Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 47


__ADS_3

Usai makan, Ibra mengajak Audi ke area forest walk, menyusuri hutan kecil di atas jembatan kayu yang panjang. Namun sebelum itu Ibra memaksa Audi untuk berfoto dulu di taman ikonik. Rugi kalau tidak diabadikan katanya.


Tentu saja jiwa super model Audi langsung keluar. Entah objeknya yang memang cantik atau memang Ibra jago foto, hasilnya bagus mirip jepretan profesional. Jangan-jangan, selain jadi paspampres Ibra juga merangkap jadi fotografer Presiden. Entahlah, pria itu terlalu multitalenta.


Area forest walk terletak tepat di samping taman bunga. Dari sana mereka bisa melihat pegunungan yang diselimuti kabut dan pepohonan yang membentang cukup luas.


Di dalam juga ada hewan berupa burung hantu dan monyet. Audi sempat terkejut saat melihat satwa berekor panjang itu, beruntung ada pawang yang menjaga dan memegangi hewan-hewan itu supaya aman dari para pengunjung.


Ibra terkekeh mengusap kepala Audi. Sejak tadi lelaki itu memang merangkulnya sepanjang berjalan. Awalnya memang risih dan canggung, tapi lama kelamaan Audi malah dibuat nyaman sendiri karena hangat.


"Mau foto?" tawar Ibra ketika mereka sampai di area spot foto.


Banyak wisatawan yang mengantri di sana. Wajar, sih, tempatnya bisa dibilang cukup oke dan instagramable. Fasilitas yang ditawarkan berupa saung, sarang burung, dan platform yang menjorok ke perhutanan.


"Malas, ah, ngantri," cetus Audi.


"Gak ngantri-ngantri amat. Tuh, mereka udah mulai pergi."


"Dari tadi Audi terus yang difoto. Emang Mas gak mau foto juga? Katanya sayang kalau gak diabadikan," cibir Audi di akhir kalimatnya. Ia membalikkan ucapan Ibra yang berkali-kali pria itu katakan.


Ibra pun terkekeh. "Emang kamu mau jadi fotografer Mas?"


Ditatap semanis itu, Audi mengerjap, ritme jantungnya juga ikut meningkat tak karuan. "Ya ... ya mau-mau aja kalau Mas Ibra pengen."


"Pengen apa?" tanya Ibra jail. Sorotnya berubah jenaka dengan tatapan penuh arti.


Sesaat Audi terdiam, dan ia pun mengerti ke mana arah bercandaan Ibra. "Foto, kan?!" balas Audi sewot.


Seketika Ibra tertawa. Pria itu terpingkal melihat wajah Audi yang merah padam. Ibra sampai membungkuk memegangi perutnya, gak sadar kalau kelakuannya itu membuat para pengunjung wanita kelimpungan menghadapi pesonanya.


Lihat, tuh, kawanan ABG lebay. Mereka senyum malu-malu dengan sorot mata hijau layaknya menatap uang.


Kesal, Audi pun berjalan menghentak melewati Ibra. Mau tak mau Ibra berusaha menghentikan tawa dan menyusul Audi yang menjauh. "Jangan marah, dong, Cla. Mas cuman bercanda, meski kalau kamu pengen, Mas ayo-ayo aja, sih."


"Ih! Mas apaan, sih!" pekik Audi malu.


"Pengen foto maksudnya, hehe."


"Tau, ah!" ketus Audi membuang muka. Mereka berjalan menyusuri forest bersama pengunjung lain.


"Yah, ngambek."


Bodo amat.


"Jangan ngambek, dong, Yang."


Idih, geli. Audi tetap berjalan mengabaikan Ibra dengan tangan bersidekap.


"Jangan marah, Dinda. Nanti lekas tua." Ibra masih betah berceloteh, bahkan random dari lirik lagu.


Beberapa orang menutup mulut mereka dengan tangan, matanya sesekali melirik pada keduanya yang sudah seperti pasangan tengah bertengkar.


Tiba-tiba saja Ibra menahan langkah Audi."Awas!"


Audi langsung terkejut dan menoleh pada Ibra. "Apa?"


Yang ditanya hanya cengengesan tak jelas. "Tali sepatu kamu lepas," ucapnya santai.


Memang ada yang lucu, ya? Ia pikir ada monyet tadi.


Menunduk, Audi pun hendak berjongkok membenarkan tali sepatunya, namun urung ketika Ibra mendahului. Lelaki itu berlutut membenarkan simpul tali sepatu milik Audi.


