
Seperti halnya empat bulan, tujuh bulan kandungan pun tak lepas dari acara tasyakuran. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Padahal Audi merasa baru kemarin ia cek kehamilan di kamar mandi, tapi tahu - tahu sekarang sudah delapan bulan, malah seminggu lagi memasuki usia ke sembilan.
Ibra semakin siaga memperhatikan Audi. Akhir - akhir ini ia sering mengambil cuti atau bekerja dari rumah supaya bisa lebih fokus mengawasi Audi secara langsung.
Mereka sering menghabiskan waktu bersama, Ibra kerap melatih Audi berolahraga ringan yang bisa dilakukan oleh wanita hamil. Sebelumnya Ibra berniat memanggil instruktur untuk menemani Audi olahraga, tapi sang istri menolak dengan berbagai alasan.
Ibra tidak tahu saja, Audi melakukannya guna mencegah ada wanita lain masuk ke rumah mereka. Ia tidak mau meski tujuannya untuk melatih kesehatan.
Alhasil Ibra sendiri yang mendampingi Audi melakukan peregangan. Dengan bermodalkan konten - konten di YouTube yang syukurnya bisa Ibra ikuti dengan baik. Audi sendiri lebih nyaman berlatih berdua dengan Ibra, ketimbang sesekali mengunjungi pusat kebugaran khusus wanita hamil yang ujung - ujungnya membuat Audi jenuh. Kalau dengan Ibra, kan, ia bisa main - main sesuatu yang pribadi, hehe ... jauh lebih mengasyikan tentunya.
"Sayang?" Ibra muncul dari ambang pintu, memanggil Audi yang tengah asyik di beranda sambil memainkan air sungai dan kolam ikan.
Audi menoleh. "Iya?"
"Pagi ini mau sarapan apa? Itu kamu duduknya jangan terlalu pinggir gitu, dong. Bahaya kalau kepeleset, lantainya licin."
Audi menghela nafas. Ibra dan sifat protektifnya. Meski begitu ia tetap bergeser menjauhi kolam, lalu bergeser lagi ketika Ibra berkata kurang.
"Mau makan apa?" tanya Ibra sekali lagi meminta jawaban.
"Terserah Mas Ibra. Asal jangan yang mengandung susu, keju, telur. Aku enek soalnya."
Ibra mengangguk paham. "Kalau bakso ayam pasti mau, kan?"
"Ya kalo itu beda lagiii~" rengek Audi. "Jelas mauuu ..."
Ibra terkekeh. "Jadi, bakso ayam, nih?"
"Huum," angguk Audi semangat.
"Oke, bakso ayam siap dibuat, Sayang."
Ibra lantas menghilang ke dalam rumah. Audi tersenyum menatap kepergiannya. Sementara dirinya kembali asik bermain air di tepi sungai, sesekali memotret dan mengambil beberapa gambar untuk diabadikan.
__ADS_1
Tak berapa lama Ibra datang membawa semangkuk bakso dengan kuah mengepul. Wangi kaldu menguar mengundang rasa lapar yang sebelumnya tak begitu terasa. Audi berbalik setengah heran pada Ibra yang kini meletakkan nampan di atas meja dekat aquarium.
"Kok, cepat banget, Mas?"
Ibra tersenyum. "Sebenarnya sebelum Mas tanya kamu, Mas emang udah buat adonan sama kuah tadi, hehe. Kebetulan aja keinginan kamu sama Mas lagi sejalan, jadi Mas gak perlu repot lagi nyiapin ini itu seandainya mau kamu berbeda."
"Oh gitu," gumam Audi.
"Iya. Sini, yuk? Mumpung masih panas, nih."
Audi lekas bangkit dan mendekat ke arah Ibra. Pria itu duduk di seperangkat sofa yang ada di sana, Audi pun melesakkan diri di samping Ibra yang langsung disambut kecupan kilat darinya.
"Cobain." Ibra mengambil satu sendok kuah dan meniupnya untuk Audi cicipi.
Audi menyeruputnya begitu sendok tersebut mampir di tepi bibir. Sesaat lidahnya mendecap meresapi rasa asin dan gurih yang menyapa. Ibra memperhatikan hal tersebut sambil menatap Audi dengan harap - harap cemas.
"Gimana? Enak gak, Yang?" tanya Ibra hati - hati.
Audi mengangguk. "Enak, seger. Aku tambahin sambel, ya?"
"Iihhh, dikit aja, Masss~" rengut Audi, berusaha meraih mangkuk sambal yang dijauhkan Ibra. "Kalo gak boleh, kenapa Mas Ibra bawa ke sini sambalnya?"
"Kan buat Mas."
"Tuh, Mas Ibra aja makan!" seru Audi tak terima.
