Calibra: Rasa Yang Tertunda

Calibra: Rasa Yang Tertunda
CALIBRA | BAB 112


__ADS_3

Ibra tersenyum mendekati ranjang Audi dengan langkah pelan. Ia begitu senang karena akhirnya dokter sudah memperbolehkannya masuk. Meski jumlah pembesuk sangat dibatasi dan hanya bisa satu orang yang memasuki ruangan.


Ibra sudah melapisi tubuhnya dengan pakaian steril yang disediakan perawat. Ia menghampiri Audi yang hampir seminggu ini masih betah terlelap. Sekuat mungkin Ibra menahan diri untuk tidak menjerit sedih melihat sang kekasih yang terbaring tak berdaya dengan wajah pucat penuh perban.


Ibra menelan ludah ketika untuk pertama kalinya ia menyentuh tangan Audi lagi. Rasa haru mengalir pilu sampai ke ulu hati. Betapa Ibra merindukan sentuhan seperti ini dari Audi. Tangan hangat Ibra melingkupi penuh jemari Audi yang membeku.


Ia membungkuk, mencium tangan kurus itu dengan penuh cinta. "Mas sayang kamu," bisik Ibra.


Ibra tersenyum, ia mendongak menatap Audi dengan pandangan sayu. "Papa kamu sudah merestui kita, Cla. Kamu bangun, ya? Kita lewati lagi pahit manis bersama. Mas janji, mulai sekarang waktu Mas penuh untuk kamu. Mas akan jaga kamu, Mas akan rawat kamu sampai sembuh."


Hening. Tak ada sepatah kata pun balasan dari Audi. Untuk saat ini Ibra harus berpuas diri bicara dalam sunyi. Audinya mungkin belum sadarkan diri, tapi ia yakin gadis itu bisa mendengarnya.


Ibra mengangkat punggungnya, kali ini ia melabuhkan ciuman di kening Audi yang terbalut perban, dengan sangat hati-hati dan seringan bulu. Ia kembali tersenyum hangat mengamati gadisnya dengan tatapan rindu. Ibra memang merindukan Audi. Sangat.


"Kamu akan tetap menjadi wanita paling sempurna di mata Mas, Cla."

__ADS_1


"Mas rindu kamu, Sayang. Mas rindu senyum kamu, rengekan kamu, ngambeknya kamu, semuanya Mas rindu."


"Untuk itu cepatlah bangun, jangan buat Mas terlalu lama berayun dalam keresahan menunggu kamu. Asal kamu tahu, Mas selalu di sini temani kamu."


"Kamu gak kesepian, kan, Sayang? Di sana pasti gelap. Semoga dengan mendengar Mas bicara, kamu jadi tidak merasa sendiri. Banyak orang-orang yang sayang sama kamu di sini. Mereka semua menunggu kamu, sama seperti Mas."


"Kami mencintai kamu, Claudia."


Ibra menunduk, mencium kelopak mata Audi yang terpejam rapat. Ibra ingin mengusap kepala Audi, namun urung karena takut merusak bekas operasi. Pada akhirnya Ibra pun menjauh dan duduk kembali di kursi. Ia menggenggam tangan Audi, menempelkannya di pipi sambil bergumam pelan membacakan sholawat nabi.


Karena dokter membatasi waktu siapa pun yang membesuk, sepuluh menit kemudian Ibra harus bangkit dengan berat hati. Langkahnya terasa enggan beranjak, namun apa daya hal ini sudah menjadi ketentuan dokter yang begitu ketat memproteksi pasiennya.


Ibra mengelus pelan alis dan mata Audi. "Mas keluar dulu. Mas gak pergi, kok. Cuman nunggu di luar saja."


"Assalamualaikum," ucap Ibra terakhir kali, meski ia tahu tak akan mendapat balasan.

__ADS_1


Ibra berjalan keluar setelah melepas baju sterilnya. Ia mengamati Audi dari dinding kaca yang membatasinya dari dunia luar. Menghela nafas pelan, Ibra pun kembali pada kebiasaannya, duduk di ruang tunggu di depan ruang ICU.


Ibra mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang.


"Assalamualaikum. Selamat pagi, Komandan. Saya mohon izin bertemu jika anda senggang. Apakah boleh?"


Lama Ibra tak mendapat jawaban, hingga akhirnya pria di seberang ponselnya menghela nafas dan berkata entah apa.


Ibra pun tampak termenung sesaat, rautnya terlihat begitu serius seolah memikirkan keputusan paling besar dalam hidupnya.


Benar, Ibra memang hendak melakukan sesuatu demi kelangsungan hidupnya bersama Claudia kelak. Untuk meraih bahagia, memang harus ada satu hal yang dikorbankan, bukan?


Ibra sudah memikirkan ini berhari-hari. Ia juga sholat istikharah untuk meminta petunjuk pada Tuhan. Tiga kali Ibra mendapat isyarat yang sama meski dengan cara yang berbeda-beda, hal itu membuat Ibra semakin yakin bahwa keputusan tersebut sudah yang paling tepat.


Karena demi apa pun, Audi adalah berlian miliknya yang paling berharga. Setelah kejadian ini, Ibra pun sadar ia tak bisa mengabaikan Audi.

__ADS_1


__ADS_2