
Ini hari kelima jadwal operasi Audi. Gadis itu masih tak sadarkan diri meski tak lagi dalam keadaan dibius. Tentu perasaan Ibra masih belum tenang jika Audi belum membuka mata, terlebih dokter berkata pasien koma bisa sewaktu-waktu kehilangan nyawa.
Sepanjang hari Ibra selalu standby di rumah sakit, paling banter ia pulang sebentar kalau Audi ada yang menunggui, lalu kembali dengan membawa baju ganti. Berbuka pun Ibra selalu di samping Audi, tarawih pun ia lakukan di mushola rumah sakit.
Ibra seakan enggan jauh-jauh dari Audi. Ia benar-benar tak ingin melewatkan satu pun perkembangan dari sang kekasih yang entah kapan bisa terbangun lagi.
Ibra berdiri di depan ruang ICU, melihat Audi yang terbaring lemah dengan berbagai alat menempeli tubuhnya. Hati Ibra menjerit sedih. Audi kecilnya yang periang kini harus kehilangan rona merah mudanya.
Entah bagaimana perasaan gadis itu ketika melihat wajahnya yang hancur akibat kecelakaan. Wajah jelita yang menjadi kebanggaan Audi dalam berkarir sekarang penuh dengan luka baret aspal. Untuk masalah wajah mungkin gampang, dokter sendiri menjamin wajah Audi bisa kembali seperti semula dengan operasi bedah plastik.
"Cla, bangunlah, cepatlah pulih. Mas menunggumu di sini," bisik Ibra.
Suara adzan berkumandang menandakan waktu magrib telah tiba. Bersamaan dengan itu Wa Lisa dan sang mami datang menghampiri Ibra. Mami Safa membawa rantang makanan dan sejumlah tas karton entah berisi apa.
"Ibra, kamu buka puasa dulu, Nak. Mami bawain kamu takjil sama es kelapa. Dimakan dulu." Safa mengulurkan dua buah tas karton kepada Ibra.
Ibra menerima sambil tersenyum kecil. "Makasih, Mam."
Ia lalu duduk di kursi tunggu depan ICU. Melihat hal tersebut Lalisa pun menegur Ibra. "Makan di sini lagi? Di bawah banyak tempat nyaman, lho. Di kantin juga boleh bawa makanan dari luar, kok?"
Namun Ibra hanya mendongak sekilas sambil melempar senyum. "Gak papa, Uwa. Ibra makan di sini sama Audi," ucapnya terdengar santai.
Namun di telinga Safa justru terdengar menyedihkan. Ia seorang ibu, tahu pasti perasaan putranya seperti apa. Ibra tak mau meninggalkan Audi barang sejenak pun. Jika bukan karena kewajiban ibadah, Ibra mungkin akan terus berdiam diri di sini. Makanya dokter yang bolak-balik ruangan Audi lebih sering berdiskusi dengannya ketimbang Dava yang tak bisa meninggalkan kesibukan.
Diam-diam Safa mengejek kakaknya. Sebelumnya Dava menolak Ibra dengan alasan tak memiliki waktu yang cukup untuk menemani Audi. Buktinya sekarang terbalik, Ibra yang seorang abdi negara justru nekat meninggalkan tugas demi bisa berada di samping Audi sepanjang hari. Dava terlalu mengagungkan profesi sebagai pengusaha tanpa berkaca bahwa dirinya juga tak seluang itu untuk terus berjam-jam bersama keluarga.
Lalu, untuk masalah resiko keselamatan, tak ada yang tahu bagaimana cara Tuhan merenggut nyawa manusia. Contohnya Audi, dia bukan prajurit wanita yang bekerja menghadapi bahaya, tapi bisa dengan mudah celaka jika Tuhan sudah berencana.
__ADS_1
Intinya, seberapapun kita menghindar, Tuhan tetap memiliki caranya sendiri untuk memberikan musibah pada setiap makhluknya.
