Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 27


__ADS_3

Ibra menghentikan motornya di sebuah warung. Pria itu meminta Audi untuk turun. Meski dengan raut bingung Audi tetap menurut. Ibra masuk beberapa saat, meninggalkan Audi yang hanya bisa mematung mengamati sekitar yang lumayan ramai.


Yang benar saja, Ibra tidak mungkin mengajaknya nongkrong di sini, kan? Sangat tidak cocok bagi Audi yang benci asap rokok dan terbiasa hangout di cafe.


Tak berapa lama Ibra keluar dengan membawa dua cup pop mie di tangannya. "Ikut Mas," katanya sambil berjalan mendahului Audi.


Audi yang takut ditinggal di tempat asing pun kontan mengekori. Mereka berjalan cukup lama hingga Ibra membawa Audi menaiki tangga sebuah jembatan khusus pejalan kaki.


Jembatannya cukup cantik untuk dijadikan tempat foto.


"Kita di sini dulu," ucapnya sembari menyerahkan satu cup pop mie pada Audi.


Audi menerimanya setengah bingung. Ia kan tidak minta dijajani ini.


"Mas, motornya ..."


"Biarin aja di sana, udah Mas titip, kok, sama pemilik warungnya."


"Tapi ..."


"Udah, kamu gak usah khawatirin motor. Kalau pun hilang ya gak papa, rezeki yang maling berarti," lanjut Ibra santai.


Bisa-bisanya Ibra sesantai itu. Motor itu bukan barang murah seratus dua ratus ribu, lho. Dan ini pusat kota, di mana ada orang yang bakal lewatin kesempatan?


Ya sudah lah, toh motor juga motor Ibra. Yang nanti merugi juga pasti Ibra.


Audi mengikuti Ibra yang kini menyeruput pop mie-nya sambil menatap jalanan di bawah. Padahal baru beberapa saat lalu ia makan dengan Tian, tapi aroma gurih yang menguar membuat Audi serta-merta tergoda dan turut memakan mie tersebut.


Hening menyelimuti mereka berdua, hanya ada suara gaduh dari mulut keduanya dan kendaraan yang berlalu lalang di bawah.


Meskipun sepi entah kenapa Audi merasa nyaman.


"Bagaimana syuting tadi?" tanya Ibra memecah senyap.


Audi mengurungkan niatnya mencerup kuah. "Lancar," jawabnya singkat.


"Makan siangnya, kamu suka?" Ibra menoleh menatap Audi.


Tidak tahu saja Audi hampir tersedak ditatap mendadak seperti itu.


"Su-suka."


"Makasih," lanjutnya kemudian.


Ibra tersenyum, ia mengangguk dan kembali fokus menghabiskan mie-nya. Dalam dua suapan terakhir Ibra berhasil menandaskan isi cup tersebut sementara punya Audi saja masih tersisa penuh.

__ADS_1


Audi berdecak dalam hati. Cara makan tentara memang beda. Ibra tak segan menenggak habis kuahnya tanpa menyisakan setetes pun.


"Mas turun sebentar cari minum, ya? Kamu tunggu di sini, cuma sebentar, kok."


Mendengar itu sontak Audi menoleh cepat. Rautnya nampak keberatan saat Ibra terlihat hendak beranjak.


"Ikuutt ..." Tanpa sadar Audi merengek. Ia takut karena di sini gelap dan remang.


Ibra menyentuh kepala Audi memberi usapan di sana. "Cuma sebentar, janji gak sampe semenit."


"Tapi—"


"Di sini gak ada apa-apa, kok. Kalau ada kamu tinggal teriak, Mas pasti lari cepat ke sini."


"Ya?" bujuk Ibra.


Lama Audi menimbang hingga akhirnya ia pun mengangguk. "Jangan lama."


Ibra kembali tersenyum. "Udah Mas bilang gak akan sampe semenit."


Audi hanya menanggapi hal itu sambil lalu. Siapa yang akan percaya dengan ucapan Ibra barusan. Mana ada cari minum cuma semenit.


Namun semua itu terpatahkan ketika Ibra berhasil kembali dalam beberapa detik. Audi bahkan baru mau menyeruput mie-nya lagi. Sontak hal itu membuat Audi melongo. Ibra tampak sedikit ngos-ngosan di depannya.


Dua botol air mineral kini berada di tangan Ibra, ditambah kresek putih berisi pisang keju yang sempat Audi lupakan.


Refleks Audi mengarahkan pandangannya ke bawah, mencari-cari keberadaan warung terdekat di sana. Namun tidak ada, ia juga yakin tak melewati minimarket saat jalan ke sini.


Dan lagi, pisang keju itu menjadi bukti bahwa Ibra memang kembali ke warung di mana mereka memarkir motor tadi.


Audi tergagap. "M-Mas Ibra, kok ... cepet banget?"


"Tadi kamu bilang jangan lama, kan? Mas juga janji gak sampe semenit." Ibra membuka salah satu botol dan menenggak isinya hingga sisa setengah.


