
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan Jakarta - Bandung, akhirnya Ibra pun tiba di rumah sakit tempat Audi dirawat. Ia segera berlari begitu selesai memarkir mobil. Ibra bahkan hampir tersandung saking buru-burunya menaiki tangga. Ia terlalu tidak sabar menunggu pintu lift yang tadi tak kunjung terbuka.
Sampai di lantai di mana ruang rawat Audi berada, Ibra lekas melarikan kakinya ke ruangan sang kekasih. Dengan nafas terengah Ibra membuka pintu, dan mendapati kerumunan keluarganya serta dokter dan tim medis lain yang melingkar di sepanjang sisi ranjang Audi.
Audi masih menjalani pemeriksaan berlanjut, itu yang ia amati. Ibra bergegas mendekat, sedikit membuka celah untuk ia bisa melihat Audi. Ibra tersenyum dengan mata berkaca mendekati Audi. Ia raih tangan ringkih itu dan menggenggamnya halus.
"Cla? Kamu bangun, Sayang?" Ibra tak tahu lagi harus berkata apa selain rasa penuh syukur pada Tuhan.
"Claudia, kamu lihat Mas, kan?"
Audi melirikkan matanya pelan ke arah Ibra, ia hanya berkedip sebagai jawaban. Karena takut Ibra tak memahami isyarta Audi, dokter pun menjelaskan. "Karena syarafnya masih belum berfungsi dengan baik, untuk sementara waktu Nona Claudia hanya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan isyarat mata. Kedipan barusan menandakan Nona berkata iya."
Safa dan semua keluarganya tersenyum, mereka tak henti mengucap syukur karena Audi masih diberi kesempatan untuk selamat. Begitu mendengar kabar Audi sadar, keluarga besar Halim yang tinggal di sekitaran Bandung langsung bertolak ke rumah sakit untuk memastikan. Termasuk Oma Halim yang sejak awal tidak sabar ingin melihat keadaan sang cucu.
Puji Tuhan cidera di kepala Audi juga tak menimbulkan efek berat terhadap ingatan. Tadi ia sudah ditanyai dokter dengan menunjuk satu persatu keluarga, dan hasilnya Audi masih ingat semua.
Hanya saja Audi masih kesulitan mengeluarkan suara, mungkin karena lama terbaring tak sadarkan diri otot dan syarafnya jadi kaku.
Ibra terkekeh sekaligus terisak, ia menunduk menciumi tangan Audi yang pucat. Semua orang menatap mereka haru. Benar, hubungan Audi dan Ibra memang sudah santer terdengar di seluruh telinga keluarga Halim, jadi mereka tak heran ketika melihat reaksi Ibra yang terbilang intim.
Dokter dan timnya keluar, menyisakan pihak keluarga yang masih berlumur haru berterimakasih pada Tuhan. Sebuah keajaiban Audi masih selamat dan mengingat keluarganya. Satu hal yang menjadi kekhawatiran, saat di mana jika Audi tahu dua rekannya telah tiada.
__ADS_1
Untuk saat ini mereka sengaja tidak memberi tahu Audi, hal itu juga disarankan dokter untuk menjaga psikisnya yang baru saja pulih usai koma. Mungkin perlu beberapa waktu untuk Audi siap menerima semua kabar tersebut.
Lalisa yang sedari tadi tak beranjak dari samping Audi, mengusap pelan permukaan pipinya yang aman dari balutan perban. Wajah Lalisa nampak sembab oleh air mata. Belum lagi Dava yang juga tak kalah menangis melihat putrinya yang sudah sadarkan diri setelah beberapa tahapan operasi yang dilewati.
Jeno yang rupanya baru sampai dari Jakarta, sama seperti Ibra pun turut mengucap syukur mendapati keadaan sang kakak. Berhari-hari Jeno maraton mengerjakan tugas supaya bisa pulang cepat melihat Audi. Sebenarnya sehari setelah Audi dijemput ke Bandung, Jeno juga sempat pulang dan menjenguk Audi, tapi karena ia tak bisa libur lama-lama karena ada praktek, Jeno pun baru kemari lagi saat mendengar Audi sadar dari komanya.
Waktu hampir tengah malam, Audi pun diminta untuk istirahat kembali oleh dokter. Beberapa keluarga ada yang langsung pulang, ada juga yang memilih menginap dan pulang dini hari tepat waktu sahur.
