
"Thanks." Audi tersenyum pada kru wardrobe yang baru saja membantunya melepas jepitan rambut.
"Urwel, Ka," balas kru itu tak kalah ramah. Mba-mba berhijab itu lalu pergi.
Tak lama kemudian Gavin masuk dan duduk di kursi rias samping Audi. Ia pun langsung dibantu membersihkan make up oleh asistennya.
"Btw kamu pernah akting gak, sih?" tanya Gavin tiba-tiba.
Audi menoleh. "Enggak. Kenapa, Kak?"
Gavin meliriknya sekilas. "Gak papa, cuman kayak asik aja gitu dibawa foto. Gak nanggung. Kenapa gak coba ikut casting aja?"
Kini Gavin tampak memejamkan mata membiarkan kapas-kapas pembersih itu menyapu mukanya.
Sementara Audi hanya mampu terkekeh garing. "Hehe, enggak. Keluarga gak ijinin soalnya."
"Oh ... Sayang banget kalo gitu cuma bisa ikut iklan."
Mengangguk, Audi pun tersenyum. "Gak papa. Aku cukup nikmatin rezeki aku dari iklan, kok."
Gavin tersenyum. Ia membuka-buka ponselnya dan tiba-tiba saja mengangguk paham. "Bisa dimengerti, sih. Pendapatanmu aja udah gede dari YouTube."
Audi menoleh. "Lho, Kakak tahu aku youtuber?"
__ADS_1
Menoleh, Gavin mengulas senyum semanis gula. Ia menunjukkan layar ponselnya pada Audi. "Tahu dari komenan, terus aku kepo barusan. Ternyata followers kamu luar biasa. Kok bisa-bisanya aku gak nyadar kamu terkenal, ya? Haha."
"Komenan apa?" tanya Audi penasaran.
Sesaat Gavin mengernyit sebelum menjawab. Mungkin Audi lupa telah menandainya dalam postingan. "Postingan kamu. Kamu kan tag aku, jadi aku tahu."
Sementara Gavin kembali memainkan ponsel, Audi justru berkedip lamat. Oataknya loading sesaat sampai kedatangan Mbak Tian mampu membuatnya melirik wanita itu.
Audi menatap Tian menuntut jawaban. Kalau bukan dia yang posting pasti sang manager lah yang mengotak-atik instagramnya.
Tian mengangkat alis mendapati tatapan Audi. Ia berjalan mendekat dan membantu gadis itu merapikan rambut yang sedikit kusut.
"Di, duluan, ya." Gavin yang sudah selesai lantas beranjak hendak pulang. Katanya dia masih ada jadwal lain setelah ini. Aktor kawakan mah beda, ya. Dikejar waktu setiap menitnya.
Gavin hanya mengacungkan jempol. Pria itu memang sempat mentraktir minum para kru dan model. Sudah ganteng, populer, ramah pula. Paket lengkap sekali.
"Mari, Mbak?"
Tian mengangguk sambil tersenyum segan. Ia sampai memutar kepalanya mengikuti Gavin yang kini hilang dari pandangan.
Tian berdecak. "Luar biasa. Gak cuma aura bintangnya yang keluar, tapi dia juga super duper charming banget. Pantes banyak gadis-gadis mengidolakan dia."
"Menurut kamu gimana, Di?" Tian menoleh pada Audi yang ternyata masih menatapnya penuh tuntutan. Ia pun mengangkat alis. "Apa?"
__ADS_1
"Mba yang posting di ig sama ngetag Gavin, kan?" tanya Audi dengan wajah datar.
Tian pun tersadar. "Eh, iya. Gimana? Followers kamu nambah berapa? Pasti banyak, kan?"
Alih-alih menjawab Audi justru merengut kesal. "Mba kenapa gak bilang dulu sih kalau mau post itu? Pake tag Gavin segala lagi."
Tian mengernyit. "Lho, emangnya kenapa? Bukannya itu sesuatu yang biasa? Kita juga sering tag model lainnya yang foto dan syuting sama kamu?" Tian terlihat heran dengan respon Audi. Biasanya Audi tak seperti ini.
"Memang apa yang salah dari Gavin?"
"Ya gak salah, tapi ..." Audi nampak menggantung ucapannya.
"Tapi apa?" Tian penasaran.
Namun justru Audi mengibas. "Ya pokoknya nanti jangan lagi."
Tian menatap Audi curiga. Apalagi gadis itu terlihat gelisah. Sebenarnya ada apa?
"Ada hati yang kamu jaga? Siapa? Mas Ibra?"
Melihat Audi yang terdiam Tian pun tak tahan untuk berdecak. "Kalian gak pacaran, kan? Ya udah sih santai aja."
"Kamu sadar gak? Di sini itu kamu yang terlalu bawa perasaan. Orang Mas Ibra aja gak ngasih kamu kepastian. Ngapain masih repot-repot kamu pikirin?"
__ADS_1
Mendengar itu Audi termenung. Ibra memang tidak mengatakan bahwa mereka pacaran semalam. Tapi ...