Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 113


__ADS_3

Jantung Ibra seolah lepas dari tempatnya ketika mendapati Audi sudah tak ada di ruangan. Ibra baru saja kembali usai sholat dzuhur. Ia sontak panik sendiri hingga tanpa sadar mondar-mandir tak jelas. Ibra baru berhenti ketika melihat Dava berjalan mendekat. Spontan ia langsung menghampiri lelaki itu untuk mengadu.


Namun sebelum itu Dava sudah menyela. "Kamu pasti mencari Audi," tebaknya tepat sasaran.


Ibra bertanya cepat. "Di mana Audi?"


Dava tersenyum kecil, ada setitik rasa lega dalam rautnya ketika memberi tahu Ibra. "Beberapa menit lalu dokter memindahkan Audi ke ruang perawatan. Audi sudah terlepas dari masa kritisnya, Ibra. Dia sebentar lagi akan bangun."


Suara antusias Dava membuat Ibra mematung sesaat. "Serius, Wa?"


Ekspresi Ibra seolah tak percaya, tapi satu anggukan kecil dari Dava berhasil menimbulkan letupan senang di hatinya yang berhari-hari seredup kumulus awan.


Entah ia harus menangis atau tersenyum bahagia ketika mengikuti Dava ke ruangan di mana Audi dipindahkan. Saking tidak sabar bertemu Audi, ia sampai mendahului Dava sesaat setelah lelaki itu membuka pintu.


Ibra berjalan cepat hampir berlari menghampiri Audi yang terbaring di ranjang. Alat yang menempel di tubuhnya tak sebanyak saat di ruang ICU.


"Cla?" panggil Ibra haru. Ia mengambil tangan Audi yang Ibra syukuri tak sedingin kemarin-kemarin.


Namun Ibra menyadari sesuatu, ia pun menoleh pada Dava di belakangnya. Dava yang mengerti arti tatapan Ibra pun lekas menjawab. "Audi memang belum sadar, tapi setidaknya dia sudah lepas dari masa-masa kritis. Kamu sabar saja, dokter bilang tak lama lagi Audi akan bangun."


Meski penjelasan tersebut membuat Ibra lemas kembali, namun ia tetap senang karena kondisi Audi membaik secara bertahap. Ia tersenyum, sebisa mungkin menahan air mata yang dengan lancangnya ingin keluar. Ingatkan Ibra bahwa ia sedang puasa.


"Alhamdulillah, semoga setelah ini kamu semakin baik lagi, Cla," tutur Ibra dengan nada suara bergetar.


Dava tersenyum teduh menatap keponakan sekaligus calon menantunya itu. Ia pun baru menyadari satu hal, dari semenjak Audi lahir, Ibra memang sudah menunjukkan ketertarikan terhadap putrinya itu. Tapi dulu Dava hanya menganggap itu sebagai rasa tertarik anak kecil terhadap sesuatu yang baru. Siapa sangka sampai sekarang Ibra masih bertahan dalam perasaannya.

__ADS_1


"Uwa pergi dulu. Kamu tidak apa-apa kan kalau Uwa titip Audi sebentar? Gak lama lagi mamanya mau ke sini, kok."


Ibra menggeleng. "Gak masalah, Uwa. Ibra malah senang bisa menemani Audi di ruangan barunya. Sekarang Ibra bisa bebas tanpa terhalang batasan waktu untuk bertemu Audi."


Dava tersenyum. "Terima kasih. Kalau begitu Uwa lega dengarnya. Uwa pergi, assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam," sahut Ibra, menatap kepergian Dava yang menutup pintu dengan amat pelan.


Perhatian Ibra kembali pada Audi yang sudah berganti pakaian pasien. Mungkin tadi perawat sempat menggantinya sebelum ia kemari.


Ibra duduk di samping ranjang Audi. Ibra tak lepas menggenggam tangan Audi sambil terus menciuminya berkali-kali.


"Mas bilang apa, kamu pasti sembuh, Cla," ucap Ibra senang.


Sesuai yang Dava katakan, beberapa puluh menit kemudian Mama Audi datang membesuk putrinya. Wanita itu tersenyum ketika Ibra salim menunjukkan rasa segan.


Ibra menjawab. "Baru beberapa saat lalu, Wa. Ibra tadi sempat pergi sebentar ke mushola, tahu-tahu Audi sudah pindah ke sini. Alhamdulillah, katanya Audi sudah lepas dari masa kritis."


