
Setelah berunding beberapa saat, akhirnya Audi dan Ibra memutuskan bermalam di rumah Papa Dava terlebih dahulu. Tamu masih saja berdatangan kendati resepsi sudah usai. Mereka yang datang adalah kerabat-kerabat jauh yang tidak sempat hadir pagi tadi.
Audi sendiri sudah berada di kamarnya guna membasuh diri. Rasa lengket karena seharian berdiri dengan make up dan gaun bukan main gerahnya. Sementara Ibra masih di bawah, mengobrol bersama Dava, Lalisa, serta menyambut tamu yang silih berganti bersilaturahmi.
Sepertinya Mami dan Papi Ibra juga berada di rumahnya. Audi bisa mendengar suara mereka samar-samar. Ia menggosok rambut yang baru saja selesai dibilas. Wangi sampo menguar membelai lembut hidungnya.
Tepat saat Audi memilih pakaian di lemari, tiba-tiba saja sebuah pelukan melingkupinya dari belakang. Tentu Audi terkesiap dan langsung berbalik hingga matanya menemui Ibra yang tengah menatap balik padanya. Pria itu tersenyum lembut dengan mata menyorot teduh. Sementara Audi masih mematung lantaran terkejut mendapati kehadirannya yang tiba-tiba.
"Mas Ibra bukannya masih di bawah? Se-sejak kapan masuk? Kok, aku gak dengar?" Suara Audi terdengar patah-patah.
Astaga, bagaimana tidak gugup, Audi tak mengenakan apa pun di dalam baju handuknya. Ia meremas pinggiran kimono di bagian dada, jangan tanya jantungnya sudah segaduh apa di dalam sana, terlebih saat mata Ibra turun, turut memperhatikan tangan Audi, atau mungkin ... hal lain di baliknya?
Demi Tuhan, Audi maluuu!
Ibra kembali menggeser matanya melihat wajah Audi. "Mas pikir kamu sudah selesai mandi, jadi ... Mas ke sini karena ingin mandi juga."
Ada apa dengan suara Ibra yang serak itu? Ya ampun, Audi benar-benar dibuat deg-degan. Jadi begini rasanya setelah sah dan satu kamar dengan pasangan?
Rasa panas menjalar di pipi Audi hingga memerah. Audi terperanjat ketika Ibra menyentuhkan jarinya di sana, mengusap halus dan lembut kulit Audi yang dingin sehabis mandi.
__ADS_1
Audi refleks menahan nafas begitu wajah Ibra mendekat. Matanya terpejam saat nafas hangat Ibra membuai hingga membuatnya terpaku. Tak lama sebuah bisikan terdengar dari mulut Ibra. "Ciuman level lima ... kapan Mas bisa melakukannya?"
Deg.
Belum apa-apa Audi sudah engap. Ia membuka mulutnya terengah, sama sekali tak berani membuka mata. Berkali-kali Audi menelan ludah menahan gugup.
"I-itu ..."
"Kita sholat isya dulu, sekalian sholat sunah ..." bisik Ibra lagi.
"I-iya, itu lebih baik," timpal Audi.
Refleks Audi membuka mata sambil membelalak. Belum sempat ia melontarkan suara, Ibra sudah mendaratkan bibirnya, membungkam Audi dengan belaian lidahnya yang membuai.
Ibra mendekap Audi semakin merapat. Tangannya mengusap hingga menyisir rambut basah Audi yang tergerai seraya melabuhkan gigitan-gigitan kecil di atas permukaan bibir Audi yang plumpy.
Suara decapan keluar dari mulut Ibra, seolah memberi tahu keheningan bahwa ia sangat menikmati permainan kecil bibir mereka.
"Emh ..." Audi melenguh. Sementara Ibra masih betah mengecap bibir serta lidahnya dengan semakin menggebu.
__ADS_1
Wajah Ibra menjauh. Sorot matanya gelap disertai nafas berat yang terengah. "Level empat, Mas kebablasan," bisiknya serak.
Ibra pun sedikit menjauh dan melepaskan pelukannya dari Audi. Audi sendiri masih betah meremas kimononya saking tergemap.
"Mas mandi dulu, ya? Kamu ambil wudhu, nanti kita sholat bareng."
Audi segera mengangguk terbata. "I-iya."
Ibra tersenyum. Audi pikir pria itu kan langsung berbalik setelah mengambil handuk baru di lemari. Nayatanya ...
Deg.
Audi sukses dibuat mematung oleh sentuhan lembut yang sekilas Ibra labuhkan di dadanya. Pria itu berkata sambil mengedipkan mata. "Bonus DP, Sayang. Ternyata punya kamu pas di tangan Mas," ucapnya sebelum melarikan diri ke kamar mandi, meninggalkan Audi yang masih betah bergeming usia merasakan remasan kilat dari tangan Ibra.
Ibra ... baru saja menyentuh sebelah dadanya. Audi baru terperangah ketika pintu kamar mandi menutup sempurna menelan keberadaan Ibra.
Nafasnya kembali terengah tak percaya. Sebentar, apa ia baru saja dilecehkan suaminya sendiri? Audi bodoh! Mana ada pelecehan! Kalian sudah halal!
Tapi, tapi ... Haish!
__ADS_1
"Mas Ibraaaa!!!" teriaknya kencang.