
Sementara itu, di Markas Komando Paspampres Ibra tengah fokus membidikkan pistolnya pada lesan di depan, saat tiba-tiba saja salah satu rekannya menghampiri, hingga mau tak mau Ibra melepas peralatan khusus pelindung telinga dan mata, lalu menoleh pada rekannya tersebut.
"Bang, ada tamu di depan cari kau," ucapnya dengan logat Indonesia khas.
Ibra mengernyit sambil melepas sarung tangan. "Siapa?"
"Tak tahu lah, cewek cantik macam model."
Mendengar itu, pikiran Ibra tanpa bisa dicegah langsung tertuju pada Audi. Ibra ingat tadi siang maminya sempat mengirim pesan bahwa Audi hendak ke Jakarta.
Jangan-jangan Audi? Sang ibu juga memberitahu bahwa ia menitipkan sesuatu pada Audi agar mereka ada alasan untuk bisa bertemu. Ibra sangat berterimakasih untuk itu.
Ia lekas menepuk pundak rekannya dan berlalu dari sana, tak lupa Ibra juga mengucapkan terima kasih. Namun, rasa antusias yang beberapa detik lalu sempat membuatnya menggebu mendadak pupus ketika yang didapat tidaklah sesuai harapan.
Alih-alih Audi, Ibra justru menemukan Gina berdiri sambil melempar senyum. Wanita itu berbalik ketika mendengar suara sepatu Ibra yang mendekat.
"Gina?" sapa Ibra heran.
Gina melambai kecil. "Hai?"
Ibra mengangguk sebagai tanggapan, ia mendekat dengan kedua tangan tenggelam di saku. "Ada apa?"
Gina mengulurkan sebuah paper bag pada Ibra. "Kemarin Pak Wali Kota ada kunjungan kerja di Singkawang. Aku ada sedikit beli oleh-oleh buat kamu."
Ibra sedikit mengernyit. Ia menerima paper bag di tangan Gina dan melirik isinya yang ternyata teh krisan dan manisan melimbau.
"Makasih." Ibra sedikit mengukir senyum. Ia masih berkutat dalam kekecewaan karena yang dilihatnya bukanlah Audi.
Gina berdiri anggun di hadapan Ibra, ia terlihat cantik dan berkelas dalam balutan setelan kerja pas badan. Kehadirannya di Mako cukup menarik perhatian, terlebih ia bicara dengan salah satu perwira yang namanya lumayan santer di kalangan TNI.
__ADS_1
"Ada lagi?" Ibra mengangkat alis lantaran setelahnya Gina hanya diam.
Gina kembali mengukir senyum menatap Ibra. "Kamu ... malam ini ada waktu gak?"
Ibra bukan lelaki polos, ia mengerti arah pembicaraan Gina ke mana. Ibra pun dengan sopan menjawab. "Malam ini aku harus istirahat total untuk kunjungan Wapres besok."
Ibra tak sepenuhnya berbohong. Besok memang ada jadwal kunjungan Wapres di Mako, dan Ibra salah satu anggota yang akan melakukan atraksi guna menyambut kedatangan beliau.
"Oh, gitu ya?" Gina meringis kecewa, namun ia tak bisa berbuat apa-apa dengan penolakan halus dari Ibra.
Wanita itu tersenyum melirik jam tangan. "Kamu masih lama pulangnya? Ini udah sore."
Ibra terdiam sebentar. "Aku masih ada latihan."
"Oh, ya udah. Kapan-kapan kita ketemu lagi, ya? Oya, pesan aku kok jarang dibalas, telpon juga?" Gina akhirnya mempertanyakan sesuatu yang membuatnya nekat menyusul Ibra ke Bandung beberapa hari lalu.
Alasan Ibra kali ini membuat Gina mengukir senyum masam. Alasan yang sangat klise dan sering dipakai orang. Tapi mengingat pekerjaan Ibra, juga aktivitasnya yang begitu padat mau tak mau Gina telak tak mampu berkomentar.
Akhirnya ia pun pergi dengan ketidakpuasan lantaran ia gagal mengajak Ibra jalan atau sekedar pulang bersama.
Di sisi lain, Ibra sendiri menghela nafasnya lelah. Sepertinya Gina telah salah paham dengan pertemuan pertama mereka. Ia dan Gina bisa saling mengenal dari Pak Wali Kota yang kebetulan cukup dekat dengan Ibra.
Bisa dibilang karena pengaruh papinya yang seorang Kepala Kejaksaan membuat circle pergaulan Ibra juga lumayan luas di kalangan para politikus. Dulu Ibra sering mengekori sang ayah ke berbagai pertemuan, dan Pak Wali Kota adalah satu dari sekian orang rekan lama sang ayah.
Sekitar 2 minggu lalu Ibra kembali dipertemukan di satu acara saat melakukan pengawalan. Adalah Herman Sudrajat, mantan bupati di salah satu daerah di Jawa Barat, dan kini menjabat sebagai Wali Kota DKI Jakarta.
Pak Herman sempat mengajak Ibra bertemu di luar jam kerja, dan tanpa diduga di pertemuan itu Gina, yang merupakan sekretaris Pak Wali Kota juga hadir.
Kesan pertama yang Ibra dapat dari pertemuan itu adalah Pak Herman berusaha mendekatkan dirinya dengan Gina. Ibra sadar betul pria itu tahu mengenai perceraiannya.
__ADS_1
Mungkin Pak Herman memang berniat baik ingin mencarikannya pendamping, namun hal tersebut justru membuat Ibra tak nyaman, terlebih sikap Gina yang ofensif membuat Ibra semakin risih. Wanita itu terang-terangan menunjukkan ketertarikannya.
"Lettu Ibra?"
Ibra berkedip sebelum kemudian menoleh. Ia lantas menegapkan badan dengan sikap hormat mengetahui sang komandan lah yang barusan menyapa.
"Siap, Komandan!"
"Persiapan untuk acara besok sudah beres semua?"
"Siap! Sudah, Komandan!"
"Bagus. Untuk latihan hari ini cukup sampai di sini. Kalian bisa pulang sekarang."
"Siap! Terima kasih, Komandan!"
Ibra baru menurunkan tangannya saat sang komandan berbalik meninggalkannya. Ia lekas memeriksa ponsel dan melihat jam pukul setengah 6 sore.
Tidak ada pesan dari Audi. Apa gadis itu masih sibuk? Mungkin besok. Audi tidak mungkin tidak menghubunginya di saat sang mami sudah mengamanahkan sesuatu padanya.
Ibra pun mengirim pesan.
Ibra : Jangan lupa makan dan istirahat.
Ia menatap diam sesaat layar ponselnya sebelum kemudian menghela nafas. Ibra lalu memotret halaman Mako yang mulai redup karena hampir magrib, lalu mengirimkannya pada Audi.
Ibra : Baru selesai latihan. Badan pegal, rasanya Mas kangen pijatan kamu.
Senyumnya terbit melihat centang dua itu berubah jadi biru. Itu pertanda Audi sudah membaca semua pesannya, termasuk foto yang ia kirimkan.
__ADS_1