"Sudah," ucap Ibra disertai senyum. Lelaki itu lekas berdiri, menepuk puncak kepala Audi lalu menggandeng tangannya untuk kembali berjalan.


Hangat. Audi menatap tautan tangan Ibra yang melingkupi jemarinya dengan penuh.


Mereka mengikuti petugas tour hingga akhirnya tiba di pintu keluar forest.


"Capek?" Ibra menoleh, bertanya pada Audi yang sejak tadi diam.


Senyumnya terukir hangat menyibak anak rambut Audi yang beterbangan. "Maaf, mungkin bercanda Mas keterlaluan. Jangan marah lagi, ya?" ujarnya halus.

__ADS_1


Audi mendongak menatap Ibra, menatap lelaki itu dengan sorot rumit. Ibra lalu mengajaknya menukar voucher yang mereka dapat saat membeli tiket tadi.


Voucher tersebut bisa ditukar dengan aneka jenis minuman berupa susu dengan berbagai rasa, bandrek, air mineral, dan hydro coco.


"Kamu mau apa?" Ibra bertanya, meminta Audi memilih minuman yang diinginkan.


Audi mengangkat telunjuknya, menunjuk sebotol susu berukuran kecil rasa pisang. Ibra mengambil itu serta air mineral untuk dirinya.


"Makasih, Mas," ucap Ibra pada si penjaga.


"Sama-sama ... Semoga liburan Teteh dan Aa menyenangkan."


Mereka beranjak dari sana dan menyusuri tempat lain. Kali ini Ibra mengajak ke area pacuan kuda, di sana ada cafe kecil untuk menunggu atau hanya sekedar bersantai.


"Mas mau coba berkuda di sini. Kamu mau tunggu di sini atau ikut?"


"Aku gak bisa berkuda."


"Gak papa, Mas pegangin nanti. Atau kamu naiknya bareng Mas aja, berdua."


Audi menggeleng. "Takut. Entar kalo kudanya ngamuk gimana?"


"Ya gak ngamuk lah kalau kamu gak nakal," sahut Ibra lucu. "Emangnya kamu yang suka ngamuk-ngamuk gak jelas?"


"Kapan Audi ngamuk?"


Ibra malah mengendik. "Mau gak? Coba sekali-kali. Kamu akan takut terus kalau gak nyoba."


Lama Audi berpikir sampai akhirnya ia pun mengangguk. Ia cukup penasaran sebenarnya.


Ibra pun mengajak Audi beranjak menghampiri petugas untuk menyewa kuda. Harga sewanya sekitar empat puluh ribu dan sudah termasuk dengan topi serta rompi cowboy.


Audi dibantu petugas untuk menaiki salah satu kuda. Tapi sesaat kemudian Audi menjerit dan turun lagi. "Ini gak ada yang lebih pendek? Aku naik kuda poni aja, deh."


Audi menunjuk kuda kecil yang kebetulan lewat tigunggangi bocah laki-laki berpenampilan koboi.


Si petugas meringis, entah harus kasihan atau justru tertawa. "Kuda poni hanya untuk anak-anak, Teh."


"Mas, naiknya bisa berdua aja?" tanya Ibra pada si petugas. "Gak papa bayarnya dua tiket, cuman kudanya satu aja, kita pake barengan."


Petugas itu nampak berpikir. "Bisa aja, sih, Mas. Ya udah, mbaknya naik sama Mas, begitu?"


"Iya. Ayo, Cla."


Ibra membantu Audi naik sebelum dirinya ikut menyusul di belakang gadis itu.


"Masnya bisa naik kuda?" tanya si petugas memastikan.


Ibra mengacungkan jempolnya sambil tersenyum. "Aman, Mas."


Ia pun mulai membawa kudanya berjalan pelan. Kedua tangannya mengurung Audi memegang tali kekang. Gadis itu masih saja tampak tegang dan was-was.


"Rileks, Cla," ucap Ibra tepat di samping telinga Audi.


Audi sedikit terlonjak sebelum mengambil nafas berusaha tenang.


"Ini beneran aman, Mas?"


"Aman, kok. Tenang aja, kan ada Mas."


"Mas cukup sering latihan kuda saat senggang," lanjut Ibra.


Ya sudah, deh. Audi pasrahkan saja keselamatannya pada Ibra. Ia pun diam menikmati lenggokan pelan kuda cokelat yang mereka naiki itu.


Setelah dirasa Audi cukup tenang, Ibra pun mulai membawa kuda itu untuk sedikit berlari. "Tenang, kamu pasti bisa merasakan bagaimana asiknya nanti," ucapnya ketika merasa tubuh Audi menegang.


