Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 56


__ADS_3

"Mau mampir makan dulu?"


"Aku udah makan tadi sama Mba Shireen."


Audi menoleh, dan ia mendapati Ibra yang mengerutkan hidung dengan bibir sedikit mencebik. Audi geli, ia mendorong bahu Ibra yang seketika tertawa, tangannya berusaha menjaga kemudi agar tetap aman. Mereka memang tengah di perjalanan pulang selepas dari rumah sakit.


"Mas Ibra apaan, sih, ih, mukanya kayak anak kecil."


"Kamu gak nungguin Mas, padahal Mas juga lapar mau makan lagi."


"Kan tadi Mas Ibra sendiri yang suruh aku jajan sama Mba Shireen?"


"Jajan, bukan makan sampai kenyang. Laper banget, Yang. Makan dulu, yuk?" Ibra mengusap perut dengan ekspresi melas.


Melihat itu Audi justru memutar mata. "Suruh siapa dari tadi main game terus? Mana batre hapeku sampe low pula," ketusnya seraya mencibir.


Audi melipat tangan, membuang muka ke luar jendela yang dipenuhi remang lampu jalan.


"Kan Mas nunggu Kenan sampe tidur, Cla," ucap Ibra sesekali menoleh. "Makan, ya? Gak papa kamu nemenin aja," lanjutnya berusaha membujuk.


"Gak, ah, udah ngantuk. Kalo mau makan, makan aja sendiri. Tapi nanti, antar aku dulu ke rumah." Audi masih dalam mode ketus.


"Kamu kenapa, sih, Yang?" tanya Ibra heran. "Kamu marah karena Mas lama sama Kenan, ya?" tebaknya menaksir suasana hati Audi.


Pertanyaan itu hanya dibalas delikan oleh Audi. Ibra menghela nafas, ia lalu berusaha menggapai satu tangan Audi, namun urung ketika Audi menepisnya.


"Bikin anak tidur itu bukan diajak main game, yang ada malah keasyikan."


"Ya kan Mas gak tau gimana caranya nidurin anak. Kalau nidurin kamu sih ..."

__ADS_1


"Apa!" sewot Audi. Matanya membeliak mendapati raut mesum Ibra yang menyebalkan.


"Bercanda, Sayang. Kamu masa cemburu sama anak kecil, sih."


"Siapa yang cemburu? Aku cuman heran aja, kok Mas Ibra bisa sesabar itu ngurusin anak orang? Udah gitu mau-mau aja disuruh ini itu, diminta beli ini itu."


"Cla," bisik Ibra memperingati. "Sudah cukup, ya?"


"Sampai kapan Mas Ibra berperan sebagai ayah buat Kenan?" Namun Audi enggan mengalah.


"Claudia, Mas mohon, kita sudah bicarakan ini sebelumnya, kan?" Ibra menoleh sekilas. "Dan kamu tahu apa yang sedang Mas alami."


"Dan Mas Ibra pasti tahu aku gak suka anak kecil, apalagi anak orang," balas Audi sengit.


Hening menyelimuti keduanya, hanya ada suara nafas Ibra yang berkali-kali terhela cukup panjang. Ia meminggirkan mobil untuk kemudian menatap Audi sepenuhnya.


Audi menatap pria itu lama. Entah kenapa hatinya kembali terombang-ambing mendapati respon Ibra. Apa Audi terlalu berlebihan seandainya benar ia cemburu pada Kenan? Apa Audi terkesan jahat jika ia tak suka dengan kedekatan Ibra dan anak itu?


Meski Audi sendiri tahu dan paham dengan semua yang terjadi, tapi sampai kapan? Sampai kapan ia harus berbagi Ibra dengan orang lain?


"Ini baru beberapa hari, lho, Cla. Bagaimana ke depannya nanti? Sebelum menjadi pacar Mas, harusnya kamu sudah paham apa yang harus dihadapi. Mau tidak mau kamu harus berlatih menata ego dan emosi."


Ibra mengulurkan tangan meraih sisi wajah Audi, ia menatap dalam mata gadisnya yang cemerlang. "Kamu tahu Mas terikat janji dengan Rega. Mas sudah mengorbankan amanahnya dengan menceraikan Shireen. Mas gak mungkin meninggalkan Kenan begitu saja. Kenan gak punya keluarga selain Mama dan neneknya."


