Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 140


__ADS_3

"Yang, baju batik Mas yang baru kita beli minggu lalu itu, kamu simpan di mana? Kok, di ruang wardrobe gak ada?" Ibra keluar hanya dengan menggunakan kimono handuk. Ia baru saja selesai mandi ketika melihat-lihat lemari di ruang wardrobe.


Audi yang tengah membereskan tas Ibra, menoleh sesaat sambil berpikir. "Emang di sana gak ada, Mas?"


"Kalau ada, Mas gak mungkin tanya kamu, Sayang."


Audi menghentikan gerakannya dan menyimpan tas Ibra di pinggir ranjang. Ia lekas memasuki ruang wardrobe guna mencari pakaian yang Ibra maksud. "Masa gak ada, sih? Aku sendiri yang setrika waktu itu."


Ibra mengekori Audi di belakang. "Beneran gak ada, Sayang," ucapnya kekeh.


Audi jadi tengsin sendiri karena ia yakin sudah menyimpan batik itu di lemari gantung yang memuat pakaian - pakaian formal milik Ibra. Sekitar lima menit Audi menyibak satu persatu baju yang tergantung, akhirnya ia menemukan sesuatu yang dicari.


Dengan sedikit kesal Audi menarik baju batik tersebut dengan disertai decakan. Ia menoleh geregetan pada Ibra yang kini meringis sambil menggaruk tengkuknya yang basah. "I-itu ... tadi gak ada, Yang."


"Gak ada? Mata Mas ke mana sampe bilang gak ada? Mas Ibra ini orangnya teliti, aku yakin Mas cuman mau ngerjain, kan?" sungut Audi.


"Sayang ..." mohon Ibra. Wajahnya melas melihat raut Audi yang marah.


Namun Audi tak menghiraukan. Ia menyerahkan kemeja batik panjang itu setengah paksa, hingga Ibra refleks langsung memeluknya. Tepat ketika Audi hendak berbalik pergi, ia melihat sesuatu yang aneh di lemari gantung tadi. Sontak tubuhnya mundur kembali dan mengamati space kosong, tempat di mana baju Ibra tergantung sebelumnya.


Dua lembar kertas persegi panjang tersampir di salah satu saku kemeja Ibra. Kertas tersebut menyembul keluar, pun warna hitam pada kain membuatnya mencolok dan langsung terlihat oleh mata siapa pun yang lewat.

__ADS_1


Audi meraih dua lembar kertas itu yang ternyata sebuah tiket pesawat. Di sana tertulis penerbangan Tokyo-Jepang dalam alamat tujuan. Audi menoleh pelan pada Ibra yang kini tengah tersenyum manis menatapnya. Entah ke mana kemeja batik yang tadi dijejalkan Audi, tangan kosong Ibra kini mendekap Audi erat dari belakang.


Ibra sedikit menggoyangkan tubuh mereka, dagunya bertumpu di puncak kepala Audi, posisi yang paling Ibra suka karena menurutnya tinggi Audi begitu pas ketika ia peluk. "Ayo kita liburan," bisiknya halus.


Audi masih tergemap dalam dekapan Ibra. Matanya tak lepas mengamati tiket di tangannya sambil sesekali berkedip. Pada saat itu Ibra kembali berbisik. "Maaf, karena sebulan ini Mas sibuk gak ada waktu buat honey moon kita." Raut Ibra terlihat bersalah. "Mas minta maaf, Cla. Karena selama menikah belum ajak kamu jalan-jalan. Sekarang Mas ambil cuti, untuk kamu, untuk kita, biar kita bisa liburan dan mewujudkan bulan madu yang kamu impikan."


Audi setia bergeming dan larut dalam bungkam ketika Ibra menciumi rambutnya lama. "Jangan marah lagi, Sayang. Mas galau banget tahu, kamu diamin selama seminggu. Mas takut setiap kamu izin keluar, takut banget kamu gak pulang karena marah sama Mas."


Mata Ibra terpejam menghirup wangi menenangkan yang menguar dari tubuh Audi. Lengannya melingkar erat di sepanjang bahu sang istri. Audi menoleh pelan, melirik Ibra yang mendekap hangat tubuhnya dari belakang.


