
Audi berdiri gugup di samping Ibra yang mematung. Saat ini mereka tengah berada di pemakaman Kenan yang beberapa saat lalu baru saja dikebumikan. Audi tak berani bicara, terlebih sedari tadi Ibra bungkam dalam do'a.
Di depan mereka, Shireen nampak berlutut di tanah, ia masih sedih dan berusaha tegar mengusapi nisan putranya. Hati Audi ikut ngilu melihatnya. Bagaimana pun ia juga seorang calon ibu, pasti akan merasakan hal yang sama seandainya berada di posisi Shireen. Nauzubillah, semoga Audi dijauhkan dari kedukaan serupa. Audi ingin anaknya sehat wal afiat.
Sekali lagi Audi menoleh pada Ibra. Seakan tahu Audi tengah menatapnya, lelaki itu turut menoleh memperlihatkan matanya yang sedikit merah usai berakhirnya prosesi pemakaman. Ibra berusaha tersenyum walau kecil, ia merangkul Audi, mengusap dan meremat bahu kecilnya yang selalu pas ia genggam.
Audi tahu Ibra tengah mencari penguatan. Kendati Kenan bukan anaknya, tapi Ibra sangat menyayangi anak itu seperti keluarga sendiri. Mereka masih setia menemani Shireen yang entah kapan akan beranjak. Audi tak berani untuk sekedar menegur, Shireen tampak begitu layu kehilangan putra satu-satunya.
Tak lama kemudian seseorang datang mendekat. Dia adalah ibu Shireen, wanita itu berdiri di samping sang anak yang tengah bersimpuh dalam duka. Wajahnya terlihat biasa saja Audi lihat, ia bahkan hanya melirik malas pada Shireen yang tak berhenti menangis memeluk nisan putranya.
"Udahlah, Shireen. Mau kamu menangis seember pun Kenan gak akan kembali. Mau kamu berdo'a sebanyak apa pun takdir tetap gak akan berubah," ucapnya membuka suara.
Benar-benar tak punya hati! Audi hampir saja memaki jika saja Ibra tak semakin erat merangkulnya. Shireen sendiri tak menghiraukan keberadaan ibunya, mungkin ia sudah tahu dan terbiasa dengan kalimat-kalimat tanpa adab yang sering kali keluar dari mulut pedas wanita itu.
Sudahlah datang terlambat, tak ikut pemakaman, setidaknya ia harus bisa menjadi penenang di saat putrinya terpuruk seperti sekarang.
Audi tak mampu menahan ekspresinya yang tak bersahabat. Keningnya berkerut dalam melirik Tantri yang seolah tidak bersedih sedikit pun setelah kehilangan sang cucu. Apa dia seorang manusia?
Ibra berdehem pelan dan mulai bersuara. "Ehm, maaf, kami tidak menunggu ibu karena pemakaman harus disegerakan."
Audi mendelik. Sudah jelas bahwa Tantri sama sekali tak tertarik dengan hal itu. Benar saja, Tantri menoleh ke arah Ibra dengan tatapan datar, ia juga sempat melirik Audi sinis.
"Saya gak peduli. Mau dimakamkan segera, mau nanti, terserah. Gak ada untungnya juga ngurusin mayat."
"Ibu!" Shireen menegur dengan suara parau. Bagaimana pun, mungkin perkataan sang ibu berhasil menyakitinya dengan telak.
Tantri menoleh, menunduk menatap Shireen yang mendongak berurai air mata. "Apa? Memang benar, kan, gak ada untungnya? Kamu nangis begitu juga gak ada untungnya. Kalau Kenan dapet asuransi, baru itu untung. Ini mati boro-boro ninggalin duit, yang ada kita yang habis duit buat obatin dia."
"Astaghfirullah, bisa-bisanya Ibu bilang begitu? Kenan itu anak Shireen, cucu Ibu!"
__ADS_1
"Halah, bodo amat! Emang dari lahir dia nyusahin, kok. Harusnya kamu bersyukur karena sudah gak punya beban hidup!" sergah Tantri mengibas tangan.
Shireen menggeleng tak menyangka. "Kenan bukan beban, Bu. Dia titipan Allah yang wajib Shireen jaga, dan lagi kalau Ibu kemari bukan untuk berdo'a, lebih baik Ibu pergi sekarang."
"Kamu ngusir? Lupa kalau kamu belum tepati janji mau kasih Ibu uang?" Tantri berkacak pinggang, ia lalu mengulurkan tangan pada Shireen. "Mana uangnya?"
Shireen berkedip berusaha menahan emosi. Belum sempat ia bicara, suara Audi yang berdesis pelan menarik atensi semua orang.
"Biadab," bisik Audi tanpa sadar.
