Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 154


__ADS_3

Farzan Khairullah Mukhtar, itulah nama putra mereka yang tersemat dalam do'a saat penyembelihan kambing untuk akikah. Audi dan Ibra tersenyum bahagia mencium sang putra yang sebentar lagi akan melewati acara syukuran serta cukur rambut yang akan digelar nanti malam sehabis isya.


Sesuai syariat Islam, jumlah kambing yang disembelih untuk laki - laki berjumlah dua. Tak terasa kini sudah menginjak seminggu dari hari kelahiran Farzan, perasaan Audi dan Ibra masih setia diliputi rasa senang.


Audi masih dalam masa nifas, pun Ibra sebagai suami tak pernah lepas mendampingi sang istri, membantu dalam hal apa pun yang sekiranya tak bisa Audi lakukan seorang diri.


Ibra belajar menggendong bayi dengan benar, mengganti popok, membersihkan pup, dan masih banyak yang Ibra pelajari dalam peran barunya sebagai seorang ayah.


Jika Farzan menangis di tengah malam, Ibra sering turut bangun dan menemani Audi menyusui anak mereka. Bahkan kerap kali Ibra yang lebih dulu terbangun ketimbang Audi. Hal ini Ibra lakukan demi mencegah terjadinya baby blues yang sering kali terjadi pada beberapa wanita yang baru saja melahirkan.


Ibra tidak mau Audi mengalami kemurungan atau kesedihan, dan menganggap tidak ada yang peduli terhadapnya. Ibra mau Audi tahu, bahwa ia dan Farzan sangat diperhatikan, terutama oleh Ibra sendiri.


"Sayang?"


"Hem?" Audi bergumam sembari menyusui Farzan di kamar mereka.


Di luar tengah ramai acara penyembelihan kambing, dan Ibra baru saja kembali dari bawah setelah menyaksikan kambing putranya disembelih.


"Farzan masih mimi?" Ibra bertanya sembari mendudukkan diri di pinggir ranjang. Tangannya terulur mengusap pipi sang putra yang berdenyut karena menghisap ASI.


Audi tersenyum lembut, ia turut menatap putranya hangat. "Tadi sempat berhenti, ini baru mimi lagi karena kebangun."


Ibra terkekeh. "Lucu banget, ya?"


"Iya, kayaknya dia nurun Mas Ibra, deh. Badannya udah keliatan bakalan tinggi."


Ibra mengangguk. Memang benar, sejak lahir Farzan memang terlihat kurus dan panjang. Oma Halim juga berkata hal serupa, bahwa Farzan mirip Ibra yang terlahir dengan panjang badan cukup tinggi. Papi dan maminya juga bilang seperti itu.


"Iya, Alhamdulillah. Berarti dia gak jadi mochi kayak kamu," tutur Ibra geli.


Seketika Audi merengut mendengar ledekan Ibra. "Mochi - mochi gini sering bikin Mas Ibra gemas."


"Hahaha ..." Ibra terpingkal di tempatnya. "Iya - iya, kamu gemesin, Sayang. Tapi kalau Farzan juga gemesin, bahaya."

__ADS_1


"Kok, bahaya?" tanya Audi bingung.


"Ya bahaya, kalau gemesinnya kebawa sampai gede. Masa iya cowok gemesin? Melehoy, dong."


"Ish, ya gak gitu juga. Mas Ibra juga pas kecil gemesin, mukanya cantik kayak Mami Safa. Sekarang aja sering panas - panasan jadi kelihatan macho, dulu mana ada kayak gini, putih banget sampe - sampe aku pernah mikir kalau Mas Ibra pake kerudung pasti mirip banget sama cewek."


"Udah, gak usah diungkit - ungkit, buktinya sekarang Mas macho sampe bisa bikin kamu hamil dan lihirin Farzan." Ibra paling benci masa - masa kulit putihnya diungkit. Menurutnya itu aib karena ia sering kali mendapat julukan pria cantik.


"Yang," panggil Ibra.


"Hem?"


"Itu enak gak, sih?"


"Apanya?" Audi menyahut sambil lalu, karena ia fokus memperhatikan Farzan yang sedang menyusu.


"Itu," ucap Ibra sekali lagi. Matanya mengarah pada mulut Farzan yang tak berhenti berkedut menghisap puncak dada Audi.


Namun sial Ibra malah menyahut membenarkan. "Iya, Mas penasaran karena Farzan kelihatan enak banget. Mas kapan, Yang?"


Raut Ibra terlihat seperti anak kecil yang bertanya kapan dia makan. Astaga, yang benar saja! Ingin rasanya Audi berteriak di hadapan muka Ibra.