Setelah seminggu lebih mereka jalani puasa dalam keadaan hambar, akhirnya sekarang lidah mereka cukup berasa setelah Audi kembali.
Dava dan Lalisa makan dengan tenang bersama Oma Halim. Begitu pula Safa dan Edzar, mereka semua setia menunggui Audi di ruangan. Beberapa menit lalu Erina dan keluarganya berpamitan, Renata pun tak kalah sama, mereka memilih sahur di perjalanan karena tuntutan ini itu di rumah.
Biasa, mereka juga kan punya keluarga sendiri.
Sesekali Ibra melirik gadisnya yang masih terlelap di atas ranjang. Seandainya Audi sedang sehat, ia pasti sudah merengek ketika melihat Ibra makan dengan menu kesukaannya. Audi sangat menyukai tumis udang, dan Ibra ikutan suka karena sering melihat Audi menyantap makanan tersebut saat mereka makan bersama.
Senyum tak lepas dari bibir Ibra. Ia begitu senang Audinya mulai kembali pulih. Ibra berjanji, setelah ini mereka bisa hidup bersama dan ia akan betul-betul menjaga Audi.
Ibra akan menikahi Audi setelah keadaan gadis itu cukup baik untuk diajak bicara. Restu sudah didapat, sekarang tinggal meresmikan. Tapi, mungkin Ibra harus lebih sabar seandainya Audi menginginkan pernikahan dengan resepsi yang besar.
Bukan masalah, tapi Ibra harus menunggu Audi benar-benar pulih dulu, baru pesta itu bisa terlaksana.
__ADS_1
Ibra menggeleng geli dengan pemikirannya. Ini bahkan belum ada sepuluh jam setelah Audi bangun, tapi Ibra sudah berpikir ke mana-mana.
Ibra terdiam ketika melihat bulu mata Audi bergoyang, itu menandakan Audi telah terbangun dari tidurnya. Ibra kontan bangkit dari duduknya saat Audi membuka mata perlahan.
Gadis itu mengerjap, dan Ibra sudah menyambutnya dengan senyum hangat. "Kamu bangun, Cla? Pasti keganggu karena kita makannya berisik, ya?"
Padahal mereka, Oma Halim dan orang tua Ibra serta Audi pun tidak begitu berisik saat makan, paling hanya bunyi kresek dan wadah yang dibuka karena mereka mengobrol dengan sangat pelan. Justru Ibra yang makan tepat di samping Audi yang berpotensi membangunkan gadis itu.
Audi menggerakkan bibir, memberi isyarat akan sesuatu. Ibra mengamati itu dengan serius sambil menebak-nebak maksud Audi.
"Kamu mau apa, Cla? Minum?"
Audi mengedipkan mata sekali. Langsung saja Ibra mengambil botol air minum yang disediakan khusus untuk Audi, membuka tutupnya lalu menyodorkan sedotan ke mulut pacarnya itu.
Pelan tapi pasti Audi menyesap air tersebut, meski tenaganya hanya mampu menyerot setetes, tak apa, lagi pula dokter masih memasang selang cairan agar Audi tak dehidrasi. Mungkin gadis itu hanya tak nyaman karena mulutnya terasa kering.
Ibra menatap Audi teduh, menunggunya dengan sabar hingga selesai minum. Selepas itu, Ibra menyimpan kembali botol tersebut ke atas meja. Ia tersenyum memandangi Audi yang juga menatap Ibra sayu.
"Tidur lagi, Cla," bisiknya lembut.
Ibra duduk di bibir ranjang, niatnya ingin menemani sampai Audi tidur lagi. Akan tetapi Ibra melihat Audi menggerakkan bibir seperti hendak bicara sesuatu.
__ADS_1
Ibra mengamati gerak bibir Audi dan berusaha memahami kalimat yang keluar tanpa suara. Setelah diamati berlama-lama, Ibra pun akhirnya mampu sedikit menebak makna gerak bibir Audi, yang mana hal tersebut membuat Ibra mematung tanpa tahu harus berkata apa.
Intinya, Audi menyebut nama Tian, Mardon, serta Matias dalam kalimatnya. Apa yang harus Ibra katakan tentang mereka?