Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 69


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Audi sudah kedatangan kurir yang mengantar makanan, katanya pesanan atas nama Ibra. Sudah jelas pengirimnya adalah lelaki itu. Ada tiga buah menu yang berasal dari satu restoran, dan semuanya berupa masakan rumahan. Khas Ibra sekali yang suka makan berat di pagi hari.


Membuang nafas, Audi mengambil ponsel yang sebelumnya tergeletak di meja makan, ia memang berniat sarapan seadanya tadi, dan yang ada hanya susu serta sereal.


Audi mengetik pesan untuk Ibra.


Audi: Mas, udah makan?


Lama tak ada jawaban. Mungkin Ibra sedang sibuk bersiap, atau bahkan mungkin sudah berangkat dan tengah mengikuti apel di kesatuan.


Audi menyimpan ponselnya lagi di meja, ia membuka satu persatu kotak styrofoam yang masing-masing berisi kangkung seafood, tumis kerang kupas, dan kulit ayam crispy. Tak lupa sebuntal nasi sebesar ukuran mangkuk kecil yang dibungkus terpisah.


Ibra benar-benar tak membalas pesan Audi. Sudah Audi duga pria itu telah berangkat kerja. Ngomong-ngomong kerja, semalam Ibra memintanya untuk tak memperpanjang kontrak, seandainya masa kontrak Audi sebagai Brand Ambassador sebuah produk skincare yang membuatnya bekerjasama dengan Gavin usai.


Kebetulan bulan depan kontrak kerja sama Audi selesai dengan brand itu. Entahlah, Ibra betul-betul serius menyuruhnya menjauh dari Gavin Lee. Padahal sebenarnya Audi tak dekat-dekat amat dengan pria itu. Gavin ramah pada semua orang. Memang banyak wanita yang salah paham dan berharap lebih atas perhatian lelaki itu, tapi tentu saja Audi berbeda.


Harusnya Ibra sadar, apa yang bisa Audi lakukan sementara ia saja puluhan tahun memendam rasa dan gagal move on dari Ibra.


Ting.


Satu denting notifikasi masuk di ponselnya. Audi mengambil benda tersebut sambil mengunyah tumis kerang yang barusan ia cicipi.


Mas Ibra: Udah. Ini baru selesai apel.


Bibir Audi mengerucut. Sok cuek. Semalam saja maksa minta cium. Audi mengetik balasan untuk Ibra.


Audi: Makanannya enak. Pesan di mana?


Tak lama Ibra langsung membalas.


Mas Ibra: Tinggal kamu baca di kreseknya.


Ish. Ibra sedang mode jutek atau memang sibuk?


Ya sudahlah. Audi harus tahu diri juga, Ibra bukan orang yang leluasa membalas pesan. Bisa saja pria itu ngetik terburu-buru hingga kesannya jadi terlihat jutek saat Audi baca.


Tersenyum, Audi pun mengirim pesan lagi pada Ibra.


Audi: Iya. Makasih, ya, Mas Pampres Sayang ... Semangat kerjanya. Muaahh.

__ADS_1


Audi terkikik sendiri membaca pesan yang ia kirim. Kalau begini ia yakin Ibra tak tahan kesal lama-lama padanya. Hanya perkara cemburu pada Gavin, Ibra jadi bersikap tak acuh.


Kenapa Audi merasa situasi mereka terbalik? Dulu Audi yang suka mendiamkan Ibra dan tak menghiraukannya. Sekarang malah Ibra yang melakukan hal itu.


Membuang nafas, Audi menyimpan kembali ponselnya, lalu mulai bersiap untuk makan. Padahal tadi ia tak begitu lapar, minum susu dan makan sereal saja pasti kenyang. Tapi setelah melihat, mencium dan merasakan langsung lauk pauk di depannya, perut Audi jadi keroncongan.


Audi membuka bungkus nasi, menyendok kangkung dan tumis kerang, lalu kulit ayam crispy yang ketika ia gigit kriuknya bikin ketagihan. Audi mencocolnya dengan sambal yang dikasih dari sananya.


"Eemhh ... Enyak. Mas Ibra perhatian banget, deh, kasih aku makan."


"Dia paling tahu pacarnya suka mager kalau pagi."


Sesekali Audi melirik ponsel, memeriksa apakah ada pesan balasan dari Ibra. Hasilnya nihil. Namun tak apa, yang penting sekarang ia tahu Ibra sudah luluh karena panggilan sayangnya.


***


Siang beranjak. Audi ada janji temu dengan salah satu klien yang memintanya jadi model. Ia sudah mandi dan bersiap dengan penampilan casual dan make up sederhana yang membuatnya tampak flawless serta glowing bercahaya di tengah terik siang hari.


Mengibas rambut di depan kaca, Audi tersenyum bangga melihat bayangan dirinya. Mendadak rasa percaya dirinya meluap-luap keluar. Ibra beruntung sekali mendapat pasangan seperti Audi yang cantik jelita, mau dibawa ke mana saja tak akan membuat pria itu kehilangan muka.


