
Keesokan harinya, tepatnya selepas isya, Audi main di rumah Ibra. Biasa, punya pacar tetangga beginilah enaknya, bisa disatroni setiap saat kalau orangnya ada di rumah. Seperti sekarang, Audi sekalian mau belajar masak dengan Tante Safa, tapi sebenarnya Audi kangen Ibra yang seharian ini tak terlihat karena sibuk bekerja.
Sudah beberapa lama ini Ibra menghandle sebagian usaha Om Edzar. Dia juga sibuk dengan keanggotaannya dalam partai politik. Untuk urusan persiapan nikah, sudah ada Tante Safa dan Mama Audi yang dengan senang hati membantu, bahkan mereka sangat bersemangat sampai-sampai hampir setiap hari keluar bersama untuk mengurus ini itu.
"Tante, ini bumbunya masukin sekarang?" Audi tengah berada di dapur rumah Ibra, berkutat memasak makan malam bersama sang calon mertua.
Audi sadar betul ia sebentar lagi menikah, dan ia harus segera mengasah kemampuan memasaknya di dapur. Audi juga ingin seperti istri-istri lainnya yang berbakti pada suami dalam berbagai hal, termasuk melayaninya dalam hal makanan.
Safa menoleh sesaat sambil tersenyum. "Iya, Sayang, masukin. Itu udah Tante takar, kok, bumbunya. Jadi kamu tinggal abrek aja."
"Oh gitu? Ya udah, Audi masukin ya, Tante." Audi memasukkan semua bumbu dalam mangkuk kecil ke atas wajan berisi tumis pare udang. Tante Safa juga sempat menambahkan sedikit pete sebelumnya.
Om Edzar dan Ibra memang pecinta pete dan jengkol. Keduanya selalu bersemangat makan kalau ada salah satunya, apa lagi ditambah sambal, pasti tidak ada alasan untuk menolak makan.
Sebagian pete juga dibakar untuk lalapan. Terang saja, wangi semerbaknya mengundang Ibra yang baru saja pulang bersama Om Edzar. Mereka berdua memasuki dapur dan langsung berdecak menelan ludah melihat beberapa menu yang sudah selesai disajikan.
Ibra yang melihat Audi juga ada di sana kontan tersenyum hangat. Matanya menyorot lembut pada sang kekasih yang juga menyungging senyum manis sebagai balasan. Demi apa pun, ini pertama kali Ibra merasa bahagia setelah pulang kerja.
"Assalamualaikum?" sapa keduanya.
"Wa'alaikumsalam ..." Audi dan Safa menyahut berbarengan.
"Masak apa, Ai?" Om Edzar menghampiri istrinya yang masih berkutat dengan ayam geprek buatannya.
Sungguh, Tante Safa pintar sekali memasak sampai menu yang biasanya hanya bisa Audi beli, wanita itu justru mampu membuatnya sendiri. Benar-benar istri idaman. Pantas Om Edzar begitu sayang dan cinta terhadap beliau.
"Yang pasti kesukaan A Uda sama Ibra," jawab Tante Safa manis. Audi jadi ikut adem sendiri melihat mereka berdua.
Audi tersentak ketika mendapat sentuhan di atas kepala. Ia menoleh dan mendapati Ibra sudah berdiri di sampingnya. "Assalamualaikum, calon istri?"
Ritme jantung Audi meningkat mendengar panggilan Ibra tersebut. "Wa-wa'alaikumsalam," jawabnya terbata.
Ibra tak henti menguar senyum menatap Audi. Audi jadi gugup sendiri dibuatnya.
__ADS_1
"Mas Ibra baru pulang dari cafe?"
"Iya, tadi kebetulan bareng Papi," sahut Ibra.
"Ooh." Audi mengangguk paham.
Tante Safa pun bersuara di antara mereka. "Kalian mandi dulu, gih. Masa makan dalam keadaan bau keringat? Gak bakalan enak. Mending basuh dulu biar seger, ke kitanya juga semangat kalau kalian wangi."
Om Edzar yang memang memang selalu menurut langsung mengecup sekilas kening Tante Safa dan bersiap pergi dari sana.
Sementara Ibra, dia malah masih betah menempeli Audi yang saat ini tengah meniriskan tumis ke dalam piring.
Ibra merebut piring tersebut dari tangan Audi. "Biar Mas yang simpan ke meja."
Audi tak membantah, mungkin Ibra memang sedang keterlaluan baik sekarang. Ya meski dia setiap hari juga baik, sih.
