Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 53


__ADS_3

Ibra berbalik perlahan menatap Tantri, mantan mertuanya. "Maksud ibu?" tanyanya dengan kening berkerut.


Tantri pun dengan percaya diri kembali menyalak. "Kamu menceraikan Shireen karena wanita ini, kan?"


"Ibu!" Shireen menggeleng menyuruh ibunya untuk segera berhenti. Namun Tantri yang keras kepala dan merasa benar enggan mengalah. Ia mendongak balas menatap Ibra dengan dagu terangkat.


Sementara Ibra kini sudah menghadap penuh pada Tantri, menghalangi pandangan Audi yang agaknya terlihat sedikit syok dengan tuduhan wanita itu.


"Ternyata kamu sama aja kayak pria lain, ya, Ibra. Ibu gak nyangka ternyata kamu belang juga. Udah gitu ke sini pakai bawa-bawa wanita lain, padahal kamu dan Shireen belum lama cerai. Gak tahu diri banget. Emang gak ada hati kamu, ya. Kamu sadar gak, sih, kelakuan kamu ini bisa menyakiti perasaan Kenan?"


Audi hampir saja maju dan meneriaki ibu-ibu menor kurang ajaran fashion itu, tapi Ibra segera menahan dengan menggenggam tangannya erat-erat. Lelaki itu menatap penuh pada wanita yang merupakan mantan mertuanya tersebut.


"Mohon maaf, Bu, sebelumnya. Tanpa mengurangi rasa hormat saya ingin menyarankan untuk lebih menjaga lisan. Ucapan Ibu barusan sangat keterlaluan, tuduhan Ibu juga tak berdasar."


"Tak berdasar gimana? Jelas-jelas apa yang sedang kamu lakukan ini bejat. Masa jenguk anak sambil bawa-bawa wanita lain. Udah gitu gak ada malu-malunya mesra-mesraan. Seenggaknya kalau mau ketemu Shireen dan Kenan jangan bawa-bawa pacar, apalagi cewek gak bener. Bisa tercemar nanti pikiran Kenan."


Mesra apa sih? Ingin Audi melempar segala makian kasar. Namun ia terkejut ketika Ibra meremas kencang tangannya. Audi tahu Ibra tidak sadar melakukan itu. Raut wajah pria itu masih terlihat datar, namun hanya Audi yang tahu betapa keras urat-urat tangan Ibra menonjol.


Barulah saat Audi meringis pelan, Ibra sedikit melonggarkan genggamannya.


"Kamu sudah lupa dengan amanat Rega, Ibra? Kamu lupa bagaimana hancurnya kaki Rega karena nolongin kamu? Dia bertaruh nyawa, lho, buat kamu. Tapi sekarang lihat, kamu malah mengkhianati kepercayaan teman kamu sendiri."


"Kamu janji mau jagain Shireen dan Kenan. Kamu janji melindungi mereka supaya hidup dengan aman dan nyaman. Itu janji kamu sama Rega. Ingat?"


"Kalau-kalau kamu lupa Ibu juga mau ingatkan bahwa Rega mengamanati kamu untuk menikahi Shireen bukan untuk diceraikan begitu saja. Tapi sekarang kamu malah seenak jidat dan tanpa malu bawa-bawa wanita lain ke hadapan kami. Otak kamu di mana, Ibra?"

__ADS_1


"Buuu," mohon Shireen. Raut wanita itu sudah melas campuran malu dan tak nyaman.


Shireen berusaha menatap Ibra, namun Ibra tak sekalipun meliriknya. Pria itu begitu melindungi Audi di belakangnya. Melihat mereka berdua Shireen jadi terbayang momen keduanya saat saling menyatakan perasaan di pinggir jalan tadi.


Hati Shireen kembali bertalu menyakitkan. Audi dan Ibra memang terlihat serasi. Ibra berubah berkali lipat lebih hangat dan mengayomi di samping gadis itu.


Hening, tak lama Ibra pun buka suara. "Sekali lagi saya minta maaf jika kedatangan kami membuat Ibu dan Shireen tidak nyaman. Saya ke sini murni karena Kenan, bukan masalah lain yang mengharuskan saya menjaga hati dan perasaan kalian." Suara Ibra terdengar sedikit tajam.


