Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 147


__ADS_3

Hari-hari Audi lewati sebagai ibu hamil. Berbagai emosi dan suasana hati yang tidak stabil ia jalani. Mood swing, nafsu makan yang kadang hilang, keinginan terhadap sesuatu yang begitu kuat, dan kebiasaan baru yang terbilang aneh bagi sebagian orang.


Audi jadi suka membaui tubuh Ibra yang berkeringat, ia juga senang tidur di bawah ketiak pria itu ketika malam. Audi sensitif terhadap wewangian. Bahkan baju-bajunya sekarang dicuci menggunakan sabun tanpa wangi, begitu pula milik Ibra. Tentu saja karena pria itu akan sering berinteraksi dengannya, jadi Ibra turut menghindari apa pun yang memicu bau harum.


"Mas?" panggil Audi pelan.


Ibra menyahut dengan gumaman. Saat ini mereka tengah berpelukan di atas ranjang menjelang tidur. Lampu kamar sudah redup, hanya menyisakan pendar kekuningan dari atas nakas dan standing lamp serta lampu ruang wardrobe yang memiliki pintu kaca buram.


Suasana hangat menyelimuti keduanya. Ibra memeluk Audi dari belakang, sementara Audi bergelung di balik tubuh besarnya dan selimut. Mata Ibra yang semula terpejam, kini mengerjap sayu saat bertanya. "Kenapa?"


"Gak papa," sahut Audi.


Namun suaranya yang terdengar ragu berhasil menggelitik Ibra hingga terbangun sepenuhnya. "Kenapa, Sayang?"


Audi membuang nafasnya sambil cemberut. "Itu ... pentol yang tadi sore masih ada gak, sih?"


"Pentol?"


"Iya, yang tadi Mas Ibra beli."


Ibra berpikir sesaat. "Kayaknya ada di kulkas. Mau Mas masakin?"


Audi menoleh ke belakang tubuhnya dan langsung bertemu dengan mata Ibra yang memerah sayu. "Tapi Mas Ibra ngantuk banget kayaknya. Aku bisa sendiri, kok. Tinggal masak aja, kan? Bumbunya juga udah disediain dari sananya?"


"Iya, kan instan."


"Mending Mas masakin aja, yuk?" lanjut Ibra.


"Aku sendiri aja, Mas Ibra lanjut tidur lagi."


"Yakin? Kamu penakut apalagi kalau malam."


Audi terdiam. Bibirnya mengerucut dan kembali merebahkan diri di pelukan Ibra. "Iya, sih."


"Ya makanya, ayo sama Mas?" Ibra bangkit menjauhkan tubuhnya dari ranjang. Ia menarik tangan Audi untuk ikut bangun juga. "Ayo?"


"Mas Ibra baru tidur berapa jam," cetus Audi menguak fakta.


Ibra memang baru terlelap beberapa saat yang lalu. Tapi apa boleh buat, masa ia harus diam saja di saat istrinya kelaparan?

__ADS_1


"Gak papa, ayo bangun."


Karena sudah kepalang lapar, dan Audi pun takut turun sendiri ke bawah, akhirnya ia pun menurut dan mengikuti Ibra ke dapur, melihat lelaki itu menyiapkan makanan yang dia mau.


Usai makan Audi tak lantas ingin tidur. Ia malah minta dielus oleh Ibra, padahal Audi sendiri tahu Ibra dalam keadaan sangat mengantuk.


Hebatnya lelaki itu begitu sabar menuruti keinginan Audi. Ibra juga diam ketika sang istri mengorek lubang hidungnya dengan alasan lucu. Semua Ibra biarkan, termasuk saat tangan Audi turun ke ranah pribadinya.


Siksaan yang nikmat bagi Ibra. Ia harus berperang dengan rasa kantuk, sementara yang di bawah menuntut kepuasan. Ternyata selain jadi manja, Audi juga berubah lebih agresif dari sebelumnya.


Ibra melenguh menikmati usapan dan pijatan nakal Audi di balik celananya. Ia mendesis ketika ketegangannya semakin naik ke puncak.


"Emh, Cla ..." lenguh Ibra serak. "Kamu gak ngantuk, Sayang?"


Ibra membuka matanya setengah dan mendapati Audi menggeleng. Mereka saling bertemu pandang, Ibra semakin mengeratkan pelukan sementara Audi meningkatkan permainan.


Suara nafas yang menderu, erangan nikmat Ibra, serta lenguhan lembut Audi mengiringi setiap pergesekan di antara mereka.


