
Empat bulan kemudian, Audi dan Ibra tengah gemas - gemasnya melihat Farzan belajar berbaring menyamping. Anak itu masih kesulitan menyeimbangkan bokongnya yang berat. Alhamdulillah, tanpa susu formula pun Farzan bisa tumbuh sehat dan montok, mengundang gemas siapa pun yang melihatnya.
Terlebih ia juga tengah dalam masa - masa sering tertawa. Farzan adalah cucu pertama yang hadir di keluarga Safa dan Dava. Tentu kehadirannya semakin mempererat tali persaudaraan di antara mereka, mengingat Ibra dan Audi merupakan saudara sepupu yang terlahir dari keturunan keduanya.
Seperti sekarang, bayi laki - laki yang kini beratnya sudah bertambah drastis itu tak henti tertawa diajak bermain oleh kedua kakek dan neneknya. Tak pelak mereka kerap berebut ingin menggendong tubuh montoknya yang sekal. Ibra dan Audi yang menyaksikan keseruan tersebut hanya bisa menggeleng tanpa berani mengganggu kesenangan para orang tua mereka.
Justru, hal ini menjadi kesempatan bagi keduanya untuk menghabiskan waktu bersama. Jujur saja, sejak Farzan lahir, Audi jadi sering merindukan masa - masa di mana mereka masih bebas berduaan tanpa khawatir terhadap gangguan apa pun.
Memang, sih, Audi dan Ibra masih tidur di kamar yang sama, tapi setiap kali mereka hendak bermesraan, Farzan pasti terbangun menyela kebersamaan mereka.
Ibra terkekeh melihat sang putra yang tertawa kegelian di gendongan salah satu neneknya. Perutnya kembang kempis merasa senang, sementara di hadapannya, sang kakek mengajaknya bermain dengan memeragakan ekspresi - ekspresi lucu yang mengundang tawa.
__ADS_1
"Gak kerasa, ya, pertumbuhan Farzan cepet banget?" cetus Ibra pada Audi. Sebelah tangannya merangkul pundak wanita itu.
Audi turut tersenyum menatap suasana ruang keluarga di hadapan mereka dengan teduh. Benar, waktu betul - betul berangsur tanpa terasa. Tahu - tahu usia Farzan sudah memasuki empat bulan lebih, dan anak itu tengah dalam masa - masa pertumbuhan yang signifikan.
"Iya, padahal rasanya baru kemarin aku melahirkan," timpal Audi.
Ibra menoleh, ia mengecup kening Audi singkat. "Alhamdulillah, Mas masih mau berterima kasih sama kamu, karena kamu sudah bersedia melewati masa - masa pernikahan kita bersama, hingga kini Farzan hadir sebagai putra pertama kita."
Ibra terkekeh pelan mengeratkan pelukan. Nada manja Audi yang begitu ia senangi. Suara lembut sang istri yang selalu menjadi favorit. Ibra betul - betul bahagia, dan Tuhan menambah kebahagiaan tersebut dengan hadirnya buah cinta di antara mereka. Sungguh, ini merupakan suatu nikmat yang tak bisa Ibra dustakan. Keluarga kecilnya kini terasa lengkap dengan hadirnya Farzan yang saat ini tengah menjadi kesayangan keluarga Halim dan Edzar.
"Farzan adalah bentuk cinta dan kasih Mas terhadap kamu, Cla. Mas cinta kamu, Mas sayang kamu, Mas juga mencintai dan menyayangi Farzan sebagaimana Mas menyayangi kamu. Kamu dan Farzan adalah hadiah Tuhan yang paling indah. Rasanya Mas tidak bisa berhenti bersyukur karena memiliki kamu dan Farzan. Semoga kita bisa merawat dan mendidik anak kita bersama, semoga kelak anak - anak kita menjadi anak yang sholeh dan sholeha, berbakti pada orang tua, patuh pada agama dan negara, dan kita menjadi orang tua yang baik, mampu mengayomi dan menjadi panutan bagi mereka."
__ADS_1
"Aamiin ..." sahut Audi, seraya mengeratkan pelukan lengannya di pinggang Ibra.
Tawa riang Farzan mengundang senyum keduanya. Anak itu terlihat anteng bermain dengan kakek dan neneknya. Kaki sekalnya mengejat - ngejat kesenangan, pun tangannya yang gempal turut basah lantaran sesekali ia **** dengan bibir mungilnya.
Kebahagiaan mengalir di hati semua orang. Mami Safa menjerit gemas menggendong sang cucu, membawanya berlari dan menghindar dari kejaran Dava yang berlagak menyerang. Dari sisi lain Mama Lisa mencegat hingga mengejutkan Mami Safa yang langsung berhenti karena tekepung. Farzan yang merasa dipermainkan justru terpingkal kesenangan.
Tingkah gemasnya itu mengundang kecupan dari Papi Edzar yang sedari tadi memandang keseruan mereka. Ia mengambil alih tubuh sekal Farzan dari tangan sang istri, lalu mengangkatnya hingga berada di atas wajahnya sebentar, menciumi perut buncitnya geregetan.
"Astaga ... kamu baru minum susu saja sudah segendut ini, Nak. Bagaimana kalau lanjut MPASI nanti?"
Farzan hanya tertawa geli dengan kaki mengejat - ngejat. Benar - benar lucu dan menggemaskan.
__ADS_1