"Ya kan kamu lagi hamil, Cla. Harus jaga - jaga kesehatan, dong, Sayang," tutur Ibra lembut.
"Gak mau tau, pokoknya mau sambal sesendok!"
Menghela nafas, Ibra pun menyerah dan menuangkan satu sendok cabai halus itu ke mangkuk berisi bakso milik Audi. "Sudah," tegas Ibra.
Meski sebenarnya belum puas, mau tak mau Audi harus menerima karena ia pun turut memikirkan anak mereka di kandungannya. Audi takut terjadi apa - apa seandainya terlalu banyak makan cabai. Untuk sekarang ia cukup makan pedas yang samar - samar saja.
__ADS_1
Siang harinya Ibra ada pekerjaan yang mengharuskannya keluar. Seperti biasa keduanya akan berdebat dulu karena Ibra tidak mau meninggalkan Audi sendirian di rumah, padahal tak sepenuhnya sendiri karena banyak pekerja di sana. Dan setelah sekian paksaan dari Audi, alhasil Ibra pun pergi dengan berat hati.
Saat itulah, Audi merasa perutnya sedikit mulas yang hilang timbul. Ditambah sejak beberapa minggu lalu ia sering kali bolak - balik ke kamar mandi karena rasa ingin pipis yang kerap terjadi, bahkan di tengah malam sekalipun.
Banyak sekali pengalaman baru yang Audi temui saat hamil. Semuanya berangsur secara bertahap, dan Audi sangat menikmati semua prosesnya. Semenjak empat bulan kehamilannya, ia dan Ibra sudah sangat jarang berhubungan intim, malah bisa dibilang tidak pernah, kecuali have fun dengan sentuhan yang sama - sama bertujuan memuaskan.
Audi meringis saat rasa mulas itu kembali datang. Ia pun berusaha untuk diam dan berbaring dengan tubuh menyamping di sofa, berharap rasa mulas itu bisa mereda. Namun karena Audi merasa kurang nyaman dengan tempatnya, akhirnya ia pun memutuskan berpindah ke kasur saja.
Padahal tadi ia duduk di sofa karena sedang makan nugget yang sempat Ibra goreng sebelum berangkat.
"Duh, kok mulas gini, ya? Jadi pengen BAB terus ..." ringis Audi di tengah rasa sakitnya. Ia tak berhenti menghela nafas dan memegangi perut.
Audi tak jadi berbaring dan malah berjalan ke kamar mandi karena berpikir ingin buang air besar. Tapi saat itulah Audi menemukan segaris kemerahan pada celana segi tiga yang ia pakai. Sontak kaki dan tangannya bergetar panik, tubuhnya terasa lemas seketika, pun rasa ingin buang air besar mendadak surut kembali ditelan kecemasan.
Tak hanya itu, Audi juga merasakan lembab dan licin di sela - sela pahanya. Memakai kembali celana, Audi berjalan tertatih keluar kamar mandi, sambil memegangi perut yang tak henti mengeluarkan rasa mulas hilang timbul.
Ia lalu membawa kakinya keluar kamar guna mencari seseorang. Di tengah upayanya menahan ringisan, Audi memanggil sang mama yang ia tahu masih di rumahnya usai berunding sesuatu bersama salah satu ART.
"Ma! Mama!!" teriak Audi.
Tak ada sahutan. Ia memaki suasana rumah yang sepi seakan tak ada orang. Sampai tak berapa lama salah satu asisten rumahnya lewat di bawah tangga.
"Mamaaa!!!"
Ia melihat Audi yang meringis kesakitan di lantai atas. Kontan wajahnya ikut panik sambil berteriak memanggil semua orang.
"Ya ampun, Nyonyaaa!!! Astaghfirullah al adzim, Nyonyaaa ... Aduh, aduh ini gimana?! Nyonya Lisa!! Nyonya Safaa!!! Bu Hajaahh!!! Siapa aja tolong ke sini!!!" panggilnya random.
Ia berlari menghampiri Audi yang meringis berpegangan pada pagar tangga, ia begitu waswas wanita itu terjungkal dan hilang keseimbangan yang akan menyebabkannya jatuh terguling.
"Astaghfirullah al adzim, Nyonya Audi kenapa?!"
"Bik ..." ringis Audi lemas. "Bik, tolong perut aku mulas banget ... hiks."
__ADS_1
"Astaghfirullah al adzim!!! Nyonya Audi mau melahirkan!!!" teriak si bibi lagi, mengundang panik semua orang yang kini berhamburan menaiki lantai atas.
Tak pelak Safa pun menelpon sang putra yang baru saja berangkat. "Ibra! Pulang! Perut Audi mulas - mulas!"