"Puasa! Ingat itu," tegas Audi.


Ibra meringis ngeri melihat raut galak istrinya. "Yang puasa kan yang bawah, Yang? Boleh kali yang atas ikut icip - icip?"


"Gak boleh! Ini punya Farzan," ketus Audi.


Ibra merengut mendengarnya. "Dulu kamu setuju itu punya Mas, kenapa sekarang jadi punya Farzan doang? Harusnya kamu bisa adil, dong, gimana sih?"


Kening Audi berkerut dalam. Ini yang terkena sindrom baby blues, dia atau Ibra? Kenapa pria itu mendadak kekanakan sekali?


"Mas Ibra udah puas berbulan - bulan merasakan, ini Farzan baru 7 hari, lho?"

__ADS_1


"Beda, dulu gak ada airnya," cetus Ibra.


"Terus Mas Ibra mau nyusu juga kayak Farzan gitu?" Sebetulnya itu sebuah kalimat sarkastik, tapi Ibra justru mengangguk dengan ringannya.


Ya Tuhan, kalau begini ceritanya, Audi bukan hanya mengurus satu bayi, melainkan dua bayi dengan satu bayi besar yang seakan tak mau kalah bermanja.


"Udah deh Mas Ibra, jangan bikin geli. Sana, mending turun bantuin orang potong daging!"


***


Malam harinya, acara tasyakuran akikah Farzan digelar cukup meriah. Tak hanya keluarga besar yang hadir, para tetangga terdekat pun turut diundang menghadiri acara.


Ibra duduk di samping Audi yang menggendong putra mereka. Merangkulnya mesra sambil sesekali memainkan jemari panjangnya di sekitaran wajah halus nan mungil milik Farzan.


Acara dibuka oleh sambutan, lalu berlanjut pada prosedur lainnya yang melibatkan ustadz sebagai pemimpin syukuran.


Pembacaan barzanji pun turut dilantunkan. Barzanji sendiri adalah suatu doa atau pujian - pujian yang menceritakan riwayat Nabi Muhammad SAW. Dilafalkan dengan suatu irama atau nada yang biasa dilantunkan ketika kelahiran (akikah), khitanan, pernikahan dan maulid Nabi Muhammad SAW.


Isi Berzanji bertutur tentang kehidupan Nabi Muhammad, yang disebutkan berturut-turut yaitu silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Di dalamnya juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad SAW, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia.


Rentetan demi rentetan acara dilaksanakan dengan baik, hingga tiba di mana saatnya Farzan di bawa ke tengah ruangan untuk dipotong rambutnya. Diiringi sholawat nabi, Audi dengan digiring oleh Ibra, menggendong Farzan seiring satu persatu orang yang merupakan keluarga memotong ujung rambut bayi tersebut.


Ibra mencium kening putra mereka usai menggunting beberapa helai dari rambut Farzan. Pada momen itu, potret Ibra dan Audi diabadikan oleh Jeno yang sedari awal memegang kamera sebagai dokumentasi. Jangan salah, meski kuliah jurusan kedokteran, pemuda itu cukup pintar dalam bidang fotografi.


"Alhamdulillah, semua rangkaian acara sudah sampai pada intinya. Semoga, putra Cep Ibra dan Neng Audi yang bernama Farzan Khairullah Mukhtar ini bisa menjadi putra yang sholeh, berbakti pada orang tua, rendah hatinya serta murah rezekinya, taat pada agama, bermanfaat bagi bangsa dan negara. Dan semoga, apa pun yang menjadi tujuannya kelak bisa dimudahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Aamiin ua robbal aalamiin ..."


"Aamiin ..." Do'a sekaligus penutupan tersebut di amini oleh semua orang yang hadir, terutama Ibra, Audi, serta keluarga besar Halim dan Edzar.


Berlanjut pada prasmanan dan pembagian sembako serta nasi kotak, acara pun selesai dilaksanakan. Audi juga sudah kembali ke kamar guna mengistirahatkan diri sekaligus menyusui Farzan yang mulai menggeliat mencari asupan ASI.


Sementara Ibra dan para ayah mereka masih sibuk menghadap ustadz dan rombongannya dari pesantren yang hadir. Terdapat jamuan khusus bagi mereka karena telah mendampingi hingga acara selesai tanpa hambatan.


Alhamdulillah, acara tasyakuran akikah Farzan Khairullah Mukhtar berlangsung ramai tanpa meninggalkan kekhusyukan dan rasa khidmat dari semua orang.

__ADS_1


__ADS_2