Semua mata menatap ke arahnya, termasuk Ibra yang kini memandang sang istri khawatir. "Cla?" tegur Ibra serupa bisikan. Ia selalu melarang Audi berkata kasar semenjak hamil, bahkan sebelumnya Ibra juga sering menegur Audi bilamana kelepasan.
Tantri menatap Audi dengan tatapan menyalak. "Kamu ngatain saya?!" serunya keras, sekaligus menyadarkan Audi dari keterpakuan yang seolah larut dalam rasa kesal.
Audi yang merasa kepalang ketahuan, semakin terang-terangan menunjukkan ketidaksenangannya. "Iya. Kenapa?"
"Pelakor gak tahu diri. Sudah merebut suami orang, sekarang kamu masih punya muka untuk datang ke pemakaman Kenan?"
Ibra melotot tajam. Ia berusaha menarik Audi ke belakang tubuhnya karena tak ingin wanita itu ikut terpancing. "Mohon maaf, maksud Ibu ini apa, ya?"
Tantri mendengus. "Kalian berdua emang gak punya malu, ya. Kamu lagi, Ibra. Bisa-bisanya kamu dibutakan sama wanita ular itu. Kamu juga sengaja nikah gak bilang-bilang kita, kan? Biar kita gak dateng? Biar Kenan gak dateng? Padahal Kenan itu nanyain kamu terus! Tega kamu. Sejak bercerai dari Shireen kamu benar-benar sombong sekarang."
Ibra menghela nafas lelah. "Bu, tolong, saya gak mau ribut di sini, tolong hargai peristirahatan Kenan."
"Alahhh ... ngomong aja kalau semua yang Ibu katakan itu benar. Kamu mau diam-diam lepas tanggung jawab dan janji kamu pada Rega. Iya, kan?"
"Bu." Shireen berdiri menarik lengan ibunya. "Jangan ngomong begitu," bisiknya geregetan.
"Apaan, sih, kamu? Orang Ibu benar, kok. Ibra ninggalin kamu dan Kenan gara-gara wanita itu!" Tantri menoleh pada Audi. "Dasar pelakor. Bisanya ngumpet di belakang punggung. Heh, keluar kamu!"
__ADS_1
"Bu, jangan sampai saya habis kesabaran di sini," desis Ibra nyalang. Ia masih berusaha menahan diri, karena rasanya tidak pantas mereka bertengkar di pemakaman. Tanah kuburan Kenan bahkan masih basah dan belum mengering. Betapa Ibra tidak tahu malu jika turut berteriak di sini.
Sementara Audi yang diteriaki, kontan bergeser dari belakang tubuh Ibra. Ibra yang melihat itu pun langsung memperingati. "Cla, jangan, Sayang," ucapnya menggeleng.
Namun Audi sudah kepalang emosi. Ia menatap nyalang pada Tantri yang tak kalah memandangnya tajam. "Pelakor?"
Tantri mengangkat dagunya angkuh. Ia menatap Audi sinis, sudut bibirnya terangkat sumir melecehkan. Shireen sudah memijat pangkal hidung, ia menunduk sedih melihat nama Kenan yang terukir pada nisan. Kenapa mereka begitu tega berseteru di sini?
"Cla, ayo pulang?"
"Diam, deh, Mas!" Audi kembali menatap Tantri dengan tajam.
"Kalau saya pelakor terus anda ini apa? Seorang nenek? Seorang ibu? Bahkan untuk disebut sebagai wanita pun anda sama sekali gak pantas!"
"Dasar gak punya hati! Nenek-nenek biadab!"
Audi terengah. Mungkin kalau tidak segera dipeluk Ibra, ia sudah maju menarik nenek tua yang wajahnya selalu saja membuat emosi jiwa dan raga itu.
Tantri sendiri malah mendengus seolah perkataan Audi terdengar lucu. "Biadab? Lebih biadab mana sama kamu yang selalu hirau setiap kali Kenan minta bicara sama Ibra?"
"Apa Ibra tahu Kenan sakit parah sebelum ini? Anak itu dirawat udah lebih dari 2 minggu! Apa kamu tahu, Ibra?"
Hening. Semuanya terdiam mendengar perkataan Tantri barusan. Sementara Audi sudah menegang di tempat dengan jantung berdetak cemas. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Ibra sudah turut menatapnya. "Mas?"
"Istri kamu tahu betul kondisi Kenan, masa iya kamu juga gak tahu, Ibra?" Tantri mengangkat sudut bibirnya penuh kemenangan.
Melihat Audi yang tergemap di bawah tatapan nyalang Ibra benar-benar suatu pemandangan menyenangkan.
"Apa maksud Ibu, Cla?"
__ADS_1