Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 66


__ADS_3

Seminggu kemudian.


"Tante, Tante! Ajarin Ken main ini, dong!"


"Tante fotoin Ken di sana!"


"Tante temenin Ken jajan!"


"Tante! Tante!"


Rasanya telinga Audi mau pecah. Jika saja Audi tahu tujuan Ibra menyuruhnya ke Jakarta, Audi pasti sudah menolak dari jauh-jauh hari. Apa-apaan ini? Alih-alih merayunya untuk berbaikan, Ibra menyuruhnya ke Ibu Kota untuk jadi pengasuh Kenan? Really? Apa pria itu sudah gila?


Kepala Audi sudah pening mendengar berbagai rengekan dari bocah menyebalkan itu. Iya, di mata Audi, Kenan masihlah sosok anak kecil yang merepotkan.


Lihat saja, sedari tadi anak itu tak berhenti merecoki Audi dengan berbagai permintaannya yang gila. Audi ingin menjambak rambut anak itu hingga botak, kalau saja Ibra tak memperhatikan dari kejauhan.


Sebelumnya Ibra berjanji mengajak Audi jalan-jalan. Tepat selepas magrib pria itu menjemputnya di rumah lama keluarga Halim. Namun yang lantas membuat Audi ingin memaki adalah tak lain karena hadirnya Kenan yang turut ikut bersama mereka.


Apa maksudnya ini? Ibra mau berkencan ditemani anak kecil?


Audi merengut ke arah Ibra yang justru mengulum bibir menahan tawa. Senyumnya seakan menjebak Audi yang saat ini tak mampu berkutik. Setelah permintaan maaf mendadak dari Kenan, anak itu tiba-tiba menjadi lengket padanya, sampai-sampai makan saja disuapi oleh Audi.


Entah apa yang sebelumnya terjadi, sepertinya Audi ketinggalan sesuatu di sini. Apa yang sudah Audi lewatkan tentang perubahan Kenan? Sebelumnya anak itu begitu membenci Audi. Ya, Audi tahu memang dirinya yang memulai. Tadi ia sudah mengakui tentang perbuatannya yang mencubit Kenan saat di rumah sakit pada Ibra. Pria itu tak marah, hanya geleng-geleng kepala tak percaya. Menurutnya Audi sama kekanakan seperti Kenan.


Enak saja. Audi benci merasa kalah. Tapi ya sudahlah, tak apa sekali-kali mengalah. Audi tidak mau Ibra semakin memandang nakal sikapnya.


"Udah, yuk. Capek tau jalan-jalan mulu! Emang kamu gak lapar, apa?" ketus Audi sedikit sewot, menghentikan Kenan yang masih bersemangat berjalan ke sana kemari.


Sebagai informasi saat ini mereka tengah berada di tempat makan yang ada di pusat perbelanjaan. Kebetulan tempatnya berdekatan dengan area yang dekorasinya mencolok dan banyak menarik perhatian anak, termasuk Kenan.


Kenan menelengkan kepala melihat Audi. "Kan tadi kita udah makan, Tante," ucapnya polos.


"Itu kan kamu. Aku belum!" ketus Audi lagi.


Kenan berkedip polos. "Maksudnya Tante belum kenyang? Padahal tadi disuapin bakso sama Ayah."

__ADS_1


Ayah, ayah, ayah, dan ayah. Kuping Audi gatal mendengarnya. Ia sungguh tak menyukai fakta bahwa anak itu menganggap Ibra sebagai orang tuanya.


Di awal Audi merasa iba terhadap Kenan dan penyakitnya, tapi berbeda setelah anak itu menganggap Audi perempuan perebut suami orang. Menurut Audi wajar jika ia tak tahan mencubit Kenan. Hey, dia hanya melakukan pembelaan dan menyalurkan kekesalan.


"Belum kenyang, masih lapar. Ayo balik ke meja!" Audi masih berujar ketus.


Hebatnya alih-alih balas memusuhi, Kenan justru tak lepas tersenyum lebar. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas hingga menampilkan gigi gingsul yang sialnya menjadi daya tarik anak itu ketika tersenyum.


Heran, kenapa Kenan masih bisa seantusias itu meski mendapat perlakuan kurang baik dari Audi.


Tak lama Ibra beranjak dari kursinya, lalu mendekat menghampiri mereka. "Kenan, udah, yuk. Capek jalan terus, Tante Audi juga belum selesai makan."


