di Jawa Barat, bahkan sebelumnya saat masih tinggal di Jakarta, mereka juga cukup dikenal banyak orang.
Audi dan Ibra sampai memijak undakan tangga terakhir. Ibra kemudian mengajak Audi ke sebelah utara rumah tersebut, di mana kamar utama yang nantinya akan menjadi kamar mereka berdua berada.
Ibra membuka pintu, dan Audi langsung disuguhkan oleh pemandangan sebuah ruangan cukup luas yang masih lengang oleh perabotan. Mereka melangkah masuk dan berhenti di tengah-tengah ruangan tersebut.
"Ranjang dan semua yang ada di sini masih dalam tahap perancangan. Cuman lemari-lemari di walk in closet yang sebagian sudah jadi. Kamu mau lihat?"
"Boleh," angguk Audi.
Audi tak menyangka Ibra akan menggunakan ranjang dan sepaket perabotan kamar yang dirancang dan diukir langsung oleh si pengrajin. Bisa Audi lihat ukiran - ukiran rumit pada bingkai ranjang yang besar dan tebal dengan ukuran king size.
Meja nakas, meja konsol, deretan lemari yang menjulang hingga ke langit-langit di ruang wardrobe semuanya terbuat dari bahan kayu yang sama dengan ranjang besar itu.
"Ini ... kok aku merasa ruang wardrobe ini lebih besar dari kamar, ya, Mas?"
Ibra mengangguk. "Memang. Mas tahu baju kamu banyak. Belum tas, sepatu, make up, perhiasan dan lainnya. Itu yang lama, belum kamu beli lagi koleksi baru nanti," kekehnya merasa lucu. "Lagian di sini kan baju kamu sama baju Mas campur, jadi butuh ruang lebih lega lah buat kita berdua."
"Iya juga, sih." Audi mengangguk membenarkan. "Terus, ini kapan selesai semuanya? Ada taman gak?"
"Mas kasih tenggat waktu buat para tukang 2 bulan lagi, sih. Gak tau bakal selesai apa enggak. Taman ada, tapi nanti aja, ya? Udah adzan, kita magriban dulu."
"Di sini?"
"Iya, di sini." Ibra mulai melangkah keluar kamar. "Ada mushola di bawah, Sayang."
"Emang udah ada air?"
"Udah. Eh, mukena kamu di mobil Mas, ya? Kamu ambil sendiri atau Mas yang ambil?"
"Aku aja," sahut Audi sambil turut menuruni tangga.
"Oke. Mas ambil wudhu duluan."
Ibra berbelok ke kanan, memasuki koridor yang mengarah ke mushola, sementara Audi berjalan ke ruang depan menuju pintu utama.
Audi dengan percaya diri melangkah tanpa ada rasa takut, dia lupa kalau lampu di halaman rumah itu belum menyala sepenuhnya, beberapa masih padam dan perlu perbaikan.
Tepat saat Audi sampai di samping mobil Ibra dan hendak membuka kunci pintunya, matanya tiba-tiba menangkap sesuatu yang janggal dari arah gerbang.
__ADS_1
Audi melongo dengan tubuh mematung sempurna, mulutnya seolah bisu ketika ingin berteriak.
"MAS IBRAAAA!!! ADA SETAAAAN!!! HUAAAA!!!"