Ibra mencium Audi dalam, bertukar saliva dengannya penuh tuntutan. Pada akhirnya permainan kecil itu berlanjut hingga puncak kepuasan. Ibra menggeram rendah menumpahkan benihnya membasahi perut telanjang Audi. Rasa kantuk yang sempat terjeda, kini kembali hingga keduanya terlelap bersama.


Pagi harinya Ibra bangun lebih dulu. Karena semalam mereka berhubungan, ia harus membangunkan Audi untuk lekas mandi besar sebelum melaksanakan sholat.


"Cla, bangun, Sayang. Kita mandi, yuk?"


Audi menggeliat sambil mengerang malas. Ibra membenarkan tali gaun tidur Audi yang melorot meninggalkan pundak.


"Ayo bangun, bentar lagi subuh." Ibra masih tak menyerah. Terakhir ia mendekap paksa tubuh Audi dan mengangkatnya dari atas ranjang.


Alhasil Audi langsung terbangun dan memberontak. "Mas Ibra apaan sih?"


Ibra menjawab seraya terus berjalan menuju kamar mandi, tanpa menghiraukan rengekan Audi yang minta diturunkan. "Mandi, Sayang. Kita bersuci bersama."


"Apa?"


"Sunah, lho."


Audi tak tahu lagi caranya menolak. Ia hanya bisa menjerit ketika Ibra mengulang permainan semalam di dalam bathtub, sebelum akhirnya mereka sama-sama membasuh diri dengan niat bersuci.


Dasar modus. Audi tahu Ibra tak akan tahan jika hanya mandi tanpa melakukan apa - apa.

__ADS_1


***


"Mas berangkat, ya? Assalamualaikum?"


"Wa'alaikumsalam." Audi mencium tangan Ibra takzim. Ia lalu melambai melepas kepergian suaminya yang hendak berangkat kerja. Senyum bahagia menyertai raut keduanya. Sama seperti Audi, wajah Ibra pun tampak cerah ketika membalas senyum sang istri.


Mobil Ibra keluar meninggalkan pekarangan rumah, tepat saat Audi akan berbalik masuk, ponsel dalam sakunya berdering menandakan telepon seseorang.


Audi merogoh saku celana longgarnya, mengeluarkan ponsel berlogo Apple tersebut dan mematung begitu membaca nama si pemanggil.


"Mbak Shireen?" gumam Audi.


Dengan pelan ia menggeser icon hijau untuk mengangkat panggilan. "Halo, Mba, assalamualaikum?" sapa Audi gugup.


"Wa'alaikumussalam," sahut Shireen dari seberang sana. Audi sedikit mengernyit karena suara wanita itu terdengar parau. "Audi? Mas Ibra nya ada?"


Kening Audi sedikit berkerut cemas. Entah kenapa, Audi merasa cemburu ketika Shireen menyebut nama suaminya. "Itu, Mas Ibra baru aja berangkat, Mba. Ada perlu apa, ya?"


Shireen terdiam sejenak. Kemudian Audi mendengar suara isak yang tertahan darinya. Sontak hal itu membuat Audi cemas sekaligus penasaran. "Mba Shireen? Mba kenapa?"


Shireen masih larut dalam isak tangisnya yang semakin tak terbendung. Ia berusaha meredakan sejenak sedu sedannya ketika berupaya mengeluarkan suara. "A-Audi ..." Shireen berdehem. "Kenan meninggal."


Audi bergeming. Langkahnya yang hendak memasuki rumah kontan berhenti. Ia mengerjap mendengar kalimat Shireen yang sudah lalu. Audi bergeming di tempat, ia sampai tidak sadar saat mobil Mami Safa menggeleser di pekarangan rumahnya.


"Apa, Mba?" Audi ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar.


Namun pernyataan yang Shireen ulangi tetap membuatnya tak mampu bersuara. "Kenan meninggal, Audi. Tadi pagi, selepas subuh, dia mengalami aritmia parah hingga tak tertolong."


"inna lillahi wa inna ilaihi raji'un ..." Refleks Audi bergumam.


"Siapa yang meninggal, Di?"


Audi berjengit mendengar suara Safa di belakangnya. Ia refleks berbalik menatap mertuanya yang kini tengah memandang penasaran.


"Mami?"


"Siapa yang meninggal?" tanya Safa lagi.


Beberapa saat Audi tak menjawab, hingga akhirnya ia pun bersuara gugup. "K-Kenan, Mi ..."

__ADS_1


__ADS_2