Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 55


__ADS_3

Ibra tertawa renyah menanggapi guyonan Kenan. Pria itu tengah menemani Kenan bermain di ranjang pasiennya. Kenan tampak antusias menyambut kedatangan Ibra yang menjenguknya di rumah sakit.


Sementara Audi, ia berdiri sambil tersenyum menyaksikan kedekatan mereka. Senyum canggung, lantaran ia tahu tatapan Kenan tak seramah tatapannya pada Ibra. Anak itu menatap Audi seolah-olah dia saingannya.


Menyebalkan, inilah yang tidak Audi suka dari anak kecil. Mereka sangat merepotkan dan egois. Sedari tadi Audi menahan diri untuk tidak menyeret Ibra keluar menjauh dari Kenan. Hey, lihatlah kurang baik apa dirinya?


Harusnya Kenan berterimakasih karena Audi mengizinkan Ibra ketika pria itu berkata hendak kemari, dengan catatan Audi harus ikut tentu saja. Mereka sudah sepakat, bahwa apa pun yang berhubungan dengan Shireen, Kenan dan keluarganya, Ibra harus terbuka pada Audi.


Pria itu menyanggupi. Bagaimana tidak, Audi mengancamnya akan menikahi orang lain jika Ibra bersikap menyebalkan lagi, dalam hal ini berbohong.


"Ayah, ayamnya Kenan jangan ditabrak, dong!" seru Kenan sambil menggerakkan cepat jemarinya di layar ponsel.


"Apanya yang ditabrak? Namanya juga lagi bertarung, ya Ayah lawan Kenan lah." Ibra tak kalah ngebut mengotak-atik hapenya.


Shireen menggeleng melihat keduanya. Mereka tengah bermain entah permainan apa. Kenan pakai ponsel Ibra, sementara Ibra sendiri pakai ponsel Audi. Kebetulan ponsel Shireen tak mendukung permainan seberat itu.


"Tapi Kenan jadi kalah terusss."


"Yang namanya bersaing pasti ada kalah dan menang. Kenan harus terima apa pun hasil akhirnya. Kalau mau menang, ayo berusaha lebih keras lagi." Ibra tersenyum, mengusap kilat kepala Kenan yang merengut.


Mereka pun bermain lagi hingga beberapa saat kemudian Kenan berseru. " Yeeeyyy ... Kenan menang!! Wuhuuuu ... Ayah kalah ... Ayah kalah ... yeeeaayyy sekarang Kenan yang menang. Mama, Kenan menang!"


"Iya, Kenan menang," sahut Shireen lembut.


Begitu pula Ibra, Ibra tersenyum teduh menatap bocah itu, faktanya ia baru saja mengalah dengan sengaja, makanya Kenan bisa menang.


Kenan tampak begitu senang bisa bermain lagi dengan Ibra. Anak yang biasanya kerap murung itu kini tak berhenti tersenyum. Ibra dengan setia menemani Kenan sampai ia tertidur seperti janjinya.


Mereka kembali bermain game lain di ponsel karena Kenan yang masih belum puas. Sesekali Ibra melirik Audi, memastikan keberadaan gadis itu di sana. Mungkin ia takut Audi pergi karena bosan.


Ibra tak salah, Audi memang bosan sejak tadi diam. Kegiatan yang dilakukannya hanya memerhatikan interaksi Ibra dan Kenan. Astaga, Ibra bisa sehangat itu pada anak orang, apalagi anak mereka kelak.


Jenuh, sebenarnya Audi tak sabar ingin pulang. Sudah hampir jam sembilan malam dan entah kenapa perutnya lapar lagi, padahal sebelum ke sini ia dan Ibra sempat makan dulu.


"Di, kamu mau ngopi? Di depan masih ada kedai yang buka." Tiba-tiba Shireen berucap seolah ia mengerti apa yang diam-diam tengah Audi keluhkan.


Audi yang tengah duduk di sofa pun mendongak. Matanya sempat bertemu dengan Ibra yang kebetulan juga menoleh padanya. Audi kembali menatap Shireen yang sekarang sudah berdiri di dekatnya.


"Saya lupa belum menjamu kamu dan Mas Ibra." Shireen kelihatan tak enak.


Audi meringis. "Enggak papa, Mba. Kita ke sini kan mau jenguk Kenan, hehe."


Kemudian Ibra bersuara sambil terus fokus pada game di ponsel. "Ikut aja, Cla. Jam segini masih banyak jajanan yang buka. Kamu bawa cash, kan?" tanyanya seraya melirik sekilas. "Kalau gak bawa ambil aja di dompet Mas." Ia mengerling pada saku celana di mana benda itu berada.

__ADS_1


Namun Audi menggeleng. "Aku bawa, kok."


Tanpa sepengetahuan siapa pun Kenan mendelik tajam pada Audi. Ia tak senang dengan perhatian Ibra pada wanita itu. Ingin rasanya Audi menjambak rambut Kenan sampai bocah menyebalkan itu menangis, tapi Audi masih sadar diri untuk tetap bersikap slay.


Hey, Audi tidak mau muncul berita jelek tentang dirinya. Bisa saja kamera Mba Lambe nyempil di sini tanpa sepengetahuannya.


"Gimana, Di? Mau keluar bareng saya?" Shireen bertanya memastikan.


"Ya udah, Mba," putus Audi kemudian.


Ia pun bangkit untuk kemudian mengikuti Shireen keluar.


"Kenan sama Ayah dulu, ya? Nanti Mama balik ke sini, kok."


"Iya, Ma," sahut Kenan singkat. Fokusnya sepenuhnya pada ponsel.


