
Hari ini tepat dua hari Audi dan Ibra tinggal di rumah Dava. Kini mereka berniat akan pindah ke rumah baru yang Ibra bilang hampir selesai direnovasi. Tinggal kolam ikan di taman belakang rumah yang masih dalam tahap plamir.
Audi berusaha menahan rasa haru ketika berpamitan pada kedua orang tuanya, serta Om Edzar dan Tante Safa yang turut menyambut baik keputusan Ibra untuk segera pisah rumah.
Audi sedih, bagaimana pun ini akan menjadi langkah pertama Audi meninggalkan rumah. Benar-benar meninggalkan karena setelahnya rumah ini bukan lagi tempat Audi pulang, melainkan rumah Ibra yang mulai sekarang menjadi tempat pengabdian barunya sebagai seorang istri.
Audi menghirup hidungnya yang basah dan berair. Ia memeluk Dava dengan erat, sang papa tak kalah mendekapnya begitu dalam. Ia berkali-kali mengecupi kepala Audi yang sudah rapi terlapisi hijab.
Perasaan berat sekaligus ringan Dava rasakan secara bersamaan. Berat karena ia harus melepas putri satu-satunya yang selama dua puluh tujuh tahun ini ia rawat dengan limpahan kasih sayang, namun hatinya juga ringan, lega karena akhirnya Dava telah menjalankan salah satu kewajibannya sebagai wali yang menikahkan putrinya dengan pria yang Insya Allah setia dan bertanggung jawab.
"Meski sekarang kamu sudah punya rumah sendiri, jangan pernah lupa rumah lamamu ada di sini. Meski kamu bukan lagi tanggung jawab Papa dan Mama, kamu tetap seorang anak yang kami perhatikan, walau konteksnya sekarang sudah berbeda. Papa maupun Mama tidak bisa ikut campur lagi dalam kehidupan kamu. Tapi yang perlu kamu tahu, tangan kami selalu terbuka sebagai orang tua. Jadi, jangan sungkan-sungkan seandainya nanti kamu menemui kesulitan, atau sesuatu yang memerlukan bantuan kami, setidaknya Papa dan Mama mustahil mengabaikan kamu."
Audi mengangguk cepat. "Pasti, Pa. Audi tidak mungkin melupakan Papa maupun Mama. Kalian adalah orang tua terbaik yang Audi punya. Makasih banyak karena sudah merawat dan menjaga Audi hingga sebesar ini, makasih karena Papa dan Mama masih setia menemani Audi, sampai mengantarkan Audi ke pintu kehidupan baru bernama pernikahan. Semoga Audi juga bisa seperti kalian, bahagia dan harmonis di tengah usia pernikahan yang tak bisa dibilang sedikit. Demi apa pun, kalian adalah panutan Audi sedari kecil. Terima kasih, Pa, Ma."
Audi sedikit terisak sebelum ia menyusut habis pipinya yang basah. Ia melepaskan pelukannya dari Dava dan beralih memeluk Lalisa, sang mama yang langsung mendekapnya penuh kasih sayang.
Lalisa mengecup dalam sisi wajah putrinya sambil mengerjap berusaha menahan laju air mata. "Apa yang dikatakan Papa benar, kamu jangan sungkan-sungkan kalau butuh bantuan."
Audi tersenyum membalas pelukan Lalisa. "Iya, Mama. Makasih atas perhatiannya."
Ibra yang sedari tadi melihat pun lantas menguar senyum. "Papa dan Mama tenang saja, nanti kita bakal sering - sering mampir, kok. Lagian rumah kita kan masih daerah Bandung."
Safa mengangguk mengiyakan. "Bener, Mba. Nanti kita sering - sering main ke sana juga. Minggu depan kan sekalian mau syukuran juga di rumah Ibra."
Edzar turut menimpali ucapan sang istri. "Iya, Bang Dava dan Mba Lisa tidak perlu khawatir, Insya Allah Ibra akan menjadi suami dan imam yang baik untuk Audi. Insya Allah juga Ibra akan bertanggung jawab menjaga Audi sebagai suami dan istri. Mereka pasti bisa melewati semuanya bersama."
"Aamiin." Ibra dan Audi bergumam bersama. Keduanya kini sudah saling merangkul dengan Audi yang bersandar manja di pelukan Ibra, sementara Ibra sendiri sesekali mengecupnya sekilas.
Aura pengantin baru begitu jelas terlihat dari rona wajah mereka. Semoga keharmonisan itu bertahan hingga hanya maut yang memisahkan. Pertengkaran dan selisih pendapat dalam pernikahan itu hal wajar, namun setidaknya pasangan yang bisa saling mengerti dan memahami satu sama lain, pasti tahu bagaimana cara menyikapi semua itu dengan dewasa.
