
"Papapapapa ... Yaaah ..." Seruan melengking keluar dari mulut Farzan yang tengah asik bermain di ruang keluarga yang luas.
Karpet bulu yang lembut terlihat nyaman ia pijaki ketika merangkak. Farzan melempar barang mainannya, sementara Audi bertugas mengambil dan mengembalikannya pada anak itu, meski ujung - ujungnya tetap dilempar lagi sambil bertepuk tangan bahagia.
Audi tersenyum mendapati kesenangan Farzan. Ia tertawa, berceloteh lucu, mengulum bibir dan meniup ludah sambil merangkak ke sana kemari dengan aktif. Farzan juga mulai bisa berdiri lebih lama, pun giginya sudah ada yang tumbuh beberapa. Dia sudah mulai bisa menggigit, terutama ketika menyusu. Alasan kenapa Audi sering menjerit sakit ketika ia sedang memberi ASI.
"Farzan, sini makan dulu, Sayang." Audi berusaha menyuapkan bubur yang dibuatnya dari sayur - sayuran.
Tingkah Farzan yang tak bisa diam membuat makanan tersebut belepotan ke mana-mana, bahkan karpet pun ikut kotor karenanya. Alamat habis ini laundry lagi.
"Aaaa ... Hap! Anak pintar!" seru Audi sembari mengusap kepala sang putra yang kini terduduk sambil mengunyah.
Tak lama ia mendengar suara deru mobil yang mendengung halus. Ia tahu betul mobil siapa yang datang, tak lain dan tak bukan adalah Ibra.
Audi membersihkan pipi serta mulut Farzan dari lelehan bubur. Ia lalu menggendong anak itu ke teras depan guna menyambut sang ayah yang baru saja pulang kerja.
"Ayah pulaaang ..." Belum sempat Audi dan Farzan sampai, Ibra sudah tiba di ambang pintu sambil berseru merentangkan tangan menatap Farzan.
Sontak kaki Farzan mengejat - ngejat senang melihat sang ayah. Anak itu terpingkal ketika Ibra meraihnya dari dekapan Audi.
"Muaahh ... Anak Ayah wangi apa ini, hem?" Ibra menduselkan hidungnya di pipi bulat Farzan hingga sang anak tertawa kegelian. "Wangi apa ini? Farzan habis mamam, hem?" Ibra tak bisa menahan rasa gregetnya hingga ia menghujani anak itu dengan ciuman.
Farzan tak hentinya terkikik, terlebih ketika Ibra mengayun - ayunkan tubuhnya hingga melayang di udara. Audi yang melihat hal tersebut turut menguar senyum. Perasaan hangat menjalar dalam benaknya. Interaksi Farzan dan Ibra begitu membuat hatinya bahagia.
Ibra terlihat sangat menyayangi Farzan. Pria itu tak pernah sekalipun memperlihatkan rasa kesalnya kendati sang putra bersikap nakal atau merusak sesuatu yang penting seperti halnya berkas laporan.
Kalau itu Audi, ia sudah berteriak dan bersikap tak acuh pada Farzan. Berbeda dengan Ibra, pria itu selalu menghadapi segala hal dengan tenang, kecuali saat di ranjang tentu saja. Kalau untuk masalah itu, Ibra tidak ada tenang - tenangnya, yang ada malah berisik layaknya harimau mau kawin.
"Mas udah pulang? Tumben agak siangan?" Audi menyalami Ibra dan mencium tangannya. Ia mengambil alih tas kerja sang suami dan membawanya ke dalam seiring Ibra yang berjalan sambil membawa Farzan di gendongannya.
"Iya, Sayang. Mas selesai agak cepat hari ini," jawab Ibra sembari tersenyum, menoleh sekilas pada Audi. "Kamu seneng?"
Audi mengulum senyum. Ia mengangguk membenarkan pertanyaan Ibra. Audi memang senang Ibra pulang cepat. Selain rindu, Audi juga lebih leluasa menjaga Farzan karena bisa bergantian dengan lelaki itu. "Seneng banget. Sering - sering kayak gini biar aku gak terlalu capek, hehe."
Ibra balas tersenyum mengusap puncak kepala Audi dengan tenang. "Mas tawarin baby sitter kamu gak mau?"
"Ya enggak lah Mas, aku kan di rumah seharian, masa sampai harus sewa baby sitter? Lagian aku gak mau kasih sayang anakku terbagi sama orang lain."