Shireen dan Audi pun keluar dan turun menggunakan lift. Sepanjang jalan Shireen tampak ramah mengajak Audi berbincang. Audi berusaha meladeni meski masih merasa canggung.


Mereka tiba di sebuah kedai pecel lele yang masih buka. Letaknya tak jauh dari rumah sakit hingga masih bisa dijangkau oleh kaki. Audi yang memang lapar tentu tak menolak.


"Bang, dua porsi, ya." Shireen berseru memesan.


"Siap, Bu. Pedas atau biasa?"


"Pedas juga," sahut Audi kecil.


"Pedas dua-duanya, ya?" tanya si abang memastikan.


"Iya, Bang. Minumnya punya saya anget, ya. Jangan pakai es."


Beberapa hari lalu Shireen pernah ke sini, dan ia tahu minuman di sini hanya tersedia es teh manis.


"Siap, Bu."


Shireen mengajak Audi duduk di salah satu bangku.


"Kita ... makan di sini gak papa, kan?" Shireen bertanya bimbang.


Audi sedikit mengernyit. "Gak papa, kok. Aku emang lapar, dan cium wanginya kayaknya enak."


"Syukurlah. Tadinya saya takut kamu gak mau. Lupa tanya dulu," ringis Shireen.


Mungkin maksud Shireen, ia takut Audi jijik dengan tempat pinggir jalan. Shireen tidak tahu saja Audi sering jajan jajanan kaki lima di berbagai daerah setiap kali jalan-jalan dan kolaborasi dengan youtuber mukbang.

__ADS_1


Audi mengulas senyum. "Aku makan apa aja yang emang bisa dimakan, kok." Ia memperhatikan sekitar dengan santai.


Hal itu tak lepas dari pandangan Shireen. Shireen cukup dibuat takjub dengan sikap Audi. Biasanya gadis-gadis glow up dengan penampilan berkelas seperti Audi jarang yang bisa berlaku demikian. Sebagian dari mereka pasti ribet, misal lap-lap tisu ke meja dan kursi. Shireen pernah punya teman begitu soalnya.


"Makasih, ya, kamu udah izinin Mas Ibra jenguk Kenan," ucap Shireen tiba-tiba. "Saya juga mau sekalian minta maaf atas kejadian beberapa waktu lalu. Saya minta maaf banget mengenai Ibu saya."


Audi menoleh. Ia berkedip entah harus menyahut apa selain senyum. "Iya, Mba."


"Kamu ... udah resmi, ya, sama Mas Ibra?"


"Ya?" Audi mengangkat alis, sedikit terkejut dengan perbincangan mereka kali ini.


"Kalian pacaran, kan?" tanya Shireen lebih jelas.


"Itu ... kita masih saling jalanin dulu aja, Mba." Audi menggaruk tengkuk yang tak gatal.


"Oh, gitu." Shireen mengangguk mengerti. "Syukurlah. Semoga langgeng sampai ke pengajuan, ya?"


"A-amin," sahut Audi terbata. Ia tidak tahu harus mengaminkan atau tidak.


"Kayaknya Mas Ibra juga sudah cinta banget sama kamu sedari dulu. Saya pernah dengar dia ngigau nama kamu waktu tidur sama Kenan."


Kembali Audi berkedip sedikit cepat. "Masa, sih, Mba?"


Sial, kok jadi penasaran.


"Iya. Mas Ibra ngigaunya sambil murung gitu, untung waktu itu Kenan gak bangun," jelas Shireen sambil tersenyum.


"Oh iya, kamu pasti sudah tahu tentang kami yang sebenarnya. Mas Ibra pasti sudah cerita sama kamu, kan?"


Apa ini tentang pernikahan kontrak?


"Kamu gak perlu khawatir. Meskipun status Mas Ibra duda, tapi selama menikah dia gak pernah berbuat apa-apa sama saya. Bisa dibilang dia bersih." Shireen tampak tersenyum kecut. Kemudian ia melanjutkan. "Yang paling kentara itu pas hari pertama habis nikah. Mas Ibra selalu murung dan berubah pendiam. Kebanyakan dia tinggal di asrama tanpa saya. Padahal biasanya orang lain bawa pasangannya kalau sudah menikah. Tapi Mas Ibra enggak. Alasannya karena letak asrama dan tempat saya ngajar lumayan sangat jauh. Dia bilang gitu setiap kali ditanya orang."


"Tapi saya gak masalah. Toh, kita sendiri sama-sama tahu hubungan kita seperti apa. Saya mengerti saat Mas Ibra terlihat sulit menerima status barunya. Sebenarnya saya juga merasa bersalah sama dia, sama kalian." Shireen menatap Audi dalam. "Selain untuk Kenan, saya tidak berharap apa-apa lagi sama Mas Ibra."


"Saya minta maaf, Audi. Maaf karena dulu sempat menjadi pemisah di antara kalian," lanjut Shireen tulus.


Perbincangan ini sungguh tak pernah Audi duga. Ia sampai kebingungan harus berkata apa. Selain ibunya yang menyebalkan, Shireen justru terlihat kebalikannya. Sosoknya sangat mencerminkan seorang guru yang bersahaja. Dia lemah lembut dan tenang, idaman setiap pria yang selalu menginginkan wanita penurut.


Kenapa bisa Ibra tidak kepincut sama Shireen, ya? Yang Audi tahu biasanya mas-mas berseragam carinya kalau tidak guru ya bidan. Sementara Audi, ia hanya lulusan hukum yang melenceng dari jalur. Alih-alih jadi jaksa atau pengacara dan sebagainya, ia malah berkutat di depan kamera setiap saat.


Aneh, kan?

__ADS_1


__ADS_2