Aih, sudahlah. Kecantikan Audi memang sudah jadi rahasia umum. Audi beranjak dari depan kaca, mengambil tas selempang dengan lambang C yang khas dan pastinya semua orang tahu harganya mahal, lalu keluar meninggalkan kamar bersiap pergi.


Ibra sengaja meninggalkan mobilnya di sini untuk Audi pakai. Pria itu semalam naik gojek yang ajaibnya masih beroperasi meski sudah lumayan larut.


Anak itu berdiri di depan rumah sebelah, tak lain rumah lama keluarga Halim yang memang bersebelahan tepat dengan rumah lama papinya Ibra, yang semalam Audi pakai menginap.


Audi sudah bilang, kan, dulu Om Edzar dan keluarga Halim itu sempat tatanggaan?


Jeno mengerjap melihat kakaknya, pemuda itu menghampiri Audi dengan langkah pelan dan terheran.


"Mbak, kamu di Jakarta juga? Sejak kapan? Kok, aku gak tahu?"


Mendengar pertanyaan itu Audi pun gelagapan. "Itu ... iya, Mbak ada kerjaan di sini. Udah dari dua hari lalu Mbak di sini."


Audi menggaruk tengkuk bingung. Kenapa suasana ini terasa canggung. Audi serasa tengah ketahuan nakal di belakang keluarga. Sial, padahal enggak gitu ceritanya.


"Terus, kok Mba munculnya dari sana? Dari rumah Om Jaksa? Mba nginap di sana?"


Nah, kan, pertanyaan ini muncul. Sudah pasti Jeno mempertanyakan kehadiran Audi di rumah Om Edzar. Meski mereka masih satu keluarga, tetap saja ini tak wajar, terlebih di saat rumah orang tuanya sendiri tepat berdiri di sebelah.

__ADS_1


"Anu, kemarin memang Mba nginap di rumah kita. Tapi ... itu, Mba takut. Iya, takut."


Jeno mengernyit. Audi pun kembali mencari alasan.


"Mba takut karena kemarin tiba-tiba ada suara aneh di sana. Abis gitu gorden gerak-gerak sendiri. Pasti itu hantu! Jadi Mba takut dan pindah ke sini, deh. Iya, gitu."


"Mba bisa masuk sana, dapat kunci dari mana?" tanya Jeno lagi.


Dasar bocah cerewet! Audi ingin memiting wajah sok intimidasinya yang menyebalkan.


"Mba minta sama Mas Ibra," jawab Audi sedikit ketus.


Jeno mengangguk-angguk. "Ooh ... Mas Ibra, ya?"


"Hm." Audi bergumam membenarkan.


Audi berlagak mengedarkan pandangan, padahal ia berusaha menghindar dari mata Jeno yang masih saja menatapnya penuh selidik.


"Kamu sendiri, kok, pagi-pagi udah di sini?" Kini giliran Audi yang bertanya. Gadis itu masih mempertahankan wajah gengsi di depan Jeno. Ia enggan terkesan kalah.


"Lha, aku kan emang sesekali pulang ke sini kalau senggang kuliah. Hari ini aku libur, di kos juga kosong karena temen pada pergi."


"Oh. Ya udah sana masuk. Pasti belum mandi, kan? Kamu juga belum makan? Pesan delivery, cepet."


Jeno mengernyit dalam. "Tanpa Mba suruh pun aku pasti mandi dan pesen makan. Mba lupa aku anak rantau di sini? Pengalamanku jauh lebih banyak ketimbang Mba."


Perkataan Jeno seolah menyindirnya. Sial, anak itu pasti secara tak langsung mengejek Audi yang dari orok hingga besar tinggal di rumah orang tua. Kuliah pun di sana-sana saja.


"Iya, tahu. Ya udah sana!" Kesal juga lama-lama. Dari dulu punya adik gak ada lucu-lucunya.


Hening. Jeno masih diam tak beranjak.


"Kenapa malah diem?"


"Aku masih penasaran sama Mba," aku Jeno jujur. "Terus, itu Mba mau ke mana? Itu juga, kok mobil Mas Ibra ada di sini? Mas Ibra di rumah juga?"


Audi menoleh ke belakang, di mana Fortuner milik Ibra bertengger depan garasi. "Enggak, kok, Mas Ibra gak nginap di sini. Mba pinjam mobil dia karena Mba ke sini gak bawa mobil," jelas Audi cepat.


"Oh, gitu. Kirain kalian nginep bareng," cetus Jeno santai. Bocah itu lalu beranjak masuk setelah membuka gerbang, meninggalkan Audi yang tak berkutik di tempat.

__ADS_1


Perasaannya saja atau memang benar Jeno curiga?


Mungkin wajar anak itu bertanya-tanya, karena yang Jeno tahu hubungan Audi dan Ibra sebelumnya sangat dingin.


__ADS_2