Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 133


__ADS_3

Audi mematung dalam pelukan Lalisa. Ia masih tidak percaya, namanya baru saja terucap dalam kalimat akad. Ijab qobul yang dilisankan Ibra dengan begitu lantang dan penuh ketegasan, menandakan bahwa kini mereka telah masuk pada tahap baru sebuah kehidupan.


Audi tak kuasa menahan air mata bahagia. Ibrahim Maulana Edzar, pria yang sedari dulu mengisi ruang hati Audi kini telah sah menjadi miliknya, suaminya, imam yang akan membimbing Audi selama masa kehidupan di dunia, dan semoga sampai akhirat kelak mereka masih bisa bersama.


Audi bahagia, luar biasa bahagia. Perasaan cinta meletup tak terhingga, sampai rasanya Audi tak kuasa menampung semua euforia yang hadir menyelimuti hatinya.


Ia terisak pelan di pelukan sang mama yang senantiasa mendekap tubuhnya erat. Sama seperti Audi yang tak mampu menahan tangis, ia pun berurai air mata menciumi sisi kepala Audi dengan perasaan berkecamuk, percampuran antara haru dan senang, karena kini surga Audi bukan lagi ada padanya, melainkan Ibra, suami yang sekarang sudah mengambil penuh tanggung jawab Audi dari ia beserta papanya.


"Nak, sekarang kamu sudah jadi seorang istri," ucap Lalisa parau. "Alhamdulillah," lanjutnya lagi, dengan suara tersendat menahan luapan tangis.


Audi mengangguk, terseguk sebentar sebelum kemudian Jeno masuk dengan salah satu sepupu mereka dari keluarga ibu. "Ma, Mba Audi disuruh keluar."


Lalisa melepas pelukannya dan mengusap air mata Audi yang beruntung tak sampai merusak make up, meski demikian tim Make Up Artist tetap memberi sedikit sentuhan guna mengembalikan kesan fresh di wajahnya.


Audi digiring keluar oleh bridesmaids yang salah satunya adalah Ajeng. Ajeng menggandeng lengan sebelah kanan Audi, sementara di bagian kiri ada Sonia, salah satu sepupu Audi yang cukup dekat, putri dari Tante Erina.


Di belakang ada kerabat dan teman-temannya yang juga turut menjadi pengiring. Audi berjalan sambil tersenyum, melewati pintu masuk ballroom yang seketika membuat hening seisi ruangan.


Semua mata menoleh pada kedatangannya, termasuk Ibra yang sampai berdiri dan berbalik, memandang tanpa berkedip pada wanita yang kini sudah resmi ia peristri. Ibra menatap kagum Audi yang perlahan mulai mendekat. Langkahnya yang anggun berhasil memaku Ibra hingga tak mampu melepas pandangan darinya.


Masya Allah, inikah Claudia, istrinya? Jantung Ibra seolah tak mau berhenti membuat genderang. Ritmenya sungguh membuat Ibra seketika merasa sesak, ia tercekik oleh kebahagiaannya sendiri.


Ibra tersenyum lebar ketika Audi sampai di hadapannya, ia mengambil alih tangan Audi dari tuntunan Ajeng, untuk kemudian ia persilakan duduk di meja akad, dengan penuh kehati-hatian karena Audi terlihat sedikit kesulitan dengan kebaya yang dikenakannya.

__ADS_1


Audi balas menatap Ibra dengan senyum. Keduanya saling menatap teduh sebelum para tetua memberi arahan untuk menandatangani buku nikah, serta bertukar cincin dan diakhiri dengan cium kening.


Audi tersenyum lembut menatap cincin berlian yang perlahan memasuki jari manisnya. Berlian dengan spesifikasi colour J VVS1 yang memiliki harga per 5 carat 1.717.692.000, atau satu miliar tujuh ratus tujuh belas juta enam ratus sembilan puluh dua ribu.


Audi tidak menyangka Ibra akan memberinya salah satu kualitas berlian yang terbaik. Pria itu bahkan menyertakan emas dengan jumlah yang tak bisa dianggap enteng. Karena dalam Islam sendiri, laki-laki haram menggunakan emas, maka cincin milik Ibra dibuat dengan bahan platinum yang sebenarnya cukup langka jika dibanding palladium yang umum digunakan.


Selepas memasang cincin di jari manis Audi, Ibra mengecup jari tersebut yang lantas diabadikan oleh fotografer. Kini giliran Audi yang memasang cincin di jari manis Ibra. Jangan tanya bagaimana perasaan Audi, tangannya bahkan gemetar dan hampir menjatuhkan lambang pengikat itu jika saja Ibra tak memberi sentuhan hingga mengusapnya pelan.