Ibra mengangguk paham. "Tapi buktinya kamu sering kelelahan akhir - akhir ini. Apalagi Farzan kan emang lagi aktif - aktifnya. Sering - sering aja ajak Mama atau Mami main ke sini, biar mereka bantu kamu awasi Farzan," usulnya.
"Tanpa diminta pun Mama sama Mami udah sering ke sini, Mas," timpal Audi, mulai membantu Ibra melepas sepatu dan kaos kaki.
"Iya, tapi harus lebih sering lagi. Tiap hari gak papa, kalau ada mereka kamu kan bisa, tuh, tidur siang. Lagian Farzan anaknya gak rewel, dia bisa anteng sama siapa aja."
"Tuh, lihat, Sayang, muka kamu pucat. Pasti gara - gara capek lagi?" Ibra mengusap peluh di kening Audi. Dahinya berkerut dalam pertanda khawatir. Meski begitu Ibra tak berhenti menimang Farzan yang kini asik memainkan kerah kemejanya.
"Mau ke dokter, gak?" tawar Ibra kemudian.
Namun Audi lekas menggeleng dan mengusap bisep lelaki itu supaya menghentikan kekhawatirannya. "Aku baik - baik aja. Cuman lagi pengen asinan kedondong. Tadi titip Bibik cari di pasar gak ada," rengutnya murung.
"Kedondong?" beo Ibra sedikit aneh. Ia menepuk - nepuk punggung Farzan yang mengejat - ngejat tak karuan minta turun.
__ADS_1
Karena kewalahan Ibra pun menurunkan anak itu hingga Farzan langsung merangkak mendekati mainannya yang tergeletak dekat televisi. Setelah memastikan Farzan anteng, Ibra kembali menatap Audi yang masih terlihat murung dengan wajah pucatnya.
Ibra benar - benar khawatir Audi sakit karena akhir - akhir ini wanita itu sering mengeluh pusing. Ibra mendekat lalu mendekap sang istri dengan satu tangannya, sementara tangan yang lain mengusap kening serta sisi wajah Audi yang polos tanpa make up, tapi tetap cantik, Ibra malah lebih suka tampilan Audi yang sederhana seperti sekarang.
"Kayaknya kamu beneran sakit, deh. Keringetan mulu. Jangan dulu makan kedondong, takutnya maag."
"Kita periksa aja, yuk?" bujuk Ibra lagi. "Kamu harus sehat, Sayang. Kasihan Farzan kalau kamu sakit."
Enggan membantah lagi, Audi mau tak mau mengangguk menyetujui usulan Ibra. Hal yang mungkin disesalinya karena sejurus kemudian, informasi yang dikemukakan dokter sama sekali bertolak belakang dengan harapannya.
"Ini hanya gejala - gejala kecil dari kehamilan, Pak, Bu. Biasa di awal - awal memang begini. Pusing, metabolisme tubuh kurang seimbang, gampang lelah, semua itu wajar dirasakan seorang wanita yang tengah hamil muda," ucap dokter ketika Audi dan Ibra memutuskan periksa ke klinik sore harinya.
Niat hati ingin periksa kesehatan, jawaban yang mereka dapat justru membuat keduanya sama - sama terperangah. Ibra menelan ludah sambil memeluk Farzan yang duduk anteng di pangkuannya. "Apa, Dok?"
Dokter itu tersenyum menatap bergantian keluarga kecil di hadapannya. "Ibu Audi tengah hamil. Dari tanggal menstruasi terakhir yang sempat Ibu sebutkan tadi, usia kandungan masih berumur 3 minggu."
Audi maupun Ibra tak mampu bersuara, hanya ada suara celoteh Farzan yang mengisi kesunyian dengan suara lucunya yang menggemaskan.
"Tapi, Dok, istri saya rutin minum pil, katanya?" Ibra menoleh pada Audi untuk memastikan. "Yang, kamu beneran minum pil, kan?"
Audi masih betah bergeming dalam kondisi tubuh yang mematung sempurna. "I-iya, minum, kok."
Dokter itu sedikit mengernyit, ia lalu menegakkan punggung sambil menatap serius pada Audi. "Efektivitas pil KB dalam mencegah kehamilan bisa mencapai 92 persen. Kalau ternyata anda masih hamil, ada kemungkinan anda kurang disiplin dalam mengonsumsi pil KB secara rutin," tuturnya menjelaskan.
