
Beberapa anggota paspampres dan TNI baru saja keluar usai menjenguk Ibra. Suasana ramai yang sempat melampiri ruang rawat tersebut kini berangsur lengang.
Situasi kembali sunyi melingkupi lima orang di dalamnya. Shireen yang baru bertemu lagi dengan mantan mertuanya sontak menyalimi keduanya saat pertama mereka masuk tadi. Sementara Audi, ia hanya mampu terdiam seperti orang asing. Ia sempat berkenalan dengan mantan istri sepupunya itu.
Om Edzar menanyakan perihal kejadian yang menimpa Ibra sampai harus mendapat perawatan. Ibra bilang saat ia dan rombongannya mengawal kunjungan presiden di Bali, ada sejumlah oknum masyarakat yang nekat menerobos iring-iringan kendaraan.
Salah satu dari mereka membawa senjata tajam dan memang memiliki niat menyakiti presiden. Ia yang saat itu memang bertugas menjaga samping mobil terkena batunya.
Mulanya Ibra sudah mendapat perawatan di salah satu rumah sakit di sana, namun Komandan Paspampres meminta khusus pada presiden agar Ibra dipulangkan saja dan menjalani perawatan di Jakarta.
Hal tersebut disetujui hingga dini hari tadi Ibra langsung dikirim ke Jakarta saat itu juga. Yang jadi pertanyaan, kenapa mantan istri Ibra ada di sini? Dari siapa Shireen tahu bahwa Ibra mengalami insiden. Bukankah mereka sudah tak ada hubungan?
Rasa tak enak mendadak melingkupi hati Audi. Ia merasa asing dan terkucil ketika Tante Safa sibuk bicara dengan mantan menantunya itu. Belum lagi Om Edzar yang sedari tadi mengobrol dengan Ibra. Audi hanya bisa bungkam di tengah mereka.
Seolah menyadari perasaan Audi, Ibra menoleh padanya. Ia melempar senyum teduh sambil mengulurkan tangan, memberi isyarat supaya Audi mau mendekat.
__ADS_1
Akan tetapi, Audi yang kadung kesal setia mematung di tempat. Ia enggan mendekati Ibra, rasa ingin lari dari sana begitu mendominasi pikiran Audi.
"Sa-" Ibra hampir keceplosan memanggil Audi dengan sebutan Sayang. Ia pun segera meralatnya. "Sini."
"Cla, sini," kata Ibra lagi.
Audi yang tidak mau dianggap tidak sopan, pun tak ingin mereka semua tahu mengenai perasaan kacaunya, dengan terpaksa mendekat dan membiarkan saat Ibra menarik tangannya hingga berdiri tepat di samping pria itu.
Ingin rasanya Audi memukul kepala Ibra yang dijahit saat dengan santainya pria itu melempar senyum dan mengusap rambut Audi lembut.
Apa-apaan sikapnya itu? Lihatlah, semua orang memandangi mereka. Audi jadi canggung sendiri.
"Mas Ibra," bisik Audi tanpa suara. Ia menyuruh Ibra melepas tangannya, namun isyaratnya sama sekali tak dihiraukan.
Om Edzar tersenyum teduh, tangan besarnya terangkat mengusap pucuk kepala Audi sayang. "Gak papa, masmu kuat, kok. Dia strong."
__ADS_1
Mungkin Edzar berpikir wajah keruh Audi disebabkan oleh rasa khawatirnya terhadap Ibra.
Sementara Safa, diam-diam ia merasa bersalah karena sempat mengabaikan keponakannya itu. Ia berusaha tetap tersenyum ketika melihat Shireen.
Shireen nampak penasaran pada Audi sejak tadi. Matanya berkali-kali memperhatikan gadis manis bertubuh mungil itu dan interaksinya dengan Ibra.
"Mam, Audi itu ... adiknya Mas Ibra?" Shireen bertanya pada Safa.
Wajar Shireen tidak tahu. Saat pernikahannya dulu Audi tak terlihat hadir.
Safa yang ditanya justru sedikit terlonjak, namun ia segera menetralkan ekspresinya dan tersenyum menatap Shireen."Eh, itu ... Audi itu anak dari kakaknya Mami."
Safa dan Shireen menatap Edzar, Audi serta Ibra dari sofa. Tanpa Safa sadari raut Shireen terlihat rumit, apalagi ketika melihat sikap Ibra yang begitu santai melakukan sentuhan fisik pada Audi.
Entahlah, di matanya perlakuan Ibra tidak seperti perilaku saudara pada umumnya. Senyuman itu, Ibra tak pernah memberi senyum sehangat itu padanya dulu. Bahkan sorotnya berbeda ketika pria itu menatapnya dan menatap Audi sekarang.
__ADS_1
Sebenarnya Audi itu siapa? Apa dia gadis yang kerap Ibra sebut ketika mengigau? Igauan yang dulu sempat membuat Shireen cemburu. Benarkah hubungan mereka hanya saudara?