Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 28


__ADS_3

"Di!"


Audi tersentak mendengar panggilan Tian. Ia menoleh.


"Ayo?"


Beberapa saat Audi mengerjap. Ia lupa tengah bekerja. Hari ini pemotretan kedua untuk banner iklan. Audi lekas mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya di ruang tunggu. Ia baru saja selesai di make up dan ganti baju.


Audi melakukan posenya dengan baik, sesuai arahan sang fotografer. Kali ini ia berkolaborasi dengan aktor pria yang tengah naik daun di perfilman layar lebar.


Padahal dalam hati Audi sedikit menyayangkan, kenapa ia tidak dipasangkan dengan aktor Korea yang juga menjadi wajah brand ini.


Ah, ya sudah lah. Yang penting dibayar.


Audi kembali tersenyum ke arah kamera. Semuanya berjalan lancar sebelum tiba-tiba saja fotografer mendadak meminta Audi dan lawan mainnya berpose romantis.


Sontak Audi menoleh pada Gavin, si aktor yang kini juga tengah menatapnya sembari mengangkat alis.

__ADS_1


Audi meringis canggung. Hey, mereka tidak saling kenal. Bagaimana Audi bisa berperan romantis dengan pria itu? Dia tidak jago akting.


Karena Gavin yang datang terlambat, Audi belum sempat mengobrol dan kenalan langsung. Jadi mereka memang belum pernah bicara satu sama lain.


Mengetahui keberatan Audi, Gavin sebagai pria pun bersikap gentle dan bertanya. "Kenapa jadi romantis? Bukannya ini cuma pemotretan brand kosmetik? Eh, skincare maksudnya."


Si abang fotografer pun menjawab. "Justru itu untuk lebih menarik minat kaum buciners kita harus membuat sesuatu yang berbeda. Ya ... dengan menyematkan suatu cemistry yang kecil sepertinya cukup," ucapnya santai sekaligus kurang masuk akal bagi Audi maupun Gavin.


Tapi karena mereka dibayar dan sudah menandatangani kontrak, mau tak mau menurut saja.


Tak butuh waktu lama untuk kenal akrab dengan Gavin. Gavin orang yang humble dan mudah bergaul. Meski pamornya lebih tinggi dari siapa pun yang ada di sini, pria itu tetap bersahabat dengan semuanya.


Di samping Audi yang tengah berpose mesra dengan Gavin, diam-diam Tian memvideokan mereka dan mengunggahnya di akun instagram Audi.


Tak lupa ia men-tag akun Gavin di unggahan tersebut. Hihi, kalau begini ceritanya Audi pasti semakin naik followers-nya, dan ia akan semakin terkenal, tentu saja hal itu akan membuat mereka semakin banyak uang.


Namun yang tidak Tian pikirkan perbuatannya itu berimbas buruk pada seseorang yang kini berada dalam pesawat. Ibra tengah melakukan perjalanan menuju Bali guna menjalankan tugasnya mengawal kunjungan presiden.

__ADS_1


Ia yang pagi ini bersemangat mendadak menguar ekspresi keruh. Suasana hatinya berubah buruk setelah melihat postingan Audi yang ia pikir di unggah oleh gadis itu.


Kening Ibra berkerut dalam. Hal tersebut langsung menuai pertanyaan dari Ben yang juga ditugaskan bersama dalam perjalanan ini.


"Ada apa? Kenapa wajahmu jadi kusut begitu?"


Sesaat Ibra hanya bungkam tak menjawab. Pria itu mengambil nafas dan membuangnya perlahan. Ibra bersandar memejamkan mata, berusaha menenangkan diri dan tetap fokus pada tujuannya.


Ia tak boleh terpengaruh oleh apa pun yang akan berimbas pada konsistensi tugasnya, meski itu Audi sekalipun.


"Kira-kira pengajuan pranikah berapa lama?" gumam Ibra tiba-tiba.


Ben menoleh dan menatap Ibra aneh. Bagaimana tidak aneh jika yang bertanya di sini tak lain pria yang pernah menikah. Ibra sudah tidak waras jika bertanya pada Ben, orang Ben sendiri masih jomlo sampai sekarang.


"Eling maneh, Bra?"


Saking kesalnya Ben sampai tidak sadar mengeluarkan kalimat bahasa Sunda yang sebetulnya tak benar-benar ia mengerti.

__ADS_1


__ADS_2