Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 128


__ADS_3

Dua bulan berlalu tanpa terasa. Sekitar enam puluh hari lagi Audi dan Ibra menuju halal. Audi kian dibuat degdegan dengan prosesi yang sudah di depan mata. Keluarga juga semakin sibuk dengan segala persiapannya.


Audi akan segera menjadi seorang istri, dan itu membuat perasaannya tak karuan. Gugup, takut, bimbang, tapi ia juga senang karena akhirnya bisa berakhir bersama Ibra, lelaki yang sedari lama mengisi penuh kekosongan hatinya.


Audi membuka lembar demi lembar album masa kecilnya. Sebagian besar foto-foto itu berisi momen kebersamaan dirinya dan Ibra. Audi tersenyum melihat wajah imut mereka yang ternyata begitu lucu dengan berbagai ekspresi. Tinggi badan Ibra juga sudah terlihat sedari masa itu.


Bisa bayangkan sekarang bagaimana perbedaan Audi dan Ibra yang sangat jomplang ketika disandingkan. Ibra memiliki tinggi 182, sementara Audi hanya mentok di 157.


Betapa menyedihkan pertumbuhan Audi, padahal dia tak kekurangan makan serta gizi yang seimbang. Jeno saja tingginya 170, hampir sama dengan Mama Lisa yang hanya kurang 1 centi di bawahnya. Papa Dava juga memiliki tinggi 175 centimeter. Audi jadi heran kenapa ia seakan kejepit di antara mereka. Tapi ... memang turunan moyang kali, ya? Kan kerabat-kerabat terdahulu belum tentu memiliki tinggi yang sama. Buktinya Tante Safa saja mungil, kok. Persis Audi.


Beralih ke lembar berikutnya, Audi menemukan foto ia dan juga Ibra saat pertama kali memasuki Taman Kanak-kanak, tentu dengan kurun waktu yang berbeda. Saat Audi masuk TK, Ibra sudah memulai masa pendidikannya di Sekolah Dasar.


Semuanya terangkum dalam album tersebut. Hampir keseluruhan momen dapat Audi ingat, namun sebagian lagi hanya ingatan masa kecil yang samar-samar.


Sungguh, tak ada yang tahu bagaimana jalan takdir Tuhan. Dulu sekali Audi hanya bisa mengagumi Ibra sedikit-sedikit, tak terhitung jumlahnya ia kerap kali menahan rasa yang semakin lama semakin mengembang.


Memasuki remaja, saat di mana pertama kali Audi melihat Ibra dengan cara berbeda. Sedari kecil, Audi sudah menganggap lelaki itu sebagai kakak. Namun semua berubah ketika Audi mulai mengenal rasa suka terhadap lawan jenis. Audi tidak tahu, tapi awal ia menyadari rasa asing itu, ketika ia melihat seorang gadis menyatakan perasaan pada Ibra di lorong sekolah.


Audi tidak memahami perasaannya yang mendadak kacau tak karuan. Rasanya seperti melihat Papa yang membelikan sesuatu lebih mahal untuk anak selain dirinya. Iri? Entahlah. Mungkin lebih pada takut Ibra akan berpaling dan melupakannya setelah memiliki sosok lain yang ia perhatikan.

__ADS_1


Audi ingat waktu itu ia sampai nekat melukai dirinya sendiri, dengan kedok kecelakaan tentu saja. Ia dengan sengaja menggoreskan lengannya ke kawat pagar yang mencuat. Audi yang menangis heboh tentu mengundang perhatian satu yayasan, termasuk Ibra yang langsung mendatanginya di UKS dan melupakan si gadis dan pernyataan cintanya.


Audi senang, ia bersyukur karena rupanya Ibra masih menempatkan dirinya sebagai prioritas. Namun semua tak berhenti di sana. Presensi semacam Ibra tentu sulit untuk tidak mendapat perhatian lebih.


