
Shireen sudah pulang, sementara papi dan maminya keluar, katanya ada janji dengan teman lama yang minta bertemu mumpung di Jakarta. Kini tersisa Audi dan Ibra di ruang rawat lelaki itu.
Audi sejak tadi menunduk seperti enggan menatap Ibra, atau mengedarkan pandangan menghindari pertemuan mata di antara mereka.
Ibra jadi gemas sendiri. Ia raih tangan Audi yang kini tengah duduk di pinggir ranjang pasien, mengusapkan ibu jarinya di sana berusaha menarik perhatian Audi yang sedari tadi bungkam tak bersuara.
"Kamu kenapa?" tanya Ibra halus. "Perut kamu masih sakit?"
Audi menggeleng. Ia menatap Ibra sebentar lalu menunduk pada tangan mereka yang bertautan. Lebih tepatnya Ibra mengaitkan jari-jemarinya menahan Audi.
"Maaf, kamu pasti khawatir, jadi buru-buru banget ke sini." Ibra menyingkirkan anak rambut Audi dan menyelipkannya ke belakang telinga.
"Mas tahu dari mana Audi buru-buru?"
Ibra tersenyum. "Karena kalau gak buru-buru make up kamu pasti cetar. Ini cuman alis sama lipstik doang," kekehnya pelan.
Bibir Audi sedikit mengerucut. Ia kembali membungkam mulutnya dari Ibra. Pikirannya masih berkelana pada beberapa saat lalu ketika Shireen masih ada di sana.
Hati Audi nyut-nyutan. Apa ia cemburu? Cemburu pada Ibra, atau pada kedekatan Tante Safa dan mantan menantu yang rupanya masih memanggil wanita itu Mami.
Entahlah, Audi sendiri berusaha menetralkan hati yang tak semestinya merasa iri.
"Cla?" panggil Ibra.
"Hm." Audi menyahut dengan gumaman.
"Bukan Mas yang suruh Shireen ke sini. Dia ke sini karena diberitahu salah satu teman Mas di Bali."
Rupanya Ibra mengerti kegelisahan Audi sejak tadi.
"Antara Mas dan Shireen sudah gak ada hubungan apa-apa lagi. Tolong kamu jangan khawatir." Ibra menatap Audi penuh harap.
Audi mendongak menatap sepupunya itu dengan bimbang. "Audi gak tahu," bisiknya.
"Kamu gak percaya sama Mas?"
__ADS_1
Audi menggeleng. "Bukan. Hanya saja ... entahlah."
Audi juga bingung mau berkata apa. Akhirnya ia pun bertanya. "Mas Ibra kenapa bisa cerai sama Mbak Shireen?"
Sesaat Audi lihat Ibra terdiam. Lelaki itu lantas mengulas senyum. "Karena jodoh Mas dan dia hanya sampai di sana."
Hening. Kelihatan sekali Audi sedang bimbang. Ibra menyentuhkan satu tangannya lagi untuk menangkup tangan Audi. Matanya menatap gadis itu hangat. "Intinya kita sudah gak cocok. Itu saja."
Audi menatap Ibra ragu. "Mas ... masih ada rasa sama Mbak Shireen?"
"Enggak." Ibra menggeleng. "Kalau Mas masih ada rasa, Mas gak akan seberani ini sama kamu."
Senyap menyapa sesaat. Faktanya hati Audi masih belum terasa lega. Entah apa lagi yang harus ia lakukan supaya hatinya mantap. Ia tidak mau menerima Ibra dalam keadaan yang dilema.
"Kamu masih ragu sama Mas."
Itu bukan pertanyaan. Audi kembali menatap Ibra dalam bungkam. Keduanya hanya saling tatap beberapa saat hingga akhirnya Ibra menarik senyum berusaha menenangkan.
"Mas gak akan maksa kamu. Mas akan tunggu kamu sampai yakin. Tapi ..."
"Tapi apa?"
Sebenarnya Ibra mau bilang agar Audi tidak dekat-dekat dengan pria lain, tapi rasanya itu terlalu egois di saat mereka saja masih belum ada hubungan apapun.
Ibra mengambil buah di meja samping ranjang. "Mau buah?" tanyanya sambil mengangkat alis. "Mas kupasin kalau mau."
Alih-alih tersanjung dengan perhatian Ibra, Audi justru malah mencibir. "Sebelas jahitan apanya? Lukanya aja kecil. Mas juga bisa gerak bebas," celetuknya membuat Ibra terdiam.
Lelaki itu menyimpan kembali buah yang baru saja diambilnya, lalu tanpa diduga membuka satu persatu kancing piyamanya.
Melihat itu Audi langsung panik."Mas Ibra mau ngapain?" serunya rikuh.
Ibra tak menjawab. Ia menyibak pakaiannya bertepatan dengan Audi menutup mata.
"Buka matanya."
__ADS_1
"K-kenapa?"
"Kamu penasaran, kan?"
"Apa? Enggak, kok, siapa bilang aku penasaran?!"
"Maksud Mas lukanya. Emang kamu mikirnya ke mana?" kekeh Ibra telak. Audi sangat lucu.
Mendengar itu Audi jadi malu sendiri. Ragu-ragu ia membuka mata dan menurunkan tangan yang semula turut membungkam wajahnya.
Audi melirik Ibra pelan dan seketika terhenyak. Sebuah perban melintang dari atas dada sebelah kiri melintasi bahu sampai ke punggung belakang.
"I-itu ..."
"Mas gak akan sebutkan yang ini berapa jahitan, nanti kamu ngeri."
Ibra hendak kembali memakai bajunya, namun tiba-tiba Audi menahan pergerakannya. Gadis itu mendekat sambil menelan ludah. Audi tampak berusaha menyentuh bagian tubuh Ibra yang diperban.
"Mas masih bisa gerak dengan luka seperti ini?"
Audi menoleh, dan saat itu ia tersadar jarak mereka terlalu dekat. Ia dan Ibra sama-sama mematung sesaat.
"Ini bukan apa-apa. Mas sudah pernah merasakan yang jauh lebih sakit dari ini," bisik Ibra. Matanya menatap lekat wajah Audi.
Audi tergemap dan berkali-kali menelan ludah. Sementara itu mata Ibra turun melihat bibir Audi yang ranum. Entah setan mana yang membisikinya, perlahan Ibra memajukan wajah mengikis jarak. Audi sendiri tampak mematung seolah menunggu pergerakan darinya.
Tepat saat bibirnya dan Audi hendak menempel, seseorang mengejutkan mereka berdua.
"Eh, sorry."
Suara itu membuat Audi hampir meloncat dari duduknya. Ia segera menjauhi Ibra dan duduk di tempat semula sebelum ia mendekati pria itu.
Astaga, apa yang baru saja mereka lakukan?
Di sisi lain Ibra mendelik pada juniornya yang kini cengengesan di pintu.
__ADS_1
"Hehe, Bang, dilarang ..." Pemuda itu menggerakkan dua tangannya saling beradu. "Ada pasalnya, lho."
Sial.