Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 61


__ADS_3

Sudah lama sejak Ibra melepas lajangnya bersama Shireen, Ben sudah lumayan lupa dengan wajah wanita itu. Ini pertama kali Ben bertemu lagi dengan Shireen setelah sekian tahun berteman dengan Ibra.


Wanita itu masih sama sederhana, figurnya sebagai seorang guru begitu jelas dalam sekali lihat. Wajahnya yang bersahaja cukup mencerminkan bahwa ia seorang yang terpelajar.


Namun dari semua itu, hal yang menarik di mata Ben adalah interaksinya bersama Ibra. Shireen terlihat kaku seolah mereka adalah orang asing yang sebelumnya tak pernah bertemu. Terlebih Ibra yang begitu formal ketika bicara dengan Shireen seakan menunjukkan hubungan keduanya yang seratus persen merenggang setelah bercerai.


Ben kurang tahu cerita Ibra di masa lalu, ia mengenal Ibra sejak mereka sama-sama diangkat menjadi paspampres, begitu pula Ben yang enggan terlalu ikut campur permasalahan orang. Ia hanya senang menggoda ketenangan Ibra tanpa sekalipun tahu hubungan rumit yang dialami pria itu.


Seperti sekarang, Ben hanya diam dan menurut ketika Ibra menyuruhnya menemani wanita yang tak lain adalah mantan istrinya. Pria itu mendapat giliran menguji coba mobil hingga meninggalkan mereka berdua dalam kecanggungan.


Ben yang termasuk humble mendadak kikuk di depan Shireen. Ia hanya bingung menghadapi situasi di mana ia harus terlibat di tengah-tengah kedua orang tersebut.


"Mba habis les di mana?" Ben mencoba memulai pembicaraan.


Shireen yang semula tengah mengedarkan pandangan otomatis menoleh menatap Ben. Ia tersenyum kecil menjawab pria itu. "Masih sekitaran sini, Mas. Makanya bisa lihat karena kebetulan lewat. Ngomong-ngomong ini acara apa, ya, Mas?"


"Oh, ini program uji coba mobil listrik yang baru diluncurkan perusahaan otomotif cabang Indonesia, Mba. Kebetulan kami para paspamres yang menjadi pengujinya."


"Oh ..." Shireen mengangguk seraya bergumam panjang. "Kenapa harus paspampres?"


Ben pun menjawab dengan guyonan. "Mungkin karena nyali kami lebih kuat, hahaha."


Mendengar itu Shireen turut terkekeh mengulum senyum. Tidak seperti pekerjaannya yang mencerminkan sikap tegas, Ben terlihat lebih humoris dari kelihatannya.


Tak lama Ibra keluar dari salah satu mobil. Ia bercakap-cakap sebentar dengan pihak pengembang mobil tersebut, lalu berjalan menghampiri Shireen dan Ben.


"Mau pulang kapan?" tanya Ibra pada Shireen.

__ADS_1


Shireen sedikit terlonjak mendapat pertanyaan itu. "Eh, itu aku lagi nunggu bus," ujarnya gugup.


Ibra terlihat datar, dan itu membuat Shireen tak nyaman dibuatnya.


Tiba-tiba Ben menginterupsi. "Tapi, tadi busnya udah lewat, Mba."


Serentak Ibra maupun Shireen menoleh.


"Serius, Mas?"


Ben mengangguk disertai ringisan. Kenyataan tersebut membuat Shireen bingung seketika. Kalau busnya sudah lewat, terpaksa ia harus naik ojol atau bahkan gocar.


"Oh, ya udah gak papa, nanti saya pesan ojek aja."


"Gak usah, nanti saya antar, sekalian ada yang mau saya omongin sama kamu," sahut Ibra.


Hari berangsur petang, sesuai janjinya Ibra pun mengantar Shireen pulang. Ia meminjam motor Ben, sementara Ben sendiri dengan sukarela naik ojol.


Ibra maupun Shireen tak ada yang bersuara ketika di perjalanan. Hingga beberapa saat sebelum mereka sampai di rumah Shireen, Ibra menghentikan motor dan meminta Shireen turun terlebih dahulu untuk bicara.


Shireen berdiri canggung menatap Ibra yang duduk menyamping di atas jok motor. Pandangan lelaki itu serius, sudah pasti yang ingin dibicarakan bukanlah masalah sepele.


Ibra berdehem, lalu mengambil dan membuang nafas sebelum membuka mulut. Ia kemudian menatap Shireen yang langsung merunduk begitu ia tatap.


"Maaf, mungkin beberapa hari ini sikap saya membuat kamu tidak nyaman. Saya bukan marah sama kamu, saya ... hanya marah pada keadaan kita," ujarnya.