Mereka tak lagi berjalan pelan, semakin lama kuda itu semakin cepat dan berlari stabil. Dan di luar dugaan ternyata rasanya tak semenakutkan yang Audi pikir.


"Gimana? Asik, kan?"


Tanpa sadar Audi mengangguk semangat, senyumnya merekah lebar meresapi angin yang berhembus menerbangkan rambutnya.

__ADS_1


Ibra pun turut tersenyum melihat antusiasme gadis itu. Satu tangannya beralih melingkari perut Audi, memeluk tubuh rampingnya dari belakang.


Hal itu membuat Audi terdiam sejenak, namun ia pun tak menolak dan malah semakin menyandar di dada Ibra. Gerakan itu tak kentara namun mampu Ibra sadari hingga ia tersenyum mengecup kepala Audi yang kini sudah sepenuhnya berada dalam pelukan.


Ibra memacu kudanya dengan hati-hati sekaligus melindungi Audi. Ibra senang, karena pada saat seperti ini Audi seolah membuang batasannya dari Ibra.


Audi sendiri merasa nyaman dengan kedekatan mereka. Rasanya ia tak ingin melepas pelukan ini dan melupakan saja segala masalah yang terjadi.


"Mas Ibra."


"Hm?"


"Mas beneran sayang sama Audi?"


"Sayang," bisik Ibra membalas.


"Terus, kapan Mas mau jujur sama Audi?"


Ibra memeluk Audi semakin erat. Ia mengecup sisi wajah Audi seraya terus fokus menyeimbangkan kuda. "Mas ambil cuti untuk kamu, salah satunya itu."


Audi mendongak menatap Ibra. Pria itu menunduk sekilas dan tersenyum. Ia menurunkan wajah dan mencium Audi sekilas sebelum konsentrasi melarikan kuda mereka sampai batas terakhir tracking, tanpa menghiraukan Audi yang mematung setelah dikecup Ibra.


Bukannya apa, kali ini Ibra mengecupnya tepat di bibir, walau hanya sekilas dan menempel sebentar. Itu ciuman pertamanya. Audi tak menyangka first kiss itu akan benar-benar diambil oleh Ibra, pria idamannya sedari kecil dulu.


***


"Mau mampir main lagi?" Ibra bertanya ketika mereka keluar dari parkiran mobil. "D'Castello, air panas? Siapa tahu kamu belum puas main."


Audi yang saat ini tengah bersandar di jok mobil pun menggeleng. "Capek. Lagian udah pernah."


Ibra tersenyum dan meraih tangan Audi untuk ia genggam. "Mas lupa kita belum sholat. Mampir mesjid dulu, ya?"


"Aku lagi dapet."


"Masa?" Ibra menoleh sesaat.


"Hm."


"Bukan malas?"


"Ih, Mas Ibra!"


Ibra tertawa renyah. "Iya-iya percaya. Ya udah kamu tunggu di mobil aja, atau kalau turun juga gak papa. Jajan tapi jangan jauh-jauh, jangan nyebrang jalan, lagi padet soalnya."


"Iya ..." sahut Audi malas.


Ibra menepikan mobilnya di salah satu mesjid yang lumayan lengang. Entah orang-orang sudah selesai sholat atau mereka memang acuh tak acuh.


"Mau turun?"


"Nanti aja, deh. Asal Mas Ibra jangan kunci mobilnya."


"Ya enggak lah, masa Mas kunci."


"Ya siapa tahu lupa."


"Mas, luka jahit Mas Ibra itu gimana? Udah sembuh?"


Ibra tak jadi membuka pintu. "Sudah. Kamu mau lihat?" Ia bersiap membuka jaketnya ketika Audi melambai rikuh.


"Eh eh enggak. Apaan, sih."


Lagi-lagi Ibra hanya bercanda. Ia tersenyum mengacak rambut Audi gemas. "Dulu pas kecil kita sering mandi bareng. Mas bahkan masih ingat ..." Ia menggantung ucapannya dengan mata mengerling jenaka.


"Mas Ibra, ih, jail bangeeett!!!" jerit Audi menutup muka.


Ibra tertawa kencang hingga matanya berair. Ia menumpukan kepalanya di atas kemudi sambil menyamping menatap Audi. "Bohong, Cla. Mas gak ingat apa-apa, kok. Orang waktu itu kamu masih tepos."


"Kalau sekarang ... kamu lumayan seksi." Ibra mengedipkan satu matanya pada Audi.


"Mas Ibra genit!"

__ADS_1


__ADS_2