Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 146


__ADS_3

Keesokan harinya Ibra mengajak Audi ke dokter kandungan untuk periksa, sekaligus memastikan hasil testpack yang berkali-kali Audi ragukan. Dan Alhamdulillah, semuanya memang benar kalau Audi tengah mengandung, tepatnya kandungan tersebut masih berumur 6 minggu.


"Benar kan kata Mas? Kamu memang hamil. Bisa-bisanya gak yakin begitu, orang ngidamnya udah kuat. Itu sudah cukup untuk membuktikan," ucap Ibra, ketika mereka keluar dari pelataran rumah sakit.


Saat ini mereka tengah mencari bakmi yang beberapa saat lalu Audi mau.


"Ya kan memastikan keakuratan itu penting, Mas. Aku gak mau lah disangka bohong dan kasih harapan palsu seandainya hasil testpack itu ternyata salah." Audi menyahut sambil turut melihat keluar jendela, mencari tukang bakmi gerobakan yang Audi tahu biasa mangkal dekat rumah sakit.


"Kayaknya si bapak gak jualan, Cla. Gak ada soalnya. Kita udah muter-muter berapa kali," ucap Ibra yang diam-diam dibenarkan Audi.


Audi lantas merengut. "Terus gimana, Mas? Aku mau banget bakmi."


Ibra menoleh sejenak. "Kita cari yang lain. Kalau masih gak ada, Mas bikinin di rumah, mau?"


"Emang Mas bisa?"


"Apa sih yang enggak Mas bisa?" sombong Ibra dengan nada bercanda.


Audi sudah terbiasa akan hal itu, dan memang Ibra hampir bisa segalanya. "Ya udah, deh," putusnya telak.


Mereka pun mencari ke tempat lain, dan setelah sekian jalan dilewati, akhirnya Ibra menemukan kedai mie ayam yang juga menjual bakmi. Mereka makan sebentar di sana, lalu pulang karena Ibra masih ada kerjaan lain katanya.


Audi tak masalah karena ia pun merasa lelah. Sesampainya di rumah, Mama Lisa dan Mami Safa kontan menyambut mereka dengan pertanyaan-pertanyaan seputar hasil pemeriksaan dokter.


"Enam minggu," jawab Ibra memberi tahu usia kandungan Audi.


"Alhamdulillah ... Mba, kita beneran mau punya cucuuu ..." Mami Safa berseru senang menggenggam tangan Mama Lisa.

__ADS_1


Lalisa tak kalah antusias mendapati kehamilan putrinya. "Iya, Dek. Bakal ada bayi lagi. Kangen banget urus bayi, huhu ..."


Sementara Audi dan Ibra hanya bisa menggeleng melihat keduanya. Yang hamil siapa, yang semangat punya bayi siapa. Ibra menoleh pada istrinya, ia rangkul pundak mungil itu dan membimbingnya ke arah sofa. "Duduk, Sayang."


Audi menurut dan melesakkan diri di sana.


"Mas ke cafe sebentar, ya? Mau cek rekap keuangan bulan lalu," ucap Ibra seraya mengusap kepala Audi. Ia lalu menoleh pada dua wanita yang masih heboh di depan pintu sana. "Mami sama Mama di sini lama, kan? Ibra mau titip Audi, ada kerjaan di cafe."


Keduanya menoleh serentak, dan yang pertama kali menjawab adalah Safa. "Iya, lama. Rumah kamu enak, betahin banget duh, adem pula, bagus buat foto-foto. Ya, kan, Mba?"


Lalisa berdecak. Kebiasaan adik iparnya yang senang berfoto sejak dulu tak pernah hilang. Ia mengangguk saja, entah itu pada Safa atau Ibra.


"Iya, kamu tenang aja. Kami di sini akan nemenin Audi sampai kamu pulang."


Mendengar itu Ibra tersenyum. "Terima kasih. Ya sudah, Ibra berangkat. Yang, Mas pergi dulu, ya?" Ia pun mengusap perut Audi yang masih rata. "Baik-baik sama Bunda ya, Sayang. Jangan rewel. Kasihan Bunda uring-uringan terus karena kamu," ucapnya seraya tersenyum. Ibra mendongak, saling melempar pandang dengan Audi.


"Iya, Mas usahakan sore udah pulang. Maksimal habis magrib."


Setelah itu Ibra mengucap salam dan keluar rumah, mengendarai mobilnya meninggalkan pekarangan. Audi menghabiskan siangnya bersama para mama yang beberapa bulan lagi akan mendapat gelar baru sebagai nenek.


