
Pagi harinya Audi bangun dengan linglung. Terlebih terakhir kali ia ingat tengah berada di mobil bersama Ibra. Parah, apa Audi sepulas itu tidurnya? Kenapa ia tidak tahu sudah berada di rumah.
Tunggu, ini bukan kamar di rumah Om Edzar yang kemarin Audi tempati. Ini kamarnya di rumah kediaman lama Oma dan Opa Halim. Jadi Ibra membawanya pulang kemari?
Belum lepas pertanyaan-pertanyaan di benaknya, tiba-tiba pintu terbuka menampilkan Jeno yang sudah berpakaian rapi seperti hendak keluar. Ia membawa segelas susu putih dalam gelas berukuran sedang.
Jeno menyimpan gelas itu di atas nakas lalu berdiri menghadap Audi, mengamati perempuan itu dengan pandangan menelisik.
Audi yang ditatap jadi risih sendiri. "Apa, sih?"
Jeno tak menjawab. Ia masih setia menatap Audi layaknya sedang memeriksa sesuatu. "Mba semalam gak ngapa-ngapain, kan, sama Mas Ibra?"
"Maksudnya?" Kening Audi berkerut.
"Kalian pulang malam banget. Udah gitu Mba pakai digendong-gendong segala. Habis dari mana emang?"
"Kamu apa ... sih?" Audi sedikit menggantung ucapannya ketika menyadari sesuatu.
"Waktu Mas Ibra pulang, kamu di sini?" tanya Audi sambil mengerjap.
"Emang Mba pikir aku di mana? Orang seharian kemarin aku di rumah ngerjain tugas."
"Oohh ..." Audi menggaruk rambut. "Gitu rupanya." Ia terlihat gugup.
"Mba belum jawab pertanyaan aku. Semalam habis dari mana sama Mas Ibra sampe pulang semalam itu? Kalian gak macam-macam, kan?"
"Apa, sih, enggak lah!" sewot Audi. "Kita abis makan malam, terus pulangnya Mba yang nyetir jadi nyasar. Ya gitu, jadi lama, deh."
"Lagian kamu kenapa, sih? Tengsin banget kayaknya?"
"Aku tahu kalian pacaran," cetus Jeno tanpa basa-basi.
Satu detik, dua detik, Audi seolah membutuhkan waktu untuk mencerna pernyataan Jeno barusan. Ia mengerjap menatap anak yang entah sejak kapan jauh lebih tinggi dari Audi.
"Mas Ibra yang ngaku sendiri," lanjut Jeno.
__ADS_1
"Mas Ibra?" beo Audi.
Jeno mengangguk membenarkan. Sementara Audi masih betah terdiam. Dalam hati ia memaki kenapa Ibra harus mengaku pada adiknya. Masalahnya, kalau sudah sampai di telinga Jeno, kabarnya akan merambat seperti aliran listrik yang cepat.
Lebih parah kalau sampai omanya tahu. Audi tidak yakin ia dan Ibra tak akan diinterogasi setelah ini.
"Sekarang aku tahu siapa yang bikin Mba gak bisa terima setiap cowok yang nembak Mba dulu. Mas Ibra, kan?"
"Kepo banget, sih, kamu."
Jeno kalau sudah dalam mode seperti itu sangat menyebalkan. Mendadak perannya beralih jadi kakak yang sedang menasehati adik. Hey, di sini Audi kakaknya, bukan Jeno. Harusnya Audi juga mencecar anak itu agar tak main-main dulu sama perempuan. Bisa-bisa nanti gelar dokternya hanya modal tampang.
"Udah, ah, Mba mau mandi. Kalau sudah tahu gak usah cerewet kamu," dengus Audi seraya beranjak dari ranjang, bersiap memasuki kamar mandi.
"Enak, ya, yang punya pacar diperhatiin terus. Meskipun jauh makanan tetap dikirimin lewat gojek. Daebak pokokna mah," sindir Jeno yang kini mulai melangkah mendekati pintu, hendak keluar.
Audi menoleh sengit. Apa, sih, ini anak minta disambel!
"Oh ya, jangan lupa susunya diminum. Habiskan, soalnya nanti aku bakal dimintai laporan sama kakak ipar," ujar Jeno lagi sebelum menghilang di balik pintu.
Sialan. Setelah ini Jeno pasti akan cerewet terus dan mengejeknya. Ini semua gara-gara Ibra. Menyebalkan.
Belum juga Audi masuk kamar mandi, ponselnya turut menarik perhatian. Ia terpaksa menunda dulu kegiatan mandinya dan beralih mengambil ponsel yang berbunyi di dalam tas.
Sebuah pesan masuk di aplikasi hijau. Audi membuka dan membaca pesan yang ternyata dari Oma Halim.
Deg. Jantung Audi seketika kelonjatan saat membaca pelan sederet kalimat yang tertulis di sana.
"Cucu Oma kapan pulang ke Bandung? Oma kangen pengen cepat ketemu kamu."
Audi yakin betul, kangen sang oma bukan sembarang kangen. Ini pasti ada udang dibalik bakwan. Tuh, kan, apa Audi bilang. Kalau Jeno sudah tahu semuanya pasti merembet ke mana - mana. Ini bahkan baru semalam, belum ada dua puluh empat jam.
Alih-alih menjawab pesan sang oma, Audi justru mengirim chat kepada Ibra.
|Mas Ibraaaa!! Tanggung jawab!! Oma minta ketemu secepatnya!!|
__ADS_1
Beruntung sepertinya Ibra tengah memegang ponsel. Pria itu membalas cepat pesan Audi.
|Lho, Oma juga chat kamu, ya?|
Ibra malah bertanya polos. Astaga, kenapa dia masih bisa sesantai itu? Sebentar, apa Oma Halim juga mengirim pesan yang sama pada Ibra? Kok, Audi jadi makin curiga?
|Mas, Oma bilang apa sama Mas?|
Audi menggigit jari, menunggu tak sabar.
|Bilang kalau cuti suruh ke rumah Oma. Oma kangen katanya.|
Tuh, kan. Tuh, kan. Apa Audi bilang, Oma Halim berkata hal yang sama pada Ibra. Itu berarti ini memang bukan sembarang kangen.
"Mati aku," bisik Audi tegang. "Kira-kira gimana tanggapan Oma soal aku dan Mas Ibra? Aduh, kok rasa pengen pipisku ilang, ya?" Audi meracau asal.
Berbeda dengan Audi yang tengah dilanda kegusaran. Ibra justru tengah duduk dengan tenang di sebuah ruang keluarga, menatap ramah sambil berhadapan dengan seseorang.
"Nak Ibra pagi-pagi sudah kemari, semalam dari Jakarta sampai Bandung jam berapa?"
Ibra menyeruput teh hangat yang sebelumnya disajikan. "Sekitar jam 3 pagi, Wa."
"Ohhh ..."
"Uwa, sebenarnya Ibra kemari mau bicara serius sama Uwa."
Dava mendongak, mengangkat alis menatap pemuda yang tak lain adalah keponakannya. "Bicara serius? Soal apa?"
"Audi," jawab Ibra tegas.
Hening lama, Dava memandang rumit pada Ibra yang duduk di hadapannya. "Audi?"
"Iya."
Dua lelaki itu saling beradu pandang. Raut Ibra memancarkan keyakinan yang besar. Sunyi menyapa mengisi kekosongan di ruang tersebut.
__ADS_1
"Ada apa dengan Audi?" tanya Dava kemudian.