Sedangkan Tante Safa berdecak seraya menggeleng melihat Ibra yang masih berada di sekitar mereka.
"Ibra ..." panggilnya dengan suara lembut namun penuh peringatan.
Hal itu membuat Safa membuang nafas keras. "Mami bilang mandi dulu, Nak," ucapnya halus, sekali lagi.
Selama ini Audi belum pernah mendengar Tante Safa meninggikan suara. Tampaknya Audi juga harus belajar bersikap meneduhkan seperti itu.
Ibra meringis menggaruk hidung. "Oh, iya, maaf, Ibra gak dengar tadi," lirihnya canggung.
Audi sampai turut meringis, apa lagi Om Edzar yang masih berada di ambang pintu dapur, terkekeh geli melihat dirinya dan Ibra bergantian. Sungguh malu.
"Iya, kamu gak dengar karena dari tadi fokus kayak mau makan Audi," gerutu Tante Safa.
Ya Tuhaaaannn ... Sembunyikan Audi sekarang juga, please ...
Om Edzar semakin terkikik di balik senyum yang berusaha ia tutupi. Takut kena semprotan sang istri, ia pun lekas berlalu meninggalkan dapur. Sementara Ibra, Audi mencubit pinggang lelaki itu hingga meringis.
__ADS_1
"Aw! Yang?" Ibra melotot tak mengerti sambil mengusap pinggangnya yang terasa panas. Audi mencubitnya sekeras mungkin, karena kalau pelan atau standar tak akan terasa di kulit Ibra yang keras.
Dasar tidak peka! Bagaimana mau jadi dewan kalau dia saja kurang bisa mengerti situasi. Audi rasa Ibra tidak pernah bersikap bodoh seperti ini, apa lagi dia kan mantan prajurit TNI yang dilatih memiliki insting yang kuat.
Audi melirikkan matanya pada Tante Safa, berusaha memberi tahu Ibra bahwa maminya sudah melotot menyeramkan. Meski tidak seseram yang dibayangkan, sih, karena mata Tante Safa itu sipit dan imut.
"Mas, ih!" greget Audi. Tanpa sadar ia sampai menghentak kaki karena Ibra tak kunjung pergi. "Mandi, sana ..." tekan Audi dengan gigi yang mengatup.
Ibra malah tersenyum santai dengan raut tak bersalah. "Iya, Sayang. Mas boleh ... kecup kamu, gak?"
Wah makin parah nih orang.
"Ibra ..." Sekali lagi Tante Safa memperingati putranya yang sedang dimabuk cinta.
"Sedikit aja, Mami. Cuma kecup kepalanya boleh, kan? Gak langsung kena, kan Audi pakai hijab." Ibra beralasan.
Safa tidak tahu lagi harus bagaimana. Ya sudahlah, biarkan saja. Berusaha tak menghiraukan, Safa kembali berkutat membereskan piring-piring berisi penuh masakan ke meja makan.
Melihat itu Ibra tersenyum senang. Ia langsung meraih kepala Audi dan mengecup puncaknya dalam-dalam. Wangi lembut nan segar menguar membuai penciuman Ibra. Ibra jadi betah berlama-lama, ia enggan melepas Audi kalau saja sang mami tidak mewanti dengan berdiri berkacak pinggang dengan raut memperingati.
Mau abai bagaimana pun, Safa tetap tak bisa membiarkan Ibra. Padahal dulu ia mendukung penuh ketika Ibra berciuman panas dengan Audi di kamarnya. Haih, ia sudah gila gara-gara kesal waktu itu Dava menolak putranya.
"Udah, kan, ciumnya? Ya udah sana mandi," usir Safa.
Ibra mengangguk, sambil melipat bibir penuh senyum, masih dengan menatap Audi. Audi hanya terheran-heran melihat tingkah Ibra yang tidak seperti biasanya.
"Mas mandi dulu. Kamu makan di sini, kan? Tunggu, ya?"
Audi mengernyit karena Ibra sudah seperti pria yang kena pelet. Meski begitu ia tetap mengangguk mengiyakan. "Iya. Udah sana mandi."
Lagi-lagi Ibra cengengesan. "Siap, Sayang. Muahh ..."
Selepas itu Ibra langsung pergi meninggalkan Audi dan Safa yang sama-sama dibuat ternganga dengan kelebayan Ibra.
__ADS_1
"Tante yakin Mas Ibra mau nyalon dewan?" guman Audi.
Safa pun turut bergumam tak percaya. "Entahlah. Itu anak kok makin gila, ya?"