Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 136


__ADS_3

"Assalamualaikum warahmatullah ..."


"Assalamualaikum warahmatullah ..."


Keduanya selesai mengucap salam. Ibra mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, begitu pula Audi yang turut berdoa mengaminkan lafal yang Ibra lisankan.


Usai berdoa, Ibra menggeser duduknya hingga kini berhadapan dengan Audi. Mereka baru saja melaksanakan sholat sunnah sebagai pengantin baru. Dan hati Audi dibuat damai semenjak mendengar suara Ibra yang melafalkan surah-surah pendek ketika mereka sholat isya tadi.


Meski tak seindah para hafidz, bacaan ayat suci Al-Quran yang Ibra lantunkan sangat lancar dengan makhorijul huruf cukup sempurna Audi dengar, karena ia sendiri mengakui tak begitu fasih melafalkan huruf - huruf Arab dengan sempurna. Audi lancar mengaji, tapi masalah makhorijul huruf yang belum ia kuasai.


Audi melihat Ibra menggeser duduknya menjadi lebih dekat. Ia pikir Ibra akan langsung menyerangnya, nyatanya pria itu menyentuh puncak kepala Audi yang masih terlapisi mukena. Ibra mendekatkan mulutnya di dekat kening, lalu membisikkan lagi doa yang entah Audi saja tidak hafal apa artinya.


Usai membisikkan doa, Ibra lantas mengecup kening Audi lama. Pria itu lalu menjauh dan tersenyum seiring Audi yang membuka mata. Tangan besarnya mengusap pipi dan sisi wajah Audi. Matanya menyorot teduh nan hangat, menghadirkan ribuan rasa geli di perut Audi yang mendadak menginginkan Ibra seketika itu juga.


Audi menggigit bibir. Sosok Ibra di hadapannya saat ini ibarat malaikat yang menggoda. Entah ini hanya perasaan Audi atau wajah Ibra terlihat lebih bersih dan segar malam ini? Rasa ingin mengecup lelaki itu semakin tak terbendung hingga Audi tak dapat menahan diri untuk mendekati wajah Ibra dan mengecup pipinya sekilas.


Cup.


Audi mencium pipi Ibra lama. Ia lalu menjauh dan sama-sama mematung, keduanya saling menatap dalam diam. Sudut bibir Ibra kemudian terangkat pelan. Ia tersenyum, lalu terkekeh tak menyangka. Audi baru saja menciumnya, bukankah itu sebuah isyarat yang terbuka?

__ADS_1


"Sayang?"


"Um?" Audi mengerjap, sedikit gugup atas tindakan kecilnya barusan.


"Kita sudah halal sekarang," bisik Ibra. "Mas mau minta maaf atas sentuhan-sentuhan sebelumnya saat kita pacaran. Harusnya sebagai pria, Mas bisa menahan diri dan menjaga kamu dari fitnah apa pun. Mas betul-betul minta maaf, Cla."


Audi tersenyum, balas menyentuh tangan ibra di pipinya. "Kita sama-sama salah dan berdosa. Bukan hanya Mas, Audi pun turut andil karena menerima bahkan terang-terangan meminta saat kita berciuman. Jangan merasa bersalah seperti itu, yang penting sekarang kita memulai hidup baru di jalannya Allah. Sebagai suami istri kita harus banyak belajar lagi cara untuk saling memahami pasangan, cara untuk menjaga keharmonisan, bertahan dalam setiap ujian. Mas adalah nahkoda kapal pernikahan kita. Mas imam Audi, yang wajib Audi ikuti mulai saat ini. Semoga kita bisa sama-sama berjuang, saling mendukung dan menguatkan. Audi akan ikut Mas Ibra ke mana pun, apa pun yang terbaik untuk kita."


Ibra tersenyum haru, sekali lagi ia mengecup kening Audi sebelum kemudian membawa wanita itu ke dalam dekapan hangat. Matanya terpejam nyaman di balik bahu sang istri, begitu pula Audi yang tak lepas menguar senyum lembut penuh kebahagiaan.


Ia siap menjadi istri Ibra sekarang. Ia siap melayani lelakinya dalam hal apa pun, termasuk jikalau Ibra meminta haknya sebagai suami malam ini.


"Sama-sama, Mas Sayang. Audi juga bersyukur Tuhan mempersatukan kita dalam satu ikatan halal," balas Audi, dengan suara halus hingga membelai telinga Ibra dalam kedamaian.


***


Audi terengah dengan mata mengerjap sayu. Ia menatap lagi ke bawah, pada Ibra yang kini sibuk mencumbui sekujur tubuhnya dengan buaian panas yang menggelora.


Sebisa mungkin ia tak bersuara, mengingat mereka masih berada di rumah orang tuanya, di mana kemungkinan keluarga akan mendengar seandainya Audi atau pun Ibra bergaduh di tengah malam.

__ADS_1


Keduanya hanya bisa mengeluarkan nafas berat. Meski sulit, Ibra juga menyarankan Audi untuk melenguh sepelan mungkin guna menghindari rasa malu.


"Engh ... Mas ..." Audi berbisik halus ketika lidah Ibra membelai sesuatu di bawahnya. Suara decapan mengalun lirih memancing rasa panas yang kian menyiksa keduanya.


Ibra bangkit, kembali merangkak menindih Audi. Ia mengecupi semua tanpa terlewat, menciptakan tanda merah yang kini menjadi kepuasan tersendiri baginya.


Nafas mereka sama-sama terengah ketika Ibra meraup lagi bibir Audi dalam gemaman rakus penuh gairah. Sesekali Ibra menggeram dengan nada rendah. Pria itu sudah berada di ujung ketegangan ketika Audi bisa merasakan sendiri sesuatu yang mengeras menyenggol perutnya.


Ia melenguh, tangan Ibra tak berhenti membuai setiap lekuk tubuhnya, mendistraksi seluruh perhatian Audi hingga hanya tertuju padanya.


Ciuman Ibra beralih ke leher, dan bersamaan dengan itu Ibra juga melebarkan paha Audi untuk kemudian memulai sesuatu yang membuat tubuh snag istri seketika menegang.


Dorongan lembut berhasil membuat Audi meringis pelan. Ia meremat bahu keras Ibra sambil terpejam menggigit dada lelaki itu. Ibra menggeram seiring tubuhnya kian menusuk memasuki lembah sempit nan hangat milik Audi. Perasaan luar biasa melingkupi keduanya meski hal asing tersebut membuat Audi menahan tangis kesakitan.


Audi terisak lirih di sela ciuman bibir yang kembali Ibra berikan. Dan akhirnya ... setelah melewati kesulitan cukup lama, Audi pun resmi menyerahkan kepemilikannya pada Ibra, suami yang kini juga mendesah lega serta wajah yang tersenyum menatap haru padanya.


"Claudia Mareeta Halim, mulai saat ini kamu hanya milik Ibrahim Maulana Edzar seorang," bisiknya teduh, disusul kecupan lembut seiring tubuhnya yang mulai bergerak pelan.


Audi hanya melenguh menerima setiap perlakuan Ibra. Betapa ia tak bisa membendung letupan hatinya yang menyerukan kata bahagia. Audi senang, karena akhirnya ia bisa memberikan kewajiban pertamanya sebagai istri kepada Ibra, pria yang ia puja selama puluhan tahun lamanya.

__ADS_1



__ADS_2