
Suasana idul fitri yang ramai, seluruh keluarga saling maaf-maafan, bersalaman satu sama lain dengan gurau canda tawa. Satu bulan seolah tak terasa telah usai, hari raya yang dinanti semua orang pun tiba, bahkan kini sudah lewat beberapa hari, namun hawa-hawanya masih terasa.
Audi termenung menghadap jendela kamar, tak lama sepasang lengan terulur dari belakang, melingkari lehernya dan memeluknya dalam dekapan. Satu bisikan lembut mampir di telinga Audi. "Selamat pagi, Sayang?"
Audi menyentuh lengan Ibra yang merangkulnya, mendongak sedikit guna melihat wajah lelaki itu. "Pagi."
Ibra tersenyum, mengecup kilat bibir Audi hingga gadis itu langsung memundurkan wajah. "Mentang-mentang udah bukan bulan puasa. Kalau Mama sama Papa lihat gimana?" sungut Audi memperingati.
Namun Ibra tetap tersenyum. "Udah siap? Kita berangkat? Mang Agus udah nungguin di depan."
Mang Agus adalah sopir keluarga Audi. Sesuai rencana Ibra, hari ini mereka hendak bertolak ke luar negeri guna mengobati wajah Audi.
Audi sudah rapi dengan pakaian casual serta ankle boots yang membalut kakinya. Kepalanya tertutup ciput berwarna hampir senada dengan jaket jeans yang dikenakan, yaitu mustard. Anting-anting di telinga menambah kesan glamour dan berkelas. Audi perfect dilihat dari sisi manapun. Hanya saja Audi tidak percaya diri dengan wajahnya, alasan mengapa ia tetap memilih menggunakan masker meski Ibra khawatir ia akan pengap. Namun akhirnya lelaki itu pun mengerti dan membiarkan Audi mencari kenyamanannya sendiri dalam berpakaian.
Baju mereka sama, karena sebetulnya Ibra yang mempersiapkan perpaduan fashion ini. Ibra termasuk lelaki yang mengerti gaya, hal yang Audi syukuri karena ia tidak perlu susah jika ingin berbagi pikiran mengenai apa yang akan dikenakan, karena Ibra selalu nyambung kalau diajak berdiskusi.
"Mas, penampilan Audi udah rapi, kan? Di luar masalah wajah, seenggaknya aku masih terlihat on point dalam hal pakaian."
Ibra tersenyum, sekali lagi mengecup bibir Audi. "Kamu cantik, Sayang. Luar dalam kamu udah cantik. Masalah baju, kamu udah perfect banget, kok. Masih seperti Audi selebgram terkenal. Kamu tenang aja, Mas tahu selera kamu dalam berpakaian. Udah pasti pas."
Audi turut tersenyum. "Tapi, Mas salah soal ketenaran. Aku udah gak tenar sekarang. Job aja banyak yang ditarik, endorse pun sepi. Apa lagi sekarang kan udah gak ada Mba Tian."
Wajah Audi tampak layu ketika menyebut nama Tian. Ibra segera memeluk gadis itu lagi dari belakang, menumpukan dagunya di bahu Audi sambil tersenyum tenang.
__ADS_1
"Belum lagi Mardon ..."
"Sssttt ... udah. Kamu jangan mengungkit kesedihan. Mereka udah tenang di sana. Kalaupun masih ada, pasti yang mereka mau adalah kamu yang fokus sama kesembuhan," tutur Ibra.
"Kamu bisa, Sayang. Ayo kita bangkit sama-sama. Rezeki itu tidak akan ke mana. Kalau rezekimu sudah padam di entertaint, masih ada lahan lain yang bisa kamu coba. Atau lebih baik kamu gak perlu memikirkan itu, karena Mas sebisa mungkin akan kasih apa pun yang terbaik buat kamu," tambahnya seraya mengecup telinga Audi yang terhalang ciput.
"Setelah Mas resmi keluar dari kesatuan, kamu bersedia kan kalau kita menikah?" tanya Ibra kemudian.
Audi menoleh pelan membalas tatapan lelaki itu. Ia pun balik bertanya ragu. "Memangnya Mas Ibra yakin mau hidup sama aku? Aku aja entah kapan bisa jalan lagi. Mas mau sampai kapan gendong dan dorong aku terus?"
