Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 137


__ADS_3

"Sayang?"


"Sayang?"


Suara bisikan terdengar samar-samar di telinga Audi. Audi melenguh, menggeliat pelan meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Belum lagi pegal - pegal di beberapa bagian, terutama pusat intimnya yang terasa nyut-nyutan.


"Eeungh ..." Audi menggeliat tanpa memperdulikan selimutnya yang melorot. Ia baru terkesiap ketika sesuatu terasa mencumbu puncak dadanya sekilas.


Audi membuka mata dan mendapati Ibra tengah menatap teduh ke arahnya. Lelaki itu tersenyum seraya menyingkap anak rambut yang menghalangi kening Audi.


"Bangun, kita subuhan," bisiknya halus.


Mengerjap pelan, Audi bergumam disertai rengekan. "Masih ngantuk~"


"Tetap harus bangun, Sayang. Sholat itu wajib. Ayo mandi."


Ibra sedikit menarik lengan Audi yang masih enggan mengangkat tubuhnya dari ranjang. "Sayang ...?" Ia greget, tapi suaranya tetap halus didengar.


"Sakiiit~" rengek Audi, wajahnya merengut seakan menahan ringisan.


Ibra berhenti menarik tangannya dan menatap sang istri khawatir. "Sakit apa? Mas terlalu keras tarik tangan kamu?"


"Bukaaan ... Itu yang sakit! Hiks, aku gak bisa duduk~"


Beberapa lama Ibra terdiam hingga akhirnya ia tersadar. "Mas ... terlalu kasar semalam?" tanyanya hati-hati.


Alih-alih menjawab, Audi malah menangis. Ia terisak sesenggukan menahan selimutnya menutupi dada. "Hiks ... pokoknya sakiiiitt. Mau bangun aja susah tau Mas ...."


Mendengar itu Ibra lantas menggaruk rambutnya yang basah. Ia baru saja usai keramas saat membangunkan Audi.


"Mau Mas gendong?" tawar Ibra.


Baru Ibra menyusupkan tangannya ke bawah tubuh Audi dan hendak mengangkat wanita itu, Audi sudah menjerit hingga membuat Ibra secara refleks menurunkan lagi tubuhnya.


"Huaaa ... sakiiitt ...!!!"


Teriakan Audi tak hanya memekakan telinga Ibra, tapi juga seisi rumah. Bisa Ibra dengar derap langkah kaki yang mendekat ke arah kamar mereka. Hal itu tentu membuat Ibra kelabakan sendiri.


"Cla? Hey, jangan nangis, dong."


Aduh! Ibra kini menggaruk pangkal hidung sambil mengamati Audi yang masih betah meraung, juga berpikir bagaimana cara menghentikannya.


"Bukannya semalam kamu juga menikmati, Cla?"

__ADS_1


"Hiks, semalam gak begitu kerasa sakitnya ..." rengek Audi. "Sekarang baru kerasa sakit banget, badan juga pegel semuaaa ... Ini pasti gara-gara Mas Ibra bolak-balik aku!" isak Audi.


Ibra semakin kebingungan di tempat. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi yang menyerangnya. Belum lagi suara orang dari luar membuatnya harus ekstra berpikir.


"Audi? Ibra? Tadi Mama dengar suara teriakan? Kalian gak papa?" Ternyata itu Lalisa.


Ibra berdehem kencang. "Gak papa, Ma! Tadi Audi kepeleset di kamar mandi! Tapi udah gak papa, kok!" serunya membalas pertanyaan Lalisa.


Ya Allah, belum apa-apa Ibra sudah berani bohong pada mertua. Habisnya mau gimana? Semua demi melindungi urusan pribadi suami istri. Sepertinya setelah ini Ibra harus cepat-cepat membawa Audi pindah karena di sana kamar mereka kedap suara.


Sesaat tak terdengar suara dari Lalisa. Hingga beberapa detik kemudian wanita itu menyahut ragu. "Oh gitu? Kirain ada apa. Ya udah, syukur kalau Audi gak kenapa-napa. Kalian kalau mau sarapan, turun aja, ya? Mama tinggal."


"Iya, Ma," sahut Ibra lega.


Nafasnya terbuang panjang. Ia kembali menoleh pada Audi yang sudah mulai meredakan isakannya. Sang istri menggasak matanya yang sembab sehabis bangun tidur. Ibra lalu mencondongkan tubuh guna mendekat, ia menumpukan satu tangannya dengan siku, sementara tangan yang lain terangkat membelai pipi Audi.


"Maaf, ya? Semalam Mas terlalu bersemangat sampai lupa ini yang pertama buat kamu. Ini juga yang pertama buat Mas, tapi sudah jelas wanita akan lebih merasakan sakit ketimbang nikmat saat pertama kali berhubungan. Maaf, karena Mas mungkin gagal memuaskan kamu."


Ibra mengecup pelipis Audi. Audi terisak sengau, ia menggeleng menanggapi kesimpulan Ibra. "Aku menikmati, kok. Cuman emang belum terbiasa aja."