Melihat raut Ibra yang begitu semangat, Lalisa pun mengulas senyum teduh. Ia menatap keponakan suaminya itu dengan lekat sebelum kemudian mulai bicara lagi.


"Kata Wa Dava ... kamu lamar Audi? Lagi?" tanya Lalisa hati-hati.


Ibra sempat terpekur sesaat. Ia lalu mendongak, balas menatap Wa Lisa dengan serius.


"Waktu kamu ke rumah dan mendapat penolakan dari papanya Audi, Uwa tahunya belakangan. Tapi, Uwa senang, kok, kamu jadi menantu kami," lanjut Lalisa disertai senyum.

__ADS_1


"Uwa senang kamu menjadi bagian dari kami." Raut Lalisa tampak berangsur meredup. "Tapi, mungkin setelah ini Audi sangat membutuhkan dukungan moril. Dia seperti kehilangan segala-galanya. Karir, teman, bahkan mungkin Audi tak akan sepercaya diri dulu dengan fisiknya."


Ibra terdiam. Ia tahu apa yang semua uwanya katakan adalah benar, dan Ibra siap menghadapi apa pun kondisi Audi nantinya.


"Pemulihan Audi juga pasti akan memakan waktu cukup lama. Belum lagi kejadian ini tentu membuat mentalnya terguncang. Sementara untuk menikah dengan kamu, dibutuhkan seorang wanita yang sehat baik fisik maupun pikiran. Bukankah syarat untuk menjadi istri TNI begitu? Sehat secara fisik dan mental? Melihat ke sana, bagaimana mungkin kamu bisa menikah dengan Audi dalam kondisi dia yang seperti ini?"


Hening. Pertanyaan Lalisa seolah menghentak kembali keputusan Ibra. Inilah yang membuat Ibra semakin yakin untuk mundur dari kesatuan. Di luar ingin menghabiskan waktu sepenuhnya untuk Audi, alasan lainnya juga karena Ibra tak bisa menikahi Audi jika ia masih berstatus sebagai anggota.


Lalisa benar, untuk Audi bisa pulih sepenuhnya pasti membutuhkan waktu tidak sebentar. Minimal satu tahun, itu pun belum tentu Audi bisa melupakan kesedihan dan kehilangannya.


"Uwa tenang saja, Ibra akan urus semuanya dengan baik." Ia tak mengatakan soal rencana pengunduran dirinya pada Lalisa.


Biarlah waktu yang memberitahu nanti. Tapi Ibra sudah pasti akan berdiskusi dengan Edzar. Di sini hanya sang papi yang bisa membantu segala sesuatu yang Ibra butuhkan.


Lalisa tak menyahut lagi. Ia mengerti Ibra juga sama-sama terguncang dengan kecelakaan Audi. Ia hanya tidak mau Ibra mengalami kesulitan gara-gara putrinya. Sebetulnya secara tidak langsung Lalisa ingin mengatakan pada Ibra, bahwa Ibra bisa kapan saja mencari pengganti Audi yang lebih baik.


Lalisa sadar betul dengan kondisi putrinya, tentu ia tidak bisa egois menikahkan seorang pemuda bermasa depan cerah seperti Ibra dengan Audi yang entah kapan bisa bangkit kembali.


Kemarin saja Lalisa sudah banyak dihubungi banyak brand yang menjalin kerja sama dengan Audi, dan tujuannya sudah pasti membatalkan seluruh kontrak yang berjalan.


Betapa Tuhan bisa memutar nasib dengan cepat. Audi yang kemarin masih bersinar, dalam sekejap meredup kehilangan cahayanya.


"Uwa tidak akan marah seandainya kamu menyerah dengan kondisi Audi, karena Uwa mengerti betul bagaimana sulitnya memiliki pasangan seorang pesakitan."


Ibra menggeleng tegas. "Ibra tidak akan menyerah, Uwa. Ibra akan dampingi Audi sampai sembuh. Ibra akan buat dia semangat lagi. Ibra janji."

__ADS_1


Suasana lengang ruangan itu seolah menjadi saksi keseriusan Ibra di hadapan Audi langsung. Jika mereka mengamati, sudut mata Audi basah setelah mendengar perkataan Ibra.


__ADS_2