Kenan mendongak, menatap Ibra dengan bibir mengerucut. "Tapi Kenan mau foto dekat patung itu, Ayah."


Ibra mengikuti arah pandang Kenan yang menunjuk sebuah patung karakter dari salah satu tokoh superhero terkenal.


"Ya udah, kita foto dulu terus balik ke meja. Gimana?" Ibra juga melirik Audi meminta pendapat.


Gadis itu hanya memutar matanya malas. Berbeda dengan Kenan yang mengangguk antusias. Ia langsung menarik tangan Ibra mendekati patung tersebut dan lekas bergaya di sana.


Audi mengikuti malas di belakang. Ia berjalan ogah-ogahan dan hanya berdiri mengamati ketika Ibra sibuk memotret anak itu.


Tiba-tiba saja Kenan menyeletuk. "Tante ikut foto sama Ken, yuk."


Audi menunduk, entah kapan Kenan sudah berpindah posisi memegang jemarinya. Anak itu menggoyang kecil tangan Audi dengan pandangan polos, persis anak anjing minta makan pada majikan.


Ibra turut menatap Audi. "Cla," tagurnya halus.


Dengan sedikit keterpaksaan Audi pun menghela nafas dan mengikuti kemauan Kenan untuk berfoto bersama.


Betapa mudahnya anak itu melupakan permusuhan mereka.


Kenan tersenyum ceria dengan dua jari yang terangkat. Ibra justru melirik Audi yang hanya berdiri dengan tangan terlipat dan wajah datar.


"Cla? Ayo, dong. Katanya model, masa posenya kayak gitu?"

__ADS_1


"Iya, Tante kalah sama Ken," celetuk Kenan ikut-ikutan.


Ish!


Ibra tersenyum. "Ayo, dong, Tante Cantik senyum. Ini fotonya mau dipost di sosmed, lho. Apa kata orang nanti selebgram terkenal mukanya cemberut terus?"


Mendengar itu, mau tak mau Audi waswas juga. Sosial media adalah kelemahannya. Sial, Ibra tahu saja cara membujuknya.


Audi menurunkan tangan yang semula bersidekap, lalu mulai menghadap kamera dengan senyum sedikit dipaksakan.


"Kamu jongkok, Yang. Masa foto sama anak kecil kayak gitu? Kamu udah ngalahin patung di belakang. Peluk, kek, Kenan nya."


"Banyak mau banget, sih, Mas!" seru pelan Audi.


Ibra menghela nafas. "Ya udah terserah kamu," ujarnya tak memaksa.


Kenan mendongak menatap keduanya dengan kedipan polos. "Tante gak mau peluk Kenan pasti karena Kenan bau."


Kenan bergerak mengendus pakaiannya sendiri. Melihat itu entah kenapa Audi merasa tersentil, hatinya mendadak tak enak hingga akhirnya ia pun berjongkok dan mulai merangkul Kenan dengan gerakan ragu.


Audi melihat Kenan gugup. "Y-ya udah, ayo foto."


Kenan mengerjap. "Kenan gak bau, Tante?"


"Enggak. Udah, ayo madep sana," sahut Audi, seraya mengarahkan bahu Kenan menghadap ke arah Ibra.


Diam-diam Ibra tersenyum melihat Audi yang sudah mulai menurunkan sedikit egonya. Audi memang anak pertama di keluarganya, tapi hal itu tak lantas membuat Audi menyukai anak-anak. Ia saja dulu lebih sering bertengkar dengan Jeno, sang adik. Audi kerap saling iri dengan saudaranya sendiri.


Mungkin hal itu juga yang membuat Audi begitu bergantung pada Ibra, karena ia menemukan sosok kakak yang memanjakannya. Dan tentu Ibra senang, terlebih saat Audi bersikap egois mengenai apa pun yang menyangkut Ibra.


Ibra merasa dibutuhkan, Ibra merasa diinginkan, dan Ibra merasa penting bagi Audi.


Entah sejak kapan, tapi interaksi Audi dan Kenan kini tak lagi sekaku di awal. Ibra bahkan tak mampu berkedip ketika mereka sama-sama tersenyum ke arah kamera. Hampir Ibra lupa mengabadikan momen langka tersebut.


Apa ini artinya, Audi sudah berbaikan dengan Kenan?

__ADS_1


__ADS_2