
"Kamu gak papa Mas tinggal sendiri di rumah ini? Mas gak bisa temani kamu, Mami udah wanti-wanti Mas supaya kita gak tinggal serumah lagi seperti sebelumnya. Katanya takut khilaf."
"Gak papa. Orang dari kemaren aku juga sendirian di sini."
"Mas juga harus balik ke kontrakan. Acara besok cukup formal, baju dinas Mas di sana," lanjut Ibra lagi.
Raut lelaki itu masih terlihat belum rela meninggalkan Audi. Hal tersebut sangat Audi sadari sampai-sampai ia membuang nafas kasar. "Mas Ibra lagaknya udah kayak mau ninggalin anak di tempat asing. Meski aku bukan warga asli Jakarta, aku cukup tahu, kok, kalo daerah seputaran komplek ini. Lagian Mas Ibra gak usah khawatir, di sini mana ada orang jahat, ini komplek mewah yang pengawasannya ketat."
"Bukan gitu ...." Ibra menggantung ucapannya. "Mas cuman masih rindu sama kamu, hehe," lanjutnya membuat Audi berkedip datar.
"Gombal. Udah, ah, sana balik ke kontrakan! Gak jadi aku tawarin minum," ketus Audi seraya hendak membuka pintu dan berniat segera keluar dari mobil.
Kontan melihat itu Ibra pun kelabakan. "Eh, eh, Yang. Jangan marah, dong. Bercanda doang ya ampun. Ya emang faktanya Mas masih rindu kamu," ucapnya menahan lengan Audi, cepat.
"Ck, ini udah malam, Mas. Mau ngapain lagi, sih?" greget Audi, Ibra tak ubahnya seperti anak kecil yang sedang rewel.
"Cium dulu."
"Katanya tadi udah diwanti Mami. Gimana, sih?" kernyit Audi.
"Cium sedikit. Level satu aja. Ya?" Wajah tenang Ibra yang penuh kharisma, biasa membuat orang terpesona, sekarang malah membuat Audi geli sendiri.
"Apaan, sih, level-level. Emangnya seblak?" sentak Audi.
Sebenarnya ia malu. Kalau mau cium kenapa harus bilang dulu, coba? Kenapa gak langsung saja? Di drama-drama romantis, kan, gitu. Mana ada mau ciuman minta dulu, yang ada buyar chemistry-nya.
Atau Audi yang terlalu jarang nonton hingga ia ketinggalan zaman?
"Level satu itu kecup aja, Cla. Mas gak minta lebih, kok."
Kalau diingat-ingat, ia dan Ibra belum pernah benar-benar berciuman. Kecuali saat berkuda dulu, itu pun hanya kecupan angin lalu.
"Kayak yang waktu di The Ranch?" tanya Audi, sangat pelan.
Ibra mengernyit. "Emang ... kita pernah ciuman?"
Raut Audi berubah datar kembali. Tampang Ibra sungguh sangat mengesalkan di matanya. "Mas Ibra lupa?"
"Enggak. Itu, emang di sana kita sempat ciuman?"
"Ya itu berarti Mas Ibra lupa!" seru Audi kesal.
__ADS_1
"Tau, ah, nyebelin!"
"Cla, sebentar."
"Ih, apaan, sih. Mending aku turun."
"Bentar, dong, Yang. Kamu ngambekan banget, ih."
"Bodo!"
Audi cepat-cepat membuka kunci dan bersiap mendorong pintu ketika tiba-tiba saja Ibra menariknya dalam sekali sentak.
Belum sempat ia menjerit sesuatu telah membungkamnya hingga terdiam.
"Em—"
Audi melotot. Di depannya, wajah Ibra sudah terkikis tak ada jarak. Benar, pria itu menciumnya. Di bibir! Lagi! Dan ini bukan hanya satu detik seperti waktu itu.
Suasana mendadak hening, hanya ada suara jantung Audi yang berdentam di dalam sana. Audi memejamkan matanya rapat. Ini gila, bukan hanya menempel, Audi juga bisa merasakan sesapan pelan dari mulut Ibra.
"Gara-gara kamu ciumannya gak jadi level satu," cetus Ibra usai pria itu menjauh.
Audi mengerjap pelan. Ia membuka mata dan langsung berhadapan dengan pupil Ibra yang menyorot dirinya hangat.
Cup.
Ibra kembali mengecup singkat bibir Audi. "Jangan marah-marah terus, takutnya Mas lebih khilaf dari ini."
"Kamu yang ngambekan bikin gemas. Makanya jangan suka ngambekan kalau gak mau hamil duluan."