Memang, sudah seminggu ini hubungan mereka sedikit dingin. Semua gara-gara Audi yang mengajak Ibra berdebat masalah liburan. Pasalnya sejak awal menikah lelaki itu belum kunjung mengajak Audi bulan madu seperti yang dijanjikan. Alih-alih bulan madu, Ibra malah sibuk ke sana kemari bersama partai politiknya, melakukan kampanye untuk persiapan pileg tahun depan.


Audi kesal tentu saja, belum lagi Ibra kerap melarangnya bepergian dengan alasan keselamatan. Audi hanya boleh pergi bersama Ibra, atau supir mereka yang memang sudah Ibra percaya. Audi bosan, dan puncaknya hari Selasa lalu, ia benar-benar meluapkan keluh kesahnya pada Ibra. Audi marah, menangis, semua keluhan yang mengganjal tentang ia yang butuh perhatian Ibra keluar begitu saja.


"Jangan marah lagi," bisik Ibra. Matanya memandang lekat pupil Audi yang terlihat bening.


Ibra membalik tubuh Audi hingga menghadap ke arahnya. Ia menyampirkan anak rambut wanita itu dan menyelipkannya di sela telinga. Ibra kecup keningnya lama, lantas turun ke hidung, dan yang terakhir ia labuhkan di bibir. Betapa Ibra rindu kedekatan mereka yang seperti ini.


"Mas minta maaf, Sayang. Tolong maafin Mas, ya? Setelah ini Mas janji kita akan sering-sering jalan berdua. Gak peduli mau itu malam sepulang Mas kerja. Mas tahu kamu suntuk di rumah terus."


"Maaf, kalau selama ini kamu merasa terkekang dengan peraturan Mas. Mas cuman gak mau terjadi apa-apa sama kamu. Sejak kamu kecelakaan di Salatiga dulu, Mas benar-benar kesulitan merasa tenang setiap kali kamu bepergian tanpa Mas. Tolong kamu maklumi yang satu ini. Mas gak bisa izinin kamu pergi sembarangan tanpa ditemani. Kamu bisa mengerti, kan?"

__ADS_1


Lama Audi terdiam saat mata mereka bertemu saling pandang, menatap dalam satu sama lain. Ia pun berucap lirih di hadapan Ibra. "Aku jenuh."


Ibra mengangguk. "Mas tahu. Makanya sekarang kamu siap-siap, kita ke bandara, jadwal penerbangan kita sekitar 3 jam lagi. Cukup untuk packing, kan?"


Audi mengangguk lamat. "Jadi ... ini kita beneran mau ke Tokyo?"


Ibra terkekeh, mengecup sekilas bibir Audi lalu membawa wanita itu untuk kembali ia dekap. "Bener, lah, Sayang. Itu kamu baca, dong, tiketnya. Masih kurang jelas juga?"


Audi mengulum senyum, ia menggeselkan wajahnya di dada Ibra yang terbalut kimono tebal. Ibra meraup tangan Audi yang seenaknya menari di sana. "Jangan pancing - pancing sekarang, yang ada kita gagal berangkat gara - gara kamu udah goda Mas dari sini."


Audi melemparkan cengiran sebelum menjauhi tubuh Ibra.


"Jadi, Mas dimaafin, kan? Kamu udah gak marah lagi?"


Audi menggeleng. "Tapi, Mas beneran kita hanya liburan, kan? Mas gak boleh bawa - bawa pekerjaan ke sana. Janji?"


Ibra mengangguk mantap. "Janji, Sayang. Sekarang ... Mas boleh minta level limanya, dong?" ucapnya jail. Rautnya jenaka menatap Audi dengan kedua alis bergerak naik turun.


Audi manyun. "Katanya mau packing? Tadi siapa yang bilang jangan goda menggoda dulu? Enggak, ah, nanti kebablasan, terus kita lupa waktu dan gak sempet packing. Kalau itu terjadi, aku bakal marah lagi sama Mas Ibra!"


"Y-ya jangan, dong, Yang. Ya udah, sekarang kita packing." Mendengar Audi yang akan marah lagi, Ibra jadi takut dan memilih untuk mengalah saja.

__ADS_1


Dengan wajah merengut seperti anak kecil, Ibra menurunkan satu persatu koper mereka dan membantu Audi mengemas pakaian.


Sabar, sampai di Jepang nanti, Ibra akan menggarap Audi sepuasnya. Pokoknya jangan sampai lepas! Hey, dia sudah puasa selama seminggu!


__ADS_2