Yang jadi pertanyaan Audi, Ibra lari secepat apa sampai bisa tiba dengan kurun waktu yang terbilang kilat.


Kini Audi bahkan tak mampu berucap. Ia kembali menghabiskan mie miliknya hingga benar-benar tandas, namun tidak dengan kuahnya.


"Sudah?" tanya Ibra.


"Hm." Audi mengangguk.


Ibra mengambil alih cup kosong itu dari tangan Audi, lalu menyerahkan botol minum baru yang sudah dibuka segelnya.


"Mas mau ke mana lagi?" sergah Audi cepat saat dilihatnya Ibra kembali beranjak.

__ADS_1


Pria itu sontak terkekeh pelan. Ia menunjuk tong sampah di ujung lorong jembatan itu. "Dekat."


Mendadak Audi merasa malu, ia membuang muka karena Ibra menatap seolah mengejeknya. Sialan, kalau begini ceritanya Audi jadi kelihatan bergantung banget sama Ibra.


Ibra pasti sengaja. Iya, pasti begitu, pikirnya.


Saat Audi sibuk membuka kotak pisang keju dari Ibra, tiba-tiba terdengar suara gerombolan orang menaiki tangga memasuki lorong jembatan.


Tubuh Audi menegang melihat pria-pria urakan dengan tampilan preman tengah tertawa-tawa mengerikan.


Mereka sekitar 5 orang, dan Audi tak bisa untuk tidak tergagap ketika mata mereka tanpa sengaja bertabrakan.


Audi segera mengalihkan pandangan dan berpura-pura makan dengan tenang.


Akan tetapi jantungnya tak bisa berhenti bergaduh ketika pria-pria itu mulai mendekat, tangan Audi bahkan sudah bergetar dan ia mati-matian menelan ludah, berharap Ibra segera kembali dari membuang sampah.


Di tengah kepanikannya menghadapi preman-preman itu, sebuah tubuh tiba-tiba menghimpitnya dari belakang. Kontan Audi terkejut dan hampir berteriak jika saja ia tak segera mengetahui siapa yang berdiri di belakangnya.


Ibra tersenyum teduh ketika Audi mendongak. Lelaki itu mencomot satu pisang di kotak yang dipegang Audi lalu memakannya dengan santai.


Ibra mengangguk-angguk dengan wajah puas. "Enak. Gak salah Mas beli ini."


Kedua tangan Ibra mengurung Audi dari belakang. Audi yang tersadar segera melarikan matanya melewati lengan kekar Ibra, dan mendapati preman-preman tadi sudah menjauh.


Nafas Audi terbuang lega. Padahal ia sudah berpikir yang tidak-tidak. Syukurlah, sepertinya mereka tak sejahat yang Audi pikir.


Audi tersentak ketika sesuatu menempel di mulutnya. Ia berkedip melihat pisang goreng yang berusaha Ibra suapkan. "Dimakan, jangan bengong terus."


Masih dalam keadaan tergagap, Audi membuka mulut membiarkan Ibra menyuapinya.


Enak.


Entah rasanya memang enak atau karena hati Audi yang sedang meletup-letup. Ia benar-benar dibuat gugup oleh perlakuan Ibra. Jujur saja Audi rindu kebersamaan mereka, dan perhatian Ibra saat ini seolah mengingatkan Audi bahwa mereka pernah sama-sama bahagia.


Ibra mengajak Audi pulang saat jam menunjukkan pukul 10 malam. Pria itu menghentikan motornya tepat di depan lobi. Audi turun dengan berpegangan pada bahu Ibra dan merapikan rambutnya yang berantakan. Setelahnya ia berdiri canggung tak tahu harus mengucapkan apa.


"Besok-besok Mas gak bisa ketemu kamu. Kamu jaga diri baik-baik di sini. Jangan keluar malam sendiri, kalau bisa siang pun begitu, ajak manager kamu kalau mau jalan-jalan. Ya?" Ibra mengusap pucuk kepala Audi sekilas.


Ia lalu tersenyum dan lagi-lagi mengejutkan Audi dengan kecupan kening. Sontak tubuh Audi menegang. Ibra menjauhkan diri dan bersiap menyalakan motor untuk pergi dari sana.


Pria itu membunyikan klakson sambil melambai pada Audi yang masih setia membeku. Ia menatap kepergian Ibra dengan nanar.


Tidak bisa, tidak boleh seperti ini. Akhirnya dengan mengumpulkan keberanian Audi pun berseru. "Mas Ibra!"


Beruntung motor Ibra belum melaju jauh, pria itu juga mendengar seruan Audi yang membuatnya langsung berhenti. Ibra menoleh dan mendapati Audi tengah terengah di tempatnya. Raut gadis itu juga dipenuhi ketegangan.

__ADS_1


Cukup lama Ibra menunggu Audi bicara hingga akhirnya kalimat itu terdengar.


"Sebenarnya hubungan kita ini apa?"


__ADS_2