Ibra tampan, dia ramah, pintar, siswa teladan juga, siapa yang tidak akan suka? Ibra yang aktif di keorganisasian juga membuatnya semakin terkenal di kalangan sekolah, terutama para siswi. Bahkan Audi sempat mendengar salah satu guru termuda di sekolah mereka menaruh perhatian lebih pada Ibra.


Di luar title Ibra sebagai cucu orang kaya, dan juga putra seorang jaksa, Ibra memang sangat berprestasi dalam bidang akademik. Ibra juga selalu ikut menjadi anggota paskibra dan pramuka, mungkin dari sana juga Ibra memiliki minat pada Akademi Militer.


Sungguh, masa-masa remaja yang takkan bisa terulang. Benar kata orang, waktu di dunia tak akan pernah terasa. Tahu-tahu sudah lewat belasan tahun sejak Audi lulus sekolah, dan empat tahun Audi menjalani kuliah.


Kini, tak terasa pula ia akan menikah, dengan Ibra pula. Tak pernah sekalipun terlintas di kepala Audi bahwa cintanya akan bersambut pada Ibra. Siapa sangka sebenarnya dulu mereka saling menaruh perasaan satu sama lain.


Audi tersenyum lega. Ia menutup album di pangkuannya dan termenung menatap jendela. Sejarah seolah terulang, itu kata para orang tua di keluarganya. Mereka bilang kisah ia dan Ibra hampir sama persis dengan Tante Safa dan Om Edzar.


Satu lagi rahasia yang tidak orang lain tahu, bahkan keluarga besar Halim pun mungkin akan terkejut mendengar kenyataan bahwa Ibra masih seorang perjaka kendati ia telah menikahi seorang wanita sebelumnya.


"Mas pria normal, nafsu tentu kadang ada, tapi kembali lagi pada rasa tidak nyaman. Shireen memang pernah menjadi istri Mas, tapi Mas rasa dia belum menjadi rumah yang sesungguhnya bagi Mas. Mas ... tidak bisa pulang padanya, tapi Mas pulang semata pada Kenan. Kamu mau menganggap Mas aneh, silakan. Pada nyatanya Mas memang tidak menampik sempat membandingkan kalian secara fisik."


Audi membuang nafas. "Berarti kamu sama aja kayak pria lain, memandang wanita karena fisik," gumam Audi.

__ADS_1


Tak lama bunyi notifikasi datang di ponselnya. Audi meraih benda pipih itu lalu membuka pop up pesan di atas layar. Nama Ibra tertera bersama sederet kalimat yang ditulisnya.


Audi masih saja geli setiap kali membaca nama kontak Ibra di sana. Tapi, ya sudahlah, sekali-kali menyenangkan pasangan itu harus, kan?


Masku Sayang: Cla, Mas lagi dijalan pulang. Tadi kamu titip apa? Mas lupa.


Audi tersenyum kecil. Ia lalu mengetikkan balasan untuk Ibra. "Mie gacoan. Maunya sih kita makan di sana langsung, tapi Mas Ibra pasti capek."


Tak lama Ibra membalas.


|Ya udah, kita pergi setelah Mas pulang, gimana?|


|Aku bilang pesan, bawa ke rumah aja, kita makan di rumah bareng. Oya, jangan lupa udang kejunya, ya~|


Tak sampai lima detik, pesan balasan dari Ibra kembali datang. Ia hanya mengirim stiker imut yang membuat perut Audi melilit ingin tertawa.


Sejak mereka pacaran, Ibra jadi banyak sekali mengoleksi stiker-stiker lucu, bahkan ada yang khusus untuk Audi. Apa lagi kalau bukan stiker bertema love dan sejenisnya.


|Hati-hati di jalan, ya, Mas Sayang~|

__ADS_1


Audi terkikik sendiri membaca pesannya. Ia jamin setelah ini Ibra pulang dalam keadaan mabuk. Mabuk cinta lebih tepatnya.


Audi termasuk jarang memanggil Ibra dengan cara manja. Sekalinya praktek Ibra malah langsung klepek-klepek.


__ADS_2