Audi melotot. "Ih, Mas Ibra apa sih!" serunya memukul bahu Ibra.
Sementara Ibra hanya terkekeh pelan. "Benar tau, Cla. Mas suka gemas kalau kamu lagi marah. Roman-romannya kayak minta diapa-apain gitu."
"Ih—"
"Stop ngambek," potong Ibra memperingati.
Tiba-tiba ia mencondongkan lagi wajahnya, membuat Audi otomatis mundur meski tetap tak bisa menghindar. Ibra berbisik di depan wajah Audi. "Asal kamu tahu, Mas suka wanita galak seperti kamu. Ingat, hanya kamu. Galaknya campur manja. Lucu banget."
Deg deg deg.
__ADS_1
Audi yakin Ibra bisa merasakan detak jantungnya yang meningkat. Apalagi wajahnya, entah sudah semerah apa sekarang.
"Jadi, kalau kamu mau selamat, kurang-kurangi bikin Mas gemas. Yakin saja, kalau Mas sudah kepalang gereget, bukan hanya gigit, kamu pasti akan habis sama Mas."
Ibra mengulas senyum, jemarinya terangkat mengusap rambut halus Audi. "Kamu abis warnain rambut, ya?"
"Ung? I-iya," sahut Audi terbata.
"Cantik. Meski Mas lebih suka yang warna cokelat, sih. Tapi hitam campur hijau pudar ini juga bagus. Cocok-cocok aja di kamu." Ibra berkata sembari menyentuh helaian rambut Audi yang tergerai. Ada sedikit curly di ujungnya yang membuat Audi kian terlihat mempesona.
"Andai kamu tahu, kamu yang selalu tampil cantik kiat membuat Mas merasa takut. Takut orang lain naksir kamu. Ya ... Mas percaya, sih, banyak laki-laki yang pastinya suka sama kamu selain Mas. Asal kamu gak balik suka mereka aja, Mas bisa menjamin keamanan posisi Mas di hati kamu, kan?"
Ibra menatap tepat di mata Audi. Keduanya saling beradu pandang dengan Ibra yang meminta jawaban. Sementara Audi justru semakin tergagap ditatap selekat itu. Ia hampir kesulitan membuka mulut seandainya tak ingat masih memiliki suara.
"I-itu ...."
"Jawab, Cla. Apa Mas bisa menjamin posisi Mas di hati kamu?" tanya Ibra serius.
"Ke-kenapa Mas Ibra tanya begitu?"
"Karena Mas khawatir."
Audi mengernyit. Kenapa Ibra harus khawatir?
"Kamu pasti tahu gosip kedekatan kamu dengan Gavin. Dan kamu pasti sadar itu membuat Mas resah. Setiap kali lihat beranda Instagram yang pertama Mas lihat adalah cuitan-cuitan tentang kamu dan aktor naik daun itu."
"Apa kamu juga tahu seberapa sering Mas kesal lihat foto-foto kamu dengan dia?"
"Kita cuman berteman," gumam Audi.
"Teman tidak perlu sedekat itu, kan? Kamu harus bisa membedakan saat kamu single dan punya pacar. Mas itu pacar kamu. Seandainya hubungan kita sedang tidak baik pun kamu harus bisa menghindari kedekatan dengan pria mana pun. Mas percaya kamu gak akan selingkuh, tapi Mas juga hanya pria biasa yang bisa cemburu."
"Intinya, kamu jangan terlalu dekat dengan lawan jenis. Berteman boleh, tapi jika sudah rangkul-rangkulan, mohon maaf Mas gak bisa terima. Mas itu orangnya egois, apa pun yang menjadi milik Mas, maka siapa pun tidak berhak menyentuh tanpa seizin Mas. Kamu mengerti?"
"I-iya. Emang kapan aku foto bareng Gavin? Kalaupun iya, kayaknya udah lama," cicit Audi gugup.
Raut Ibra berubah datar. "Really? Rasanya Mas belum lama lihat postingan Gavin yang lagi makan sama kamu di D'Vasto. Yakin udah lama? Dia baru siaran langsung empat hari lalu, lho. Sebelum Mas suruh kamu ke Jakarta."
Audi melotot terkejut. "Mas Ibra follow Gavin juga?"
Ibra mengendik. "Terpaksa, karena pacar Mas kayaknya berpotensi direbut sama dia."
__ADS_1
Ingin rasanya Audi menjerit. Kok jadi begini, sih? Bukannya tadi mereka lagi kecup-kecupan mesra, ya? Kalau begini ceritanya lebih baik Audi minta dicium Ibra, sampai ke level lima sekalian.