Hening. Audi maupun Ibra sama - sama terdiam dalam pikiran masing - masing, begitu pula sang dokter yang memandang keduanya tenang bersahaja. Ibra masih sibuk berpikir, sementara Audi mulai membuka suara. "I-itu ... Saya ada beberapa waktu yang terlewat, tidak minum pil, lupa. Saya pikir aman - aman saja, Dokter. Karena setiap mau berhubungan, saya pasti minum."
Penuturan Audi berhasil membuat Ibra tergemap. Ia menoleh memandang sang istri dengan pandangan seolah menahan gemas. Ibra lalu mencondongkan tubuhnya guna berbisik pada Audi. "Yang, semalam pas kita berhubungan, itu kamu udah minum pil, kan?"
Memang, sejak percintaan hebat di ruang wardrobe beberapa minggu lalu, mereka jadi lebih sering lagi berhubungan intim. Pikir Ibra, toh Audi sudah merasa baik - baik saja pasca melahirkan. Namun ternyata bukan itu masalahnya, yang seharusnya Ibra khawatirkan justru kontrasepsi itu sendiri.
"I-iya ... minum. Tapi ..."
"Tapi apa?"
Audi balik berbisik. "Yang waktu di ruang wardrobe, aku lupa dua hari gak minum."
Jdeerrrr!!!
Ibra seakan merasakan ada petir yang menyambarnya. Lupa, katanya? Bukankah waktu itu Ibra sempat tanya, dan Audi menjawab sudah minum pil?
Suara rengekan Farzan berhasil mengalihkan atensi keduanya. Mereka berkedip kembali menghadap dokter yang memandang penuh pengertian, disertai senyum yang seolah mengatakan 'kena kau!'.
Ya Tuhan, padahal Ibra dan Audi sudah sepakat untuk tak memiliki anak lagi dalam waktu dekat. Setidaknya mereka harus memberi jarak dari usia Farzan sampai kehamilan berikutnya. Tapi ... Entah ini karena kecerobohan siapa. Audi yang lupa minum pil, atau Ibra yang terlalu semangat bercinta sampai semena - mena menumpahkan benihnya di dalam.
Ibra bahkan masih ingat ketika mereka berhubungan intim di ruang wardrobe. Sofa tempat mereka bercinta sampai lengket dan agak merepotkan ketika dibersihkan. Padahal materialnya terbuat dari kulit, kalau kain atau beludru mungkin Ibra sudah membuangnya ke tempat pembuangan barang bekas.
Usai keluar dari ruang dokter, Ibra maupun Audi sama - sama bungkam tak mengatakan apa pun. Mungkin keduanya masih syok dengan kenyataan yang diterima.
Ibra memeluk Farzan yang mengejat - ngejat di gendongannya. Anak itu begitu betah bersandar di perut serta dada sang ayah, tanpa tahu bahwa kedua orang tuanya tengah dilanda keresahan.
"Cla?" Ibra berhenti berjalan, ia menahan Audi hingga turut berhenti di sampingnya.
__ADS_1
Keduanya menoleh saling pandang. Ibra menghela nafas panjang sebelum kemudian menatap sang istri teduh dan penuh pengertian. "Kehamilan ini ... jangan kamu anggap sebagai musibah, ya. Ini juga bukan kecelakaan, melainkan anugerah yang Allah percayakan pada kita."
Hidung Audi mengkerut sebelum kemudian ia terisak pelan. "Tapi usia Farzan aja belum ada satu tahun, Mas ... Hiks." Sedari tadi ia diam memang bertujuan menahan air mata yang mendesak ingin keluar.
Ibra lekas memeluknya dengan sebelah tangan, kini istri dan anaknya ia dekap penuh kehangatan. Tak pelak sehabis ini tanggung jawab Ibra bertambah semakin besar. Tapi ia akan coba bersyukur dan menikmati semuanya.
"Itu artinya Allah percaya sama kita, Cla. Allah percaya kita mampu menjalani semuanya. Jangan khawatir, Sayang. Mas akan mendampingi kamu, kalau kamu tidak nyaman dengan pegawai, Mas akan minta Mama atau Mami untuk menemani kamu secara penuh di rumah. Mereka pasti senang mendengar berita membahagiakan ini," tutur Ibra.
Benar, mau menolak sekeras apa pun, toh semuanya sudah terjadi. Janin dalam perutnya sudah tumbuh. Audi tidak boleh bersikap apatis karena mau bagaimana pun bayi ini tetap darah dagingnya bersama Ibra.
