Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 58


__ADS_3

Seminggu Audi berhasil melewati harinya tanpa gangguan Ibra, meski pria itu masih kerap menghubungi dan mengirim pesan, semuanya tak Audi hiraukan. Biar saja Ibra menegaskan keputusannya kelak.


Walau sebenarnya Audi juga khawatir memikirkan Ibra, Kenan dan Shireen yang akan terus bertemu tanpa dirinya. Tapi kembali lagi pada keputusan, Audi percaya jika Tuhan memang menghendaki mereka, pasti ada jalan untuk ia memiliki Ibra.


Audi sadar terlalu terobsesi menginginkan lelaki itu. Audi harap dengan jarak ini ia bisa memikirkan rencana ke depannya. Mungkin sebagian orang menilai Audi labil, padahal ia sendiri yang memutuskan menerima Ibra sebelumnya, tapi ternyata ia lemah dalam rasa iri dan cemburu. Audi tak sanggup melihat kedekatan Ibra dan Shireen yang masih terjalin karena Kenan.


Shireen memang sudah meminta maaf dan bicara baik-baik padanya, tapi Audi yang menginginkan kesempurnaan dalam hubungan enggan menerima sekecil apa pun konflik masa lalu.


Hari-hari semakin berlalu, Ibra tampaknya sudah frustasi tak mendapat respon dari Audi. Lelaki itu berusaha keras membagi konsentrasi saat berdinas. Ia selalu menyempatkan menelpon Audi meski berakhir sama, tak mendapat balasan.


Audi sendiri sudah kembali pada aktifitasnya sebagai influencer dan konten kreator. Kesibukan lumayan membuat Audi lupa permasalahan di antara mereka. Berbagai kegiatan padat tak luput Audi jalankan, dan ia pun percaya Ibra tak kalah sibuk di ibu kota sana.

__ADS_1


Minggu berselang kembali, hubungan mereka masih tak ada perubahan dan tak menemui titik terang. Mungkin karena keduanya sama-sama enggan mengalah. Ibra yang kekeh berkutat dengan balas budinya terhadap Rega, begitu pula Audi dan arogansinya yang tak ingin Ibra mendua, kendati pada anak kecil sekalipun.


Hingga suatu ketika Audi dikejutkan oleh kedatangan sang tante yang tiba-tiba mengunjunginya di studio. Tante Safa datang sendiri bersama sopirnya. Ia datang membawa keresahan Audi yang seketika menebak bahwa wanita itu sudah tahu hubungannya bersama Ibra.


Kehadiran seorang Safana Halim berhasil membuat Audi berkali-kali meneguk ludah. Senyumnya yang menawan mengingatkan Audi pada anaknya yang sayang sekali memiliki sifat plin-plan.


Audi tergagap ketika mata mereka bertemu, padahal sebelumnya Audi senang sekali bermanja pada sosok mami dari Ibra itu.


Seperti biasa, Tante Safa terlihat cantik dan awet muda dalam balutan hijab elegan. Audi ingat, ia pernah dengan konyolnya bertanya di mana wanita itu melakukan operasi plastik saking miripnya dengan artis Korea. Memalukan, jika mengingat itu Audi ingin mengubur wajahnya dalam-dalam.


Mereka berada di ruang tamu studio milik Audi yang kebetulan tak begitu ramai. Para timnya sedang berkutat di ruang editor. Audi kemari karena salah satu anggotanya memberitahu tentang kedatangan wanita itu.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, Tante. Tante ... ada perlu apa sama Audi sampai jauh-jauh kemari? Tumben mendadak sekali? Duduk dulu, Tante."


Tante Safa pun kembali duduk di tempatnya semula. Audi turut melesakkan diri di sofa yang berseberangan. Jarak mereka terselang oleh meja, di mana di atasnya ada beberapa air kemasan dan camilan asin.


"Minumnya, Tante. Maaf, di sini gak ada apa-apa. Atau Tante mau minuman dingin? Audi bisa ambilkan di dalam." Audi bertanya seraya membuka tutup toples berisi keripik.


"Enggak papa, gak perlu repot-repot. Segini aja cukup, kok."


Audi terdiam. Kalimat barusan seolah menandakan bahwa sang tante tak akan sebentar dalam kunjungannya. Bisa Audi rasakan aura serius di sekitar mereka. Audi jadi penasaran, apa Tante Safa mau membicarakan tentang Ibra? Atau hal lain?


"Oh, gitu. Ya sudah." Audi menegakkan tubuh di sofa, ia menatap sang tante dengan sedikit perasaan canggung.

__ADS_1


"Dari respon kamu sepertinya kamu tahu tujuan Tante kemari mau membahas apa." Benar saja, Safa menatap Audi teduh penuh perasaan sayang.


Apa dugaan Audi benar, bahwa wanita itu hendak membahas Ibra?


__ADS_2