Dava mengangguk, begitu pula Lalisa yang kini bahunya dirangkul oleh sang suami. "Jaga putri kami baik - baik, ya, Ibra? Tolong maklumi juga segala sifatnya yang mungkin adalah sebuah kekurangan di matamu. Audi adalah putri kami yang berharga, jangan buat Papa maupun Mama menyesal sudah memasrahkan dia pada kamu."
Ibra tersenyum mafhum. "Insya Allah, Pa, Ma. Ibra akan berupaya semaksimal mungkin untuk menjadi imam yang baik bagi Audi dan rumah tangga kita nanti."
Dava mengangguk puas. "Papa percaya sama kamu."
***
__ADS_1
Audi dan Ibra sudah sampai di rumah mereka. Rumah mewah bernuansa modern industri itu berada di wilayah dataran tinggi yang memiliki udara dingin. Lahannya sendiri seluas 750 meter persegi, belum luas bangunan secara keseluruhan yang beberapa memiliki lantai dua.
Audi baru satu kali sebelum menikah kemari, ia belum melihat semua bagian dari rumah tersebut. Ternyata konsepnya jauh di atas perkiraan Audi. Bukan hanya mengusung tema industrial modern, Ibra juga menyusun tempat-tempat serta fasilitasnya secara sempurna.
Ada ruang outdoor yang diperuntukkan khusus bagi perokok, bisa dibilang lahan seluas garasi enam buah mobil itu sengaja dirancang untuk nongkrong dan kumpul keluarga. Di sampingnya terdapat kebun buah, namun beberapa pohon masih berbentuk bibit dan dalam masa pertumbuhan.
Pohon mangga, lemon, jambu, dan sejumlah tanaman lain turut mengisi lahan tersebut hingga terlihat rindang. Ruang outdoor itu sangat cocok untuk acara barbeque bersama teman atau keluarga. Atap berbentuk simetris jajar genjang yang kerap Audi lihat di mall-mall elite menaungi space tongkrongan, benar-benar dirancang sesuai kebutuhan, bisa digunakan saat terik maupun hujan.
Audi tidak menyangka Ibra akan merancang rumah sebaik ini. Berbeda dengan rumah orang tua mereka yang berada di pusat kota Bandung yang mewah dengan tema bangunan eropa, Ibra justru menerapkan banyak sekali material alam di rumahnya sendiri, persis sangat Ibra sekali yang seorang pecinta alam. Setelah melihat secara keseluruhan, banyak sekali area terbuka yang dimanfaatkan menjadi area taman hijau.
Selain area hijau berupa kebun, ada juga taman lain yang terletak di samping rumah, bahkan rooftop sekalipun Ibra isi dengan penghijauan. Entah Ibra sudah menghabiskan berapa banyak uang sebelumnya, dan dari semua fasilitas, ada satu yang paling menarik perhatian Audi, yaitu sungai mengalir yang sekilas Audi kira adalah asli, padahal buatan.
Tapi walaupun sungai buatan, kesan alaminya sangat menonjol berkat penataan dan material pembuatannya yang didominasi material alam. Di sungai tersebut ada area hulu dan hilir. Bagian hulu dibuat agak lebih tinggi agar aliran air dapat mengalir secara alami. Sementara di hilir sungai, terdapat kolam ikan koi yang berukuran cukup besar.
"Lho, katanya kolam ikan masih diplamir, Mas?" tanya Audi heran.
Ibra meringis sembari menggaruk pangkal hidung. "Lupa, bukan yang ini. Kayaknya bukan kolam, tapi area taman di rooftop yang masih tahap plamir."
Bisa lupa begitu, ya? Saking banyak yang Ibra buat di rumah ini, dia jadi tidak ingat keseluruhan tahap dan pembuatannya.
Audi mengendik dan melihat kembali satu demi satu bagian dari rumah mereka. Beralih ke area bangunan utama, rumah tropis rancangan Ibra itu terdiri dari dua lantai dengan banyak bukaan untuk udara dan pencahayaan.
"Mas ajak kamu ke bagian lain, yuk?" Ibra lalu menyeretnya, menyusuri rumah tersebut lebih dalam.
Mereka lalu sampai di area kolam renang pribadi yang sudah siap pakai, bersih dan terisi air.
"Karena Mas suka berenang, jadi kolam renang itu wajib ada, Sayang," cetus Ibra tanpa diminta. Ia mengajak Audi berjalan-jalan di sekitar kolam. Area side pool tersebut juga dapat difungsikan sebagai area bersantai serta area serbaguna, ada seperangkat sofa dan kursi, meja, bahkan rak buku minimalis untuk membaca.
Ibra mengajak Audi duduk di salah satu sofa. Lelaki itu duduk terlebih dulu, lalu menarik Audi hingga melesak di pangkuan. Kedua lengan Ibra melingkar di pinggang Audi, sementara dagunya menumpu di bahu sang istri. "Kamu suka?" tanyanya, sembari menghirup permukaan baju serta hijab Audi yang wangi.
