Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 74


__ADS_3

"Ibra, udah, itu biar Mang Yunus yang lanjutin. Nanti baju kamu kotor, mending sini ngeteh sama Oma. Sini!"


"Gak papa, Oma. Ibra senang bantuin Oma," sahut Ibra sambil kembali mengorek tanah. Mengukur rata-rata kedalaman, lalu menabur pupuk dalam lubang yang ia buat.


Jika kalian bertanya-tanya, Ibra tengah menanam bunga dan sejumlah tanaman hias lain di halaman rumah Oma Halim. Sebenarnya itu pekerjaan Mang Yunus, tukang kebun yang kerap mengurus pekarangan Oma. Tapi karena Mang Yunus katanya menengok sawah dulu, alhasil beliau terlambat datang.


Kebetulan Ibra tak ada kerjaan dan bingung harus melakukan apa untuk membunuh bosan, jadi daripada nganggur mending ia saja yang lanjutkan menanam. Ibra terbiasa memiliki jadwal padat, dan saat senggang seperti ini ia tetap tak bisa diam.


Selepas dari rumah Uwa Dava, Ibra lekas mengunjungi sang oma yang juga tinggal di sekitaran Bandung. Jaraknya dekat, hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh menit untuk Ibra sampai di sana.


Ibra dengar dulu mereka aslinya orang Jakarta, entah bagaimana ceritanya keluarga besar Halim berbondong-bondong hijrah ke Bandung. Kembali pada tanaman, Ibra baru saja selesai menanam satu tanaman lagi setelah sebelumnya menghabiskan 5 buah pohon kecil.


"Ibra! Oma bilang sudah. Kamu ini jauh - jauh kemari malah berkebun. Sini, temani Oma ngeteh, tehnya keburu dingin!" Oma Halim berseru lagi dari teras beranda.


Wanita baya itu duduk di kursi rotan dengan dua cangkir teh dan setoples kecil kukis cokelat yang terlihat enak.


Usai kepergian Opa Halim, Oma memang kerap merasa kesepian. Hal itu yang membuatnya senang bukan kepalang ketika cucu-cucunya datang berkunjung. Oma selalu memanjakan mereka, termasuk Ibra sekalipun yang sudah sangat dewasa.


Setiap hari Mami Safa dan Uwa Lisa juga kerap menengok wanita itu. Mengirim makanan atau membawa apa saja ketika mereka habis belanja. Oma menolak tinggal bersama anak-anaknya, ia lebih senang tinggal di villa lama, di mana dulu ia menghabiskan waktu dengan sang suami di sana.


Oma enggan meninggalkan kenangan bersama Opa Halim. Ibra mengerti. Siapa, sih, yang tidak sedih ditinggal orang tercinta? Ibra juga pasti sama seandinya ia berada di posisi Oma.


Ibra beranjak dari jongkoknya, meninggalkan tanah yang sudah kembali ia tata, lalu cuci tangan di keran sebelum mendekat menghampiri Oma Halim di teras. Ibra melesakkan diri di kursi rotan sebelah wanita itu, meraih cangkir teh dan menyeruputnya perlahan.


Kebetulan daerah yang ditinggali Oma masih sangat dingin dan sejuk. Selain berada di dataran tinggi, villa Oma juga diapit beberapa bukit. Ibra senang setiap kali berkunjung, ia selalu betah tinggal berlama-lama di sana.

__ADS_1


"Gimana kerjaan kamu? Lancar?" Oma mulai buka suara.


"Alhamdulillah, Oma."


"Kamu belum ada dinas ke luar negeri lagi, ya?"


"Saat ini belum, Oma. Kenapa memangnya?"


"Enggak kenapa-napa. Oma kangen saja kamu bawa oleh-oleh aneh gitu, hehe."


Ibra ikut terkekeh. "Nanti Ibra bawain kalau ke luar kota atau negeri."


Oma Halim tertawa merangkul bahu lebar sang cucu yang terasa kekar. Dulu ia sering merasakan bahu selebar ini milik suaminya, sekarang sang cucu juga tak kalah gagah dengan opanya, malah justru otot Ibra terasa lebih kuat karena mungkin efek pelatihan yang tempa.


Ibra menggeleng - geleng geli.


"Yang penting cucu Oma ini sehat, kembali dari tugas dengan selamat. Itu semua sudah cukup bagi Oma, dan tentu saja Mami Papi kamu."


Ibra tersenyum teduh. Ia kembali menyeruput tehnya dengan khidmat. Sesekali ia mencomot kue di toples dan memakannya lahap.


"Oma bikin kue lagi?"


Oma Halim menggeleng. "Enggak, yang ini beli di tetangga sebelah sana. Oma malas akhir-akhir ini. Mending beli saja langsung jadi."


Ibra mengangguk paham. "Oma memang harus lebih banyak istirahat."

__ADS_1


Tak lama seorang wanita baya lain, yang diperkirakan memiliki umur di atas Wa Lisa muncul membawa segelas jus jeruk untuk Ibra.


"Makasih, Bi." Ibra mengangguk disertai senyum ramah.


Bi Inah, janda yang juga seorang tunawicara, dia kerap menemani Oma di villa. Bi Inah membalas anggukan Ibra lalu kembali memasuki rumah.


"Itu jeruk peras asli," tutur Oma Halim. "Cobain, deh, pasti seger. Oma dikasih Wa Haji dari hasil panennya."


"Wah, serius, Oma?"


Oma Halim mengangguk. Ibra pun mulai menyedot sedikit minuman tersebut. Ini bukan jus. Jeruknya diperas langsung dan dikasih es batu. Ibra mengangguk-angguk puas. "Enak, Oma."


"Ya kan? Nanti Oma bekali, deh, jeruknya."


"Gak usah, Oma, buat di sini aja."


"Gak papa, lagian Oma jarang minum begituan sekarang. Takut asam lambung naik."


Iya juga, sih. Pikir Ibra.


"Ya udah, nanti Ibra minta sedikit buat Audi."


Saat Ibra menyebut nama Audi, raut Oma Halim berubah serius. Ia sampai menghadap penuh pada pemuda itu.


"Ngomong-ngomong Audi, kamu benar ada hubungan sama dia?"

__ADS_1


__ADS_2