Ibra menyeruput nanar es kelapa dalam cup. Lagi dan lagi setiap berbuka seperti ini ia teringat masa-masa manisnya bersama Audi. Ramadhan tahun ini Ibra baru satu kali ngabuburit dan buka bersama dengan Audi, itu pun tidak benar-benar berdua karena bersama keluarga.
Ibra menyimpan es kelapa di kursi sebelahnya, ia lalu beralih membuka takjil yang dibawakan Safa untuk kemudian memakannya dengan khidmat. Safa dan Lalisa pun melakukan hal yang sama seperti Ibra. Mereka berbuka di depan ruang rawat Audi dengan hati tak lepas berdoa untuk kesembuhan gadis itu.
Sepuluh menit kemudian Ibra berdiri dan pamit pergi ke mushola. Safa dan Lalisa mengangguk mempersilakan. Mereka memang kerap bergiliran seperti ini.
Malam berangsur larut. Safa dan Lalisa yang tak bisa tidur tanpa kasur lebih sering pulang ke rumah dan membiarkan Ibra sendirian yang menunggu. Biasanya Edzar atau Dava juga datang di malam hari. Belum lagi dua wanita itu tak bisa menginap lantaran Oma Halim tinggal bersama mereka saat ini.
Benar, semenjak berita kecelakaan Audi tersebar luas, kesehatan Oma Halim pun menurun. Safa merawat sang ibu di rumahnya. Wanita itu berkali-kali ingin ikut ke rumah sakit, tapi Edzar larang dan menyarankan agar Oma Halim menjenguk Audi setalah gadis itu dipindah ke ruang rawat inap. Safa pun turut menyetujui anjuran suaminya. Oma Halim pun tak bisa membantah kendati hati terus resah memikirkan sang cucu.
Seperti biasa malam hari Edzar dan Dava akan turut menemani Ibra menunggu di depan ICU. Kerap kali mereka menyuruh Ibra pulang untuk beristirahat dengan nyaman barang sehari saja, namun Ibra tetap kekeh tak ingin pergi.
Diam-diam Dava merasa haru melihat keponakannya yang begitu peduli pada Audi. Pria itu rela berdiri dan duduk berjam-jam di rumah sakit karena tak ingin Audi merasa sendiri jika ia tinggalkan.
Dava benar-benar merasa dipukul telak. Kemarin ia begitu arogan menghadapi Ibra, tapi saat ini justru Ibra lah yang lebih sering menemani Audi ketimbang dirinya.
"Uwa minta maaf," ucap Dava saat mereka hanya berdua. Edzar pergi merokok keluar.
Ibra yang mendengar sontak menoleh pada pria di sampingnya. "Minta maaf apa, Uwa?"
Dava turut menoleh. "Atas sikap Uwa sama kamu."
"Uwa sudah semena-mena sama kamu. Hal yang sangat tidak pantas dilakukan pada sesama keluarga. Kamu putra adik Uwa, itu berarti secara tidak langsung kamu juga putra Uwa."
"Uwa terlalu arogan hingga sekarang malu sendiri. Kamu yang sempat Uwa remehkan justru menjadi teman setia, lebih dari yang Uwa bisa. Uwa hanya bisa menjenguk Audi pagi dan malam hari, beda sama kamu yang setiap hari di sini." Dava tersenyum sayu menatap Ibra.
__ADS_1
"Seandainya Audi sembuh nanti, apa kamu masih mau meminang Audi dengan segala kekurangannya? Mungkin ... Audi tak akan sama seperti Audi yang lama. Dengan segala kondisi yang mungkin bisa memberatkan kamu, kamu yakin masih menginginkan Audi menjadi istrimu?"
Hening menyelimuti mereka berdua. Ibra membalas penuh tatapan sang uwa. Di sela detik monitor yang menentukan kehidupan Audi, Ibra pun dengan yakin menjawab.