Audi menyandarkan punggungnya dalam pelukan Ibra. Ia mengangguk pelan disertai senyuman. "Suka. Rumahnya jadi terasa lebih adem, apalagi udara di sini emang dingin, kan?"
Ibra mengangguk. "Syukurlah kalau kamu suka. Karena Mas sudah merancang ini sejak lama, mungkin saat masih SMA, Mas sudah kepikiran mau punya rumah dengan konsep seperti ini."
Audi menoleh dengan kening berkerut. "Kenapa gak buat dari sebelum-sebelumnya? Audi tahu Mas udah mampu secara finansial."
Namun Ibra malah tersenyum dan mengecup bibirnya sekilas. "Mas berniat membangun rumah kalau sudah melamar kamu. Kalau dulu, rasanya sia-sia kalau bukan kamu yang berada di samping Mas."
__ADS_1
Audi turut tersenyum melingkarkan tangannya di leher Ibra. "Makasih, ya, Mas?"
"Untuk apa?" balas Ibra mesra, ia menggasal hidung Audi menggunakan hidungnya, sesekali mengecup dan menghisap pelan bibir plumpy yang selalu saja membuatnya hilang akal. Ibra suka bibir Audi, apalagi kalau ... ia tak perlu menjelaskannya bukan? Termasuk menjelaskan bahwa kini Audi tengah senang bermain mulut saat bercinta.
"Makasih, karena Mas Ibra sudah setia mencintai Audi sampai selama ini," bisik Audi. Wajahnya dan Ibra kini tiada jarak. Senyum bahagai terukir di bibir keduanya.
Ibra kembali melabuhkan bibirnya di bibir Audi. Mereka berciuman sesaat sebelum Ibra menjawab dengan suara halus. "Sama-sama, Sayang. Ngomong-ngomong ... kamu mau coba kamar baru?"
Ibra memandang Audi penuh arti. Audi mengerti apa maksud Ibra, apalagi melihat sorot mata pria itu yang sayu. Memikirkan hal tersebut membuat hasrat Audi ikut tersulut, terlebih cuaca memang sangat mendukung keduanya melakukan itu.
Audi balas mencium Ibra dengan gerakan mendayu. Ia mengangguk menyetujui tawaran Ibra yang terdengar menggoda. Melihat itu, Ibra tersenyum puas. Ia pun segera membopong Audi ke lantai atas kamar mereka dan saling berbagi kehangatan di sana.
Secara garis besar, rumah yang Ibra bangun sudah seperti rumah dengan nuansa resort. Banyaknya tanaman dan material alami membuatnya nampak begitu indah.
"Cla, Mas rasa kita tidak perlu menunda untuk memiliki anak."
"Emang siapa yang mau nunda."
Ibra tersenyum. "Siapa tahu kamu belum siap, Mas bisa menunggu kalau kamu mau pakai kontrasepsi."
"Mas bahas kontrasepsi, sementara sejak malam pertama kita main tanpa pengaman," sindir Audi. "Lagian aku juga gak ada niatan menunda, kok."
"Beneran?" tanya Ibra senang.
Audi mengangguk. "Iya."
Ibra langsung bersorak dan memutar Audi dalam gendongannya. Ia mencium Audi berkali-kali sampai mereka tiba di kamar. Selanjutnya, Ibra melempar tubuh Audi ke atas ranjang dan mengeksekusinya penuh kenikmatan.
Suara decapan dan erangan mengisi penuh kesunyian. Sekarang Audi maupun Ibra tak perlu cemas lagi jika ingin bergaduh karena kamar mereka kedap akan suara. Ibra bahkan menggeram sepuasnya saat pelepasan. Pria itu sudah seperti raja hutan yang mengaum memakan habis tubuh sang istri.
"Kamu luar biasa, Cla," bisiknya di tengah nafas yang berkejaran serta peluh yang berhamburan.
Audi sendiri tampak pasrah, ia berbaring lemah di bawah kuasa Ibra yang seperti tidak ada puasnya. Audi hanya menerima dan mempersilakan Ibra menggarap tubuhnya hingga lelaki itu berkali-kali menggapai puncak.
Sudah Audi duga, Ibra dan staminanya memang tak perlu diragukan, dan ... miliknya memang sebesar itu, bahkan lebih besar dari yang Audi pikir.
"Mas ... aku capek ..." lirih Audi lemas.
__ADS_1
"Sebentar lagi, Sayang ..."
Selalu dan selalu Ibra menjawab seperti itu. Kenyataannya, sebentar versi Ibra bisa berarti satu jam lagi. Benar-benar ujian berat bagi Audi.