Shireen bahkan menatap nanar pria itu. Padahal ia tak mempermasalahkan kehadiran Audi, meski hatinya memang sakit melihat kepedulian Ibra terhadap gadis itu. Tapi sejauh ini Shireen tak memiliki alasan untuk membenci Audi. Baginya Audi gadis baik.


"Dan ya, tak perlu Ibu ingatkan pun amanat Rega akan sangat saya ingat, bahkan membekas. Saya menjaga Kenan, iya saya jaga Kenan. Saya juga masih memperhatikan putri Ibu agar hidup dengan baik bersama putranya. Lantas apa lagi? Apa makna menjaga dan melindungi harus selalu berarti dalam pernikahan?"


Tantri tampak terperangah dengan balasan Ibra. Sebelumnya pria itu sangat diam dan tak pernah membalas apapun ucapannya. Tapi rupanya sekarang Ibra mulai berani, mentang-mentang sudah cerai dengan Shireen.


"Saya rasa Rega juga tak akan keberatan jika saya memperjuangkan apa yang saya inginkan. Ibu tak perlu khawatir, meski saya dan Shireen sudah bercerai, saya akan tetap berusaha menjamin kehidupannya dengan baik, dan tentu dengan sewajarnya."


"Kamu bahkan belikan dia barang-barang mewah, sementara saat menikah dengan Shireen saja kamu kayaknya gak ngasih apa-apa sama anak saya."


"Ibu! Sudah cukup!" seru Shireen memohon. "Mas Ibra bukan gak ngasih, Bu, cuman aku yang gak minta."


"Alah sama aja itu! Kamu kok bodoh banget, sih? Bisa-bisanya nikah tapi gak pernah minta apa-apa sama suami."


Ibra mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Matanya bahkan terpejam sebentar guna mengurangi luapan emosi yang merangkak ingin keluar.


"Saya minta maaf jika selama ini terkesan kurang menafkahi Shireen. Tapi, tolong jangan bawa-bawa Audi, dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini."

__ADS_1


"Hah, kamu bahkan membelanya. Sebegitu terpikatnya kamu dengan wanita ini? Heh, kamu, bilang sama saya, apa saja yang sudah kamu lakukan untuk merayu Ibra?" Tantri menunjuk-nunjuk Audi yang bersembunyi di balik punggung Ibra. "Ayo bilang! Palingan kamu cuman modal ngang-kang!"


"Ibu!"


"CUKUP!"


Deg. Suasana mendadak hening ketika Ibra berteriak. Pria itu mengetatkan rahang dengan kening berkerut dalam. Matanya terpejam erat menahan amarah yang sepertinya tak bisa lagi dibendung. Ibra berdesis mengurut kening.


"Mas?" bisik Audi takut.


"Mohon maaf, Pak, Bu? Kami mohon jangan buat keributan. Ini rumah sakit. Sesuai prosedur kami, jika kalian ada masalah silakan selesaikan di luar. Sekali lagi maaf." Seorang perawat muncul menginterupsi mereka.


Shireen benar-benar dibuat malu. Ia menyeret Ibunya untuk segera keluar, meski ia harus mengeluarkan tenaga ekstra ketika melakukannya karena Tantri masih enggan menghentikan tuduhannya pada Ibra dan Audi.


Sementara Audi, ia mengangguk sungkan pada si perawat yang langsung pergi dari hadapan mereka. Audi mendekati Ibra yang masih betah menunduk sambil memijat kening.


"Mas," panggilnya menyentuh bahu pria itu.


Ibra mendongak dan melempar senyum di balik raut lelahnya. Tangannya terangkat menyampirkan rambut Audi ke sisi telinga. "Maaf, ya? Bukan ini yang Mas inginkan. Tadinya Mas pikir sekalian kenalin kamu sama Kenan. Mas gak tahu kejadiannya akan seperti ini."


"Kamu baik-baik aja, kan?" Ibra takut hal barusan akan mempengaruhi cara pandang Audi padanya.


Audi sendiri hanya tersenyum maklum. Ia tak berkata apa-apa, dan percayalah, hal itu justru lebih membuat Ibra tak karuan.


"Udah mau jam sembilan. Mas janji kita pulang cepat, kan?" tutur Audi santai.

__ADS_1


Di samping Ibra yang khawatir, Audi justru diam-diam merasa berbunga. Ternyata berperan lemah itu cukup menyenangkan, ya.


__ADS_2