
Audi memandang datar Mbak Tian yang tak henti meringis di depannya. Betapa tidak, wanita itu baru saja mengatakan bahwa mereka harus ke Jakarta pagi ini juga. Ada penandatanganan kontrak iklan dengan salah satu brand kosmetik milik artis.
"Gimana bisa Mbak Tian kasih tahu hal ini mendadak?"
"I'm sorry ... serius, aku salah lihat jadwal kamu. Aku lupa, harusnya rekaman kemarin masih bisa dilakukan dua minggu ke depan. Hehe ..." Dengan canggung Tian menggaruk hidungnya seraya membuang pandangan, tak berani menatap Audi yang seakan siap memuntahkan lahar lewat kata-katanya yang pedas.
Akan tetapi gadis itu hanya mengambil nafas dalam-dalam berusaha sabar. Ia bahkan belum mandi saat sang manager menggedor pintu rumahnya membuat keributan di tengah acara sarapan.
"Oke, tunggu sebentar. Aku gak mungkin berangkat dengan mata belek kayak gini, kan?" putus Audi menyindir.
Mbak Tian melempar cengiran seraya mengangkat tangannya membentuk oke.
"Ya udah Mbak masuk dulu." Audi membuka pintu rumah lebar-lebar.
Tian masuk seraya mengucap salam. "Assalamualaikum ..."
"Waalaikumussalam ..." Terdengar sahutan dari arah ruang makan. Kelihatannya orang tua Audi masih di rumah.
Sementara Audi menaiki tangga ke kamarnya, Tian duduk di sofa ruang tamu rumah Audi yang mewah. Tak heran, Audi memang terlahir kaya dari kakek buyutnya. Bahkan Tian pernah dengar leluhur gadis itu termasuk salah satu keturunan bangsawan di jaman penjajahan. Entah itu benar atau hanya bualan.
Tak lama mama Audi yang cantik bak model terbalut daster muncul menghampirinya. "Ya ampun ... ternyata Mbak Tian. Kirain siapa. Pagi-pagi banget, Mbak?"
"Hehe, iya, Tante." Tian menerima uluran salam mama Audi.
__ADS_1
"Udah sarapan? Sarapan bareng, yuk?"
"Gak usah, Tante. Tadi aku mampir di nasi uduk."
"Oh, gitu. Ya udah, mau minum apa?"
"Jus aja, Tante. Seperti biasa jangan yang asam, hehe." Tian memang sudah terbiasa berkunjung, ia jadi tidak sungkan saat ditawari, karena Lalisa pernah menceramahinya tujuh hari tujuh malam. Katanya kalau bertamu itu jangan membingungkan, bilang saja apa yang kita mau biar yang menjamu juga tidak bingung.
Aneh memang. Mama Audi sepertinya salah satu spesies wanita langka.
Lalisa kembali ke dapur menyuruh asisten rumahnya membuatkan minum. Wanita itu terlihat sibuk melayani suaminya yang hendak berangkat ke kantor.
"Papa berangkat ya, Ma." Cup. Davandra Halim mengecup kening sang istri dengan mesra.
Tian mengangguk segan saat papa Audi lewat keluar rumah. Disusul Lalisa yang juga melempar senyum menyuruhnya menunggu dengan sabar. Tahu sendiri Audi kalau siap-siap ngalah-ngalahin artis hendak manggung. Entah apa saja yang Audi pakai sampai selama itu.
"Silakan diminum jusnya, Teh," ucap seseorang dalam bahasa Sunda.
"Eh, terima kasih, Bi." Tian membalas dalam bahasa Sunda juga.
Bi Mimin, asisten rumah Audi mengangguk dengan senyum ramah, ia lalu kembali ke belakang entah lanjut mengerjakan apa.
Tian menyesap jus buah naga itu dengan khidmat. Matanya kemudian mendongak saat mendengar langkah kaki dari arah tangga. Audi turun dengan penampilan lebih rapi dari sebelumnya.
__ADS_1
Kulot putih dan atasan senada bermodel top membuat tubuh kecilnya terkesan jenjang. Rambut panjangnya terikat rapi di belakang. Gadis itu menenteng tas selempang berwarna krem serta sandal tali berwarna sama.
Audi benar-benar mempesona dengan penampilan dewasa. Aura selebgram papan atas menguar dari dalam dirinya.
"Yuk, Mbak."
"Kamu udah sarapan?" Tian berdiri turut membenarkan anting di telinga Audi.
"Udah tadi," ucapnya sambil menunduk memakai sandal. Gadis itu kemudian menepuk dahinya. "Aduh, koperku masih di kamar, hehe," ringisnya yang langsung berbalik kembali menaiki tangga.
Tian menggeleng dan menunggu dengan sabar sampai Audi kembali menenteng koper tersebut menuruni tangga.
"Hati-hati," gemas Tian lantaran Audi yang kerap ceroboh.
"Tenang ... tuh, enteng kok." Kini Audi menyeret koper itu setelah sampai di bawah. "Yuk."
"Eh, kalian sudah mau berangkat?" Lalisa muncul dari pintu depan, wanita itu baru saja mengantar suaminya ke teras hingga pergi dengan mobilnya.
"Iya, Tante. Maaf ya Audi nya saya pinjam dulu."
"Aduh ... gak papa. Namanya juga kerja." Lalisa mengibas maklum. "Eh, iya. Di, tadi kan Mama bilang sama Tante Safa kamu mau ke Jakarta. Katanya dia mau titip sesuatu buat Ibra."
Ibra lagi. Audi benar-benar tidak tahu kapan ia akan terbebas dari bayang-bayang nama itu. Ingin rasanya ia menolak, namun urung ketika orang yang dibicarakan muncul dengan senyum lebar.
__ADS_1
"Audi, Tante seneng banget dengar kamu mau ke Jakarta. Ini, Tante titip ini, tolong kasih ke Mas mu, ya?" ujarnya disertai keriangan yang menghantam ketenangan Audi.