Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 151


__ADS_3

Tiga bulan berlalu, kini kandungan Audi memasuki usia 4 bulan. Rumah Ibra sudah ramai oleh keluarga besar yang hendak mengikuti acara syukuran. Semua persiapan hampir seratus persen selesai, tinggal salah satu menu catering yang masih dalam tahap perampungan.


Untuk nasi kotak, Mami Safa sedang menjemputnya bersama Oma Halim. Para tetangga sudah diundang untuk menjadi jemaah pengajian. Sementara Audi, ia hanya duduk santai atas permintaan semua orang.


Sejak ia menemukan sedikit flek beberapa waktu lalu, Ibra melarang keras untuk Audi melakukan apa pun. Pria itu berkali lipat semakin protektif terhadap Audi. Bahkan Ibra sampai membuat lift dadakan sebagai perantara lantai bawah dan lantai atas agar Audi tak naik turun tangga.


Ibra benar-benar over panik setiap kali Audi meringis karena suatu hal, bahkan saat Audi iseng atau tanpa sengaja mengeluarkan suara demikian hingga mungkin terdengar kesakitan.


Audi bosan duduk terus, tapi setiap kali ia bangkit pasti dipelototin. Ibra punya bodyguard khusus yang mengawasi Audi setiap kali ia pergi. Siapa lagi kalau bukan Jeno? Mendadak bocah itu begitu penurut pada kakak iparnya. Audi heran, pasti Jeno diiming-imingi sesuatu oleh Ibra, atau bahkan mungkin Ibra sudah memberinya uang serta barang mahal. Benar-benar sogokan yang sempurna.


"Mba, aku bilangin Mas Ibra, nih." Itu yang Jeno katakan setiap kali Audi hendak beranjak atau melakukan sesuatu yang menurutnya berat.


Jangankan ikut memasak, membantu menghitung nasi kotak saja tidak diperbolehkan. Ibra yang hiperbola seperti ini baru Audi temui, ini yang paling parah, dan ternyata sikap Ibra yang demikian sangat mengganggu.


Adzan ashar terdengar berkumandang dari beberapa mushola dan mesjid di daerah sekitar rumah. Tepat saat itu mobil Ibra memasuki pekarangan. Sang suami tak sendiri, rupanya ia bersama Edzar yang entah bagaimana mereka bisa bersama satu mobil. Padahal yang Audi tahu, Ibra tak ada jadwal ke caffe hari ini, dia hanya bilang ada kegiatan di partai. Mungkin sepulangnya Ibra mampir berkunjung ke caffe, makanya ia dan Papi Edzar bisa datang barengan.


"Assalamualaikum?" sapa keduanya begitu memasuki ruang tamu.


Audi yang kebetulan sedang duduk - duduk di sana bersama Jeno, lantas berdiri menyambut. "Wa'alaikumsalam ... Papi sama Mas Ibra kok bisa pulang bareng?"


Pertama Audi menyalami Edzar, lalu mencium tangan Ibra yang kemudian langsung Ibra rangkul dalam dekapan ringan. Pria itu mencium keningnya sekilas selagi mereka berjalan memasuki rumah.


Papi Edzar menyahut pertanyaan Audi. "Iya, tadi Ibra mampir ke caffe dulu. Karena sedari awal Papi emang gak bawa mobil, ya udah, Papi nebeng aja sama Ibra," kekeh beliau. "Jen? Kamu di sini?" Ia lalu menghampiri Jeno dan bergabung bersamanya di sofa.


"Iya, Om. Om baru pulang?" Jeno menyalami tangan Edzar. Pertanyaan yang sering kali terucap saat basa basi. Tapi meski begitu Edzar tetap menguar senyum bersahaja sambil menepuk sekilas pundak sang keponakan.


"Iya, baru pulang. Mana jalanan agak macet tadi."


Meninggalkan keduanya, Ibra membawa Audi memasuki lift guna naik ke lantai dua kamar mereka. Lelaki itu tak lepas merangkul sang istri sambil sesekali menciumi baunya.


"Bagaimana hari ini? Ada keluhan? Anak kita gimana?" tanya Ibra begitu pintu lift menutup. Tangan besarnya terulur mengusap perut Audi yang sudah terlihat membuncit di balik daster.


Audi tersenyum, turut mengusap tangan Ibra di perutnya. "Alhamdulillah, baik. Anak kita juga baik, gak rewel."


"Gak ngidam? Biasanya siang kamu udah minta sesuatu?"


Masih dengan tersenyum, Audi menggeleng. "Enggak, tadi cuman makan rujak aja, dibuatin Bibi. Terus Jeno jajan tahu bulat, aku minta, deh, hehe."


Ibra terkekeh menjawil hidung Audi. "Pasti ujung-ujungnya kamu yang abisin?"


Audi nyengir. "Hehe, iya. Kok, tahu?"


"Tahu lah, kebiasaan kamu kan gitu. Minta tapi suka abisin."

__ADS_1


Mereka sudah sampai di lantai dua, Ibra menggiring Audi memasuki kamar sementara dirinya mulai membuka satu persatu kancing kemeja. Audi yang melihat refleks membantu Ibra melepas pakaian.


