
"Mama dengar Morgan balik, ya?" Lalisa bertanya saat mereka sarapan bersama di ruang makan. Momen yang cukup langka karena akhir-akhir kemarin Audi jarang berada di rumah, pun setiap kali Audi pulang pasti Dava tengah berada di luar kota.
"Iya, tapi udah berangkat lagi. Ke Bali dulu, sih. Dari Bali langsung ke Beijing."
"Ohh ..." Lalisa tampak mengangguk-angguk. "Padahal kita belum ketemu. Cepet banget dia perginya."
"Ya namanya orang sibuk, Ma. Dia kan kuliah." Sang papa menimpali.
"Iya, sih."
"Kamu hari ini mau ke mana, Di?"
Audi diam berpikir sambil mengunyah, kemudian menjawab setelah menelan. "Hari ini Audi ngonten di rumah, sih. Kenapa, Ma?"
"Gak papa. Syukur, deh, kalau kamu di rumah bisa sekalian ngawasin Tante Safa. Soalnya Mama ada bisnis sama teman."
Dava menoleh pada istrinya. "Bisnis tas yang kamu bilang waktu itu, ya?"
Lalisa mengangguk. "Iya, Pa. Lumayan lah buat ngabisin suntuk, Mama bosen di rumah terus. Papa, sih, larang Mama kerja."
"Ya kan ini untuk kebaikan bersama. Lagi pula kamu gak kerja pun aku masih sangat mampu memenuhi kebutuhan kita."
"Iya. Tapi kali ini gak akan begitu menyita waktu, kok. Aku paling keluar beberapa jam abis itu balik lagi."
Dava mengangguk dengan seulas senyum. "Asal kamu hati-hati aja, Ma. Papa percaya bisnis apa pun kamu pasti bisa, karena kamu punya pengalaman di bidang itu."
"Ahh ... Papa baik, deh."
"Cium, dong."
"Muah!"
Audi memutar mata, terlihat malas dengan pemandangan di depannya. Memang, tingkah alay keduanya bukanlah hal aneh bagi Audi. Ia sudah sering memergoki yang namanya adegan ciuman. Bahkan ia pernah tanpa sengaja melihat papanya menyusu seperti bayi.
Audi mengerti. Ia sudah dewasa dan tahu apa saja kegiatan yang wajar dilakukan suami istri.
"Papa berangkat, ya?" Dava bangkit menggeser kursinya dan mendekat pada sang istri, mengecup kilat keningnya yang dibalas ciuman tangan sebagai ritual berpamitan.
Tak lupa pria itu juga mencium pucuk kepala Audi dengan disertai usapan, kemudian berlalu ke ruang depan diikuti mamanya yang ikut mengantar seperti biasa.
"Oh iya, Mama tuh lupa. Kemarin Tante Safa ada ngasih sesuatu, deh, buat kamu."
Beberapa menit kemudian suara Lalisa tiba-tiba menyeruak membuat Audi menoleh. Wanita itu baru saja kembali.
Audi mengernyit. "Ngasih apa, Ma? Buat Audi?"
"Iya, buat kamu. Bentar, deh, Mama ambil." Sang mama beranjak lagi dari ruang makan, mungkin ke kamar.
Tak lama ia pun kembali dengan sebuah kotak tipis berukuran sedang. "Nih."
Audi menerima itu dengan kening berkerut heran. Tak pelak ia pun penasaran dan mulai membuka kotak tersebut diiringi tatapan sang mama.
Audi berkedip. "Kerudung?"
__ADS_1
"Lha, iya?" Lalisa sama tak tahunya.
"Dalam rangka apa Tante ngasih ini ke aku?"
"Ya gak tahu, kamu tanya aja sendiri." Lalisa mengangkat bahu dan kembali duduk di kursinya melanjutkan makan.
Sementara Audi masih termenung menatap hijab di depannya. Sebuah hijab model segi empat yang terlihat begitu halus dan lembut. Tekstur kainnya terkesan lumayan mahal dan berkualitas tinggi jika dibandingkan hijab-hijab lain yang berada di pasaran.
Audi menghela nafas hendak menutup lagi kotak itu. Mungkin nanti ia akan berterimakasih pada Tante Safa. Namun, sesuatu tiba-tiba menarik perhatian Audi hingga ia urung menutup kotak tersebut.
