Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 54


__ADS_3

Dua hari berikutnya Ibra sudah kembali pada aktifitasnya sebagai paspampres. Berangkat subuh ke markas, lalu pulang sore atau malam kalau habis jadwal. Sejauh ini lelaki itu belum ada tugas ke luar kota atau negeri, jadi mungkin ini saatnya Audi memanfaatkan waktu bersama Ibra, kalau saja ia tak ingat masih ada Shireen dan Kenan yang perlu diperhatikan.


Sebelumnya Audi sudah sempat bilang ke keluarganya di Bandung, bahwa ia langsung ikut Ibra ke Jakarta lantaran masalah pekerjaan. Sebisa-bisa dia mencari alasan agar papa mamanya percaya. Audi juga batal ikut liburan bersama Tian dan timnya.


Audi bisa saja pulang ke Bandung, tapi ia tak bisa membiarkan Ibra berkeliaran begitu saja di Jakarta, di saat ia sendiri merasa was-was dengan Shireen beserta Kenan, terutama ibunya.


Sejak pertengkaran mereka tempo lalu Ibra selalu enggan membahas ketiga orang itu. Lebih tepatnya Ibra selalu memilih diam jika Audi membahas soal mantan mertuanya. Pria itu seperti kesal. Wajar, mungkin Ibra kesal dengan ucapan-ucapan yang terlontar tanpa disaring.


Padahal mereka sendiri tahu Tantri hanya tak rela Ibra diambil oleh Audi. Di mata Tantri Ibra adalah menantu sempurna yang bisa dimintai uang sesuka hati. Meski Ibra mengaku ia sangat jarang meladeni Tantri saat masih menjadi menantunya. Mungkin ada untungnya Ibra selalu tinggal di asrama.


Di samping itu, Audi sedikit bersyukur Ibra sudah kembali bekerja. Sesekali pria itu akan menengok Kenan di rumah sakit, hanya sebentar. Sepertinya Audi masih menempati posisi kedua sebagai prioritas bagi Ibra sekarang, setelah tugas negara tentunya.


Jika Ibra masih cuti mungkin Tantri maupun Shireen akan merecokinya untuk terus datang menjenguk Kenan. Bukan Audi mau menahan, tapi ia hanya tidak ikhlas Ibra diperlakukan seperti itu, seolah-olah Ibra lah yang berhutang budi pada mereka.


Rasa bersalah Ibra seakan menjadi senjata bagi mereka untuk terus bergantung padanya. Entahlah, untuk hal ini Audi begitu sulit menahan pikiran negatifnya. Tapi, melihat Shireen yang begitu lugu, Audi juga tak bisa untuk tidak kasihan. Dia seorang istri yang ditinggal suaminya pergi, seorang ibu tunggal yang harus merawat anaknya sendiri, apalagi sang anak sakit parah. Entah Audi harus bersikap bagaimana pada keduanya.


"Mas Ibra mau aku masakin?" Melihat Ibra yang bersandar lelah di sofa, Audi berinisiatif menawarkan. Sebelumnya ia sempat membawakan pria itu air.


Ibra baru saja pulang kerja dan langsung ke rumah tanpa mampir rumah sakit seperti kemarin. Tumben.


"Emang kamu bisa masak?" Ibra membuka mata seraya mengejeknya.


Audi merengut. "Bisa, kok, yang gampang."


"Apa? Telor ceplok? Bisa-bisa Mas bisulan tiap hari kamu kasih telor."


Audi menghentak. "Ih, baru juga kemarin makan telor, mana ada bisulan."

__ADS_1


Ibra tersenyum. "Gak usah masak, ya? Kita pesan aja."


Sebenarnya Ibra tak ingin Audi repot, tapi Audi justru menilai sebaliknya. Wanita itu mengira Ibra melarangnya masak karena enggan makan masakannya.


Pasti karena telur gosong dan asin kemarin, pikir Audi. Wajar, sih, Ibra kapok, secara Audi memang tak pandai berkutat di dapur. Kemampuannya jelas kalah dengan Ibra yang bisa melakukan segalanya sendiri. Mungkin itu hasil pelatihan Ibra selama menjadi tentara.