Akhirnya Audi bisa sedikit merasa tenang dan meloloskan cincin platinum itu di jari Ibra. Audi mencium tangan Ibra takzim, kehangatan itu sampai menjalar ke relung hati Ibra yang kian meletup. Ibra tersenyum ketika Audi mendongak mengangkat kepalanya, ia pun segera mengecup kening sang istri dalam-dalam, meski tak secara langsung karena terhalang oleh mahkota siger.


Semua itu tak lepas dari rasa haru seluruh keluarga, serta para tamu undangan yang menyaksikan acara sakral tersebut sedari awal.


Alhamdulillah, Claudia dan Ibra kini sudah sah menjadi sepasang suami dan istri. Sesuai nama yang terpampang besar di banner depan ballroom, adalah Calibra, gabungan nama mereka berdua yang secara tidak sadar melekat dalam ingatan setiap tamu yang datang.


Foto-foto prewedding keduanya terpampang di beberapa sudut tempat acara. Dan yang paling menarik perhatian semua orang adalah cuplikan video pendek yang tak berhenti diputar di layar besar yang melingkar membentuk dinding digital di bagian atas, lebarnya sekitar 2 meter dari atap.


Ibra mengusap halus pipi Audi, lalu mengecupnya kilat yang mana hal tersebut menimbulkan sorakan girang para tamu undangan. Audi mencubit tangan Ibra dengan ekspresi malu, namun lelaki itu malah terkekeh senang tanpa peduli tindakannya itu menjadi pusat perhatian.


"Mas Ibra, ih, jangan suka tiba-tiba kalau mau cium. Malu, tau," bisik Audi setengah merengut.


Ibra tersenyum lembut. "Harus bilang dulu?"


"Ya ... iya, lagian ini di depan umum, jangan cium-cium sembarangan meskipun itu di pipi."

__ADS_1


"Berarti kalau di kamar boleh, dong?" Ibra menggerakkan kedua alisnya naik turun. Bibirnya menyungging senyum penuh makna yang membuat Audi merinding seketika.


"Mas Ibra, ih, baru juga kita melewati masa-masa haru, tapi sekarang udah becanda aja," ucapnya sambil melarikan mata.


Demi apa pun kenapa ia jadi berubah semalu ini menghadapi Ibra?


"Mas gak bercanda, nanti kan kita emang satu kamar, Cla. Selepas ini Mas bebas apa-apakan kamu." Ibra masih betah memandang Audi yang sudah bergerak tak karuan, gelisah di tempatnya. "Bukannya ... kamu dari dulu minta ciuman level 5 sama Mas?"


Jdeerr!


Audi menelan ludah. Ia baru ingat. Kenapa pula dulu ia senekat dan se-agresif itu?


Audi bersyukur percakapan mereka tak berlanjut karena sesi foto dan beberapa prosesi acara lain hendak dilanjutkan. Tapi tetap saja, tubuh Audi bergetar setiap kali ia dan Ibra berdekatan, terutama dalam pemotretan yang memang mengharuskan mereka untuk berpelukan.


Bahkan, sekarang Audi hampir panas dingin ketika merasakan tangan Ibra melingkupi pinggangnya. Perasaan saat pacaran tidak begini-begini amat, kenapa pas sudah sah Audi malah jadi gugupan seperti ini?


Apa karena Audi khawatir memikirkan malam pertama? Terlebih Audi ingat kata-kata sepupunya saat mereka saling bercanda sebelum akad.


"Pas pertama itu sakiiiit banget, sampe rasanya mau nangis karena saking gak tahannya. Bahkan hubungan berikutnya masih belum kerasa nikmat karena sakitnya yang pertama itu belum hilang."


Mengingat itu Audi diam-diam menoleh ngeri pada Ibra yang kini tengah tersenyum menatap ke depan. Ia mengamati pria yang beberapa saat lalu resmi menjadi suaminya.


Tubuh Ibra tinggi besar, jelas saja ia mantan anggota militer. Tingginya bahkan hampir 2 meter, tenaganya juga jangan ditanya karena Audi saja ngeri untuk membayangkannya.

__ADS_1


Kira-kira ... bagaimana jika nanti Audi yang memiliki tubuh semungil ini diserang olehnya? Seketika ia bergidik.


Mamaaa ... Audi mau tidur sama Mama aja!


__ADS_2