
Sejak tadi Audi hanya diam di kursi belakang. Ia menolak tawaran Jeno yang menyuruhnya duduk di depan. Tentu saja alasannya karena Ibra yang menyetir.
Di belakang saja Audi sudah beberapa kali kehilangan fokus dengan seringnya melirik Ibra, tapi ia segera istighfar dan menyebut nama Tuhan guna menghilangkan pikiran-pikiran tak pantas yang tak sepatutnya Audi bayangkan.
Ingat, Ibra itu suami orang!
Sudah tak terhitung Audi mengingatkan dirinya dengan kalimat di atas. Mungkin karena sudah lama mereka tak bertemu Audi jadi pangling meski sebetulnya tak ada yang berbeda dari sosoknya.
Halah, bilang saja kangen.
Sisi lain hatinya meledek. Terang saja Audi segera menggeleng membantah hal tersebut.
"Mbak kenapa geleng-geleng gitu?" Suara Jeno menyeruak menyadarkan Audi.
Seketika ia tersentak dan refleks melihat kaca spion depan. Namun sial, bukannya Jeno yang Audi lihat malah mata Ibra yang ketahuan meliriknya.
Audi segera memalingkan muka berusaha terlihat biasa. "Enggak papa."
Ia berlagak memainkan hape guna mengusir gugup yang tiba-tiba melanda. Audi bahkan takut suaranya yang menelan ludah terdengar oleh dua pria di depan.
"Eh, Mas. Kita belum sarapan, kan? Laper, nih. Mampir mana kek gitu?"
"Mau makan apa?"
"Apa, ya? Terserah Mas Ibra, deh. Selera kita sama soal makanan."
Kini Ibra melirik spion guna menatap Audi yang ternyata tengah sibuk dengan ponselnya. Mengerti apa yang Ibra pikirkan, Jeno pun menoleh ke belakang melihat sang kakak.
"Mbak."
"Hm."
"Mau makan apa?"
"Makan apa?"
Ia memutar mata. "Parah. Malah balik nanya."
"Kita mau mampir sarapan. Mbak mau makan apa?" Kembali Jeno bertanya geregetan.
"Apa aja yang buka."
Sang adik mendengus. Dengan malas ia kembali melihat ke depan. Tidak ada gunanya bertanya pada Audi. Gadis itu tampak fokus. Atau hanya pura-pura fokus?
__ADS_1
Akhirnya Jeno memasrahkan semuanya pada Ibra. Hingga tak lama mobil pun berhenti di pelataran kafe yang menjual berbagai menu sarapan.
Audi hanya mengikuti saja tanpa banyak bicara. Bahkan untuk sekedar pesan makan pun ia memilih menyamakannya dengan Jeno, saking malasnya ia ngomong.
Tapi kemudian Audi menyesal setelah tahu apa yang Jeno pesan. Kopi hitam dan roti bakar manis yang disiram madu.
Apa-apaan ini? Ia benci kopi hitam. Ada pun dengan makanan manis Audi hanya bisa memakannya saat benar-benar ingin. Dan sekarang Audi sama sekali sedang tak ingin roti apalagi kopi.
"Kenapa dipelototin, Mbak? Tadi katanya samain sama aku. Ya itu yang aku pesen."
Raut Jeno seperti ingin menertawakan Audi. Siapa suruh dari tadi melamun, diam kayak patung. Jeno jadi tidak tahan ingin mengerjainya.
Di tengah situasi itu Ibra menggeleng menatap keduanya. Ia menarik piring berisi roti tersebut dari hadapan Audi dan menggantinya dengan sesuatu seperti pizza beberapa potong.
"Itu bala-bala pizza," kata Ibra tanpa diminta.
Ia juga mengganti cangkir kopi hitam Audi dengan milkshake buah tanpa es.
"Tuh, Mas Ibra baik banget bela-belain pesen itu karena Mbak salah pilih menu. Lagian dari tadi ngelamun mulu kenapa, sih? Sawan tahu lihatnya kayak orang kesurupan. Serem amat."
"Jeno, udah. Makan," tegur Ibra. Ia beralih menatap Audi yang masih bergeming. "Audi, makan."
Tanpa kata Audi mengambil potongan pizza itu dan melahapnya besar-besar. Jeno sampai menggeleng melihatnya. Ia hampir tak percaya kakaknya seorang beauty vloger terkenal dengan jutaan penonton dan subscriber.
Dibanding itu, Ibra menyeruput kopi hitamnya sambil sesekali mengamati Audi tanpa gadis itu sadari.