Ibra memandang lurus aspal di kakinya dengan pandangan tak berarti. Ia pun lanjut bicara. "Keadaan kita yang entah kenapa semakin hari semakin sulit saya jalani. Saya bukan tidak ikhlas menjadi ayah Kenan, tapi saya juga kesulitan karena hal itu."

__ADS_1


Ibra kembali menatap Shireen. Kali ini Shireen mau mendongak membalas Ibra. "Apa Mas Ibra sedang bicara tentang Audi?"


Hening. Lama Ibra tak menjawab. Dari sorotnya Shireen sudah tahu bahwa tebakannya benar.


"Ini tidak sepenuhnya berkaitan dengan Audi, karena sebetulnya hal ini perlu kita bicarakan sebaik mungkin."


"Saya punya kehidupan, kamu punya kehidupan. Kamu punya Kenan untuk kamu jaga, dan saya juga punya Audi untuk dijaga perasaannya. Saya memang berjanji pada Rega untuk menjaga kalian, itu semua tak lepas dari dukungan finansial yang dia berikan."


Shireen berkerut tak mengerti. "Maksud Mas Ibra?"


Beberapa detik Ibra bungkam sampai kemudian ia memberitahu Shireen yang sebenarnya. "Rega meninggalkan uang asuransi pada saya untuk saya gunakan menghidupi kamu dan Kenan."


"Semua uang yang saya berikan ke kamu itu milik Rega. Dia titip ke saya karena takut seandainya kamu yang pegang langsung, kamu tidak bisa menghindar dari keserakahan ibu kamu. Rega menabung mati-matian untuk itu. Dia bilang uang itu sudah dikumpulkannya sejak sekolah dari hasil kerja paruh waktu. Menurut saya wajar Rega begitu menjaga uangnya, karena mungkin dia juga takut uangnya digunakan untuk sesuatu di luar keperluan."


"Rega sangat mencintai kamu dan Kenan sampai-sampai dia sudah mempersiapkan tunjangan masa depan untuk kalian. Saya salut dengan cara dia mengatur finansial. Jika dilihat dan dipikir mungkin penghasilannya selama ini tak seberapa, tapi kita tidak tahu seberapa sering dia menyisihkan hasil jerih payahnya hingga menjadi nominal yang lumayan besar jumlahnya."


"Kamu harus bersyukur pernah memiliki suami seperti Rega. Dia bukan orang miskin, dia hanya berusaha sederhana agar kalian tak kesulitan di masa mendatang, bahkan setelah dia pergi sekalipun."


Shireen tak tahu harus berkata apa. Fakta-fakta baru tentang Rega yang barusan Ibra kemukakan membuat perasaan Shireen berubah tak karuan. Rega sudah seniat itu memikirkannya, dan Shireen merasa menjadi wanita paling tak tahu diri karena sudah mengkhianati perasaan suaminya dengan cara berharap pada Ibra.


Bayangan-bayangan Rega yang sering dibuat kesal ibunya semakin membuat Shireen ingin menangis. Ia benar-benar wanita jahat karena membiarkan saja saat lelaki itu ditindas dan dihina sedemikian rupa. Seandainya Shireen berusaha lebih keras membela lelaki itu, mungkin Shireen tak akan merasa sebersalah ini pada Rega yang nyatanya sudah tiada.


"Saya tidak keberatan menjaga Kenan untuk Rega, saya bisa pastikan Kenan mendapat pendidikan terbaik ketika sudah besar kelak. Tapi, mulai sekarang saya mungkin tidak bisa sering mengunjungi dan menjenguknya seperti biasa. Saya harap kamu bisa membuat Kenan mengerti, dan tahu tentang makna dua orang yang sudah berpisah. Bagaimana pun saya punya masa depan yang harus diperjuangkan, saya tidak mau sesuatu yang sudah lama diharapkan harus hilang begitu saja. Untuk itu harus ada salah satu yang dikorbankan, bukan? Saya bukannya lebih memilih Audi dan meninggalkan Kenan, Kenan akan tetap menjadi titipan paling penting di hidup saya, namun mungkin prioritasnya sudah berbeda. Saya harap kamu bisa menerima keputusan saya, Shireen."


Shireen mematung, sama seperti matahari yang berangkat ke peraduan, perasaan Shireen juga mendadak luruh meninggalkan segenggam hati yang kalah sebelum berjuang.


Ibra sudah memutuskan, itu berarti pria itu sangat serius untuk memiliki Audi.

__ADS_1


Kenan, Mama minta maaf, Nak. Kamu harus ikhlas melepas ayah Ibra untuk berjuang menempuh hidup barunya.


__ADS_2