Ibra tersenyum, sesekali ia mencuri cium di kening serta bibir, meski berujung disertai sesapan dan gigitan yang selalu berhasil membuat Audi maupun Ibra melayang.


Keduanya hampir larut, bahkan Ibra sudah mendorong Audi berbaring di ranjang dan mengungkungnya di sana, namun Ibra ingat dengan kehamilan Audi yang akhirnya membuat Ibra mau tak mau menjauh.


"Hampir aja Mas kebablasan," gumam Ibra dengan nafas sedikit berat.


Audi sendiri sudah terengah di bawahnya. Ia berkerut karena lagi - lagi Ibra menghindar setiap kali mereka hendak bersentuhan lebih dalam. "Emang kenapa, sih, Mas? Kan sebelumnya kita juga sering?"


Ibra menatap Audi teduh, ia memandang sang istri seraya menyibak anak rambutnya yang sedikit mencuat. "Kita libur dulu, Sayang. Takutnya bayi kita kenapa - napa kalau terlalu sering. Dan seminggu lalu kamu ngeflek, kan? Dokter bilang karena kita terlalu sering berhubungan intim, jadi harus dikurangi."


Audi merengut. "Mas bukan mengurangi, tapi bener - bener berhenti sentuh aku. Kenapa? Udah gak nafsu lagi liat tubuh aku yang gendut? Tapi kata Mama, aku gak gendut, kok, masih sedang. Mami juga bilang gitu. Papa dan Papi juga," ucapnya sambil manyun.


Menghela nafas, Ibra kembali menatap sang istri. Menghadapi Audi yang tengah hamil memang butuh lebih banyak kesabaran. Begitu banyak perubahan emosi yang Ibra rasakan terjadi pada wanita itu, hal yang membuatnya otomatis harus belajar lagi menguasai diri guna mempertahankan ketentraman di antara mereka.


"Bukan gak nafsu, Sayang. Andai kamu tahu seberapa sering Mas menahan diri melihat kamu seliweran di sekitar Mas, Mas rasanya ingin terkam kamu. Tapi Mas ingat lagi, anak kita butuh kita untuk beristirahat demi kenyamanan dirinya dalam perut kamu."


"Dan lagi, kamu gak gendut untuk seukuran ibu hamil. Mas lihat tubuhmu masih ideal. Segitu itu cukup, malah kelihatannya lebih segar karena berat badan kamu semakin tambah. Dulu kamu susah banget naik berat badan. Benar apa kata Mas, kamu saat hamil pasti tambah seksi banget. Justru tubuh kamu yang begini makin membuat Mas susah menahan diri. Montok, tapi gak gendut. Lebih pada sekal yang membuat Mas gemas ingin remas sana sini."


Audi melipat bibirnya merona. Ia menatap Ibra malu - malu, ekspresi yang terlihat begitu menggemaskan di mata Ibra hingga lelaki itu terkekeh, menghujani wajah Audi dengan ciuman.


"Tapi kalau kamu mau ... kita masih punya cara lain buat main, kok," lanjut Ibra dengan wajah menggoda menatap Audi. "Gimana? Mau coba opsi lain?" ujarnya menyeringai.


"Oke, siapa takut? Aku jamin Mas Ibra akan lebih puas dari permainan - permainan sebelumnya."


***


Tasyakuran digelar usai sholat magrib. Para tetangga yang diundang sudah datang memenuhi ruang depan. Ustadz yang akan memimpin merupakan sesepuh dari salah satu pesantren besar di daerah Bandung.


Semua sudah siap, para jemaah duduk berjejer saling berdempetan. Sementara Audi dan Ibra duduk bersama ustadz di depan sebuah mimbar kecil yang dibuat khusus untuk menonjolkan sang tuan rumah.


Pembukaan pun dimulai. Rentetan demi rentetan prosesi acara berlangsung satu persatu dengan lancar. Bacaan sejumlah surah dari ayat suci Al-Quran memicu gemuruh hingga suasana ruangan menjadi ramai. Audi turut mengaji, membaca salah satu surah dengan khusu, begitu pula Ibra yang bahkan tanpa disadari meneteskan air mata haru.


Betapa hati kedua pasangan tersebut membuncah tak terkira. Audi sesekali mengusap perutnya pelan, merasakan kehadiran sang anak yang belum diketahui jenis kelaminnya.


Audi hanya berdo'a, mau itu laki - laki atau perempuan, yang penting lahir secara sehat dan sempurna tanpa kekurangan satu apa pun. Karena itulah yang diharapkan setiap orang tua di seluruh dunia.


Gemuruh ayat suci perlahan berangsur mereda, menandakan sebagian besar orang telah selesai membaca satu surah penuh yang sebelumnya sudah dibagi sesuai kesepakatan. Selanjutnya giliran Ibra yang mengucap kalimat tashdiq sebagai penutup, ia juga mencium Al-Qur'an di tangannya dengan wajah yang menguar perasaan khidmat.