Entah sejak kapan mata Audi sudah membayang. Ia menatap Ibra dengan kening berkerut dalam. "Mas hanya memikirkan mereka, tapi apa Mas Ibra pernah berpikir bagaimana perasaan aku saat Kenan menganggap bahwa aku wanita perebut suami dari ibunya? Apa Mas Ibra pernah tanya kenapa aku nekat pengen pacaran sama Mas? Mas Ibra gak pernah tanya kenapa aku marah-marah waktu Mas tinggal sendiri di ruangan Kenan. Mas gak pernah mau tahu perasaan aku!" seru Audi marah.


"Karena dalam pikiran Mas hanya ada rasa bersalah pada Rega, janji yang membuat Mas merasa berkewajiban menjaga Shireen dan Kenan. Janji yang membuat Mas bertindak seperti lelaki bodoh yang tak punya tujuan. Mungkin Kenan anak baik di mata Mas, tapi di mataku dia tak lebih dari setan kecil yang berusaha menjauhkanku dari pria yang padahal bukan ayahnya!"


" Claudia!"

__ADS_1


"Kenan bahkan pernah mengunciku di toilet! Dan Mas maupun Mba Shireen gak tahu soal itu!!" seru Audi keras. Nafasnya dan Ibra sama-sama terengah.


Sejenak Ibra baru sadar bahwa ia telah membentak Audi. Ibra sedikit gelagapan berusaha minta maaf, tapi Audi langsung menepis kedua tangannya yang sejak tadi bertengger di sisi wajah gadis itu.


Ibra mematung, ia berkedip ketika Audi menangis terisak di hadapannya.


"Cla," bisik Ibra tak karuan. "Mas minta maaf-"


"Mas emang gak pernah ngerti perasaan aku sejak dulu," ucap Audi dengan suara bergetar. "Mas Ibra hanya mau dimengerti, tapi Mas sendiri gak pernah ngerti gimana sakitnya aku nungguin Mas puluhan tahun, lalu ujung-ujungnya Mas Ibra nikah sama orang lain. Terus ... terus sekarang Mas Ibra juga minta aku buat mengerti? Apa yang harus kumengerti? Apa aku harus mengalah lagi buat mereka? Iya? Katakan, apa yang harus aku lakukan?!"


Audi menyusut wajahnya yang basah menggunakan lengan baju. Ia berusaha menghentikan tangis dan kembali bersikap tegar, meski raut dan penampilannya tak kuasa menyembunyikan sembab yang tersisa.


"Aku udah terlalu capek berada di fase terombang-ambing tanpa kejelasan, ditambah sekarang Mas Ibra nuntut aku buat mengerti permasalahan Mas yang rumit dan gak masuk di nalar aku. Aku ... aku gak tahu bisa bertahan sampai kapan."


Mendengar itu raut Ibra dipenuhi kegelisahan. Ia meraup tangan Audi seraya terus menatapnya penuh permohonan. "Cla, kita baru tiga hari menjalin hubungan. Kamu hanya belum terbiasa dengan semuanya."


"Belum terbiasa? Lalu, Mas mau aku terbiasa dengan segala kesakitan ini? Kecemburuan ini? Mas mau aku terus merasa gelisah setiap kali Mas nemuin Kenan dan Mba Shireen, begitu?"


"Mas sudah bilang kamu jangan cemaskan soal Shireen. Mas gak ada hubungan apa-apa sama dia. Kita udah sepakat pisah, dan yang lebih pastinya lagi kontrak kita udah selesai," tegas Ibra.


"Tapi itu gak menghapus kenyataan bahwa kalian pernah menikah," sanggah Audi.


Ibra sudah terlihat frustasi mengusap wajahnya kasar. "Berapa kali Mas harus tegaskan itu hanya kontrak?" Ia menatap Audi berantakan. "Mas harus bagaimana lagi? Kalau bisa Mas juga mau balik ke masa lalu supaya gak berakhir menikahi Shireen. Tapi semuanya sudah terjadi, kan?"


"Yang penting Mas cintanya sama kamu, kamu jangan ragukan itu."


"Sudah, ya, Sayang. Jangan nangis lagi, Mas minta maaf," lanjut Ibra menyeka wajah Audi.


"Kalau seandainya Mas harus pilih, Mas lebih cinta aku atau Kenan?" tanya Audi tiba-tiba. "Mas pilih aku atau Kenan dan Mba Shireen?"

__ADS_1


__ADS_2