
"Ini toko kamu?"
"Iya."
"Besar juga, ya. Hebat. Sudah sampai mana persiapannya?"
"Untuk dekor dan peralatan hampir delapan puluh persen. Untuk barang, kita sudah siap sembilan puluh persen," jawab Audi.
Sesuai titah ayahnya, Audi mengajak Arga ke lokasi toko yang akan Audi buka bersama Ajeng. Pria itu melihat-lihat secara detail tata letak ruang serta etalase kosong yang sebagian sudah dipajang.
"Desain interiornya classy banget. Cocok buat kalangan menengah atas." Arga mengangguk-angguk, cukup dibuat puas dengan penampakan toko Audi.
"Tapi produk kita menjangkau semua kalangan, kok."
Arga menoleh dan tersenyum. "Bagus itu. Sebuah retail memang harus menyediakan produk dengan harga merata. Karena bukan hanya kelas yang harus ditonjolkan, kelengkapan produk juga penting untuk kenyamanan konsumen belanja dengan kita."
Audi mengangguk membenarkan. Mereka berjalan santai memutari luas toko yang cukup besar. Tak heran, Audi dan Ajeng menggelontorkan budget yang tidak sedikit untuk tempat strategis sekece ini. Lokasinya ada di lantai dua mall besar tepat di pusat kota Bandung.
Di tengah langkah keduanya, ponsel Audi berdering menampilkan foto Ibra sebagai pemanggil. Audi berhenti sejenak, begitu pula dengan Arga. Audi melihat ponselnya, lalu menoleh kaku pada Arga. Sepertinya Arga juga sempat melihat layar ponsel Audi, karena setelahnya suasana berubah canggung.
Tidak mungkin Arga mengira Ibra orang asing. Nama kontak Ibra saja sudah sejelas itu menunjukkan siapa dia bagi Audi.
"Saya ... angkat telepon dulu," ucap Audi, sedikit gugup.
Arga tersenyum tipis, ia mengangguk mempersilakan. "Silakan."
Dengan cepat Audi meninggalkan Arga dan pergi keluar untuk menerima panggilan video dari Ibra. Gawat kalau Audi masih berdiri di sekitaran Arga, bisa-bisa ia dikira selingkuh.
"Kenapa, Mas?" tanya Audi begitu wajah Ibra terlihat di layar ponsel.
Sepertinya Ibra masih berdinas, terbukti dari baju batik formal yang ia kenakan, juga earpiece, alat komunikasi sesama anggota masih melekat di telinga.
__ADS_1
Ibra sedikit mengernyit menghalau sinar matahari yang menerangi penglihatannya. "Tadi pesan kamu maksudnya apa?"
Audi sesekali celingukan ke belakang, memastikan posisinya aman dari jangkauan Arga. "Kenapa, Mas? Pesan apa?"
Gara-gara panik Audi jadi tak begitu fokus. Hal tersebut tentu membuat Ibra mengerutkan kening.
"Serius kamu lupa? Baru tadi, lho. Belum ada dua jam masa udah lupa?"
Audi menoleh lagi menatap layar ponsel. Ia mengerjap di bawah tatapan Ibra yang seolah menelanjanginya dengan raut penasaran. Audi berusaha mengingat pesan apa yang telah ia kirim pada Ibra. Syukurlah Audi segera ingat bahwa sebelumnya ia sempat menuding Ibra sebagai pembohong.
Kenyataannya memang Ibra sudah berbohong karena tak bilang-bilang kalau ia sudah bertemu Oma Halim.
"Oh, iya aku ingat." Raut Audi kini berubah serius. "Mas Ibra kenapa gak bilang habis pulang ke Bandung? Mas juga udah temuin Oma, kan?"
"Iya," jawab Ibra santai.
"Kok gak bilang sama aku?" tuntut Audi.
"Iya, sih. Tapi tetap aja Mas Ibra udah bohong."
"Iya, maaf. Mas gak maksud bohong, cuman gak mau kamu makin khawatir."
Audi bungkam.
"Kamu lagi di mana? Di mall?" tanya Ibra lagi.
Tanpa sadar Audi jadi kelabakan. "Eh, iya." Ia menengok ke sana kemari guna memeriksa keadaan.
"Belanja?"
"I-iya."
__ADS_1
"Serius kamu? Kok kayaknya Mas gak percaya?" Ibra menyipit curiga.
"Ya kalau ke mall ngapain lagi kalau bukan belanja? Aku juga sekalian cek kesiapan toko," sahut Audi.
"Sama siapa?"
Pertanyaan Ibra membuat Audi terdiam sesaat. Ia bergerak tak nyaman di tempatnya. "Itu ... sama Ajeng. Iya, sama Ajeng."
Ya Tuhan, ia baru saja merasa kesal karena Ibra tak jujur soal pertemuannya dengan Oma, tapi sekarang malah Audi sendiri yang membohongi pria itu.
Mas Ibra, maaf. Aku cuman gak mau nambah masalah lagi dalam hubungan kita.
Karena Ibra yang masih dalam jam tugas, ia pun tak bisa lama-lama mengobrol dengan Audi. Entah hal itu harus disyukuri Audi atau tidak, mengingat ia bisa terbebas dari rasa resahnya akan keberadaan Arga yang ia takut ketahuan Ibra.
"Mas balik dinas dulu. Salam buat Papa dan Mama kamu."
"Iya, nanti ku sampaikan," angguk Audi.
"Assalamualaikum." Ibra mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam," sahut Audi sekaligus mengakhiri percakapan.
Audi membuang nafas lega. Salah, ia tak merasa lega sepenuhnya karena telah membohongi Ibra. Belum juga resahnya hilang, Audi harus kembali menjaga sikap ketika Arga datang menghampirinya.
"Sudah selesai?" tanya pria itu.
Audi langsung menegakkan tubuh begitu menjawab. "Iya, sudah."
Arga mengangguk seraya tersenyum. "Saya mau ngomong serius sama kamu, boleh?"
***
__ADS_1