Ibra memandang teduh sang kekasih dengan sorot memuja. "Harus berapa kali Mas jelaskan supaya kamu mengerti, bahwa Mas bersedia jadi kaki kamu ke mana pun kamu pergi."
Ibra menjawil pelan hidung Audi. "Gemes lama-lama. Kamu kok jadi sering ngeluh? Mas jadi pengen cepat halalin kamu." Ia mengulum senyum bermaksud menggoda Audi, supaya gadis itu tak terus larut dalam rasa psimisnya.
"Malah ngobrol. Ayo berangkat, nanti kita telat, lho." Ibra melepas pelukannya dari Audi. Ia segera mengambil barang-barang Audi seperti ponsel, dompet, headset, pouch make up, dan lain sebagainya untuk dimasukkan dalam satu tas yang sama.
Ibra menoleh pada Audi ketika hendak menutup resleting tas. "Ini udah semua, kan? Ada yang mau kamu bawa lagi?"
Audi menggeleng. "Enggak, itu udah barang - barang yang aku kumpul semua. Eh, lupa, bantal lehernya, Mas. Tolong ambilin di lemari wardrobe, kemarin baru dicuci sama Bibi."
Ibra pun lekas masuk ke sana dan mengambil apa yang diminta kekasihnya. Selepas itu Ibra langsung kembali dan mulai mendorong kursi roda Audi keluar kamar.
Sampai di teras mereka disambut tawa serta obrolan dari para orang tua. Orang tua Ibra, orang tua Audi, dan beberapa asisten rumah yang penasaran dengan keberangkatan keduanya.
__ADS_1
Mami Safa yang paling pertama menyadari kehadiran putranya dan sang calon menantu di sana. Ia lekas berdiri dan menghampiri Audi dengan sumringah. "Eeehh ... Audinya udah siap? Ih, kalian kece banget, deh. Jaketnya cakep, matching banget. Serasi pol!" serunya heboh.
Ibra hanya terkekeh disertai gelengan pelan, sama seperti Edzar yang kini tersenyum melihat sang istri yang masih saja lincah dan cerewet. Dia selalu antusias melihat apa pun yang menurutnya menarik.
Audi turut tersenyum di balik masker. Sesaat kemudian, Lalisa dan Dava menghampiri putri mereka. Keduanya merangkul Audi dalam dekapan. Dava bahkan mengecupi pucuk kepala Audi berkali - kali.
"Semangat, Sayang. Kamu pasti bisa sembuh lagi. Maaf kami gak bisa ikut sekarang, mungkin nanti setelah beberapa hari. Kamu tahu sendiri dua minggu habis lebaran kadang suka ada saja yang datang bersilaturahmi. Gak enak kalo kita semua pergi," bisik Dava yang tak henti mengusap pipi serta permukaan tangannya.
Lalisa juga turut menciumi pipi anaknya. Hidungnya bahkan berair, persis matanya yang kini tampak merah dengan sorot mata seakan berusaha ikhlas melepas Audi tanpa dirinya. "Jaga diri baik-baik, Nak. Nanti Mama dan Papa sebisa mungkin nyusul kamu sama Ibra."
Audi ikut tersenyum menahan tangis. "Gak papa, Ma, Pa. Audi sama Mas Ibra aja udah cukup, kok. Kalian tunggu Audi dengan wajah yang sudah membaik aja."
Safa menatap mereka semua haru, ia mendongak memandang sang putra yang juga berekspresi tak jauh berbeda darinya.
"Ibra, kamu jaga Audi baik-baik. Jangan kecewakan Mami sama Uwa kamu. Sebagai lelaki, kamu punya tanggung jawab yang besar membawa seorang anak perempuan jauh dari keluarganya. Ya, Nak, ya?" Safa mengusap bahu putranya yang lantas mengangguk yakin.
"Pasti, Mi. Ibra pasti akan menjaga Audi dengan baik."
Ia lalu mengedar menatap semuanya. "Kalau begitu, Ibra sama Audi pamit. Assalamualaikum?"
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati."
Ibra membawa Audi ke kursi penumpang belakang di mobilnya dengan Mang Agus sebagai sopir. Audi memandang keluar jendela, menatap keluarganya yang semakin detik semakin jauh dari jangkauan mata.
__ADS_1
Audi dan Ibra siap menginjakkan kaki di bandara, untuk kemudian terbang ke Korea. Keduanya sama-sama berdoa yang terbaik untuk Audi serta perjalanan mereka.