Selesai makan ketiganya lantas melanjutkan perjalanan. Berbeda dengan tadi, kini Audi menghabiskan waktunya dengan tidur selama di mobil. Selain lelah menenangkan irama jantungnya yang sejak kemarin sulit diatur, Audi juga malu pada dirinya sendiri karena ternyata presensi Ibra masih begitu kuat mempengaruhinya.
Entah berapa lama Audi lelap dalam mimpi, hingga samar-samar ia mendengar grasak-grusuk suara dari samping. Mau tak mau matanya mengerjap mengambil kesadaran. Tepat saat kelopak itu terbuka sepenuhnya ia malah dibuat terpaku dengan pandangan melamun.
Tak berbeda jauh dengan Audi, Ibra juga bergeming menghentikan gerakan tangannya yang memegang kresek. Sesaat keduanya saling tatap hingga Ibra berkedip memalingkan muka.
"Maaf, Mas ganggu kamu. Mau ambil kresek," ucapnya memecah kecanggungan. Pria itu kembali fokus mengeluarkan satu persatu barang termasuk peralatan camping milik Jeno.
Dengan cepat Audi menjauhkan punggungnya dari sandaran kursi. Sialnya ia tak menyadari kursi penumpang depan yang ternyata setengah condong ke belakang. Alhasil Audi terbentur dengan cara yang memalukan.
Jeno sialan!
"Awss ..." Tanpa bisa dicegah Audi meringis memegangi kening.
Ibra yang terkejut mendengar suara benturan dan ringisan Audi lantas naik memasuki mobil. "Kamu gak papa? Sakit gak?"
Audi menggeleng. Ia lebih terkejut karena Ibra tiba-tiba berada di sampingnya. "Aku ... gak papa."
__ADS_1
"Gak papa gimana? Merah gini, kok." Ibra menyentuhkan tangannya di kening Audi.
Refleks Audi memundurkan kepalanya menghindari sentuhan itu. Lagi-lagi suasana berubah canggung dan mereka tak bisa menghindarinya.
Ibra menjauhkan tangan mengerti. Ia mengulas senyum sambil berkata maaf. Pria itu menyuruh Audi untuk segera turun supaya bisa istirahat lebih nyaman.
Mereka sudah sampai di rumah beberapa saat lalu, dan Ibra kembali menurunkan barang-barang bahkan sampai menyapu bersih isian mobil.
Audi meringis melihat sifat rajin pria itu. Sementara si empunya mobil yang tak lain adalah Jeno malah hilang entah ke mana. Jangan lupakan alat-alat camping itu juga, siapa lagi yang bisa lebih konyol dari Jenovan Putra Halim?
Kekonyolan lain yang Jeno lakukan adalah masuk dunia kedokteran sementara yang ia sukai adalah musik.
Entahlah. Audi kadang pusing jika disuruh memperhatikan adiknya.
"Ternyata bener kalian."
Audi yang hendak memasuki rumah urung saat mendengar suara seseorang yang familiar. Benar saja, Tante Safa baru saja menyebrang jalan dari rumahnya yang tepat berhadapan dengan rumah Audi.
Sontak Audi tak jadi masuk. Ia mendekat ke arah sang tante dan menyalaminya setelah Ibra.
Wanita itu menoleh mengamati putranya. "Jujur Mami kaget lihat kamu di sini," cetusnya tiba-tiba. "Karena kemarin kamu bilang mau langsung ke Jakarta, makanya nolak ajakan Mami buat pulang ke Bandung, kan?"
Ibra tersenyum menanggapi pertanyaan sang mami. Ia mengangguk membenarkan. "Jeno mau ambil gitar dulu katanya. Sekalian nganter Audi juga. Wa Lisa harus ke Jakarta jemput suaminya."
"Oh, gitu? Papa kamu sudah pulang ya, Audi?"
"Iya, Tante. Dadakan, sih, tadi."
Tante Safa hanya mengangguk-angguk.
"Tapi, Mas."
"Kenapa, Mami?"
Perempuan itu menatap putranya serius. "Kamu kan bisa naik KRL tanpa harus ikut Jeno ke sini? Lebih cepat sampai tanpa harus berputar-putar. Apa Mami benar?"
Hening. Baik Ibra apalagi Audi sama-sama bungkam mendengar pertanyaan yang lebih menjurus pada sindiran itu.
"Jeno juga sudah pandai menyetir. Buktinya, dia sering pulang pergi Bandung Jakarta sendiri tanpa harus disupiri."
"Apa sekarang kamu sudah kelebihan waktu? Atau ada hal lain yang menjadi alasan?"
Audi bisa melihat Ibra yang sedikit gelagapan. Sungguh, Audi bingung dengan situasi ini. Apalagi dengan tatapan Tante Safa yang seakan menatapnya penuh arti. Sebenarnya ada apa dengan mereka? Apa yang mereka bicarakan?
__ADS_1