"Audi pasti sembuh. Dan untuk pinangan, Ibra masih sangat menginginkan Audi sebagai pendamping. Ibra ingin hanya Audi yang mengisi separuh hidup Ibra di dunia, dan kalau Tuhan menghendaki sampai akhirat pun Ibra tetap ingin bersama-sama dengan Audi. Dan untuk kekurangan, semua manusia punya kekurangan. Tapi Insya Allah, Ibra pasti menerima apa pun kondisi Audi ke depannya."
Mendengar itu Dava pun menangis. Ia menunduk berusaha mengusap air matanya yang tumpah karena keseriusan Ibra.
"Uwa telah buta melihat ketulusan kamu." Dava mengangguk-angguk penuh rasa haru. Ia meremas pundak Ibra sambil menatap lekat pria itu dalam - dalam. "Kamu benar - benar pria luar biasa, Ibra. Uwa malu karena sempat memandangmu sebelah mata."
Ibra tersenyum kembali. "Bukan masalah, Uwa. Hal yang sangat wajar ketika seorang ayah mengkhawatirkan putrinya. Sebagai kepala keluarga yang memiliki tanggung jawab besar terhadap anak serta istri, Uwa pantas bersikap demikian dalam hal mencari pasangan untuk Audi. Audi anak perempuan satu-satunya yang Uwa punya. Jika Ibra di posisi sama pun pasti bisa bersikap sama seperti Uwa."
"Ibra sangat memaklumi rasa khawatir Uwa terhadap masa depan Audi, kehidupan Audi kelak setelah menikah, semua orang tua pasti memikirkan itu untuk anaknya. Jangankan anak perempuan, laki-laki pun kadang diperlakukan sama jika untuk masalah pasangan."
Dava tersenyum lega. Sekali lagi ia menepuk pundak Ibra sebelum kembali menunduk menatap lantai. Ia membuang nafas entah memikirkan apa.
"Kamu laki-laki baik, bisa dibilang hampir sempurna meski pernah bercerai. Kamu pantas seandainya ingin mencari yang lebih baik dari Audi. Audi mungkin tak akan secantik dulu. Pria sesabar dirimu berhak mencari pendamping yang benar-benar seimbang," ucap Dava.
Ibra menggeleng. "Bagi Ibra, Audi tetap yang paling sempurna. Tidak ada yang benar-benar sempurna di dunia ini, yang ada justru keikhlasan untuk saling menerima. Ibra menginginkan Audi, Insya Allah dengan diawali bismillah bisa menerima Audi apa adanya."
"Untuk itu ... apa Uwa keberatan jika Ibra meminta Audi secara resmi, menjalani hidup bersama - sama sampai hanya maut yang bisa memisahkan kita, menjadikan Audi sebagai istri satu - satunya yang Insya Allah menjadi tahta terbesar dalam hidup Ibra. Apa Uwa mengizinkan?"
Dava tak tahu lagi harus berkata apa pada Ibra. Seberapa pun ia bicara tentang kejelekan Audi, pria itu sama sekali tak goyah dan tetap ingin mempersunting putrinya yang mungkin saja cacat setelah ini.
"Jika kamu memang benar-benar menginginkan Audi, Insya Allah atas izin-Nya, Uwa mempersilakan kamu mempersunting Audi, dengan syarat kamu tak boleh menyakiti perasaannya barang secuil pun," tegas Dava.
Ibra menguar senyum haru. Dava terkejut ketika anak itu tiba-tiba bersimpuh di hadapannya, menggenggam kedua tangannya dan menenggelamkan wajah sembari terisak pelan. "Insya Allah, Uwa. Insya Allah Ibra akan menjaga Audi semampu yang Ibra bisa. Terima kasih, terima kasih karena sudah memberi restu semahal ini."
__ADS_1
Benar, bagi Ibra restu Dava adalah sesuatu yang paling mahal dan sulit ia dapatkan. Maka dari itu Ibra berjanji akan menjaga Audi sepenuhnya, melindunginya dari segala macam bahaya dengan nyawa Ibra sendiri sebagai taruhan.