Audi tersenyum lembut mengusapi perutnya. Sembari menunggu Mama Lisa dan Mami Safa berkutat di dapur, ia bersantai di teras belakang yang terasa asri dengan banyak pepohonan, melihat aliran air terjun kecil hingga suara aliran sungai yang mengarah ada ikan-ikan koi yang berenang.


Sesekali Audi melempar pakan pada mereka. Ia juga menghirup udara dalam-dalam. Meski hari sedang terik-teriknya, rumahnya sama sekali tak terasa panas. Ini yang Audi syukuri dari dominasi alam di rumah Ibra, ditambah daerah mereka memang berada di dataran tinggi yang sejuk dan dingin.


"Yuhuuu ... puding roti is coming ..." Tak berapa lama Mami Safa datang membawa satu loyang kaca berukuran sedang. Ia menyimpannya di atas meja dekat akuarium, tempat yang sering digunakan Ibra ketika bekerja dari rumah.


"Ini yang sudah dibekukan semalam, sih, jadi enak kayak eskrim. Coba deh." Mami Safa mulai memotong puding roti yang tampak menggiurkan itu. Di atasnya ada taburan keju dan cokelat yang meleleh.

__ADS_1


Ia menuang potongan puding itu ke atas piring, lalu mendekat pada Audi yang sedang duduk di pinggir sungai dan kolam ikan koi.


Audi tersenyum menerima panganan tersebut. "Kayaknya enak, Mami," katanya memuji.


Mami Safa yang akhir-akhir ini sedang mengikuti trend hijab ala emak-emak tukang karedok, sontak berdehem mengulum senyum, berusaha menahan rasa ingin terbang karena mendapat pujian dari sang menantu.


"Ehm, iya itu enak banget. Mami udah beberapa kali coba resep itu dari tiktok. Papinya Ibra juga suka banget. Semalam Mami bikin, deh, buat kamu. Gimana, enak?" Ia menunggu reaksi Audi yang kini tampak sedang menyuap.


Audi mengunyah pelan kudapan dingin menyegarkan itu. Ia mengangguk-angguk sebelum memberikan penilaian. "Enak, seger, manis. Susu dan kejunya meleleh begitu kena lidah. Terus ini dark chocolat-nya balance banget sama rasa manis dan asin dari si susu dan keju. Dia kayak beri rasa pahit yang enak banget. Ini enak, Mami, Audi suka. Perpaduan rasanya sangat pas. Rotinya juga lembut banget. Rasa caramelnya dikit, tapi enak jadi gak terlalu manis. Dia masih kecium wangi pas rotinya digigit."


Audi jujur. Memang puding roti caramel buatan Mami Safa itu sangat enak. Ia sampai menambah dua potong saking nikmatnya. Reaksi Audi itu mengundang senyum senang di raut cantik Safana Halim. Ia memotret sang menantu secara candid, dan membagikannya di laman Instagram hingga mengundang begitu banyak komentar.


Audi yang sudah lama jarang muncul di sosial media secara otomatis menarik perhatian para penggemarnya yang seringkali kepo dan mengintip akun keluarga atau siapa pun yang dekat dengannya.


Termasuk akun Safa yang kini kebanjiran beberapa followers Audi, karena Ibra sendiri mengunci Instagram-nya dari mata siapa pun. Biasa, mantan Paspampres yang selalu menjaga privasi.


"Mama mana, Mi? Kok, gak kelihatan?"


Safa mengalihkan atensinya dari ponsel. "Mama kamu? Tadi keluar, katanya mau ambil deposito di Bank."


"Ohh udah jatuh tempo, ya?"


"Iya itu," sahut Safa. "Eh, kamu mau rujak, gak? Biar Mami bikinin kalau mau."


Audi berpikir sejenak. Ia meringis pelan. "Mami nawarin, sih. Aku jadi mau," rengutnya tak enak. "Biar Bibik aja yang bikin, Mi. Audi gak mau repotin Mami."


"Repot apa, sih? Orang kamu ini menantu Mami, anak Mami, ponakan Mami yang lagi mengandung cucu Mami. Udah, jangan suka gak enakan gitu, Mami senang bisa melakukan sesuatu untuk kamu. Dan lagi, dijamin rujak buatan Mami lebih enak dari siapa pun. Mami punya resep baru soalnya. Ditunggu, ya?"

__ADS_1


Safa melenggang kembali memasuki rumah, meninggalkan Audi yang hanya bisa menurut sambil menikmati puding roti yang tanpa sadar hendak ia habiskan satu loyang. Astaga, kalau begini caranya Audi akan gendut dalam waktu singkat.


__ADS_2