Ibra tersenyum, ia kembali mengecup sisi wajah Audi penuh perasaan. "Terima kasih atas yang semalam, Cla. Mas puas banget."


"Hm, sama-sama."


"Mandi?" tanya Ibra.


"Susah jalannya," keluh Audi.


Ibra merasa bersalah karena semalam mereka bermain cukup lama. Mungkin karena Ibra sudah menahan diri dan sangat mendambakan malam pertamanya bersama Audi, Ibra jadi sedikit hilang kendali.


"Mas gendong?"


Audi menoleh. "Emang gak berat? Kemarin aku makan banyak di prasmanan."


Pernyataan polos itu berhasil menguar kekehan dari Ibra. "Kan itu kemarin, sekarang udah beda lagi, lah. Makanannya sudah dicerna. Mas lihat, kamu juga enggak mendadak gendut dalam sehari, kok."


"Mas gendong, ya?" tanya Ibra sekali lagi.


"Ya udah." Audi mengangguk menyetujui.


Ibra tersenyum. Ia mulai mengangkat tubuh sang istri dari ranjang dan membawanya ke kamar mandi. Mulanya Ibra mau menyiapkan kursi di bawah shower, namun ia teringat bahwa Audi kesakitan kalau duduk.


"Kamu bisa mandi sendiri?" tanya Ibra cemas.

__ADS_1


Kini Audi sudah berdiri di bawah pancuran dan bersiap keramas. Ia masih memegangi selimut yang menutupi tubuhnya. Banyak sekali tanda merah di permukaan kulit putih Audi, hal tersebut membuat Ibra mati-matian menelan ludah menahan sesuatu yang kembali menegang.


Namun ia segera menggeleng dan berusaha menyadarkan diri untuk tetap waras. Audi tengah kesulitan sekarang, dan mereka diburu waktu sholat yang semakin menipis.


"Aku bisa mandi sendiri, Mas. Cuman ..."


"Cuman apa?"


Audi terdiam sesaat, lalu menggeleng. "Bukan apa-apa. Mas Ibra tunggu di luar aja. Kalau mau sholat duluan, duluan aja gak papa."


"Enggak, lah, Mas tetap tunggu kamu."


"Tapi nanti kesiangan?"


"Masih setengah lima. Emang kamu mau mandi selama apa?"


Iya juga, sih.


"Ya udah, Mas Ibra keluar."


Ibra tak lantas menurut. Ia malah mendekat dan menyentuh tepian selimut yang Audi pegang. Sontak Audi gelagapan dibuatnya. "M-Mas Ibra mau apa?"


"Cicip sedikit. Boleh, ya?" bisik Ibra, disertai senyum menawan.


Kalau wajah Ibra setampan itu, bagaimana Audi bisa menolak? Ia membiarkan saja saat Ibra menurunkan pelan tepian selimut yang membalut bagian atas tubuh Audi. Ibra tersenyum sekilas sebelum kemudian menunduk, mengecup, meraup, dan memainkan lidahnya di puncak pa-yu-da-ra sang istri.


Audi melenguh pelan mengamati perlakuan Ibra di tubuhnya. Jujur ia sedikit tak percaya diri dengan ukuran buah dadanya itu.


"Mas ... punya Audi kecil, ya?"


"Hm?" Ibra hanya bergumam, matanya melirik ke atas sekilas.


Setelah beberapa saat Ibra pun menjauhkan wajahnya dari sana. Ia mengusap permukaan puncak Audi yang basah karena ulahnya. "Tetap enak, Sayang. Mas malah suka karena kelihatan imut banget."


Audi manyun. "Beneran? Kalau menurut Mas Ibra kurang, aku bisa kok perawatan ke dokter, sekalian implan aku juga mau."


Ibra membuang nafas sabar. Ia meraih kedua sisi wajah Audi dan menatap sang istri dengan teduh. "Sayang, kita harus selalu bersyukur dengan segala pemberian Tuhan. Kamu jangan insecure apalagi berpikir Mas tidak menyukai fisik kamu yang seperti ini. Mas jujur, justru Mas suka sama tubuh kecil kamu. Kalau Mas gak suka, mana mungkin semalam Mas sampai membolak-balik kamu dan membuat kamu sakit sekujur badan pagi ini."


Wajah Audi masih merengut. "Beneran Mas Ibra puas?"


"Banget. Kalau gak mikir kamu lagi sakit dan kita harus subuhan, sekarang Mas mau minta lagi sama kamu. Jadi berhenti merendah dengan tubuh kamu yang seindah ini. Orang lain susah, lho, mau punya tubuh ideal. Kamu bersyukur makanan seberlemak apa pun gak perlu khawatir akan gendut. Mungkin nanti gendutnya setelah beberapa bulan lagi."


Audi mengernyit bingung. "Beberapa bulan lagi? Maksudnya?"

__ADS_1


Ibra tersenyum, mengecup kilat bibir ranum Audi. "Saat kamu hamil anak kita," ucapnya dengan wajah bahagia.


__ADS_2