Audi menyusul dengan yang lain, akhirnya semua bacaan surah telah usai, dan dilanjutkan dengan pembacaan do'a oleh ustadz.


Usai acara, para jemaah yang hendak pulang diberi nasi kotak sebagai tanda terima kasih Audi dan Ibra serta keluarga. Semua prosesi pun selesai dengan damai, sesuai yang diharapkan sebelumnya.

__ADS_1


Semua tamu sudah pulang, satu persatu keluarga pun mulai meninggalkan rumah besar Ibra, menyisakan orang tua mereka serta Oma Halim yang memang berniat menginap.


"Capek?" Ibra bertanya sembari menggeser duduknua mendekati Audi. Mereka masih duduk di atas gelaran karpet bekas acara tadi.


Ruangan tersebut sudah kosong hingga menyisakan mereka berdua, serta para asisten rumah yang hilir mudik membereskan piring - piring bekas makanan.


Ibra meraih kaki Audi hingga bertumpu di atas pahanya yang bersila. Ia memijat pelan tungkai sang istri yang terbalut legging serta gamis seragaman keluarga. Audi membiarkan tindakan tersebut dengan raut nyaman. Sesekali ia terpejam menikmati pijatan Ibra.


"Cuman lelah sedikit, pinggang dan bokong juga rasanya pegal banget, mungkin karena kelamaan duduk," sahut Audi menjawab pertanyaan Ibra.


Ibra mengangguk paham. Ia lanjut memijat betis Audi sambil sesekali mengedarkan pandangan, melihat lalu lalang orang yang tengah berberes ruangan.


"Mau makan?" tanya Ibra.


"Masih kenyang. Tadi sebelum acara aku sempat makan," jawab Audi. "Tapi kayaknya aku mau brownies, deh, Mas. Kira - kira di dapur masih ada gak, ya?"


"Brownies?" Ibra berhenti memijat. "Kamu mau brownies?"


"Huum."


"Ya udah, Mas lihat dulu di dapur, ya?" Ibra menyingkirkan kaki Audi dari pahanya, lalu bangkit, siap beranjak mencari sesuatu yang diinginkan sng istri.


Audi mengangguk. "Kalau gak ada, Mas Ibra beli lagi aja, ya? Soalnya aku pengen banget."


"Itu udah pasti, Sayang."


Senyum Audi kian lebar hingga matanya terlihat menyipit. "Mas Ibra baik, deh. Audi jadi makin sayang sama Mas. Bukan cuma Audi, tapi anak kita juga. Iya, kan, Nak? Kita sayaaang banget sama Ayah."


Mendengar hal tersebut Ibra tersenyum teduh. Perasaan hangat menjalar di hatinya, menghadirkan rasa bahagia yang meluap hingga Ibra tidak tahu harus berapa kali lagi mengucap kata syukur pada Sang Pencipta.


Kebahagiaan Ibra kini bertambah bukan hanya Audi, malaikat kecil yang beberapa bulan lagi akan hadir di antara mereka adalah bintang yang siap mengelilingi Ibra dengan segala macam sinar dan cahayanya. Ibra di sini bagaikan poros bagi mereka. Ia adalah kepala keluarga yang Insya Allah siap membimbing Audi dan anak mereka, serta calon - calon berikutnya yang mungkin akan Tuhan titipkan di tahun - tahun berikutnya.


Ibra tidak sabar menunggu hari itu tiba, hari di mana ia dikelilingi istri serta anak - anaknya hingga mereka tumbuh dewasa.


Tuhan, betapa sempurna rencana-Mu atas kehidupan kami. Tiada hari kami lewati tanpa bersyukur atas nikmat yang bertubi - tubi kau beri. Meski semua tak luput dari berbagai ujian menerpa kami, namun kami percaya, semua itu adalah bentuk kasih sayang-Mu supaya kami bisa lebih taat dan memperbaiki akhlak sesuai jalan-Mu.


Semoga setelah ini kebahagiaan lain tak kalah istimewa dan mengagumkan, semoga aku serta istriku dapat bertahan dalam kebersamaan kami meraih ridho-Mu sepanjang masa pernikahan. Semoga ia juga termasuk dalam jajaran calon bidadari surga-Mu, dan kami bisa bersama sampai akhir hingga akhirat nanti, aamiin ya rabbal aalamiin ...


Claudia, kamu adalah bidadari dalam pernikahan kita. Kamu adalah ratu dalam kehidupan Mas, yang sampai kapan pun akan menempati tahta tertinggi setelah Mami di hati Mas.


Bertahanlah, Sayang. Bertahan di sisi Mas. Sabarlah dalam setiap ujian yang kelak akan menimpa. Percayalah, dan lalui itu bersama dengan palung kesabaran yang tentu akan kita bangun di istana kita berdua.


Untuk Claudia, cinta Mas, mari kita berjalan bersama, meraih ridho Allah melalui ibadah yang akan kita lalui dalam bahtera rumah tangga yang Insya Allah sakinah, mawaddah, serta warohmah.

__ADS_1


Aamiin allahumma aamiin ...


__ADS_2