Malas berdebat yang akhirnya akan membuat Audi terlihat kekanakan, ia menurut ketika Ibra pesan makan lewat aplikasi online. Hanya menunggu kurang dari setengah jam pesanan sudah datang. Mereka makan dengan tenang sambil sesekali berbincang.


"Mas Ibra masih marah soal kemarin?" tanya Audi di sela makan. Ia mencomot oseng cumi ke atas piringnya.


Ibra pun sama. Pria itu makan lahap sekali, bahkan suapannya besar-besar. Satu suap Ibra sama dengan dua suap bagi Audi. Audi sempat berpikir apa Ibra tidak susah menelan nasi sebesar itu.


"Kemarin Mas marah banget sama ibunya Mba Shireen, kan? Urat tangan Mas aja sampe kelihatan gitu. Mana sakit banget pegang tangan aku. Kenapa Mas Ibra gak balas aja, sih? Atau biarin aku yang balas nenek lampir gak tahu diri itu," sungut Audi pada akhirnya.


Sejak kemarin ia diam karena takut kekesalan Ibra semakin meluap.


Audi terdiam. Ia mendongak melihat Ibra yang duduk di sofa di atasnya. Rasa dingin mendadak mencubit kaki Audi yang hanya terbalut hot pants sebatas paha. Ia menelan saliva, Audi yakin betul barusan ia melihat kilat kemarahan di mata Ibra.


Pria itu tampak tenang, tapi entah kenapa ucapannya barusan mengundang kewaspadaan Audi bilamana Ibra benar-benar marah. Audi lupa, dulu Ibra pernah mematahkan hidung temannya yang berusaha menggoda Audi.


Apa Ibra sedang berusaha menjaga agar kejadian sama tak terulang lagi? Yang Audi tahu, jika Ibra sudah di puncak kemarahan, tak peduli pria atau wanita ia tak akan pandang bulu seandainya mau memukul.


"Ehm. Pak Presiden gak ada jadwal kunjungan ke luar? Tumben Mas gak jalan-jalan ikut beliau?" Audi berdehem, ia bertanya sekaligus mengalihkan pembicaraan.


"Mas kerja, mana ada jalan-jalan."


"Tapi aku sering, tuh, lihat postingan Mas Ibra di tempat-tempat bagus. Itu berarti sambil jalan-jalan, kan?"

__ADS_1


Ibra mendengus. "Cuman foto bisa dilakukan satu detik, abis itu Mas balik tugas."


Audi bergumam oh panjang. Saking tidak fokus ia sampai tidak sadar menelan cabai tanpa dikunyah. Alhasil Audi tersedak kepedasan.


"Uhuk! Uhuk!"


Ibra yang melihat itu kontan menggeleng. Ia buru-buru pergi ke dapur mengambil minum dan menyerahkannya pada Audi. "Makannya, makan itu hati-hati, jangan ngobrol mulu. Kamu kayak gak ada waktu lain aja buat ngobrol."


Audi manyun, ia biarkan Ibra memijat tengkuknya pelan, lalu kembali menandaskan minum yang tinggal setengah.


"Udah enakan?"


Audi mengangguk. Ibra pun kembali ke tempat semula berniat melanjutkan makan.


"Kalau diam terus takutnya Mas Ibra bosan," aku Audi.


Ibra menoleh. "Mana ada bosan, orang lagi makan."


"Mas Ibra dari tadi kayak gak mau natap aku. Mas kesal ya aku bahas ibunya Mba Shireen terus?"


Ibra yang hendak menyuap kembali urung dan melihat Audi lagi. Lelaki itu menghela nafas dalam-dalam. "Udah tahu kenapa masih bahas?"


Audi diam. "Maaf, abisnya aku kesel dan geregetan," cicitnya kemudian.


Ibra menggeleng pelan. "Yang harusnya kamu takuti itu bukan Mas yang bosan, tapi celana kamu. Kalau Mas bosan bisa aja bukan nasi ini yang Mas makan, tapi paha kamu."


Audi hampir tersedak. Refleks ia menunduk melihat pahanya yang terbuka. Wajah Audi merah menahan malu. Apa karena ini sejak tadi Ibra seolah menghindari pandangannya?

__ADS_1


__ADS_2