Mungkin Ibra benar, Allah terlalu percaya pada mereka hingga memberi satu lagi cahaya untuk menemani kehidupan keluarga kecilnya.
Sesuai prediksi mereka, keluarga sangat terkejut mendengar berita kehamilannya. Mami Safa dan Mama Lisa sampai terperangah dengan mulut terbuka lebar, sementara Papa Dava dan Papi Edzar hanya terdiam meski sama - sama terkejut. Semuanya terbengong ketika Ibra memberitahukan kabar kehamilan Audi, tepat sepulang dari rumah sakit tadi.
"Masya Allah ..." Papi Edzar adalah orang pertama yang bersuara. "Alhamdulillah, rupanya cucu kedua kita datang lebih cepat dari perkiraan," ujarnya terkekeh.
Ia mengusap sayang kepala Audi dan Farzan bergantian. "Sebentar lagi kamu mau punya adik, Nak. Tuh, adik bayinya udah ada di perut Bunda. Alhamdulillah ..."
"Berapa minggu?" Kini giliran Lalisa dan Dava yang bertanya hampir bersamaan.
"Dokter bilang 3 minggu," jawab Ibra. Ia menoleh pada Audi, lantas mengelus rambut putranya yang ada di pangkuan wanita itu.
"Alhamdulillah ..." sahut Safa, Lalisa, dan juga Dava.
"Tapi kok kalian bisa kecolongan gitu, sih? Bukannya Audi minum pil, ya?" celetuk Safa.
"Mami ..." Edzar memperingatkan. "Kehamilan itu udah kehendak Allah. Kita manusia hanya bisa berencana."
Safa meringis. "Mami cuman khawatir, kasihan juga sama Audi yang nanti pasti bakal kerepotan."
Semua itu diam - diam dibenarkan Dava dan juga Lalisa. Mereka sebenarnya sedikit menyayangkan kehamilan kedua Audi yang menurutnya terlalu cepat.
Audi dan Ibra sendiri hanya bisa tersenyum tipis. Pertanyaan itu sudah pasti akan terlontar dari mulut siapa pun, termasuk orang tua.
"Disyukuri saja ya, Nak, ya? Allah tidak akan memberi sesuatu tanpa alasan, ambil hikmah dan kebaikannya saja. Kalian masih muda, masih dalam masa segar - segarnya. Ketika anak kalian besar kelak, kalian masih sangat kuat mendampingi mereka, Insya Allah," tutur Edzar.
Dengan demikian, Audi dan Ibra pun semakin mantap menerima kehadiran anak kedua mereka. Hati Ibra merasa jauh lebih lega setelah bertukar pikiran dengan sang papi.
Kini bukan hanya Farzan yang jadi penyemangatnya sepulang kerja, melainkan sang adik yang akan hadir beberapa bulan kemudian, Insya Allah.
"Cla? Kamu mau makan sesuatu?" Ibra bertanya ketika mereka sudah sampai di rumah.
Audi tengah mengoleskan perintilan skincare bayi pada Farzan yang baru saja usai mandi. Anak itu tak bisa diam merangkak ke sana kemari, sampai - sampai Audi tak bisa menahan decakan karena lelah bercampur kesal.
"Ck, Farzaaan ... sini, ih."
Ibra yang melihat hal tersebut pun menyentuh bahu Audi. "Biar Mas aja. Kamu duduk dan istirahat," titahnya, kemudian lekas meraih Farzan dan memakaikan baju pada batita tersebut.
Usai memakaikan baju, Ibra membawa Farzan ke balkon kamar guna menyuapi anak itu makan. Saat Audi memandikan anak itu tadi, Ibra sempat membuat bubur MPASI untuk sang putra.
"Mas, nanti cariin asinan kedondong, ya? Atau beli kedondongnya aja gak papa, biar nanti dibikin di rumah," suara Audi menyeruak dari dalam kamar.
__ADS_1
Ibra yang mendengar itu melongok dari pintu balkon. "Iya, Sayang. Kamu mandi dulu, gih. Nanti Mas berangkat kalau udah selesai suapi Farzan."
Audi pun menurut dan lekas melenggang memasuki ruang wardrobe yang terhubung langsung ke kamar mandi. Kehamilan kedua ini menjadi babak baru lagi untuk Audi. Entah apa ia siap mengurus dua anak sekaligus nanti.