Audi mengambil hijab itu dan mengamatinya dengan seksama. Ia bahkan melebarkan kain tersebut dan meneliti setiap sisinya lalu berhenti di satu sudut yang terdapat satu tulisan berukuran kecil.
Audi mengernyit, ia mengutip sudut itu guna melihat lebih jelas tulisannya.
Cla?
Seketika hati Audi bergemuruh, ritme jantungnya pun meningkat pesat hanya dengan membaca satu kata itu.
"Ini beneran dari Tante Safa?"
Lalisa hanya meliriknya sekilas. "Ya emang dia yang kasih, kok."
Audi bergeming seakan tak percaya. Karena mau bagaimana pun tidak ada yang memanggil Audi dengan sebutan 'Cla' selain Ibra.
Audi berdehem kecil. "Tante Safa ada ngomong sesuatu gak?"
"Enggak. Di cuma bilang itu untuk kamu."
Apa ia terlalu percaya diri? Bisa saja hijab itu memang dibuat khusus oleh Tante Safa menggunakan nama Audi yang paling pendek.
Iya. Bisa saja begitu.
Audi melipat kembali kerudung itu dan menyimpannya ke dalam kotak.
"Ngomong-ngomong, Ma."
"Hem?"
"Kemarin ada perempuan yang cari Mas Ibra."
"Perempuan? Siapa?"
Audi mengangkat bahu. "Mana kutahu."
Lalisa nampak berpikir sesaat. "Terus kamu bilang apa? Pas Mama sama Tante kamu masih di rumah sakit?"
"Iya. Waktu itu Mas Ibra juga baru berangkat sama Jeno. Aku bilang aja seadanya."
Audi menghabiskan sarapannya lalu minum hingga tandas.
"Mungkin pacarnya."
Kalimat yang baru saja terlontar hampir membuat Audi tersedak menyemburkan air. Beruntung ia segera menelannya hingga insiden itu tak terjadi.
__ADS_1
"Ngaco Mama nih. Masa pacar? Mas Ibra kan udah nikah. Apa iya dia nakal menduakan istrinya?"
Lalisa berhenti makan. "Kamu belum tahu, ya?"
"Apa?"
"Ibra kan sudah cerai."
Hening. Audi mematung di kursinya. Ingin rasanya ia mengorek kupingnya sendiri demi memastikan pendengarannya tidak rusak.
"Mama bilang apa?"
"Masmu itu sudah cerai. Enam bulan lalu kalau gak salah Mama dengar beritanya dari Papa kamu."
Mas Ibra cerai? Kok, aku gak tahu?
Lagi-lagi Audi merasa bodoh. Saat hendak menikah pun Ibra tak berkata apa-apa. Lalu sekarang berpisah pun Audi tahunya belakangan.
"Serius Mas Ibra cerai, Ma?"
"Iya. Memangnya Ibra gak bilang sama kamu?"
Enggak. Batin Audi.
"Cerai kenapa?"
"Mama gak tahu, Papa kamu juga kayaknya kurang tahu detail nya gimana. Lagian itu privasinya Ibra dan keluarga. Kita tidak berhak mencari tahu apalagi ikut campur."
Benar, sih.
Tapi Audi penasaran. Kira-kira kenapa Ibra bisa sampai bercerai? Audi pikir tipe orang seperti Ibra adalah penganut sekali seumur hidup, persis kata Lesti Kejora.
Ah, sudah lah. Lagi pula itu bukan urusan Audi. Benar, kan? Untuk apa ia peduli?
Lagi-lagi Audi hampir melewati batasnya dengan penasaran kepada Ibra. Stop kepoin hidup orang! Fokus saja pada hidupmu sendiri, Audi!
Tapi, bagaimana mau fokus kalau sekarang saja ponselnya sudah berdenting menampilkan pesan dari Ibra.
Audi membuka dan membaca pesan itu dengan malas.
Mas Ibra : cuacanya cerah banget, kayak wajah kamu.
Ibra menulis itu lengkap dengan disertai foto close up Audi yang entah diambilnya kapan. Audi mangap-mangap sendiri melihat gambar wajahnya di sana.
Astaga, Audi merasa tidak pernah berfoto sejelek itu sebelumnya.
Mas Ibra sialan!
Audi menjerit dalam hati ketika satu pesan lagi datang.
Mas Ibra : cerah banget sampai iler kamu kalah glowingnya.
Audi yakin pria itu tengah tertawa kesetanan sekarang. Dasar menyebalkan!
__ADS_1